
Pertandingan basket antar sekolah telah selesai sejak beberapa waktu yang lalu. Suasana kegembiraan atas kemenangan tim basket sekolah sudah tak lagi begitu terasa. Kini para murid kembali disibukkan dengan tugas-tugas yang diberikan guru mereka. Terlebih, angkatan Zenaya akan menempuh kelulusan tak sampai satu semester lagi.
Zenaya percaya saat Reagen berkata, jika dia ingin fokus pada pertandingan basket dan memilih untuk berjaga jarak terlebih dahulu. Dia pikir, begitu pertandingan selesai Reagen akan kembali berada di sampingnya, seperti yang pernah dia janjikan. Namun, ternyata tidak demikian.
Lelaki itu sama sekali tidak pernah menemui dirinya lagi. Kendati mereka berada di kelas yang sama, Reagen tak pernah sekali pun mengajak Zenaya bicara. Beberapa kali Zenaya pernah mencoba menyapanya, tetapi Reagen hanya menanggapi sapaan Zenaya datar.
Di rumah pun, Reagen jarang mengangkat telepon atau membalas pesan singkatnya.
Zenaya tak mengerti akan pola pikir Reagen. Rasanya baru kemarin dia bersikap manis, bahkan sampai mencium bibirnya. Namun, dalam waktu singkat lelaki itu tiba-tiba berubah menjadi orang asing.
Berniat ingin meluruskan segalanya, Zenaya memutuskan untuk menemui Reagen di rooftop, sepulang sekolah. Dia tahu betul akan kebiasaan laki-laki itu, yang suka berkumpul di sana bersama beberapa teman setimnya.
Tepat saat bel pulang sekolah berbunyi, Zenaya mendatangi rooftop. Gadis itu melangkah mendekati sebuah ruangan yang terdapat di sana. Itu pasti ruangan khusus yang dibuat oleh mereka atas izin pihak sekolah.
"Kerja bagus, Rey." Zenaya menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruangan itu, ketika mendengar ucapan seorang pria.
"Mmm ...." Seorang pria lain bergumam. "Sekarang, cepat kembalikan kunci mobilku." Zenaya yang sudah hapal seperti apa suara Reagen, cukup yakin, bahwa lelaki itulah yang kini tengah berbicara.
Penasaran akan apa yang sedang dibicarakan Reagen bersama seorang temannya, membuat Zenaya nekat mengintip di celah-celah pintu ruangan yang sedikit terbuka.
Zenaya langsung mengenali lelaki yang sedang bersama Reagen. Itu adalah Leon, anak kelas sebelah yang juga salah seorang anggota tim basket sekolah. Lelaki itu tampak sedang memainkan sebuah kunci mobil di tangannya. Dari yang dia dengar, sepertinya itu adalah kunci mobil Reagen.
Zenaya mengernyitkan keningnya. Memang ada apa dengan mobil Reagen? Bagaimana bisa mobil tersebut berada di tangan Leon?
"Santai, bro!" Leon tertawa dan melempar kunci mobil tersebut pada Reagen.
"Hanya ini saja?" tanya lelaki itu kemudian. "Kau tak ingin meminta apa pun dariku sebagai reward, karena telah berhasil mematuhi permainan kita?" Kepulan asap dari rokok yang dihisap Leon membuat Reagen sedikit terganggu.
"Tidak perlu." Jawab Reagen singkat. Dia bersiap untuk pergi keluar dari ruangan.
Leon segera mencegahnya. "Bro, kau benar-benar bukan orang yang asik. Padahal aku sudah siap memberikan apa pun padamu. Apa lagi kau telah berhasil mencium gadis itu, yang nyatanya tidak ada dalam peraturan awal permainan kita."
Zenaya kontan membelalakan matanya.
"Mencium seorang gadis? Apa maksudnya?" batin Zenaya.
__ADS_1
"Tak perlu. Aku menurutimu hanya karena kau menyita mobilku!" Reagen membuka suaranya lagi, sembari menatap tajam Leon.
"Wow, apa kau kini sudah menaruh hati pada seorang Zenaya? Kalau tidak, kau benar-benar pandai berakting menjadi seorang pacar yang baik, Rey." Leon tersenyum mengejek.
Refleks Zenaya menutup mulutnya sendiri.
"Ahh ... atau jangan-jangan, kau tidak sedang berakting." Seringai menjijikan terlihat menghiasi wajah tampan Leon.
"Jangan sembarangan mengambil kesimpulan." Reagen terlihat menahan amarahnya.
