
Aku akan datang sedikit terlambat. Tunggulah di sana. Jangan ke mana-mana.
Itulah sebaris kalimat yang Reagen kirimkan pada Zenaya beberapa menit yang lalu. Namun, pria itu belum juga muncul di hadapannya. Zenaya memang sengaja mengambil lembur hari ini agar bisa langsung tidur sesampainya di rumah. Setelah kejadian semalam, dia terlalu malu untuk berhadapan dengan sang suami.
Zenaya menggosok kedua lengannya demi mengurangi rasa dingin, yang mulai merambat ke sekujur tubuhnya.
David yang sedang berjalan menuju ke luar lobby, mengernyitkan keningnya ketika melihat Zenaya masih berada di sana. Pasalnya, wanita itu sudah pamit lebih dulu ketika mereka berpapasan tadi, dan itu sudah lima belas menit yang lalu.
Tanpa pikir panjang, pria itu menghampiri Zenaya.
"Zen," panggil David.
Zenaya menoleh. "Dav, kau baru ingin pulang?" tanya wanita itu.
David mengangguk. "Kau sendiri belum pulang? Mana suamimu?" tanya David sembari menoleh ke sana kemari.
Zenaya menggeleng. "Dia datang terlambat," jawabnya.
Zenaya bersedekap sembari sesekali menggosok-gosok lengannya yang tidak terlapisi kain. Wanita itu sepertinya tidak membawa mantel.
"Malam semakin dingin, sebaiknya aku antar saja. Kau bisa menghubungi suamimu nanti," tawar pria itu kemudian.
"Tidak perlu, dia akan datang sebentar lagi." Tolaknya halus.
"Baiklah, aku akan menemanimu selama sepuluh menit di sini, kalau dia belum datang juga, kau harus ikut denganku."
Zenaya nampak menimbang-nimbang tawaran David sebelum akhirnya menyetujui tawaran tersebut.
David dengan berbaik hati membuka mantelnya dan menyelimuti Zenaya.
"Dav, aku–" ucap Zenaya terbata.
"Tidak apa-apa. Hanya sampai kau di jemput."
Keduanya terdiam sejenak sembari menunggu kedatangan Reagen. Namun, sudah lewat dari sepuluh menit, pria itu sama sekali belum muncul juga.
Zenaya baru saja hendak mengambil ponselnya, ketika David tiba-tiba menarik tangan wanita itu. "Sudah lebih dari sepuluh menit, sebaiknya kau ikut denganku. Udara malam seperti ini tidak baik bagi wanita hamil," ujar David tanpa memperdulikan protes Zenaya.
David membawa Zenaya menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.
...***...
Di dalam mobil, keduanya banyak mengobrol tentang pekerjaan. David bahkan melempar lelucon sesekali hingga membuat Zenaya tertawa lepas. Apa lagi, jalanan malam ini terlihat lengang, jadi dalam waktu 20 menit saja, mereka telah sampai di apartemen Zenaya.
"Terima kasih, Dav. Maaf sudah merepotkanmu," ucap Zenaya sebelum turun dari mobil.
"Tidak perlu begitu. Teman harus saling membantu, kan? " David mengulas senyum ramah. "Sampaikan salamku untuk suamimu. Kuharap dia masih mengingatku," sambungnya.
Zenaya mengangguk dan keluar dari mobil. Wanita itu menunggu di sana sampai mobil David benar-benar menghilang dari hadapannya. Setelah itu, dia naik ke dalam lift menuju unitnya.
Kosong! Tak ada siapa pun di sana.
"Astaga!" Zenaya memekik kecil. Asyik mengobrol di jalan membuat wanita itu lupa mengabari kepulangannya pada Reagen.
__ADS_1
"Aku akan–"
Brak!
Suara gebrakan pintu membuat Zenaya berjengit kaget. Reagen masuk ke dalam apartemen dengan raut wajah dingin.
"Bukankah sudah kubilang untuk tetap berada di sana. Jangan ke mana pun sebelum aku datang!" seru pria itu.
"Kau terlalu lama. Tadi aku di antar teman dan lupa mengabarimu." Jawab Zenaya jujur.
"Lupa karena terlalu asyik mengobrol di mobil dengan David?" Reagen memasang senyum dingin.
Zenaya mengernyitkan dahinya. "Kau tahu?" tanya wanita itu heran.
"Saat mobil pria itu keluar, aku baru saja datang. Kita sebenarnya berpapasan, dan kau terlalu asyik melempar tawa padanya, hingga tak menyadari keberadaanku." Reagen berusaha mengontrol emosinya. Bayang-bayang wajah sang istri yang tampak bahagia saat bersama David, masih terus bergentayangan di dalam isi kepala pria itu.
Kenyataan bahwa Zenaya tak pernah sekali pun memberikan senyuman itu padanya, menambah luka lain di dalam hati Reagen.
Reagen kemudian mengalihkan pandangannya pada mantel tebal yang masih tersampir di bahu Zenaya.
"Aku tak pernah ingat kau memiliki mantel itu," ujar Reagen.
Zenaya tersentak. Dia baru menyadari bahwa mantel milik David masih berada padanya.
