
Jennia memandang kedua menantunya dengan tatapan sedih, terutama pada Zenaya. Pasalnya, kedua putranya itu bersikeras mengajak istri mereka pulang ke rumah masing-masing. Noah sudah terlalu lama menginap di sana, sementara Reagen beralasan ingin segera hidup mandiri bersama Zenaya.
Sehari setelah acara pernikahan selesai, mereka memang langsung tinggal di kediaman keluarga Walker untuk sementara waktu, dan kini tepat sepuluh hari mereka berada di sana.
"Rumah akan kembali sepi tanpa kalian," kata Jennia lirih.
"Kami akan sering-sering pulang ke sini, Ma," ucap Zenaya sembari mengulas senyumnya.
"Iya, Ma. Bella bahkan tak bisa lama meninggalkan Grandma dan Grandpa-nya." Krystal menimpali perkataan Zenaya.
Jennia memasang senyum sumringah. "Baiklah, yang penting sering-sering hubungi Mama ya?" pesan wanita itu pada kedua menantu kesayangannya.
Krystal dan Zenaya mengangguk patuh. Hati wanita itu kian hari kian menghangat. Semula, Zenaya pikir keluarga Walker akan sulit menerima kehadirannya. Namun, mereka ternyata begitu senang dan sangat menyayangi Zenaya. Craig dan Jennia bahkan tidak pernah membeda-bedakan dirinya dengan Krystal.
Begitu pula Noah dan Krystal. Keduanya sangat menerima kehadiran Zenaya sebagai adik ipar mereka.
Krystal dan Zenaya bahkan sering bertukar pikiran perihal kehamilan. Wanita anggun itu dengan ramah menjawab setiap pertanyaan Zenaya tentang masa-masa kehamilan di usia muda, termasuk morning sickness.
Kelabu tak lagi kentara di hati wanita itu. Kendati kebencian masih setia bertaut pada Reagen, tetapi dia mencintai keluarga sang suami.
...***...
"Jaga Zenaya baik-baik, Rey," pesan Craig pada Reagen. Sore ini mereka akan pergi ke meninggalkan rumah utama. Noah, Krystal dan Bella malah sudah pulang sejak tadi pagi.
"Iya, Pa," jawab Reagen sungguh-sungguh.
Craig menepuk pundak Reagen. Pria paruh baya itu kini tak lagi mengkhawatirkan hubungan mereka. Selama sepuluh hari berada di sana, Reagen dan Zenaya terlihat baik-baik saja. Memang, terkadang Zenaya tidak dapat menyembunyikan kebenciannya pada Reagen, dan dia memaklumi hal itu.
Menghilangkan trauma bukanlah perkara mudah. Zenaya mampu menerima pernikahan ini saja, sudah merupakan suatu keajaiban.
Reagen kemudian beralih pada Jennia dann memeluk sang ibu erat.
"Tolong jaga menantu dan cucu Mama ya, Sayang. Kau juga harus menjaga kesehatanmu." Jennia menepuk-nepuk punggung Reagen penuh sayang.
"Pasti, Ma," jawab Reagen.
Reagen melepas pelukannya. Dia menunggu Zenaya yang sedang memeluk sang ayah. Pria itu sepertinya sedang memberi sedikit nasihat.
"Baik, Pa." Hanya itu yang dapat Reagen dengar.
Setelah selesai dengan Craig, wanita itu beralih pada ibu mertuanya yang tiba-tiba menangis.
__ADS_1
Entah mengapa, berat rasanya membiarkan Zenaya hidup seorang diri bersama Reagen. Menyaksikan sendiri bagaimana Zenaya harus menjalani terapi agar bisa bangkit kembali, membuat hatinya mendadak pilu.
Dia berharap, semoga hubungan keduanya bisa segera membaik.
"Tolong hubungi Mama jika kau butuh sesuatu ya, Sayang," pesan Jennia ketika memeluk Zenaya erat.
"Baik, Ma." Zenaya membalas pelukan ibu mertuanya sama erat.
"Seharusnya, Mama tak perlu mengatakan ini, tapi ... Zen, hiduplah dengan baik bersama Reagen, ya? Mama tahu, tidak mudah berdamai dengan masa lalu, tetapi Mama sangat berharap kalian bisa menjalani biduk rumah tangga dengan baik hingga mampu meraih kebahagiaan."
Jennia melepaskan pelukannya pada Zenaya, lalu memegang kedua pipi ranum wanita itu.
Mendengar harapan tulus ibu mertuanya, Zenaya meneteskan air mata. Tetesannya jatuh membasahi punggung tangan Jennia.
