
Adryan berlari bak orang kesetanan menuju ruang UGD lantai satu. Pria itu baru saja mendapat kabar bahwa Zenaya mengalami kecelakaan tak jauh dari rumah sakit. Sekelompok remaja yang baru saja pulang dari klub malam tanpa sengaja menabrak Zenaya yang sedang berjalan gontai di tengah-tengah jalur.
Mereka bertanggung jawab dan membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat, yaitu rumah sakit keluarganya.
"Apa yang terjadi?" tanya Adryan begitu sampai di bilik perawatan Zenaya. Gadis itu terlihat sangat berantakan dengan luka hampir di sekujur tubuhnya. Darah juga mengalir dari dahi dan lengan Zenaya.
"Zenaya mengalami gegar otak ringan," jawab salah seorang dokter jaga yang menangani Zenaya, dokter Anastasya. "tetapi ...," perkataan dokter itu terhenti.
"Ada apa?" tanya Adryan tak sabar.
Anastasya menyuruh perawat untuk menutup rapat tirai pembatas dan membiarkan sang kakak berada di sana. Wanita itu kemudian membuka selimut yang menutupi tubuh Zenaya.
Adryan memicing heran ketika melihat pakaian yang dikenakan sang adik. Jika ditelisik lebih teliti, itu merupakan kemeja seorang pria. Rok yang dipakainya pun tampak sobek di beberapa bagian.
Namun, yang lebih membuat Adryan terkejut adalah saat Anastasya membuka kemeja tersebut. Tak nampak sehelai pakaian d4l4m pun melekat di tubuh adiknya. Malah, tanda lebam kecil terlihat memenuhi hampir seluruh dada dan leher Zenaya.
"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Adryan syok.
"Dilihat dari kondisinya, aku mencurigai adanya kekerasan s3ksu4l yang dialami Zenaya. Jadi ...,"
Adryan menatap teman sejawatnya itu dengan pandangan memohon. "Jangan! Jangan lakukan apa pun! Aku ingin mendengarnya langsung dari mulut adikku dulu," ucap pria itu lirih.
Anastasya mengangguk paham. Zenaya adalah seorang gadis dewasa, mungkin saja itu bukan kejahatan s3ksu4l seperti yang dia kira. Namun, melihat bagaimana kondisi gadis itu membuat Anastasya tidak bisa mengesampingkan kemungkinan buruk tersebut.
Adryan pun meminta para perawat dan dokter yang menangani Zenaya untuk tutup mulut. Dia tak ingin rumor buruk menimpa keluarganya.
Selesai mengobati luka Zenaya, mereka segera pergi meninggalkan keduanya.
Adryan berjalan gontai mendekati Zenaya. Dia membetulkan selimut gadis itu agar menutupi seluruh tubuhnya. Seribu pertanyaan hadir di benak Adryan. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah seharusnya dia sudah pulang ke rumah?
Adryan merasa menyesal, sebab niatnya untuk menelepon Zenaya terlupakan begitu saja ketika panggilan darurat datang di bangsal VIP.
...***...
Liam dan Amanda tiba di rumah siang harinya setelah mendapat kabar dari Adryan. Demi menjaga kerahasiaan, Zenaya langsung dipulangkan ke rumah dengan perawatan khusus dan pengamanan ekstra. Hanya tenaga medis terpilih yang boleh merawat Zenaya atas perintah Adryan.
Amanda menangis histeris saat mendapati keadaan Zenaya. Gadis itu terbaring tak sadarkan diri dengan perban melilit kepala dan lengannya.
"Apa yang terjadi pada adikmu? Mengapa dia bisa seperti ini?" tanya Amanda pada Adryan.
Adryan terdiam. Dia gamang harus mengatakan apa pada kedua orang tuanya. Liam pun mendesak Adryan untuk bicara. Apa lagi mengetahui hal yang dilakukan pria itu untuk merawat Zenaya, dinilai terlalu berlebihan.
