
Amanda hanya bisa menatap pasrah kepergian anaknya, yang bersikeras ingin datang ke rumah sakit dengan membawa mobilnya sendiri. Pasalnya, Zenaya sedang kurang sehat. Sudah beberapa hari ini dia hanya berbaring di tempat tidur. Nafsu makannya pun kembali memburuk. Bahkan, dia selalu memuntahkan makanannya lagi.
Mengetahui kondisi putrinya yang tiba-tiba berubah drastis, membuat Amanda mencurigai sesuatu. Namun, wanita itu tidak ingin berspekulasi. Zenaya mungkin saja hanya terbawa dampak psikologis yang belum sepenuhnya pulih.
...***...
Zenaya memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah sakit. Walau kondisinya sedang kurang sehat, dia tetap bersemangat untuk pergi ke sana. Zenaya bahkan sampai menyempatkan diri pergi ke restoran cepat saji untuk membeli banyak makanan, agar bisa diberikan kepada para staf dan perawat yang ada di lantai lima.
Melihat kedatangan Zenaya, orang-orang yang mengenalnya berbondong-bondong menghampiri dan memeluk Zenaya erat. Tak lupa, mereka juga menanyakan kabar wanita itu selama cuti tahunan.
Liam memang sengaja memberi cuti tahunan yang tak pernah Zenaya ambil, sebagai alasan ketidakhadirannya di kantor.
"Kami rindu, Bu. Ibu kapan kembali bekerja lagi?" tanya Celeste.
"Sebentar lagi cutiku habis," jawab Zenaya ramah. Mereka pun berbincang sejenak sembari menikmati kudapan yang dibeli Zenaya, sebelum akhirnya David datang.
Pria itu meminta izin pada mereka semua untuk membawa Zenaya pergi dari sana.
"Jangan lupa dibalikin ya, Mr," teriak Jane, ketika David dan Zenaya meninggalkan kerumunan tersebut.
"Siap!" David menjawab teriakan Jane sembari memberi isyarat, berupa acungan jempol.
"Bagaimana cuti tahunanmu? Apa menyenangkan? Kata Grace, kau juga sedang sibuk mengurus fasilitas Winston Care Hospital." David membuka suaranya. Pria itu mengajak Zenaya turun ke lobby rumah sakit.
Zenaya tersenyum simpul. "Ya ... sangat menyenangkan." Meski hatinya pilu akan pertanyaan David, tetapi dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada pria itu. "Kemungkinan, tahun depan tempat itu sudah bisa dibuka sepenuhnya," sambung Zenaya.
David mengangguk-anggukan kepalanya. "Aku tak sabar ingin segera bergabung di sana."
Zenaya mengiyakan. Pria baik hati itu memang berencana untuk ikut andil dengan melakukan fisioterapi gratis di rumah sakit kecil tersebut. Walau Winston Care Hospital tidak sebesar rumah sakit ini, tetapi Zenaya dan keluarganya berusaha sebaik mungkin untuk memberikan fasilitas terbaik, sama seperti yang ada di sini.
__ADS_1
"Kau sendiri, bagaimana kabarmu?" tanya Zenaya. Mereka kini tengah duduk di salah satu cafe rumah sakit, yang berada di lobby.
"Sama seperti hari lainnya. Hari ini bahkan aku terpaksa harus lembur karena besok ada seminar di kampus. Aku sama sekali belum menyiapkan apa pun." David menghembuskan napasnya.
"Semangat Mr. David, kesayangan para perawat muda." Wanita itu menepuk ringan punggung tangan David sembari memamerkan gigi-gigi putihnya.
Mendengar hal itu, David kontan mendengkus. Pria tampan dan ramah itu memang menjadi idola para perawat muda, terlebih di bangsal VIP.
Mereka lalu mengobrol ringan seputar kegiatan David, sampai pria itu menyadari bahwa wajah Zenaya semakin pucat. Beberapa kali, dia juga menangkap gelagat Zenaya yang sering mengambil napas panjang.
"Wajahmu pucat sekali, Zen. Kau sakit?" tanya David khawatir. Pria itu menelisik wajah Zenaya dengan saksama.
"Ahh, aku memang sedang tidak enak badan dan sedikit lelah, tetapi kondisiku baik-baik saja." Zenaya buru-buru menambahkan kalimat terakhirnya saat melihat raut wajah David mulai berubah.
