Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 33 : Perasaan David.


__ADS_3

"Mr. Dav," sapa tiga orang perawat muda yang berpapasan dengan David saat keluar dari lift.


David menganggukan kepalanya dan melempar senyum ramah. Tiga orang perawat tersebut memekik kecil seketika. Mereka kemudian terlihat berbisik-bisik sembari tertawa.


Sudah menjadi rahasia umum jika David merupakan salah satu primadona di rumah sakit ini. Apa lagi, sikapnya yang terlampau ramah membuat beberapa wanita sempat salah paham pada pria itu.


David memang orang yang gemar menolong orang lain dan sangat memperdulikan mereka, tanpa pandang bulu. Maka dari itu, tak heran jika ada beberapa wanita yang terbawa perasaan.


David menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah ruangan. Senyumnya mengembang. Berita soal kembalinya Zenaya dari masa cuti sudah dia dengar sejak pagi.


David mengetuk pintu dua kali, sebelum akhirnya membuka pintu ruangan kerja Zenaya. Wanita itu rupanya sedang menikmati semangkuk zuppa soup sendirian.


Pria itu melirik ke setiap sudut ruangan.


"David!" pekik Zenaya terkejut. Wanita itu tersenyum sumringah.


David tersenyum. "Boleh aku bergabung?"


Zenaya mengulas tawa kecil. "Tentu saja boleh."


David melangkah masuk ke dalam ruangan Zenaya dan menutup pintu.


"Tak biasanya kau makan siang seorang diri. Mana kekasihmu sehidup sematimu itu?" tanya David dengan nada bergurau. Tak ada jejak Grace di ruangan Zenaya.


Zenaya yang langsung paham apa yang dimaksud David, lantas tertawa. "Dia tadi ada di sini, tetapi ada operasi mendadak yang harus dilakukan." Jawab wanita itu. "10 menit lalu mungkin," sambungnya.


"Kau sudah makan? Aku masih memiliki satu porsi zuppa soup." Zenaya menyodorkan semangkuk zuppa soup yang berada di dekatnya.


"Baru aku ingin mengajakmu makan siang," ujar David. Pria itu mengambil zuppa soup tersebut. "Milik Grace yang belum sempat di makan ya? Baguslah, makanan ini ditakdirkan untukku," kelakarnya.


Zenaya tertawa. David memandangi sejenak wajah wanita itu yang terlihat sangat cantik di matanya. Sebongkah kerinduan tersemat dalam hati David.


"Kudengar dari beberapa orang penggemarmu, pasien fisioterapi sedang membeludak. Kau bahkan hampir tak bisa menghabiskan waktu dengan makan siang di luar." Perkataan Zenaya membuat David tersadar dari lamunannya.


David memasukkan sesendok zuppa soup ke dalam mulut dan mengunyahnya. "Benar. Entah hari ini keberuntunganku atau bukan, ada salah satu pasien yang baru saja membatalkan janjinya. Jadi aku bisa bebas selama satu jam ke depan." David menelan makanannya. Pria itu kemudian berdiri untuk mengambil air putih yang tersedia di ruangan Zenaya.


"Jika kau merasa tak sanggup, kau bisa menyerahkan pasienmu yang baru pada Fanya atau Melvin," usul Zenaya. Fanya dan Melvin merupakan terapis junior David.


" ... atau, perlu kuminta bantuan Papa?" tanya Zenaya kemudian. Pria itu memang terlihat sangat kelelahan. Sekilas, dia dapat kantong mata David yang mulai menghitam. Bagaimana tidak, selain sibuk di rumah sakit, dia juga sibuk mengadakan seminar, dan mengajar di kampus. Jadi, waktu tidur David pasti sangat tersita.


"Tidak perlu, aku masih bisa melakukannya." David mengulas senyum.


"Katakan saja jika kau butuh sesuatu," kata Zenaya sembari melanjutkan makannya. Wanita itu terlihat begitu senang hanya dengan semangkuk zuppa soup di hadapannya. Setiap berhasil memasukkan sesendok makanan tersebut, Zenaya akan bergumam senang.

__ADS_1


Melihat cara makan Zenaya yang sangat lucu, membuat David tertawa kecil. Terlebih, ketika mendapati makanan itu menempel di sudut bibirnya.


David kembali duduk di hadapan Zenaya. Tanpa sadar, pria itu mengulurkan tangannya untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang terdapat di bibir Zenaya.


Mendapat perlakuan seperti itu kontan saja Zenaya tersentak. Matanya terbelalak menatap David. David yang semula heran dengan reaksi Zenaya kemudian ikut terkejut.


Dia lupa akan status wanita itu, saat ini.


"Ma–maaf, aku tak bermaksud apa pun, Zen, hanya ...." Jarinya menunjukan sisa makanan yang ada di bibir Zenaya sebelumnya.


"A–aa, tidak apa-apa, Dav. Terima kasih. Aku pasti terlihat sangat konyol." Zenaya tertawa canggung. Wanita itu pun membersihkan mulutnya dengan tisu makan yang ada di meja.


Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya David mencoba membuka topik kembali.


"Bagaimana dengan kehidupan pernikahanmu?" tanyanya kemudian.


