Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 84 : (Tak ada) Akhir Kisah (SELESAI)


__ADS_3

Selama ini, Zenaya tak begitu memahami bagaimana rasanya memiliki ketakutan akan kehilangan seseorang menuju keabadian.


Satu hal yang paling menyakitinya adalah kehilangan sosok Reagen dahulu, ketika dia masih sangat mencintai pria itu. Kini, dia harus mengulang kejadian yang sama lagi meski dalam artian berbeda.


Tak ingin jatuh dalam garis takdir yang nyaris sama, Zenaya berupaya merajut setiap untaian do'a pada sang pemilik hidup, agar dapat membangunkan suaminya kembali.


Meski batinnya sedang menangis meraung-raung, dan hatinya tengah terhantam sebongkah ketakutan, Zenaya tetap berusaha terlihat tegar.


Wanita itu berjalan melangkah mendekati sang pemilik hati, yang masih setia menjelajahi alam mimpi. Mungkin, mimpi baginya terasa lebih menyenangkan dari pada kisah nyata mereka yang penuh akan kepahitan.


"Bangunlah," bisik Zenaya lirih di telinga Reagen. Sorot matanya bergulir, menatap raga sang suami yang tampak tenang dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Wanita bermata hazel itu kemudian mengambil tangan kiri Reagen dan menciumnya lembut.


"Bangunlah, atau aku akan membencimu lagi!" Seuntai kalimat dusta mengiringi air mata yang semakin deras mengalir membasahi pipi Zenaya.


Sementara itu, di luar ruang ICU, Liam dan Amanda baru saja datang setelah Jennia menelepon mereka.


Amanda berhenti tepat di sebelah Jennia, mereka saling merangkul dan menatap Zenaya yang tengah berada di ruang ICU menemani Reagen.


Air mata wanita itu menetes, kala melihat putrinya menangis di dalam sana. Amanda bisa merasakan betul seperti apa perasaan Zenaya saat ini.


...***...


Semenjak tahu keadaan Reagen, Zenaya tak pernah sekali pun beranjak dari sisinya. Wanita itu sudah berkali-kali diingatkan keluarga mereka untuk pulang dan menunggu di rumah, tetapi Zenaya menolaknya keras.


Namun, berkat nasihat Dokter Steven, Zenaya akhirnya mengalah dan memilih pulang ke rumah. Baru saat pagi atau siang hari, dia akan berada di sana hingga sore dengan catatan, tidak boleh terlalu lama di ruang ICU, sebab terlalu beresiko bagi wanita hamil untuk berada di tempat seperti itu.


Seperti yang Dokter Steven pernah katakan juga, kehadiran seseorang yang paling spesial merupakan cara terbaik bagi pasien untuk melewati masa-masa tersulitnya. Sama halnya seperti yang dialami Reagen.


Berkat kehadiran Zenaya, tepat pada hari keempat wanita itu di sana, Reagen membuka matanya.


Zenaya kontan terkejut saat mendapati sang suami membuka matanya. Dia pun segera memanggil salah satu perawat jaga.


Keluarga Reagen yang berada di luar ruangan ICU menatap bingung Zenaya yang menangis terisak-isak sembari menciumi tangan Reagen.


"Nurse, ada apa dengan anak saya?" tanya Jennia saat salah seorang perawat lain keluar dari ruang ICU dengan terburu-buru.

__ADS_1


"Mr. Walker baru saja membuka matanya. Saya akan memanggil Dokter Steven." Tanpa menunggu respon dari Jennia, perawat tersebut langsung pergi meninggalkan mereka.


Mendengar kabar bahagia itu, seluruh keluarga Reagen memekik tertahan. Noah bahkan sampai bersandar lemas di kaca sembari mengucap syukur.


"Oh, my God!" seru Jennia histeris. Wanita itu menatap anak dan menantunya dengan air mata bahagia


Tak sampai lima menit, Dokter Steven tiba di sana. Dia masuk ke dalam ruang ICU dan memeriksa kondisi Reagen. Sementara itu, Zenaya diantar keluar oleh perawat.


Melihat sang menantu datang, Jennia langsung menghampiri dan memeluknya. Mereka menangis terisak-isak.


...***...


"Kondisi Tuan Reagen sejauh ini mulai menunjukkan pemulihan. Otaknya sama sekali tidak mengalami kerusakan atau efek samping dari operasi yang kita lakukan sebelumnya. Anggaplah ini sebagai salah satu mukjizat yang Tuhan berikan. Namun, untuk kondisi fisiknya, Tuan Reagen membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk pulih seperti sediakala, sebab kakinya mengalami kelumpuhan sementara." Dokter Steven menjelaskan dengan saksama keadaan Reagen pada keluarganya.


"Lalu, bagaimana, Dok?" tanya Jennia khawatir.


"Kita akan melakukan pemeriksaan lagi, dan jika kondisinya baik, Tuan Reagen akan menjalani fisioterapi yang dilanjutkan dengan radioterapi." Jawab Dokter Steven.


Zenaya menghembuskan napas lega. Wanita itu tersenyum di pelukan Jennia.


Sehari setelah sadar Reagen dipindahkan ke ruang perawatan sebelumnya.


...***...


Dia juga dengan telaten membantu menyuapi sang suami dan membersihkan tubuhnya.


"Terima kasih, dan maafkan aku," ucap Reagen dengan suara pelan. Pria itu mengambil tangan Zenaya dan menggenggamnya erat.


Zenaya menggeleng. "Hari ini kau sudah mengatakan dua kalimat itu belasan kali," ujarnya. "Padahal, sudah kubilang, kan, kalau bukan kau yang harus meminta maaf, tapi aku," sambung wanita itu lirih.


" ... dan aku mohon, untuk tak lagi bermain rahasia di antara kita. Kau mengerti." Zenaya menatap Reagen dengan raut wajah pura-pura galak.


Reagen mengukir senyum tipis dan mengangguk pelan. Tak ada lagi yang perlu dia risaukan, dan tak ada lagi yang harus dikhawatirkan. Sebab, sang istri ternyata tidak selemah yang dia pikirkan. Justru dia akan berubah menjadi sosok yang cukup kuat demi keluarga tercinta, seperti saat ini.


Meski dalam kondisi hamil tua, Zenaya sama sekali tidak merasa kesulitan mengurus dirinya yang sedang sakit. Semua yang dia lakukan semata-mata sebagai perwujudan atas baktinya sebagai seorang istri, dan Reagen benar-benar tersentuh.


Dalam hati, pria itu berharap pada Tuhan agar diberikan waktu sedikit lagi untuk bisa membahagiakan keluarga kecilnya.

__ADS_1


Reagen meminta diri mengelus perut Zenaya.


Zenaya tersenyum, dengan senang hati dia menuntun tangan sang suami menuju perutnya.


DUGH!


Reagen dan Zenaya tertawa kecil ketika tangan Reagen tersentak akibat ulah bayi mereka.


"Dia juga sangat merindukanmu," terka Zenaya.


Reagen tersenyum lebih lebar. Perlahan, Zenaya pun mendekatkan diri padanya, dan mencium lembut bibir sang suami penuh cinta.


"Aku mencintaimu, Mr. Walker," ucap Zenaya di sela-sela ciuman mereka.


"Aku juga mencintaimu, Mrs. Walker."


Perjalanan mereka memang masih panjang, begitu juga dengan kesembuhan Reagen. Namun, ikatan kuat yang terjalin di antara keduanya membuat hal itu tak lagi terasa menakutkan.


Zenaya berjanji dalam hati untuk tidak akan melakukan hal yang membuatnya menyesal lagi, begitu pun dengan Reagen.


.


.


.


..."Di mana ada cinta yang besar, selalu ada keajaiban"...


...Willa Cather....


...THE END...


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2