David tidak menghiraukan perkataan Zenaya. Pria itu malah mengambil tangan kanan Zenaya dan memeriksa denyut nadinya.
"Napasmu terasa sesak ya?" tanya David kemudian.
"Sebaiknya kau berbaring di UGD untuk diperiksa. Ada yang salah dengan tubuhmu, Zen." David langsung berdiri dari tempat duduknya dan menyuruh Zenaya untuk ikut.
"Aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir." Tolak Zenaya. "Lagi pula, aku juga baru mau pulang," sambung gadis itu seraya berdiri, dan bersiap untuk pergi.
"Jangan bilang kalau kau kemari dengan menyetir mobilmu sendiri?" David memicingkan mata.
Zenaya tertawa kecil. "Aku bisa sampai sini, itu artinya aku baik-baik saja."
"Zen, untuk saat ini singkirkan sifat keras kepalamu itu." David memandang Zenaya serius. Wanita itu benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Hebat sekali dia bisa sampai ke sini dengan menyetir mobilnya sendiri.
"Aku tak apa, Dav. Sebaiknya kau kembali ke ruanganmu. Jam makan siang sepertinya telah usai." Zenaya mengusir halus David. Dia sedang tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengan pria itu.
__ADS_1
Namun, David seperti tidak memberinya kesempatan, karena dia terus saja mengoceh soal kondisi Zenaya, hingga membuat kepala wanita itu semakin pusing.
"Ok, baik, aku tak akan pulang sendiri!" jawab Zenaya ketus. Dia terpaksa menerima tawaran David yang bersikeras ingin mengantarnya pulang.
David tersenyum lega. Jarang sekali melihat Zenaya mengalah seperti ini. "Ok, tunggu sebentar di sini, biar kuambil kunci mobil dulu!" Tanpa menunggu jawaban Zenaya, David segera berbalik pergi.
Zenaya kali ini menurut. Dia memang menyadari kondisi tubuhnya yang kurang sehat selama beberapa hari terakhir ini. Maka dari itu, Zenaya memilih untuk keluar rumah sejenak agar bisa memulihkan diri. Namun, ternyata tidak demikian. Seiring waktu, dadanya malah semakin terasa sesak dan perutnya mual bukan main.
Tak tahan dengan rasa mualnya, Zenaya pun memutuskan untuk pergi ke toilet. Namun, baru saja dia berjalan beberapa langkah, tubuhnya tiba-tiba tumbang tak sadarkan diri.
Beberapa orang biasa dan juga tenaga medis yang berada di sana bergegas menghampiri Zenaya dan memberikannya pertolongan.
...***...
Reagen mengemudikan mobilnya secepat mungkin. Wajahnya terlihat sangat panik ketika sang ayah, yang selama ini tidak pernah sudi datang ke apartemen, tiba-tiba bertandang ke sana untuk memberitahu kabar soal Zenaya.
Meski harus menerima satu lagi hantaman keras di pipinya, Reagen tidak peduli. Fokusnya kini hanya pada Zenaya seorang.
Tak perlu menunggu waktu lama, Reagen tiba di Winston General Hospital. Pria itu berlari masuk ke dalam gedung menuju lantai lima, bangsal VVIP.
Begitu Reagen sampai di sana, sudah ada keluarga Zenaya dan ibunya seorang diri, Jennia.
Zenaya sendiri tampak melamun sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.
Adryan menatap Reagen dingin. Dia berusaha menahan diri untuk tidak menghajar Reagen, ketika pria itu melangkah mendekati sang adik.
Namun, kedatangan salah seorang perawat membuat suasana di dalam ruang perawatan Zenaya sedikit mencair. "Maaf mengganggu waktunya sebentar. Begini, untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut kami butuh data diri Ibu Zenaya. Beliau belum melengkapi data diri suaminya."
"Biar saya yang melengkapi," ujar Reagen tiba-tiba.
__ADS_1
Sang perawat mengalihkan pandangannya pada Reagen. "Maaf, Anda siapanya Ibu Zenaya?" tanya perawat tersebut.
"Saya suaminya," jawab Reagen tanpa pikir panjang. Matanya menyiratkan kesungguhan saat mengatakan hal tersebut.