Zenaya mengambil air putih dan menandaskannya. "Biasa saja, sama seperti pasangan lainnya." Jawab wanita itu. Dia berusaha menekan perasaannya, kala seseorang mencoba membahas pernikahan dirinya dengan Reagen.


"Syukurlah. Aku cukup mengenal keluarga Krystal, dan yang kutahu, keluarga Walker merupakan keluarga terpandang dan dermawan. Kudengar, mereka sempat memiliki sebuah panti asuhan yang berada jauh dari sini, sebelum kemudian diambil alih oleh pemerintah daerah," ucap David panjang lebar.


Zenaya cukup terkejut dengan informasi yang diberikan David. Maklum, wanita itu masih belum mengetahui apa-apa soal kedua mertuanya.


"Tak kusangka, kau adalah bagian dari mereka." Pria itu mengulas senyum.


Tak ada lagi kesempatan bagi David untuk mendekati Zenaya. Wanita itu telah dimiliki pria lain yang jauh di atas dirinya, dan David tidak akan pernah berniat merebut Zenaya. Kecuali jika memang suami Zenaya bukanlah pria baik-baik. Namun, dia sangat yakin bahwa pernikahan mereka sangat bahagia.


Kendati demikian, bolehkah dia tetap menikmati pertemanan ini?


"Kau tak pernah menceritakannya padaku." Zenaya membuka suaranya.


"Sama sepertimu yang tidak pernah menceritakan kisah tentang kalian."


Zenaya sontak terdiam mendengar balasan David yang tepat sasaran. Dia tak bisa berkata apa-apa.


David tertawa kecil. Ingin sekali dia mencubit hidung Zenaya, tetapi pria itu berusaha menahan diri.


"Baiklah, kita impas." Zenaya tersenyum lebar. Keduanya tertawa bersama.


Ya ... Meski hanya sebuah pertemanan, David sama sekali tidak keberatan.


...***...


Liam sedang berjalan menuju ke ruangannya, setelah keluar dari ruang operasi. Jadwalnya yang lumayan padat membuat pria paruh baya tak sempat menemui Zenaya yang telah kembali bekerja. Mereka hanya sempat saling bertukar kabar melalui telepon saat wanita itu pamit pulang.

__ADS_1


"Pa!" teriakan Zenaya membuat Liam terkejut. Sang anak ternyata sengaja menungguinya di dalam ruangan.


Zenaya memeluk erat sang ayah. Tak lupa, sebuah kecupan manis didaratkan Zenaya pada kedua pipi Liam.


"Kenapa belum pulang? Ini sudah malam." Liam melirik jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Zenaya seharusnya sudah pulang sejak jam 4.


"Saat hendak pulang, tanpa sadar aku berkeliling dan bergosip dengan orang-orang di sini." Zenaya tertawa kecil. "Lagi pula, menantu Ayah itu berkata akan telat datang." Raut wajahnya tiba-tiba berubah dengan cepat. Dia terlihat kesal.


Liam tersenyum seraya mencubit hidung mungil Zenaya.


"Papa belum pulang?" tanya Zenaya kemudian.


"Baru akan. Kau menunggu Rey datang, kan? Kalau begitu, Papa temani."


Keduanya pun asyik berbincang sembari menikmati secangkir teh hangat buatan Zenaya.


Di hadapan keluarganya, Zenaya berubah menjadi gadis manis yang manja. Beberapa kali Liam menanyakan bagaimana kehidupannya bersama Reagen, dan Zenaya akan selalu menjawab, bahwa semua baik-baik saja. Meski harus dibumbui sedikit kebohongan, itu terasa lebih baik dari pada membuat beliau khawatir.


Zenaya sama sekali enggan menceritakan hambarnya kehidupan rumah tangga yang dia jalani.


Beberapa saat kemudian, ponsel Zenaya berdering keras. Reagen ternyata meneleponnya untuk memberitahu, bahwa dia sudah menunggu di bawah.


"Aku sedang di ruangan Papa,"


"Aku akan ke sana."


Tak sampai lima menit, Reagen sampai di ruangan Liam. Pria itu membungkuk hormat pada ayah mertuanya.


Liam tak lagi bersikap dingin seperti dulu. Kendati begitu, dia belum sepenuhnya mempercayai Reagen.


Reagen pun menawari Liam untuk pulang bersama.


"Kalian pulang dulu saja, Mama akan datang menjemput. Kami juga ingin menghabiskan waktu berdua seperti kalian," kelakar Liam.


Reagen dan Zenaya tersenyum. Keduanya pun pamit pergi dari hadapan Liam.


"Hati-hati dalam mengemudi, Rey," pesan Liam.


"Baik, Pa," jawab Reagen.


Pria itu mengantar keduanya sampai di ambang pintu ruangan.


Begitu Reagen dan Zenaya berjalan menjauh, sorot mata Liam berubah sendu. Pria paruh baya itu tahu, bahwa cerita sang anak pasti tak sepenuhnya benar. Zenaya terlihat menekan perasaannya saat bercerita soal kehidupan mereka.

__ADS_1


Liam menghela napas. Dia sangat berharap putri tercintanya itu dapat menghilangkan semua rasa trauma yang membelenggu, dengan begitu, dia bisa menerima Reagen seutuhnya.


__ADS_2