Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 44: Harapan.


__ADS_3

"Sepertinya kalian sangat dekat?" tanya Reagen setelah meletakkan pesanan Zenaya di hadapannya.


Zenaya menggelengkan kepalanya. "Kami hanya pernah saling sapa sesekali."


"Lalu, bagaimana kau tahu dia tetangga kita?" tanya pria itu penasaran.


"Kami pernah tak sengaja bertemu saat berangkat kerja. Alex merebut taksiku karena ada pasien gawat darurat, dan akhirnya kami berangkat bersama," jawab Zenaya jujur.


Reagen bergeming sesaat. Tak seperti waktu dengan David, kali ini dia berusaha mengontrol emosinya.


"Kuharap, dia sedang tidak berusaha menarik perhatianmu." Ucapan Reagen yang terdengar kesalembuat Zenaya tersenyum simpul.


"Kini dia tahu aku telah bersuami," sahutnya lembut. Dia memahami kegundahan sang suami, oleh sebab itu Zenaya memilih mengalah dari pada harus mengajak Reagen berdebat hanya karena seorang pria yang baru mereka temui. Lagi pula, Zenaya memang tidak menganggap Alex lebih dari seorang kenalan. Teman pun tidak, karena mereka memang tidak terlalu akrab.


Reagen menatap sang istri yang tengah menikmati cream cheese cake-nya. Mengetahui Zenaya tidak lagi terpancing emosi membuat Reagen tersenyum tulus.


Zenaya berjengit saat Reagen menyentuh sudut bibirnya. Pria itu ternyata tengah menghapus cream cheese yang tersisa di sana.


"Terima kasih," ucap Zenaya malu-malu.


Reagen mengangguk. "Setelah ini kita ke mana?" tanyanya kemudian.


"Aku ingin ke rumah ibuku. Kita makan siang di sana saja. Aku rindu masakan beliau. Bolehkah?" Zenaya menatap Reagen dengan pandangan memohon.


Reagen tertawa kecil. "Tentu saja."


...***...


"Sayaaang!" Amanda berjalan menghampiri Zenaya yang baru keluar dari mobil. Wanita paruh baya itu memeluk sang anak erat-erat.


Meski hampir setiap minggu Zenaya datang ke rumah, tetapi Amanda tetap saja merasa pertemuan mereka sangat singkat. Wanita itu bahkan pernah meminta putri dan menantunya tersebut untuk pindah ke sana, agar dia tak terbelenggu kerinduan.


"Bagaimana kabar cucu Mama? Apa kata dokter?" tanya Amanda sembari mengelus perut Zenaya yang sudah mulai membuncit. Setiap memeriksakan diri ke dokter, Zenaya tak pernah lupa untuk menghubungi ibu dan ibu mertuanya, serta mengirimkan foto bayi mereka.


"Baik, Ma. Dia sangat sehat," jawab Zenaya seraya mengulas senyum.


"Syukurlah." Wanita itu kemudian beralih pada sang menantu dan menyapanya. "Kau sehat Sayang?"


Reagen mengangguk dan melempar senyum ramah. "Sehat Ma. Mama sehat?" Pria itu balik bertanya.


"Mama sangat sehat, apa lagi melihat kalian berdua datang. Ayo, sekarang kita masuk! Kalian belum makan siang, kan?" Amanda menggandeng putrinya dan masuk ke dalam rumah.


"Aku sengaja makan camilan saja agar bisa menikmati masakan Mama lebih banyak," ujar Zenaya.


Amanda tertawa.


Mereka pun tiba di meja makan. Amanda memang selalu sendirian ketika siang hari karena suami dan putra sulungnya baru akan tiba di rumah, sore atau malam harinya.


Zenaya dengan cekatan mengambilkan makanan untuk sang suami. Dia juga pergi ke dapur untuk membuatkan minuman Reagen.

__ADS_1


Kendati bukan sekali ini saja Amanda melihat perlakuan manis Zenaya pada Reagen, dia tetap merasa takjub dan senang. Putrinya itu benar-benar sudah dapat berdamai dengan kenyataan. Dia bahkan tidak perlu lagi konsultasi ke psikiater.


Amanda berharap mereka bisa hidup bahagia seterusnya.


...***...


Adryan keluar dari ruang operasi, dan menghampiri seorang pria berusia 50 tahunan yang sedang duduk di ruang tunggu bersama kedua putra-putrinya.


Melihat kedatangan Adryan, pria tersebut sontak terbangun dari kursi. "Bagaimana operasi istri saya, dok?" tanya si pria dengan wajah khawatir.


Adryan mengulas senyum simpul. "Operasi berhasil dengan baik. Namun kami hanya bisa mengangkat sebagian sel tumor saja, karena sebagian lagi berpotensi merusak jaringan otak yang terkena. Jadi, untuk tumor yang tidak bisa diangkat, prosedur biopsi akan dilakukan dengan cara mengambil sampel sel tumor, lalu diuji di bawah mikroskop guna menentukan pengobatan yang tepat selanjutnya."


Pria paruh baya itu meneteskan air mata. "Tapi, istri saya bisa pulih sepenuhnya, kan, dok?" tanyanya.


Adryan mengangguk. "Tumor yang diidap istri Anda bukan tomor ganas, jadi Anda tidak perlu khawatir."


Raut kelegaan terpancar dari wajah lelahnya. Dia mengucapkan terima kasih berkali-kali pada Adryan, diikuti kedua putra-putrinya.


