Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 3 : Menjadi Sepasang Kekasih.


__ADS_3

"Jadilah kekasihku!"


Zenaya menjatuhkan buku fisika yang berada dalam dekapannya. Gadis itu terkejut bukan main, tatkala mendengar penuturan Reagen barusan.


Lelaki yang disukainya itu baru saja meminta Zenaya untuk menjadi kekasihnya.


Zenaya terpaku di tempat. Gadis itu sama sekali tidak mempercayai apa yang ditangkap oleh indera pendengarannya.


Dia pasti sudah salah dengar.


Seantero sekolah tahu, bahwa Reagen tengah dekat dengan Natalie selama setahun terakhir ini. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai mereka benar-benar menjadi sepasang kekasih. Malah, mungkin saja mereka memang menunggu kelulusan terlebih dahulu, sebelum menapaki hubungan yang lebih serius.


"Kau dengar aku?" Suara Reagen kembali terdengar di telinganya. Zenaya mencari-cari kebohongan di balik raut serius yang Reagen tunjukan, dan dia sama sekali tidak menemukannya.


"Demi Tuhan, bangunkan aku jika ini hanyalah mimpi! Aku tak ingin berharap," gumam Zenaya dalam hati.


Zenaya lantas menatap sekeliling ruangan kelas, memastikan bahwa memang hanya dia yang sedang diajak bicara oleh Reagen.


"Aku sedang bicara padamu ... tak ada siapa pun di sini," ujar Reagen. Tatapan tajamnya yang terlihat sangat memesona, masih setia ditujukan pada Zenaya.


Zenaya lagi-lagi merasa bodoh di hadapan lelaki itu. Kelas memang sudah kosong sejak tadi, mengingat bel telah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu.


"Aku tidak akan mengulanginya lagi!" Sorot mata Reagen berubah. Dia tengah menuntut jawaban Zenaya.


"A–aku ...," Zenaya tak mampu meneruskan perkataannya. Gadis itu tengah berusaha menahan debaran jantungnya yang mulai menggila.


Isyarat anggukan kepala Zenaya sudah cukup memberi Reagen jawaban. Tatapan lelaki itu melunak seketika.


"Kuantar kau pulang," katanya kemudian. Tanpa menunggu persetujuan Zenaya, Reagen menggenggam hangat tangan mungilnya.


Meski terasa sangat ganjil, cinta membuat Zenaya mampu mengenyahkan berbagai macam pertanyaan yang berseliweran di benaknya.


Dia mencoba berpikir positif. Mungkin saja, Reagen juga memiliki sedikit perasaan padanya.


Dia bisa menanyakan hal ini nanti.


...***...


Sekolah mendadak gempar begitu mengetahui hubungan Reagen dan Zenaya. Hanya dalam waktu dua hari, kabar tersebut sudah menyebar ke seluruh pelosok sekolah. Banyak dari mereka yang sangat terkejut dan menyayangkan sikap Reagen. Mereka menaruh perihatin pada Natalie, dan menganggap Zenaya telah merebut Reagen darinya.

__ADS_1


Zenaya tahu akan hal tersebut, dan dia mencoba menanyakannya pada Reagen tentang hubungan mereka. Namun, Reagen hanya menjawab, jika dia tak perlu mengkhawatirkan apa pun. Mereka hanya berteman saja. Baik dirinya mau pun Natalie tak pernah menganggap hubungan mereka lebih dari itu.


Entah mengapa, sulit bagi Zenaya untuk mempercayai perkataan lelaki itu. Disadari atau tidak oleh Reagen, jelas sekali bahwa Natalie menaruh perhatian lebih padanya.


Di sepanjang perjalanan menuju kelas, Zenaya hanya mampu menundukkan kepala demi menghindari tatapan nyalang para gadis.


Cemoohan dari mulut mereka terdengar samar di telinga Zenaya. Mereka seakan mengutuk perbuatan gadis itu, yang telah lancang merebut Reagen dari Natalie. Tak sedikit dari mereka juga berharap Natalie dapat berbuat sesuatu pada Zenaya, seperti mengeluarkannya dari sekolah. Pasti mudah bagi Natalie untuk melakukannya, mengingat dia adalah putri sang pemilik yayasan.


Zenaya mempercepat langkah kakinya, tetapi tiba-tiba, seseorang menabrak bahunya keras hingga membuat gadis itu terjerembab ke lantai.


"Ups, maaf ... sengaja." Suara tawa beberapa gadis menggelegar memenuhi koridor sekolah.


Zenaya mengambil ranselnya yang terjatuh dan kembali berdiri.


"Eh, mau ke mana cantik?" Siswi yang menabrak dirinya barusan menahan bahu Zenaya agar tidak pergi meninggalkan mereka.


"Maaf, aku tidak punya urusan dengan kalian, dan aku mau ke kelas," ujar Zenaya.


"Wow, sombong sekali si gadis pintar ini. Mentang-mentang sekarang sudah menjadi kekasih kapten tim basket kita." Siswi tersebut menatap sinis Zenaya.