Mata Adryan menoleh pada sang ibu. Meski ayahnya memiliki riwayat penyakit jantung ringan, tetapi beliau masih dapat mengontrol diri. Berbanding terbalik dengan ibunya yang mudah rapuh.
__ADS_1
"Ryan!" teriak Amanda tatkala mendapati keanehan di leher dan dada Zenaya. Lebam itu terlihat sangat berbeda jika dibandingkan dengan luka-luka yang terdapat di tubuh luar sang anak.
Biar bagaimanapun, Amanda adalah mantan perawat senior. Jadi dia pasti tahu bahwa itu bukanlah luka akibat kecelakaan.
"Ada apa dengan adikmu?" desak Amanda marah. Dalam hati dia berharap spekulasinya tak sejalan dengan apa yang dikatakan Adryan.
"Kita tunggu Zenaya bangun, Ma. Aku ingin mendengar langsung darinya." Adryan menatap sendu Amanda.
Mendengar jawaban Adryan yang seperti itu malah membuat pikiran buruk semakin memenuhi kepala Amanda. Wajah wanita itu memucat seketika.
"Pa!" Amanda memandang sang suami. Pria itu ternyata sedang berusaha mengatur napas guna menahan debaran jantungnya. Dia kemudian menelepon seseorang untuk mencari tahu soal Zenaya.
Liam tak ingin menunggu sampai Zenaya bicara, sebab belum tentu anak gadisnya itu bersedia untuk buka mulut.
...***...
Senja mulai nampak dari balik jendela apartemen Reagen. Hampir seharian pria itu tak beranjak dari sana. Dia juga mematikan semua akses komunikasi dan hanya duduk terdiam di sudut ruangan.
Reagen mengusap air matanya sekali lagi. Pria yang tak pernah sudi menangis itu, kini mengeluarkan segenap kesedihannya hanya untuk Zenaya. Gadis yang pernah dia lukai sepuluh tahun lalu.
Reagen mengutuk dirinya sendiri. Perasaannya yang dalam pada Zenaya malah membuat pria itu kembali mengulangi kesalahan yang sama. Bahkan, kini jauh lebih fatal.
"Zenaya," ucapnya tercekat. Rasa bersalah benar-benar mengguncang jiwanya saat ini.
...***...
"Uncle!" teriak Bella ketika melihat kedatangan Reagen. Gadis kecil itu segera berlari dan memeluk kaki pamannya seerat mungkin.
"Uncle Ey," panggil Bella manja. Reagen tersenyum. Dia membawa gadis kecil itu ke dalam gendongannya.
"Kata Daddy, Uncle sakit. Benalkah?" tanya Bella khawatir.
Reagen mengangguk. "Sakit sekali." Pria itu mencium pipi Bella dan mengelus rambut pirangnya lembut.
Dia pun menurunkan Bella dan meminta semua maid yang ada di sana untuk membawa keponakannya bermain di lantai atas.
Sepeninggal Bella, Jennia berdiri dari kursinya. Wanita itu menghampiri sang anak dan mengelus pipinya penuh sayang.
"Kata kakakmu, kau sakit. Kenapa tidak bilang Mama? Kau sudah makan? Kalau belum, biar Mama siapkan makan malam ya?" Jennia tak memberi kesempatan Reagen untuk menjawab semua pertanyaannya. Wanita itu malah hendak berlalu dari hadapan sang anak.
Reagen dengan sigap menahan tangan sang ibu dan memegangnya erat. Pria itu kemudian meminta Jennia untuk kembali ke tempat duduknya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Jennia heran.
__ADS_1
"Aku ingin bicara, Ma," jawab Reagen.
Melihat raut wajah serius Reagen, membuat Jennia mau tak mau menuruti permintaan putra bungsunya itu.
Reagen berjalan mendekat dan berhenti tepat di hadapan keluarganya yang kini tengah memasang wajah bingung.
Entah mengapa, suasana yang semula riang mendadak berubah kelam.
