
Zenaya berteriak pada Reagen agar pria itu mau menepikan mobilnya. Dia bahkan berkata akan nekat memecahkan kaca mobil dan melompat keluar jika Reagen tidak menuruti permintaannya. Namun, Reagen sama sekali tidak menghiraukan gadis itu. Dia tahu, Zenaya tak akan bisa melakukan hal nekat tersebut. Pria itu malah menahan seatbelt yang hendak Zenaya lepaskan, menggunakan satu tangannya.
"Kau mau membawaku ke mana? Aku ingin pulang!" teriak Zenaya lagi. Nyalinya ciut seketika saat melihat sorot mata Reagen yang tak lagi ramah seperti biasa. Pengaruh alkohol membuat kepribadian pria itu berubah total.
"Aku tak akan pernah melepaskanmu, Zenaya!" seru Reagen dingin. Mobil melaju semakin kencang. Meski beberapa kali sempat oleng, Reagen berusaha mengemudikan mobilnya dengan benar agar tidak terjadi kecelakaan.
Zenaya tak lagi berteriak. Wanita itu diam seribu bahasa. Reagen tak mungkin membawanya pergi jauh. Dia pasti akan berhenti di suatu tempat, dan Zenaya akan menggunakan kesempatan itu untuk kabur darinya.
Mengetahui Zenaya tidak lagi memberontak, Reagen melepaskan tangannya yang tadi menahan seatbelt gadis itu. Beberapa saat kemudian, mereka memasuki sebuah gedung apartemen mewah. Reagen membawa mobilnya langsung ke basement.
Zenaya kontan dilanda kepanikan. Dia takut Reagen nekat berbuat sesuatu padanya. "Kenapa kau membawaku ke sini? Tempat siapa ini?" desak gadis itu.
Reagen lagi-lagi enggan menjawab. Dia memarkirkan mobilnya sembarang dan menarik kasar lengan Zenaya agar keluar dari mobil.
"Ini tempat apa? Kau mau membawaku ke mana? Jangan macam-macam atau aku akan melaporkanmu ke polisi!" ancam Zenaya. Raut wajahnya mulai ketakutan akan tempat asing yang belum pernah dia datangi itu.
"Keluar!" hardik Reagen.
"Tidak mau!" Zenaya membalas teriakan Reagen, walau suaranya terdengar bergetar.
"Ikut aku!" Reagen menyeret gadis itu sampai ke depan pintu lift yang khusus dibuatkan untuknya. Namun, Zenaya dengan cepat melepaskan cengkraman Reagen.
Zenaya menarik napasnya yang terasa sesak. "Apa maumu sebenarnya? Kenapa kau terus menggangguku seperti ini? Dulu kau membuang dan hanya menganggap diriku seonggok sampah! Kini kau datang dengan membawa segudang tanda tanya yang sama sekali tak pernah kutemukan jawabannya!"
Gadis itu kemudian tertawa sinis. "Kau juga seenaknya mengatakan mencintaiku saat itu, padahal jelas-jelas kau telah bersama Natalie." Zenaya menghapus kasar air matanya yang mulai meleleh.
"Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Natalie. Aku juga sudah menjelaskannya pada Grace, dan aku memang mencintaimu, Zenaya!" balas Reagen tak kalah emosi.
"Mustahil kalian tidak memiliki hubungan apa pun setelah bersama selama belasan tahun." Zenaya menatap Reagen tajam. Dia sebenarnya sudah mendengar hal tersebut dari Grace. Namun, melihat betapa Natalie berani mengakui Reagen di depan pria itu sendiri membuat Zenaya yakin, bahwa Reagen tak keberatan dengan status yang wanita itu sematkan. Dia hanya mencoba menarik ulur perasaan Natalie, atau dia memang seorang pria brengsek.
"Dia temanku, dan aku tak pernah menganggapnya lebih dari itu. Tak pernah sekali pun Zenaya, tak pernah!" seru Reagen frustrasi. "Aku mencintaimu, dan itu bukan hanya hari ini, melainkan sejak sepuluh tahun yang lalu." Matanya memandang gadis itu sendu.
Zenaya mendecih. "Itu artinya bukan perasaan cinta. Kau hanya merasa bersalah atas apa yang telah terjadi, dan itu tidak akan pernah berubah."
"Kau tak tahu apa-apa soal hatiku," ujar Reagen tersinggung.
"Apa yang aku tidak tahu? Kau hanya pria br3ngsek yang pintar memainkan hati wanita. Lihat saja apa yang kau lakukan sekarang. Inikah caramu menggaet setiap wanita? Dengan membawanya ke apartemen untuk dit1duri? Kau memang pria menjijikan dan aku sangat membencimu!" pekik gadis itu tanpa sadar.
Suasana mendadak hening. Zenaya terkesiap saat menyadari kesalahannya dalam berbicara. Dia sudah kelewat batas. Namun, Reagen pasti tidak akan berhenti jika dia tak menohoknya. Terbukti, pria itu kini terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
Zenaya pikir strateginya berhasil. Dia berbalik pergi hendak meninggalkan Reagen. Namun, gadis itu lupa bahwa Reagen masih berada di bawah pengaruh alkohol. Kata-kata kejam yang dikeluarkan Zenaya malah memancing emosi terpendam pria itu.
