
Reagen lagi-lagi harus mengalah ketika Noah dan Craig menyuruhnya untuk menangani kantor sementara waktu.
Mau tak mau Reagen harus menuruti perintah mereka. Lagi pula, masih ada Zenaya yang rela bolak-balik ke rumah sakit untuk melihat keadaan ipar dan juga sang ibu.
Pria itu sengaja telat datang ke kantor dan memilih langsung masuk ke dalam ruangannya.
Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Reagen, sama sekali tidak berani menyapa saat melihat raut wajah atasannya tersebut. Maklum, kabar berita soal kecelakaan yang menimpa Jennia dan Krystal sudah menyebar seantero kantor, oleh sebab itu mereka bisa memahami sikap Reagen yang demikian.
Lea masuk ke dalam ruangannya beberapa saat kemudian, sembari membawa secangkir teh hijau hangat. "Ini teh Anda, Tuan." Wanita itu meletakkan minuman tersebut di atas meja Reagen.
Reagen mengangkat sebelah alisnya saat mendapati tingkah laku Lea. Sikap yang wanita itu tunjukkan, tak seperti wanita yang baru saja mengalami pem*rk0saan. Dia bahkan terlihat biasa-biasa saja, seolah kejadian kemarin bukanlah sesuatu hal yang sangat besar.
"Tuan sudah sarapan?" tanya Lea sembari mendekatkan diri pada Reagen. Dia memberanikan diri membenarkan dasi pria itu, yang memang sudah dirapikan oleh sang istri.
"Lepas!" seru Reagen dingin.
"Jangan galak pada saya, Tuan. Sudah saya bilang, bukan, Anda tidak boleh pergi meninggalkan saya? Itu artinya, Anda juga harus merubah sikap Anda yang tidak manusiawi itu," ujar Lea seraya memasang senyum termanis yang dia miliki.
Reagen mengernyit jijik. "Ini kantor!" Pria itu menyentak kasar tangan Lea.
Lea memasang raut wajah kesal. "Anda rupanya menganggap enteng ancaman saya, ya?" Wanita itu mendorong tubuh Reagen hingga terduduk di kursinya. Kemudian, dengan kurang ajar Lea berani duduk di pangkuan pria itu.
"Eleanor!" bentak Reagen.
Lea mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto mereka berdua.
"Jangan pernah mencoba menjebakku, Lea! Sikapmu jelas tak selayaknya seorang korban!" seru Reagen dingin.
Lea merapatkan tubuhnya pada tubuh Reagen. "Saya hanya tak ingin terpuruk, Tuan. Menerima nasib sepertinya tidak seburuk itu. Apa lagi jika pria yang menodai saya adalah pria seperti Anda," bisik Lea tepat di telinga Reagen. Wanita itu mengelus lembut kening Reagen menggunakan kuku-kukunya yang lentik, hingga sampai ke bibir atasannya tersebut.
Baru saja Lea hendak menj4jahi lebih jauh tubuh Reagen, suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar.
Reagen sontak mendorong tubuh Lea hingga terjatuh ke lantai, sebelum akhirnya berjalan menghampiri pintu.
"Maaf, Pak, meeting akan segera dimulai." Seorang karyawan wanita berdiri di hadapan Reagen.
"Lima menit lagi aku akan ke sana," jawab Reagen datar.
Karyawan tersebut menganggukkan kepalanya dan pergi dari sana.
Setelah karyawan wanita itu pergi, Reagen memicing bengis Lea yang kini sudah berdiri sambil mengaduh-aduh.
Tanpa berkata apa-apa, dia pun keluar dari ruangannya sembari membanting pintu sekeras mungkin.
__ADS_1
"Sialan!" teriak Lea.
...***...
Zenaya, Craig, dan Noah dapat sedikit bernapas lega, ketika dokter mengatakan bahwa Jennia telah melewati masa-masa kritisnya. Kendati belum sepenuhnya sadarkan diri, wanita itu sudah dapat memberikan respon saat mendengar suara-suara disekitarnya.
Jika kondisi Jennia semakin hari semakin membaik, baru dia akan dipindahkan dari ruang ICU, dan pihak keluarga dapat menjenguknya.
"Terima kasih banyak penjelasannya, Dok," ucap Zenaya.
"Sama-sama Nyonya Zenaya Walker. Kalau begitu, saya permisi undur diri dulu." Dokter
berusia 50 tahunan itu membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan mereka bertiga.
Zenaya segera memapah sang ayah mertua untuk kembali duduk di ruang tunggu.
"Pa, kalau tidak mau pulang, minimal Papa harus beristirahat dengan benar. Aku sudah meminta pihak rumah sakit untuk menyiapkan satu ruangan khusus agar Papa bisa tidur." Zenaya menatap Craig khawatir. Pasalnya, sejak sang istri dibawa ke sini, hingga sekarang, Craig sama sekali enggan beranjak dari sana. Noah juga sudah berkali-kali menawarkan sang ayah untuk tidur di ruang perawatan Krystal, tetapi beliau menolak keras.
"Papa baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir." Seulas senyum sendu terpatri di wajah tua Craig.
"Papa sudah dua hari tidak tidur dan makan, minum pun hanya sedikit, kalau sampai sakit, bagaimana dengan Mama?" Kali ini Noah turut membujuk sang ayah.
