Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 27 : Sepenggal Kenangan.


__ADS_3

New York, 8 tahun lalu.


Natalie berkacak pinggang sembari menatap tajam kedua orang pria yang masih saja tertidur nyenyak di dalam kamar apartemen mereka. Matanya menatap sekeliling kamar yang sangat berantakan oleh kertas-kertas dan buku-buku di meja dan lantai apartemen. Tak lupa, beberapa bungkusan cemilan dan kaleng minuman juga tergeletak di sana.


Meski kedua pria itu berbeda angkatan dan jurusan, tetapi mereka sering kali mengerjakan tugas bersama, tak terkecuali dengan Natalie. Dia selalu memanfaatkan kepintaran Reagen untuk membantunya menyelesaikan tugas.


Gadis itu melangkah perlahan menuju ranjang tempat mereka tidur, matanya memicing sinis sembari mengambil ancang-ancang dengan menarik napasnya dalam-dalam. Menggunakan segenap kekuatannya, Natalie berteriak sambil menendang jatuh Bryan dari atas ranjang. Sementara Reagen ditarik paksa oleh gadis itu hingga terduduk di pinggir ranjang.


Teriakan Bryan menggema seketika. Pria itu bangkit dari lantai sembari mengusap punggungnya yang terasa nyeri. "Kau selalu saja bersikap kasar jika membangunkanku! Coba lakukan hal yang sama sekali-kali pada Rey!" makinya seraya menatap Natalie tajam.


Natalie tersenyum sinis. "Kau pantas mendapatkannya, karena sudah menguasai tempat tidur."


Bryan memang tak pernah bisa diam saat tidur, berbanding terbalik dengan Reagen.


Natalie kemudian mengalihkan pandangannya pada Reagen. "Hari ini kau ada ujian, bukan? Cepat bersiap, dan kau ...," tangannya menunjuk wajah Bryan yang sibuk mengaduh-aduh. "wawancaramu dengan Mr. Gilbert akan dimulai satu jam lagi, tahu!"


Bryan kontan terkesiap, begitu pula dengan Reagen. Keduanya saling melempar tatapan bengis, sebelum beranjak dari ranjang untuk berebut masuk ke dalam kamar mandi.


Natalie menggeleng-gelengkan kepalanya pening. Jika sudah begini ...


"Sana, mandi di kamarku! Tidak perlu membuat drama pagi ini!" teriak gadis itu bak seorang ibu tiri yang murka pada kedua anak nakalnya.


Ketiganya pun berangkat ke kampus menggunakan bus umum. Mereka memang tidak memiliki kendaraan pribadi di sana.


Tepat di depan kampus, Reagen, Bryan, dan Natalie berpisah menuju gedung fakultas masing-masing. Biasanya, mereka baru kembali bersama saat sore hari tiba. Natalie yang selalu paling awal menunggu kedua pria itu di taman kampus.


Rutinitas mereka memang hampir sama setiap hari. Hanya weekend saja yang sedikit berbeda, karena libur dari aktifitas belajar.

__ADS_1


...***...


Reagen sebenarnya tetap ingin berada di tanah air, tetapi Craig memintanya untuk kuliah di sana sembari mengawasi kantor cabang Walker Group. Alhasil, tepat selepas lulus sekolah, dia langsung terbang ke New York untuk menempuh pendidikannya di sana. Setahun kemudian, Bryan pun ikut menyusul Reagen.


Mengetahui kepergian Bryan, Natalie pun bersikeras meminta sang ayah agar mengijinkan putri satu-satunya itu menyusul Reagen dan Bryan ke New York. Butuh perjuangan lebih hingga Natalie akhirnya berhasil mendapatkan restu beliau.


Di sana, Reagen tinggal dalam sebuah apartemen sederhana tanpa kamar. Dia mengajak serta Bryan untuk tinggal bersamanya demi menghemat biaya. Sementara Natalie tinggal tepat di seberang apartemen mereka.


Bryan dan Natalie masuk ke kampus yang sama dengan Reagen sebagai anak baru. Jadi, Reagen merupakan senior mereka berdua, meski ketiganya berbeda jurusan.


Hidup di negeri orang membuat gadis seperti Natalie yang biasanya manja dan tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, terpaksa harus mandiri. Apa lagi, Reagen dengan tegas menerapkan hidup sederhana pada mereka.


