Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 66: Timbul Masalah Lain.


__ADS_3

Teriakan keduanya sontak mengagetkan ketiga pria berbeda usia yang tengah sibuk di belakang rumah.


Joe dan Sam bergegas lari ke dalam rumah dengan tergopoh-gopoh, sementara Ace memilih tetap melanjutkan kegiatannya mempersiapkan api untuk acara barbeque mereka.


"Ada apa, Emma?" tanya Joe ketika sampai di dalam rumah. Kepalanya menoleh ke arah Frans yang sudah selesai memakai pakaian.


Emma yang berdiri di ambang pintu menunjuk-nunjuk Frans menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk menutupi wajah.


"Ada orang asing di kamar tamu!" pekik Emma.


Helaan napas keluar dari mulut Joe, begitu pula dengan Sam. Bocah lelaki itu menatap kakaknya seraya memutar bola mata jengah.


Frans berdeham lalu melangkah hendak keluar dari dalam kamar.


"Stop! Stop! Stop! Berhenti disitu atau aku akan memukulmu dengan tongkat baseball!" teriak Emma.


"Kita tidak punya tongkat baseball. Memainkannya saja tidak pernah!" celetuk Sam tanpa dosa.


Frans mengulum senyum. Emma membuka celah jarinya dan memandang sang adik kesal.


"Sudah, sudah ... dia memang tamu Ayah." Joe berusaha menengahi.


"Maaf, jika kehadiran saya telah membuat kehebohan di rumah ini."


Mendengar suara Frans yang dalam, Emma kembali memejamkan mata dan merapatkan sela-sela jarinya kembali.


"Apa yang kau tutupi? Dia sudah memakai pakaiannya," kata Sam seraya bertolak pinggang.


Perlahan, Emma menoleh ke sebelah kiri sembari membuka matanya.


Semburat merah hadir di kedua belah pipi gadis itu ketika mendapati Frans berdiri dekat dengannya. Dia bisa melihat jelas wajah tampan pria itu.


Emma mundur dua langkah.


"Perkenalkan, dia adalah Frans. Ayah menyelamatkannya saat Frans hampir tenggelam bersama jetski-nya." Joe mengenalkan Frans pada Emma. Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Frans.


"Frans, dia adalah Emma, putri sulungku."


Frans mengulurkan tangannya pada Emma sembari mengulum senyum tipis.


Emma menatapnya ketus sebelum kemudian menyambut tangan Frans sekilas.


"Aku mau ke kamar dulu!" serunya. Tanpa menunggu jawaban dari mereka, gadis itu bergegas naik ke lantai dua.


"Jangan terlalu lama di atas, kita akan mengadakan pesta barbeque untuk menyambut Frans!" teriak Joe.


Emma tidak menyahut. Namun, ketika sang adik berseru keras akan menghabiskan jatah barbeque miliknya, gadis itu buru-buru mundur dan mengeluarkan jari tengah untuk sang adik.

__ADS_1


"Emma," tegur Joe.


Emma membuang muka dan kembali naik tangga.


"Maafkan keributan yang terjadi ini ya, Frans? Anak-anak memang selalu seperti ini hampir setiap hari," kata Joe tak enak.


"Tidak masalah." Jawab Frans.


Joe pun mengajak Frans untuk ikut bersama mereka ke belakang rumah.


...***...


Keempat orang berbeda generasi itu hanya bisa terperangah saat melihat cara makan Frans. Pasalnya, pria itu sudah menghabiskan tiga piring porsi daging barbeque dan empat piring pasta instan yang Emma buat. Belum lagi, beberapa buah yang kini mulai dia makan satu persatu.


Joe yang memang menyadari kondisi tubuh Frans sengaja melebihkan banyak makanan. Pria itu seperti baru saja melewati sebuah peristiwa berat dan melelahkan.


Joe mengambilkan sebotol air mineral dingin untuk Frans, ketika dia selesai menghabiskan semua makanan yang ada.


"Te–terima kasih," ucap Frans seraya menerima botol tersebut dan menandaskannya dalam waktu singkat.


Sam kembali menganga, begitu pula dengan Emma dan Ace.


"Kau sudah tidak makan berapa hari?" tanya Emma spontan.


Joe menegur putrinya agar bersikap sopan.


Frans terdiam sejenak. "Aku tengah melakukan perjalanan jauh dan bekalku habis sejak beberapa hari yang lalu. Uang yang aku punya juga dirampas orang-orang tak dikenal," jawab pria itu. Biarlah dia berbohong. Toh, dia hanya sebentar berada di sana. Setelah kondisinya pulih, Frans berniat langsung pergi meninggalkan rumah itu.


"Santai saja Frans, kami senang ada seseorang yang sangat menikmati hidangan ini." Joe tersenyum simpul.


...***...


Sudah dua hari Reagen berada di luar kota untuk urusan bisnis. Dia bersama Noah dan sekretarisnya masing-masing diminta oleh sang ayah untuk mengawasi salah satu pembangunan mall di sana, sekaligus memenuhi undangan pesta salah satu kolega Walker Group.


Namun, sore ini Noah terpaksa harus kembali pulang karena baru saja mendapat kabar, bahwa Krystal dan Jennia dilarikan ke rumah sakit setelah terlibat kecelakaan beruntun. Reagen tadinya meminta ikut pulang, tetapi Noah menahannya.