Baru saja Craig ingin bertanya, tiba-tiba Reagen sudah bertekuk lutut di hadapan mereka.
Craig, Jennia, Noah dan Krystal kontan terkejut melihat tingkah pria itu.
"Ada apa Rey? Jika ini soal rapat kemarin, Papa tidak mempermasalahkannya. Kau tak perlu sampai seperti itu." Craig membuka suaranya.
Reagen terdiam sejenak. Dia memandangi satu persatu anggota keluarganya dengan tatapan penuh kesungguhan. Meski tekadnya sudah bulat, tetapi dalam hati, pria itu sedang dilanda ketakutan.
"Pa," kata Reagen tertunduk. "aku ... baru saja merenggut masa depan seorang gadis," akunya.
Craig yang baru saja berdiri dari kursi tiba-tiba terdiam. Keningnya berkerut, tampak tak memahami apa yang baru saja dikatakan anak bungsunya itu.
"Papa tidak mengerti," ujar pria paruh baya yang masih terlihat gagah tersebut.
Reagen mengangkat wajahnya dan menatap mata sang ayah dalam-dalam. "Aku ... baru saja merenggut kehormatan seorang gadis baik-baik." Air mata yang sedari tadi ditahan oleh Reagen akhirnya keluar juga.
Craig sontak terkejut begitu mendengar pengakuan sang anak. Reaksi tak berbeda juga terlihat pada Jennia, Noah, dan Krystal. Jennia bahkan menutup mulutnya sendiri dengan tangan gemetaran.
" ... siapa gadis malang itu?" tanya Craig pelan. Napasnya samar-samar terdengar memburu.
"Dia adalah putri dari keluarga Winston, pemilik Winston General Hospital." Jawab Reagen tanpa pikir panjang.
Sedetik kemudian, tanpa diduga Craig langsung mendaratkan kepalan tangannya ke pipi Reagen. Liam merupakan salah seorang pria yang dihormati Craig. Dia jugalah yang sudi membantu Reagen agar mendapatkan perawatan terbaik di sana tanpa harus menunggu antrian. Mereka memang baru saling mengenal ketika Reagen mengalami kecelakaan.
"Brengsek! Bagaimana bisa, hah?" Craig menarik kerah pakaian Reagen dan meninju wajahnya lagi. D4rah segar langsung mengucur dari hidung pria itu.
"Kau sudah membuat malu keluarga!" makinya kasar. Ada sirat kekecewaan yang terpancar dari mata pria berusia 60-an itu. Selama ini, Noah dan Reagen merupakan anak yang selalu mereka banggakan. Meski tinggal di negara bebas, Craig selalu mengajari kedua anaknya untuk memilih pergaulan yang sehat dan menghargai setiap wanita. Namun, apa yang terjadi sekarang? Satu kesalahan yang Reagen lakukan membuat semua didikannya hancur seketika.
Jennia, Noah, dan Krystal kontan berlari menghampiri Craig, saat dia hendak melayangkan pukulannya kembali. Noah segera mendekap tubuh sang ayah, sementara Jennia dan Krystal membantu Reagen bangun.
"Jangan kalian bela pria brengsek tak bermoral itu!" teriak Craig mengingatkan.
"Cukup, Pa." Meski kecewa dengan pengakuan Reagen, Jennia tetap tak tega melihat sang anak babak belur. Dia memohon pada suaminya untuk tidak menghajar Reagen lagi. "Lihat, Pa, Rey sudah menyesali perbuatannya." Tangis wanita itu.
"Sudah kubilang jangan pernah membela anak si4lan itu!" hardik Craig. Dia pun melepaskan diri dari kungkungan anak sulungnya dan dengan sigap menyeret Reagen keluar dari rumah.
__ADS_1
"Craig, mau kau bawa ke mana anakku?" teriak Jennia. Kemarahan membuat wanita itu tak lagi memanggil suaminya seperti biasa.
"Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya!