Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 78 : Keinginan dan Rencana Reagen.


__ADS_3

Zenaya menyambut kedatangan Reagen dengan wajah gembira. Dia menggandeng tangan sang suami dan membantunya membuka sepatu. Tak lupa, Zenaya juga mengambilkan segelas air putih untuk diberikan pada Reagen.


"Terima kasih, Sayang," ucap Reagen seraya tersenyum.


Zenaya mengangguk. Dia sudah bertekad ingin menjadi istri yang sebenar-benarnya bagi Reagen.


"Omong-omong, bagaimana hasil pemeriksaannya? Apa ada kendala sampai harus pulang terlambat?" tanya wanita itu kemudian.


Reagen menggelengkan kepalanya. "Hanya gegar otak ringan." Jawab pria itu kalem.


Zenaya membelalakkan matanya. Raut wajahnya yang semula rileks berubah tegang. "Gegar otak tidak dapat disepelekan!" pekiknya khawatir.


"Ssstt, aku tahu. Maka dari itu aku harus banyak-banyak beristirahat agar tidak meningkatkan gelaja. Jadi, kau tak perlu khawatir, oke?" Reagen tersenyum sembari menenangkan sang istri dengan mengelus kepalanya lembut.


Zenaya mengangguk patuh.


Pria itu kemudian beralih pada baby bump Zenaya dan mengajaknya berbincang sebentar, sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


...***...


Hari-hari berikutnya Reagen mulai menyibukkan diri dengan berbagai macam proyek. Salah satunya merupakan proyek terbesar Walker Group tahun ini, yaitu, pembangunan Zen-tral Mall, yang sudah memasuki tahap tujuh puluh lima persen.


Semenjak dirinya mendapat diagnosa, Reagen jadi terobsesi untuk menyelesaikan proyek besar mereka lebih cepat. Begitu pula dengan pekerjaan-pekerjaan yang lain. Tak jarang dia sampai harus mengambil jam lembur hanya untuk menyelesaikan berkas-berkas yang sempat terbengkalai.


Reagen memang sengaja melakukan banyak pekerjaan selagi kondisinya belum memburuk. Dia juga sudah berencana akan mengambil cuti demi menemani Zenaya sampai melahirkan nanti.


Itu artinya, dia memutuskan menunda pengobatan sementara.


Meski awalnya Adryan tidak menyetujui keputusan Reagen, tetapi berkat permohonannya, pria itu pun mau tak mau mengalah.


"Zenaya akan melahirkan kurang dari tiga bulan lagi. Tunggu sampai saat itu tiba. Setelah itu, aku berjanji akan menuruti apa pun perkataanmu tanpa bantahan."


Itu lah kata-kata yang Reagen ucapkan tempo hari pada Adryan.


Perubahan sikap Reagen tentu saja membuat istri dan seluruh keluarganya merasa terheran-heran. Zenaya bahkan sampai memperingati Reagen untuk tidak terlalu memaksakan diri.


"Ingat kata Dokter, kau harus banyak istirahat," kata Zenaya beberapa waktu lalu, ketika mendapati sang suami pulang pukul setengah dua belas malam.


Di kantor pun, Noah dan Frans, yang sudah kembali bekerja, sering kali mengingatkannya untuk pulang ke rumah tepat waktu.


...***...


Craig dan Noah mengernyitkan dahinya begitu mendengar permintaan cuti panjang yang Reagen ajukan. Apa lagi, alasan pria itu cukup sederhana, yaitu menemani Zenaya.


"Kau harus mengurangi waktu lembur, bukannya malah mengambil cuti panjang," ujar Noah sembari melipat kedua tangannya.


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Zenaya, tanpa memikirkan pekerjaan. Sekaligus, aku ingin memperbaiki hubungan kami yang sempat berantakan," jawab Reagen tersenyum.


Craig memahami keinginan Reagen. Rumah tangga putra bungsunya itu memang belum sepenuhnya membaik. Mereka butuh lebih banyak waktu untuk saling mendekatkan diri.


"Berapa lama kau akan cuti, Rey?" tanya sang ayah.

__ADS_1


"Lama, Pa. Mungkin sekitar enam bulan atau lebih." Jawab Reagen tanpa pikir panjang.


Noah mengangkat sebelah alisnya. "Itu artinya, kami harus mencari penggantimu untuk sementara."


"Tidak perlu susah payah mencari." Craig melipat kedua kakinya dan bersedekap. Mata pria itu mengerling pada kedua putranya.


Mendengar perkataan sang ayah, Reagen dan Noah sontak mengalihkan pandangan mereka.


"Papa mau bekerja di balik meja lagi?" tanya Noah penasaran.


"Tentu saja tidak. Kau lah Noah, yang harus menggantikan posisi adikmu," tukas Craig langsung pada sasaran.


Noah yang tengah bersandar di badan sofa lantas menegakkan tubuhnya. "No, Pa! Kedua pundakku sudah terlalu banyak memiliki beban. Lagi pula, posisiku berarti akan kosong juga. Jadi, sama saja, bukan?"


"Posisimu akan digantikan oleh Frans."


Frans yang sedang berdiri diri di sudut ruangan sontak terbatuk-batuk. Dia pun menolak keras tawaran Craig.


"Kau memiliki bakat di bidang ini Frans, lagi pula ini hanya bersifat sementara!" tegas pria itu.


Mendengar pernyataan serius tuan besarnya, Frans langsung terdiam, tak berani berkutik.


Mata tua Craig kemudian menatap ketiga pria muda tersebut, sebelum akhirnya berdiri dari sofa. "Baiklah, rapat dadakan ini selesai ... tidak ada bantahan Noah." Craig memperingati sang putra yang hendak melayangkan protes kembali.


"Persiapkan diri kalian berdua, dan Rey, selesaikan pekerjaan yang sudah terlanjur kau kerjakan. Papa beri waktu sampai minggu depan."


"Baik, Pa." Reagen menghampiri ayahnya yang sudah berjalan menuju pintu keluar.


"Terima kasih, Pa." Tanpa disangka, Reagen memeluk tubuh ayahnya seerat mungkin, seolah enggan melepaskan beliau.


Craig yang semula memasang wajah terkejut, kemudian merubah ekspresinya menjadi senyuman. Dia pun membalas pelukan sang putra sama eratnya.


Hal serupa dilakukan Reagen pada Noah.


"Menggelikan sekali rasanya berpelukan erat dengan sesama pria, tahu!" seru Noah ketus.


Reagen tertawa. Meski mulut sang kakak berkata demikian, tetapi dia tetap membalas pelukan adik tercintanya.


Frans yang sibuk memperhatikan Craig dan Noah pergi, tiba-tiba dikejutkan dengan perlakuan Reagen. Pria itu ternyata juga memeluknya. Kali ini, Reagen bahkan membisikan sesuatu.


"Terima kasih atas segalanya, Frans. Tolong jaga ayah dan kakakku. Aku mengandalkanmu."


Frans hanya bisa terdiam. Entah mengapa, perasaan tak enak menyelubunginya seketika.


...***...


Zenaya sontak berlari saat mendapati sang suami datang menjemputnya, tepat waktu. Sebelum berangkat, Zenaya memang sudah mengatakan pada Reagen, akan bertandang ke rumah orang tuanya.


"Ups!" Reagen dengan sigap menangkap tubuh sang istri. "Jangan berlari, kau membuatku jantungan!" serunya.


Zenaya terkikik seraya meminta maaf. "Aku terlalu senang karena kau pulang cepat."

__ADS_1


Reagen mengulas senyum. Diciumnya bibir sang istri dan perut buncitnya, sebelum kemudian mereka masuk untuk menemui keluarga Zenaya.


Melihat kedatangan Reagen, Adryan berusaha bersikap biasa.


Mereka pun berbincang-bincang ringan sampai Amanda memanggil keluarganya untuk makan malam bersama.


Ada begitu banyak makanan yang tersaji di atas meja. "Mama sengaja memasak banyak karena kebetulan kita semua bisa berkumpul," ujar wanita paruh baya tersebut.


"Terima kasih, Ma," ucap Zenaya.


"Sama-sama, Sayang," jawab Amanda lembut.


Wanita hamil itu pun membantu sang suami mengambilkan makanannya. Namun, saat dia hendak mengambil sepotong ayam yang dilumuri saos keju dan krim, Adryan sontak melarang.


"Jangan!" serunya spontan.


Zenaya menghentikan gerakannya, dan menoleh pada sang kakak. "Kenapa, Kak?"


Reagen yang mendengar seruan spontan sang kakak ipar, lantas bergeming.


"Ahh, emm ... itu untuk Kakak. Makanan ini semua untuk Kakak, tak ada yang boleh mengambilnya!" Adryan menarik piring berisi ayam tersebut ke arahnya.


"Kakak ini seperti anak kecil saja!" Zenaya merengut.


Reagen tertawa kikuk. "Tak apa, aku bisa makan yang lain." Reagen berusaha menengahi perdebatan kedua kakak beradik itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Note:

__ADS_1


4 makanan yang wajib dihindari pasien kanker, yaitu: alkohol, makanan tinggi lemak (daging asap, paha ayam, krim susu, keju, susu, mentega, kentang goreng, ayam goreng, kue, biskuit, makanan cepat saji, jeroan, makanan kemasan, dan kuning telur), sayuran mentah, dan makanan yang diawetkan dan dibakar.


__ADS_2