"Jangan menangis, Sayang. Maafkan Mama, jika perkataan Mama sudah menyinggungmu," ucap wanita itu khawatir.
Zenaya menggeleng. "Tidak, Ma. Aku hanya akan merindukan Mama dan Papa di sini," kilahnya. "Do'akan kami selalu ya, Ma?" sambung wanita itu.
"Pasti, Sayang, pasti!"
Melihat interaksi antara istri dan ibunya membuat Reagen merasa sangat berdosa. Mungkin, mereka tak perlu bersedih seperti ini jika dia tidak melakukan kesalahan fatal.
Tak ingin kesedihan kembali memayungi mereka, Craig pun menyuruh kedua anaknya untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati, Sayang," pesan Jennia.
Keduanya pun meninggalkan rumah utama.
...***...
Di sepanjang perjalanan, Zenaya hanya mampu termenung. Kilas balik akan peristiwa beberapa bulan lalu tiba-tiba saja menghantui pikirannya.
Rumah mereka masih dalam tahan pembangunan, jadi Zenaya mau tidak mau harus tinggal di apartemen kelam tersebut. Dia tak mungkin terus-terusan tinggal di kediaman keluarga Reagen, mau pun di kediaman keluarganya.
Sebenarnya, Zenaya hendak menerima tawaran Reagen untuk pindah ke sebuah apartemen sewaan. Namun, setelah dipikir-pikir ulang, Zenaya menolak tawaran tersebut. Kendati Reagen mampu, tetapi Zenaya tetap merasa tak enak hati.
Hanya butuh waktu satu jam dari rumah utama menuju apartemen Reagen, yang akan mereka tempati. Pria itu tak lagi memarkirkan mobilnya di basement, melainkan di lobby apartemen.
Zenaya turun dari mobil, diikuti Reagen. Pria itu menyerahkan mobilnya pada petugas valet yang tersedia.
Tak banyak barang yang dibawa Zenaya ke sana. Hanya ada sebuah tas besar berisi peralatan make up dan mandi, juga dua buah koper berukuran sedang berisi pakaiannya.
__ADS_1
Mereka langsung memasuki lift khusus yang langsung menghubungkannya ke dalam apartemen Reagen.
Semakin dekat jarak mereka menuju unit apartemen, semakin kuat detak jantung Zenaya. Wanita itu tampak sangat gelisah dan Reagen memang menyadari hal tersebut.
"Kita tak perlu tinggal di sini," ucap pria itu tiba-tiba.
Zenaya tidak menjawab. Dia berusaha menahan pijakannya agar tidak goyah.
Beberapa saat kemudian, lift berhenti tepat di unit apartemen Reagen. Keduanya pun keluar dari sana dan berjalan masuk ke dalam.
Zenaya yang sempat takut kini bisa bernapas lega. Pasalnya Reagen merombak seluruh isi apartemennya dan mengganti ranjang tidur mereka.
Meski tata letaknya tetap sama, tetapi tak ada jejak sedikit pun yang mengingatkan Zenaya pada peristiwa itu. Semua barang-barang yang ada di tempat itu tampak baru.
Reagen membawa koper Zenaya sampai ke lemari pakaiannya.
"Kau bisa meletakkan seluruh pakaianmu di sini." Pria itu menunjuk satu sisi lemari yang masih kosong, sementara sisi yang lain sudah terisi penuh oleh pakaiannya.
Tanpa diminta dua kali, Zenaya mulai merapikan barang-barang pribadinya, sedangkan Reagen memilih untuk memasak makan malam.
Hidup sendirian di negeri orang dalam waktu yang lama, membuat pria itu jago dalam hal segala hal, terutama memasak. Oleh sebab itu dia tidak menyewa asisten rumah tangga untuk mengurus apartemennya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk semua yang masih sudi menikmati karya receh saya. Karena ini merupakan cerita receh, jadi maaf sekali jika sering tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Kakak-kakak sebagai pembaca. Maklum, saya bukan cenayang, jadi saya tidak bisa memenuhi keinginan setiap orang soal jalan cerita. Jadi, izinkan saya untuk menulis cerita ini sesuai alur yang saya mau.
Apa pun dan bagaimana pun jalan ceritanya, saya harap kalian bisa tetap memberikan dukungan positif.
__ADS_1
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Stay terus sampai akhir ya, Kakak-kakak, karena insha Allah akan ada kejutan untuk para pembaca yang setia (saat novel ini tamat). 🤗🤗❤️