"Hei, sok cantik, jangan besar kepala kau! Hanya teman kami, Natalie, yang pantas bersanding dengan Rey! Bukan gadis sok polos seperti dirimu. Jadi, segera putuskan hubunganmu dengannya!" pekik gadis itu. Ketiga temannya yang turut berdiri di sana juga mengiyakan perkataan gadis itu.


Zenaya berteriak kesakitan hingga mengundang semakin banyak siswa-siswi lain untuk datang mendekat.


Mata Zenaya telah basah. Mendengar tawa para murid yang tengah menonton dirinya dibully, membuat dia tahu bahwa tak ada siapa pun yang sudi mengulurkan tangan. Bak sebuah momen langka, mereka malah sibuk mengabadikan kejadian tersebut.


"To–tolong, lep–paskan," pinta Zenaya. Dia berusaha menahan rambutnya agar siswi tersebut tidak semakin beringas.


"Berjanji dulu, kau akan melepaskan Rey setelah ini. Kalau tidak ...." Ia semakin keras menarik rambut Zenaya, tak peduli bahwa gadis itu kini tengah meringis kesakitan.


Zenaya tidak menjawab. Dia hanya memohon untuk dilepaskan.


Siswa-siswi yang sedang menonton dirinya tiba-tiba ikut buka suara, dan menyuruh Zenaya untuk menuruti permintaan tersebut. Benar-benar tak ada seorang pun dari mereka yang berdiri di pihaknya. Wajar saja, membela Zenaya berarti melawan Natalie, sang putri pemilik yayasan. Lagi pula, dilihat dari sisi mana pun memang Zenaya lah yang bersalah.


Setetes air mata mengalir membasahi pipi Zenaya. Sebesar itukah dosanya mencintai seorang Reagen? Mereka tidak tahu saja, bahwa Reagen lah yang meminta gadis itu untuk menjadi kekasihnya.


Haruskah dia mengatakan yang sebenarnya?


Zenaya menggelengkan kepalanya samar. Siapa yang percaya pada kata-kata yang keluar dari mulutnya? Bisa saja hal tersebut malah akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Katakan bodoh!" Gadis itu semakin menarik rambut Zenaya hingga beberapa helaiannya jatuh ke lantai. Baru saja ia hendak melayangkan tamparan pada pipi Zenaya, sebuah tangan kokoh telah menahan lengannya terlebih dahulu.


"Berani menyentuh kekasihku, kupatahkan tanganmu!" Reagen menatap gadis itu dingin, lalu menghempaskan tangannya kasar.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Reagen sembari menghapus air mata Zenaya.


Zenaya menganggukan kepalanya, tak mampu berkata-kata. Sebisa mungkin dia menahan suara isak tangisnya.


Reagen menggenggam tangan Zenaya dan berbalik menatap kerumuman siswa-siswi yang masih berada di sana.


"Aku lah yang lebih dulu menyatakan perasaan padanya, jadi, kuharap tak ada lagi kejadian seperti ini. Jika dikemudian hari, aku masih mendapati Zenaya diperlakukan seperti ini ... jangan harap hidup kalian akan tenang." Sebuah peringatan terlontar dari mulut Reagen.


Suasana mendadak sunyi, bisik-bisik sinis yang tadi sempat terdengar, tak lagi bergaung. Aura di tempat itu terasa sangat mencekik, hingga membuat mereka menundukkan kepala.


Zenaya meremas tangan Reagen, seolah memberi isyarat, bahwa dia enggan berlama-lama berada di sana.


Reagen yang memahami suasana hati Zenaya segera membawa gadis itu pergi menuju kelas mereka.


Natalie yang rupanya memperhatikan kejadian tersebut dari jauh, hanya bisa memandang kepergian mereka dengan hati teriris.


Reagen baru melepaskan tautan tangan mereka saat Zenaya sudah duduk di kursinya.


"Terima kasih," ucap Zenaya. Wajah gadis itu masih terlihat sangat syok. Maklum, seumur-umur dia belum pernah terlibat dalam kasus pembullyan, apa lagi sampai menjadi korban.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Reagen khawatir.


Zenaya menganggukan kepalanya.


"Mulai besok, kita akan berangkat dan pulang sekolah bersama. Aku tak ingin kejadian seperti tadi terulang."


Mendengar nada suara Reagen yang tak ingin dibantah, Zenaya mengiyakan saja.


Tak lama kemudian, ketiga sahabat Zenaya masuk ke dalam kelas dengan terburu-buru. Mereka langsung menghampiri gadis itu guna menanyakan keadaannya. Ternyata, mereka mendengar perihal kejadian yang menimpa Zenaya saat tiba di sekolah tadi, Grace bahkan hampir saja menampar salah satu siswi yang tengah bergosip di depan loker.


Melihat kedatangan sahabat Zenaya, Reagen pun memutuskan pergi menuju kursinya sendiri.


"Aku tidak apa-apa. Untung saja ada Rey yang datang tepat waktu." Zenaya tersenyum.


Emily yang tengah membantu Zenaya merapikan rambutnya kontan terdiam. Gadis itu melakukan kontak mata pada Alice dan Grace.

__ADS_1


Jujur saja, mereka sama sekali belum mempercayai perasaan Reagen.


__ADS_2