Leon mengangkat kedua bahunya. "Sayang sekali permainan harus berakhir sampai di sini. Coba kalau kita juga mengikuti Dave dan kawan-kawannya. Pasti akan sangat mengasyikkan bila kau sampai berhasil meniduri gadis itu. Bayangkan Rey, bibirnya saja sukarela dia berikan padamu, apa lagi tubuhnya." Tawa paling keras keluar dari mulut Leon. Kali ini ditambah gerakan tangannya yang sangat kurang ajar.
Mendengar perkataan lelaki brengsek itu, Zenaya nyaris limbung. Dia berusaha membendung air matanya yang sudah mengalir deras. Ribuan pisau kecil tak kasat mata seolah-olah tengah menghujam dadanya saat ini.
Hatinya mendadak sekarat.
"Hentikan kata-kata menjijikanmu itu!" seru Reagen dingin.
"Wah, kau sakit hati mendengarnya, Rey? Itu artinya kau benar-benar menyukainya, ya? Ahh, cinta hadir karena terbiasa, rupanya." Leon mematikan rokoknya dan bertolak pinggang.
Zenaya memperhatikan wajah dingin Reagen, berharap bukan jawaban menyakitkan yang dia lontarkan tentang dirinya.
Darah seolah tersedot habis dari seluruh tubuh Zenaya. Lelaki yang telah disukainya selama hampir tiga tahun itu, ternyata hanyalah seorang lelaki brengsek yang tega menghina dan menginjak-injak harga dirinya. Pandangan mata Zenaya mendadak kabur. Tanpa sengaja, gadis itu menyentuh pintu ruangan tersebut hingga terbuka lebar.
Leon dan Reagen yang berada di dalam seketika menoleh ke arah pintu dan mendapati Zenaya tengah berdiri di sana. Bukannya terkejut, Leon justru menyeringai senang saat mengetahui keberadaannya. Sedangkan Reagen, sama sekali tidak menampakkan ekspresi apa pun. Dia tidak terlihat terkejut. Sorot matanya sangat datar seperti biasa.
Ekspresi yang Zenaya tunjukkan membuat hati Leon bersorak-sorai. Sebab, inilah yang sebenarnya dia, dan kedua temannya inginkan. Andai saja Zack dan Xander ada di sana, dan ikut menyaksikannya secara langsung, pasti akan sangat mengasyikkan.
Zenaya tak perlu lagi bersusah payah menyembunyikan luka hatinya. Dia menatap Reagen lama, seolah tengah memberitahu lelaki itu, bahwa perasaan yang sudah dia susun sedemikian rupa, kini telah hancur berkeping-keping.
Sedetik kemudian, gadis itu berlari keluar sekolah tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Dia menangis terisak-isak sembari mencengkram kuat dadanya yang terasa sesak.
Zenaya tak peduli pada kakinya yang mulai melemah. Dia terus saja berlari tanpa arah dan tujuan, hingga berhenti pada sebuah taman kecil yang jaraknya lumayan jauh dari sekolahnya.
Di sana Zenaya menangis meraung-raung seorang diri. Dia memukul-mukul dadanya sekuat tenaga demi meminimalisir rasa sakit yang tengah melanda.
__ADS_1
Dia masih mengingat betul bagaimana tatapan mata Reagen saat bertemu pandang dengannya tadi. Tak ada sedikit pun rasa bersalah. Lelaki itu bahkan tidak berusaha mengejarnya saat dia berlari pergi.
Zenaya tertawa sumbang. Seharusnya dia tidak menghilangkan kecurigaannya pada Reagen, tatkala lelaki itu tiba-tiba meminta dirinya untuk menjadi seorang kekasih.
Reagan sekali pun tak pernah menganggap dirinya ada. Perasaannya selama ini bahkan tak lebih dari seonggok sampah bagi lelaki itu.
Bak orang kesetanan, Zenaya berteriak sekeras mungkin hingga suaranya nyaris hilang. Dia menghardik Reagen dalam sebuah sumpah serapah dan berjanji akan terus membawa kesakitan ini sampai mati.
Zenaya tak akan pernah memaafkan Reagen apa pun yang terjadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih, Kakak-kakak semua karena telah sudi membaca cerita saya sampai sini. Semoga kalian terus berkenan membaca novel ini sampai akhir.
Maaf jika ceritanya mungkin agak sedikit flat dan membosankan. Saya tidak terlalu pandai membawa banyak konflik, apa lagi novel ini aslinya tidak terlalu panjang.
Jangan lupa untuk like, komen, rate dan fav untuk yang belum, ya? Gift-giftnya juga boleh.
Terima kasih,
__ADS_1
Salam sayang,
Kim O ❤️