"Ini milik David, aku akan mengembalikannya besok." Zenaya berbalik badan untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku tidak pernah mempermasalahkan siapa pun yang pulang bersamamu, selama itu bukan pria. Terlebih pria seperti David!" Reagen memberi ultimatum tegas.
Zenaya sontak memghentikan langkahnya. "Memang ada apa dengan David? Kau tak bisa melarangku bergaul dengan siapa pun. Apa lagi, aku sudah mengenal David lumayan lama dan kami berteman baik hingga kini."
Reagen sedang mengungkit kejadian beberapa bulan lalu, saat David mengantarnya pulang sehabis makan malam di taman. Pria itu mendaratkan sebuah kecupan ringan di dahi Zensya, dan Reagen melihat jelas dari dalam mobil.
"Itu dulu. Sekarang dia tahu aku sudah menikah." Zenaya mencoba memberi alasan, walau jauh di dalam lubuk hatinya, entah mengapa dia merasa bersalah pada Reagen.
"Tidak semudah itu seorang pria melupakan wanita yang dicintainya." Ada sorot mata lain yang tampak, tatkala Reagen mengatakan hal demikian.
"Aku tak ingin bertengkar denganmu, dan dia tidak mencintaiku," ujar Zenaya.
"Dia jelas menyukaimu, mengagumimu, mencintaimu!" Reagen tetap keras kepala.
"Itu tidak benar!" sentak Zenaya. Dia tidak terima teman baiknya di fitnah seperti itu. David jelas-jelas hanya menganggap Zenaya tak lebih dari seorang teman baik, sekaligus adik.
"Apa buktinya? Bisakah kau memberikan sedikit contoh sikapnya yang tidak melibatkan perasaan padamu?" Reagen mengajukan pertanyaan telak yang langsung membuat Zenaya bungkam seketika.
"Semua yang dia lakukan padamu adalah bentuk perasaan cintanya, Zenaya Walker!" Reagen menekan nama wanita itu untuk memberi penegasan padanya.
Zenaya tertunduk sejenak. Dia bukan tak menyadari hal tersebut, hanya saja, Zenaya tetap ingin berteman baik dengan David. Lagi pula, pria itu tahu dia telah bersuami.
"Kau terlalu banyak ikut campur urusanku. Sikap lunak yang aku tunjukan ternyata membuat dirimu merasa memiliki hak atas diriku." Zenaya mencoba tetap bersikap jahat seperti biasa.
"Aku memang memiliki hak atas dirimu, Zenaya!" seru Reagen.
"Kau tidak memiliki itu! Aku bukan bonekamu!"
__ADS_1
"Aku memilikinya." Reagen berjalan menghampiri Zenaya.
Ketakutan tiba-tiba hadir mengusik Zenaya begitu melihat dengan jelas tatapan tajam Reagen. Wanita itu mundur selangkah. "Menjauh dariku! Atas dasar apa ka–!"
"Aku suamimu!" Bentak pria itu tanpa sadar. Reflek dia menarik Zenaya dan mencium bibirnya.
Zenaya terbelalak. Ingatan akan peristiwa lalu tiba-tiba kembali berlalu-lalang di dalam kepalanya.
Zenaya hendak mendorong Reagan, karena takut pria itu akan berlaku kasar kembali. Namun, ternyata tidak demikian.
Reagen memeluk lembut pinggangnya, sembari melempar mantel David yang masih tersampir di bahu.
Tak lama, Reagen melepas pagutan mereka. Kening pria itu menempel pada keningnya.
"Aku mencintaimu, Zenaya. Tak bisakah kau melihatnya sekarang? Semua salah yang kulakukan karena aku sangat mencintaimu," ucap Reagen seraya terpejam.
Zenaya bungkam. Jangankan membuka mulut, bergerak sedikit saja dia tak mampu melakukannya.
"Hilangkan traumamu, Zen. Aku akan menebusnya dengan cara apa pun." Mata Reagen terbuka.
Zenaya menatap lurus-lurus pria itu. Dia baru menyadari keindahan warna mata sang suami.
Reagen perlahan memegang perut Zenaya. Jika dilihat dari jauh, perut sang istri memang tampak masih rata, tetapi saat dia memegangnya, dia bisa tahu bahwa ada kehidupan lain yang sedang tumbuh di sana.
Detak jantung keduanya berdegup keras.
Reagen kembali menempelkan bibirnya pada wanita itu. "Aku mencintaimu, Zenaya. Kau milikku seutuhnya. Aku tak akan pernah membiarkanmu lari ke mana pun."
Pernyataan posesif Reagen menyadarkan segalanya.
Zenaya melepaskan diri dari Reagen dan mengambil jaketnya yang berada di standing hanger.
"Biarkan aku sendiri. Jangan cari aku."
Tanpa menoleh ke belakang, Zenaya meninggalkan unit apartemen Reagen begitu saja.
"5**H1T!" Pria itu memaki dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Zenaya butuh lebih banyak waktu dan dia harus memiliki kesabaran lebih.
.
.
.
.
.
.
.
Minal aidzin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.
__ADS_1
Selamat berlebaran bagi Kakak-kakak yang merayakannya. 🙏🙏❤️❤️