"Papa baik-baik saja," kata pria itu keras kepala.
Helaan napas keluar dari mulut Craig. "Saya hanya tak ingin meninggalkan istri saya di sana seorang diri," ujar pria itu sembari menatap sosok sang istri yang tergeletak tak berdaya di dalam ruang ICU.
Liam menepuk pundak besannya tersebut dan memaksanya bangkit. "Kau tidak bisa begini terus." Kepalanya menoleh pada Noah. "Noah, kau juga harus beristirahat," titah pria itu sebelum akhirnya dengan membawa Craig. Zenaya ikut bersama mereka.
"Baik, Pa." Noah menganggukkan kepalanya. Sebelum benar-benar pergi, dia menatap sosok sang ibu terlebih dahulu.
...***...
Reagen baru sampai di rumah sakit pada sore harinya. Sang kakak memberitahu, bahwa ayah mereka berada di ruang perawatan lain.
Setelah melakukan sedikit pemeriksaan, diketahui kondisi Craig juga mulai menurun. Oleh sebab itu, Liam memerintahkan salah seorang perawat untuk memberikan infus guna menggantikan cairan tubuhnya yang hilang.
Reagen mencium kening sang istri yang juga sedang berada di sana, menunggui mertuanya.
"Bagaimana keadaan Papa?" tanya Reagen.
"Papa hanya mengalami dehidrasi. Kau tidak perlu khawatir," jawab Zenaya sembari mengulas senyum.
"Terima kasih sudah mau menunggui Papa," ucap Reagen tulus. Dia merengkuh tubuh sang istri dan mengelus lembut perut buncitnya.
__ADS_1
"Aku anaknya juga, kan? Jadi, sudah seharusnya aku menjaga Papa."
Entah mengapa, perkataan Zenaya barusan malah membuat perasaan bersalah di hati Reagen semakin membumbung tinggi. Zenaya begitu tulus terhadap keluarga dan dirinya disaat tertimpa musibah, tetapi apa yang sudah dia lakukan pada sang istri sebagai balasan atas ketulusannya?
...***...
Setelah meminta dua orang asisten rumah tangga kedua orang tuanya datang untuk menjaga mereka, Reagen dan Zenaya memutuskan pulang ke rumah.
"Hujan!" seru Zenaya saat tiba di pelataran lobby rumah sakit.
"Tunggu di sini, biar aku saja yang mengambil mobil." Reagen melepas genggaman tangannya dan pergi menembus hujan dengan berlari-lari kecil. Sementara itu, Zenaya memilih berdiri di sebelah ruang UGD.
Setelah sampai di dalam mobil, suara ponsel Reagen tiba-tiba berbunyi. Pria itu membelalakkan matanya ketika mendapati nama Lea tertera di layar ponsel.
Reagen sengaja tidak mengangkat telepon dari wanita itu, tetapi, sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya beberapa saat kemudian.
[Kali ini saya maafkan, Tuan. Namun, saya tidak akan tinggal diam jika Anda mengabaikan saya lagi.]
Wajah Reagen sontak memerah. Pria itu memukulkan ponselnya berkali-kali pada kemudi mobil.
"B4ngsat!"
...***...
Zenaya sesekali melirik ke arah sang suami yang sedang serius menyetir mobil. Saat datang ke rumah sakit tadi, wajah Reagen memang sudah terlihat kusut, tetapi hal tersebut semakin bertambah sejak dia kembali dari parkiran mobil.
"Sejak kemarin kau sedikit berubah? Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?" tanya Zenaya penasaran.
"Tidak ada, semua baik-baik saja." Jawab Reagen cepat, tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Aku tahu kau sedang memikirkan Mama dan Kak Krystal, tapi sepertinya kau tak hanya memikirkan hal itu saja," kata Zenaya lagi. "Kalau butuh seseorang untuk bercerita, aku siap mendengarkan." Seulas senyum lembut terpatri di wajahnya.
"Itu hanya pemikiranmu saja." Reagen menanggapi perkataan sang istri sekenanya. Dalam hati, dia tengah memohon agar Zenaya tak lagi berbicara.
"Aku tahu mungkin ini sedikit berlebihan, tetapi aku mengatakan ini bukan hanya karena sekadar pemi—"
Belum sempat Zenaya menyelesaikan perkataannya, Reagen sudah menginjak pedal remnya kuat-kuat. Dia bahkan juga menghardik sang istri keras. "DIAM! Bisakah kau diam dan jangan cerewet? Padahal sudah kubilang, aku tidak kenapa-kenapa!"
Zenaya sontak terbelalak. Wanita hamil itu bisa saja tersungkur jika tidak mengenakan seatbelt pada tubuhnya.
"Rey," panggil Zenaya dengan wajah ketakutan.
Bukannya menoleh, Reagen malah keluar dari mobil dan membanting pintu. "Pulang dan jangan tunggu aku! Aku ingin sendirian!"
__ADS_1
Zenaya hanya bisa menatap kepergian sang suami dengan air mata berlinang. Tanpa mempedulikan dirinya, pria itu menghentikan taksi yang lewat dan pergi meninggalkannya di sana begitu saja.