Adryan membungkukkan badannya dan pamit meninggalkan mereka.


Pria itu berjalan menyusuri koridor menuju ruangan kerjanya.


Namun, saat Adryan hendak membuka pintu ruangan, seseorang tiba-tiba menabrak dirinya keras hingga terjerembab ke lantai.


"Aw!" Teriakan seorang wanita mengalihkan perhatian Adryan.


Tak jauh dari tempatnya berada, seorang wanita berpenampilan glamour tengah terduduk di lantai sembari mengaduh-aduh. Dia tampak sibuk memijit-mijit kakinya.


"Punya mata tidak!" hardik wanita itu.


Adryan sontak terkejut. Uluran tangannya juga tidak diindahkan. .


"Maksudmu?" tanya Adryan tak mengerti.


"Tak usah berkilah. Kau membuatku jatuh!" Jawab si wanita.


Adryan memicing sinis. Wanita itu jelas-jelas menabraknya duluan, tetapi mengapa malah dia yang dimaki-maki.


"Anda yang menabrak saya saat hendak membuka pintu, Nona. Jadi seharusnya saya lah yang marah." Adryan mencoba tidak terpancing emosi wanita itu.


"Makanya kalau berdiri jangan terlalu jauh dari pintu! Kau jadi menghambat perjalananku!" seru si wanita jengkel, tetapi tetap menerima uluran tangan Adryan.


Namun, tiba-tiba Adryan kembali menarik tangannya.


Si wanita mendelik. "Jadi membantuku bangun tidak, sih?"


"Anda masih sanggup memaki-maki orang yang tidak dikenal, itu berarti Anda baik-baik saja." Adryan sengaja membersihkan jas putihnya, dan menghempaskan debu tak kasat mata ke arah si wanita.


"Hei!"

__ADS_1


Tanpa mengindahkan teriakan wanita itu, Adryan berjalan menuju ke pintu.


"Ahh!" Adryan berhenti melangkah saat hendak masuk ke dalam ruangannya. "Bersikap baiklah pada orang lain. Anda sangat cantik, sayang sekali jika sikap Anda tidak tidak sebanding dengan kecantikan Anda."


Setelah mengatakan demikian, Adryan mengangguk sopan pada si wanita dan masuk ke dalam ruangannya.


"Sialaaan!"


...***...


"Kenapa Sayang? Suasana hatimu sepertinya sedang tidak bagus?" tanya Belinda pada Natalie yang sedari tadi memasang raut wajah tidak bersahabat. Hari ini ayah Natalie baru saja menjalani fisioterapi ke empatnya, dan Natalie berinisiatif menjemput kedua orang tuanya di rumah sakit sebelum berangkat syuting.


"Tadi aku bertabrakan dengan orang gila, Mom!" jawab Natalie ketus.


"Hah? Orang gila mana?" tanya Belinda serius.


"Sudah Mom, jangan dibahas lagi. Mengingat kejadian tadi membuat emosiku kembali berapi-api."


Belinda tersenyum simpul lalu mengelus lengan Natalie lembut. "Ya sudah, jangan pasang muka seperti itu lagi. Nanti Daddy melihat dan mengkhawatirkanmu."


Natalie mengendurkan otot-otot wajahnya yang sempat kaku. Sang ayah memang tidak boleh banyak pikiran agar kesehatannya dapat pulih seperti sedia kala.


...***...


Reagen memijit keningnya yang terasa pening. Dia pun berkali-kali mengucek matanya agar kembali fokus menatap layar ponsel.


"Pusing lagi?" tanya Zenaya pada sang suami. Mereka baru saja tiba di rumah pada malam hari.


"Sedikit." Jawab Reagen. Akhir-akhir ini pria itu memang selalu merasa pusing. Pandangannya pun terkadang berkunang-kunang. Maklum saja, dia terlalu banyak menghabiskan waktu di kantor dengan menatap layar laptop dan juga ponsel.


Hari libur seperti ini saja masih ada pesan penting yang datang ke ponsel Reagen. Jadi mau tak mau dia harus memeriksanya.


"Jangan menatap ponsel terus. Matamu bisa sakit," ujar Zenaya memperingati.


"Sebentar lagi. Ada beberapa pesan yang belum aku baca, setelah itu aku akan langsung tidur," kata Reagen tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Kalau begitu aku tidur duluan," ucap Zenaya sembari berbaring di sebelah Reagen.


Reagen meletakkan ponselnya di pangkuan lalu mencium lembut perut sang istri. "Sehat-sehat di dalam sana Jagoan Daddy," bisik pria itu lembut.


Zenaya mengerutkan dahinya. "Tahu dari mana dia laki-laki?" tanyanya penasaran.


"Insting." Jawab Reagen singkat, seraya memamerkan gigi-gigi putihnya.


Zenaya tertawa kecil.


Setelah puas mengajak bayi mereka bicara, Reagen segera beralih pada sang istri. "Selamat tidur," ucapnya sembari mengecup lembut kening dan bibir Zenaya.


Zenaya mengangguk. "Jangan tidur terlalu malam."

__ADS_1


"Siap!"


Reagen menegakkan tubuhnya dan membantu menyelimuti tubuh sang istri. Tak ada lagi dua guling besar yang menghalangi mereka dan tak ada lagi teriakan Zenaya. Semua sudah dengan semestinya, dan dia berharap bisa seperti ini seterusnya.


__ADS_2