Tak ada mobil mewah yang mereka kendarai. Ketiganya harus rela pergi ke mana-mana dengan menggunakan bus umum. Natalie juga mau tidak mau harus belajar memasak sendiri.


Wanita itu mendapatkan ilmu memasaknya dari Bryan. Dia memang pandai memasak sejak kecil, karena sang ibu merupakan salah seorang koki terkenal pada masanya.


Jujur saja, kehadiran Bryan dan Natalie merupakan angin segar bagi Reagen. Sebab, selama setahun ini dia harus hidup sendirian tanpa satu orang pun yang dikenalnya.


Memang, terkadang Craig juga mampir ke sana untuk melihat keadaannya, sekaligus mengawasi perusahaan cabang di sana. Namun, tetap saja rasanya sangat berbeda.


Itulah mengapa, sejak kehadiran kedua teman baiknya, Reagen seperti menemukan kembali dunianya yang sempat hilang.


Bagai tiga sekawan, mereka selalu bersama ke mana pun dan dalam keadaan apa pun. Saat Natalie harus dilarikan ke rumah sakit karena hipotermia, Reagen dan Bryan akan setia menungguinya secara bergantian di rumah sakit.


Saat Bryan harus terpuruk dan bertingkah seperti orang gila karena kehilangan ibunya, Natalie dan Reagen tak pernah beranjak dari sisi pria itu.


Begitu pula jika Reagen dalam keadaan sedih karena mengingat Zenaya. Pria itu masih belum bisa melepas rasa bersalahnya pada gadis itu barang sedetik pun. Reagen bahkan masih menyimpan baik selembar foto Zenaya yang dia ambil diam-diam saat di sekolah dulu.

__ADS_1


Meski rasa cemburu tak bisa dihindari Natalie, tetapi dia tetap menemani hari-hari Reagen dan berusaha menguatkannya, bersama Bryan.


Natalie pikir, semua sikapnya bisa membuat perasaan Reagen luluh. Dia bahkan mempercayai sebuah pepatah yang mengatakan, bahwa batu saja bisa terkikis bila terus ditetesi air hujan.


Namun, perasaan Reagen ternyata lebih keras dari sebongkah batu. Sedetik pun pria itu tak pernah bisa menyingkirkan bayangan Zenaya dalam kepala dan hatinya.


Hal itu membuat kebencian Natalie pada Zenaya melambung tinggi. Namun, Natalie tak pernah berniat menyakiti wanita itu lebih jauh. Dia bukan lagi seorang gadis labil yang gemar membuat onar hanya demi memperebutkan seorang pria.


...-----------------------------------------------------...


Bryan menepuk pundak Natalie pelan, agar wanita itu tersadar dari lamunannya.


"Kau menangis?" tanya Bryan khawatir. Sejak tadi dia hanya memperhatikan Natalie yang sibuk melamun sembari memainkan minumannya, sampai setetes air mata keluar dari pelupuk wanita itu.


Natalie terkesiap. "Mana? Tidak!" Dia meraba wajahnya sendiri. Mencoba berkilah, bahwa yang dilihat Bryan bukanlah air mata.


Keduanya kini sedang berada di dalam cafe favorit mereka bertiga.


Natalie menatap kursi kosong yang biasanya Reagen duduki, tetapi kini kursi tersebut telah kosong.


"Nat?" panggil Bryan.


" ... sejak dulu, sebenarnya aku menyadari, bahwa tak ada sedikit pun ruang yang tersisa di hati Rey." Wanita itu membuka suaranya.


"Perjuanganku selama ini sia-sia. Keegoisanku untuk tetap bersikeras mencintai pria itu, ternyata hanya membawa neraka tersendiri." Natalie tersenyum sendu.


"Tak ada yang sia-sia. Kau tahu, cinta tak harus memiliki," sahut Bryan.

__ADS_1


Natalie tertawa sumbang. "Siapa pun yang menciptakan kata-kata itu, aku membencinya."


Dia kemudian menatap Bryan sendu. ""Bisakah kita kembali pada masa-masa kuliah saja," ucap Natalie, bersamaan dengan tetesan air mata yang kembali jatuh.


__ADS_2