"Kau tidak perlu cemas. Aku akan segera mengabarimu." Noah menepuk pundak sang adik demi menenangkan pria itu, padahal dirinya sendiri juga terlihat sangat gusar.


"Kita batalkan saja. Aku akan ikut denganmu," ucap Reagen.


"Tidak perlu, masih ada aku. Kau cukup menyelesaikan pekerjaanmu saja di sini dan susul aku besok."


Pria itu akhirnya menganggukkan kepala.


"Hati-hati di jalan, Tuan Noah." Lea yang berdiri di sebelah Reagen membungkukkan badannya hormat. Ada sekilas senyum tipis yang hadir di bibir wanita itu.


Noah berterima kasih sebelum akhirnya masuk ke dalam taksi yang telah datang.

__ADS_1


...***...


Setelah dua hari memulihkan diri di kediaman keluarga Smith, Frans memutuskan untuk kembali pulang. Pria itu tak bisa terlalu lama merepotkan mereka dengan terus-terusan tinggal di sana. Lagi pula, masih ada hal yang harus dia lakukan.


"Keadaanmu belum sepenuhnya membaik," ujar Joe pada Frans. Mereka kini sedang berbicara di luar rumah sembari ditemani api unggun.


"Aku tidak bisa berlama-lama di sini," jawab Frans.


"Kau sudah tahu tentang aku dan keluargaku, bukankah tak adil jika kau tidak melakukan hal yang sama. Minimal, beritahu aku apa yang menyebabkan dirimu seperti ini." Joe memandang wajah Frans serius.


Frans lagi-lagi sempat berkilah kalau dia hanya tersasar ketika sedang berpergian, akan tetapi Joe selalu mendesaknya untuk bercerita.


"Aku tahu benar dari arah mana kau datang. Tak ada yang nekat ber-jetski sampai ke pulau tak berpenghuni itu," ujar Joe.


Frans menghela napasnya. Merasa terpojok, dia akhirnya terpaksa menceritakan semua pada pria paruh baya itu.


Dari mulai jejak temannya yang hilang, t3ror, penculikan yang dilakukan orang-orang tak dikenal, sampai kemudian mereka menemukannya hampir tenggelam di laut. Termasuk juga soal Reagen, atasan yang sangat dia hormati.


Joe tidak terkejut. Dari luka sayat sampai kondisi Frans, dia sudah dapat menebak ada yang tidak beres dengan keselamatan hidupnya. Terlebih, pria itu terlihat sangat waspada terhadap orang-orang yang selalu datang ke rumahnya.


"Kau tidak terkejut?" tanya Frans.


"Tanganku juga pernah berlumuran d4r4h, sama seperti dirimu." Joe memasang senyum simpul. "Lalu, setelah ini kau mau ke mana?" tanyanya kemudian.


"Aku ingin mencari temanku yang hilang dulu, sekaligus mencari dalang di balik semua ini. Setelah itu, baru aku akan menemui atasanku," jawab Frans.


"Itu merupakan tempat yang jauh," kata Frans.


Frans tertunduk. "Aku tahu, tetapi aku tak bisa berdiam diri saja," ucapnya.


Joe terdengar menghela napasnya. "Baiklah kalau begitu, ikut aku!" Pria paruh baya berjanggut itu berdiri dari kursinya dan berjalan menuju suatu tempat. Frans mau tak mau mengikutinya.


Tak perlu waktu lama hingga keduanya sampai di sebuah gudang tua. Joe membuka gudang tua tersebut dan menyalakan lampunya.


Satu buah unit mobil Jeep keluaran lama terpampang jelas di hadapan mereka.


"Ini merupakan mobil tua kesayanganku. Aku sudah lama tidak menggunakannya, terlebih setelah pensiun." Joe mengitari mobil tersebut dan mengambil kuncinya di salah satu laci kayu yang sudah sedikit usang.


Meski tampak tua, Frans dapat merasakan bahwa mobil tersebut masihlah sangat gagah.


Suara mesin mobil berderu tak lama kemudian. "Cobalah," titah Joe.


Frans menaiki mobil tersebut dan mencoba menginjak pedal gasnya. Joe sontak tertawa. "Benar-benar masih gagah. Gunakanlah!"


Frans kontan terkejut. Dia bergegas turun dari mobil dan menolaknya. "Aku tidak bisa menerima kebaikanmu yang lain. Lagi pula, aku tidak bisa berjanji akan kembali lagi ke sini," ujar pria itu.


"Kalau begitu miliki saja. Emma tak bisa mengendarai mobil. Sementara Ace dan Sam berkata jika mobil ini sudah sangat kuno. Kau juga tidak mungkin pulang dengan jalan kaki, bukan?" kelakar Joe.

__ADS_1


Frans bergeming.


Melihat tak ada jawaban dari pria itu, Joe memegang pundaknya. "Cari temanmu, dan bantu atasanmu mencari dalang di balik semua ini." Seberkas senyum meneduhkan terpancar dari wajah tua Joe. Senyum yang mengingatkannya pada mendiang sang ayah, yang sudah puluhan tahun meninggalkan dirinya.


__ADS_2