Tanpa berkata apa-apa, Reagen dengan kasar memanggul Zenaya dan membawa masuk gadis itu masuk secara paksa ke dalam lift khusus miliknya.
"Lepaskan aku, b3debah!" jerit Zenaya sembari memukul-mukul punggung Reagen.
"Diam! Diam!" hardik pria itu. Tadinya, dia memang berniat hanya akan mengajak Zenaya bicara baik-baik, tetapi mendengar penghinaan yang dilontarkannya tentang wanita mana saja yang sudah dia t1duri, membuat emosi Reagen terpancing seketika.
"Akan kubuktikan, apa yang kulakukan pada gadis-gadis yang kubawa ke sini," ujar pria itu dingin. Tentu saja ucapan itu adalah sebuah kebohongan. Hanya Zenaya satu-satunya gadis yang pernah dia bawa ke apartemennya.
Zenaya menggigil ketakutan. Dia meronta-ronta di bahu Reagen.
Lift berhenti tepat di lantai teratas, dua puluh. Reagen pun membanting Zenaya ke ranjangnya begitu sampai. Meski luas, apartemen Reagen memang didesain seperti kamar tidur pribadi. Jadi, semua ruangan terhubung tanpa sekat. Hanya toilet dan walk in closet saja yang memiliki ruangan tertutup.
Zenaya mencoba bangkit dari ranjang besar itu, tetapi Reagen menahan tubuhnya. Tak ingin terjadi apa-apa, Zenaya menampar keras pipi Reagen hingga menyebabkan bibir pria itu terluka.
Zenaya berteriak. Reagen membalas teriakannya. Gadis itu mulai menangis histeris ketika Reagen mencoba berbuat lebih jauh. Dia mencium Zenaya kasar dan merobek seluruh pakaiannya. Terlalu banyak mengeluarkan tenaga membuat Zenaya tak mampu lagi melawan Reagen. Kekuatannya tentu tak sebanding dengan pria itu.
"Tuhan, tolong aku!" batin Zenaya putus asa. Suaranya tak mampu keluar, pandangan matanya pun mulai mengabur. Dia berusaha menahan kesadarannya agar tetap terjaga. Namun, hentakan kuat Reagen membuat gadis itu tak sadarkan diri seketika.
...***...
Seorang perawat kemudian menggunting benang jahit yang baru saja diikat Adryan. Pria itu kembali menusukkan jarumnya pada kulit kepala sang pasien. Operasi yang dia lakukan hampir selesai.
"Cut!" titahnya lagi.
Sang perawat kembali menggunting benang tersebut. Namun, entah mengapa tangan Adryan tiba-tiba bergetar hebat. Needle holder yang berada di tangannya pun terhempas ke lantai.
Dokter dan para perawat yang ada di sana kontan terdiam sejenak. Dokter Marcell yang menjadi tangan kedua Adryan segera menyuruh perawat untuk mengambil needle holder yang baru.
"Anda sudah terlalu lelah, dok, biar saya saja yang selesaikan," tawarnya kemudian. Maklum saja, selama 24 jam ini Adryan harus menangani tiga operasi besar sekaligus.
Adryan menghela napasnya. "Maafkan saya." Pria itu berdiri lalu menyerahkan tugas tersebut pada dokter Marcell. Sebenarnya, menjahit luka bisa saja diselesaikan dokter atau perawat lain, tetapi Adryan terbiasa melakukannya sampai selesai.
"Terima kasih atas kerja kerasnya, dok," para perawat dan dokter yang ada di sana memberi salam pada Adryan, begitu pun sebaliknya.
Adryan menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya yang masih terlihat bergetar. Batinnya mendadak gelisah. Entah mengapa, tiba-tiba dia memikirkan Zenaya.
"Aku harus menghubunginya," kata pria itu dalam hati.
__ADS_1
...***...
Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi saat Zenaya terbangun dari pingsannya.
Gadis itu terkesiap ketika mendapati Reagen duduk tepat di sebelahnya sembari mengacak-acak rambut frustrasi. Tubuh pria itu sama sekali tidak berpakaian. Hanya ada selembar bed cover saja yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
Zenaya sontak menatap tubuhnya sendiri. Pakaian yang sebelumnya melekat rapi kini tercecer di lantai dalam keadaan m3ngenaskan. Sesuatu yang amat sakit dirasakan gadis itu ketika dia mencoba bergerak.
"A–apa yang kau lakukan padaku?" tanya Zenaya seraya menatap horor Reagen. Bulu kuduknya meremang seketika. Darah seolah tersedot habis dari wajah wanita itu.
Reagen menatap Zenaya dengan pandangan menyesal. Pria itu sepertinya telah sadar dari pengaruh alkohol.
"Zen, a–aku–" Belum selesai Reagen berbicara, Zenaya sudah berteriak histeris.
Reagen, pria yang pernah dia cintai sepuluh tahun lalu, lagi-lagi menghancurkan harga dirinya. Bahkan, dia kini juga menghancurkan hidup Zenaya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Note:
Needle *h**older* *merupakan i**nstrument bedah yang digunakan untuk menjepit atau memegang needle hecting (jarum jahit) saat menjahit luka robek, atau operasi*.
__ADS_1