
Setelah bertahun-tahun menanam rasa kebencian yang mendalam untuk Reagen, Zenaya memutuskan kembali mencintai pria itu. Dia membiarkan perasaan trauma yang menghantam telak jiwanya, terkalahkan oleh sejumput perasaan cinta yang berhasil Reagen bangkitkan kembali, setelah belasan tahun tertidur jauh di dalam lubuk hatinya.
Zenaya bahkan menyadari, bahwa kebenciannya pada pria itu merupakan sebuah beban berat yang terlalu sulit untuk dipikul.
Kebencian telah membawa Zenaya pada kehidupan yang gelap, rasa trauma berlebihan, dan kesedihan yang sangat mendalam. Oleh sebab itu, dia berusaha merubah segalanya. Berusaha menerima takdir akan ketetapan Tuhan dan menjalani semua ini dengan penuh kelapangan.
Namun, disaat semua sudah berjalan menuju ke arah yang lebih baik, tiba-tiba sekelumit masalah hadir kembali menghantam mereka berdua. Zenaya merasa tercabik, tertampar, dan terhempas, saat mengetahui masalah tersebut muncul dari pria yang telah mengubah dirinya menjadi Zenaya yang dulu. Zenaya yang sangat mencintai Reagen.
Seutas tali kasih dan kepercayaan yang telah dia rajut, hancur berkeping-keping ketika di depan matanya sendiri, sang suami telah berkhianat.
Zenaya mungkin tidak akan percaya jika tidak melihatnya sendiri.
Siapa yang akan percaya, pria yang sangat mencintai istrinya tiba-tiba bermain api di belakang?
Pertanyaan-pertanyaan yang semula bersemayam di dalam kepala wanita itu, kini sudah ditemukan jawabannya. Itu lah sebabnya Reagen terlihat sangat berbeda akhir-akhir ini, dan Zenaya merasa telah dibodohi.
"Zen! Sayang!" pekik Reagen sembari berlari menyusul sang istri.
Zenaya tersenyum miris. Kemarin-kemarin Reagen tak pernah lagi memanggilnya dengan sebutan itu, dan kini, dia tengah mencoba menarik hati Zenaya dengan kembali menggunakan sebutan itu.
Zenaya masuk ke dalam lift yang kebetulan terbuka.
"Zen!" Suara Reagen yang semakin terdengar dekat, membuat wanita itu meminta tolong pada para penghuni lift lainnya untuk segera menutup pintu.
Mereka yang awalnya ragu, akhirnya menuruti kemauan Zenaya.
Zenaya menahan air matanya agar tidak kembali jatuh. Dia ingin segera pergi dari sana secepat mungkin.
Sesampainya di lantai satu, Zenaya segera pergi keluar dari gedung kantor Walker Group, dan demi menghindari Reagen, dia memilih berjalan kaki ke jalan raya dari pada harus menunggu taksi di lobby.
Reagen bergegas mengambil mobilnya ketika mengetahui Zenaya telah menghilang dari sana.
Baru saja mobilnya bergerak keluar beberapa meter dari area gedung kantor, matanya menangkap sosok Zenaya yang sedang berjalan kaki seorang diri, dengan wajah kepayahan.
Reagen buru-buru keluar dari mobil dan menarik tangan Zenaya, tetapi wanita itu refleks menghempaskan tangannya kasar.
"Sayang, dengarkan penjelasanku dulu," ucap Reagen.
"Jangan katakan apa pun. Aku tahu sekarang, mengapa kau begitu kalut dan dingin akhir-akhir ini. Aku sangat memahaminya." Zenaya memasang senyum simpul.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan." Reagen mencoba memberi alasan.
"Pikiran yang mana? Sekarang coba kau pikir, istri mana yang tidak berpikiran macam-macam, saat mendapati suaminya tengah asyik bercvmbu dengan wanita lain?" Setetes air mata kembali mengalir membasahi pipi Zenaya.
"Aku memang bersalah, tetapi dengarkan aku dulu." Reagen menarik tangan Zenaya dan hendak membawanya ke mobil.
__ADS_1
Zenaya berontak. Mereka berdebat sengit selama beberapa saat sebelum akhirnya Reagen dengan sedikit keras, berhasil memaksa wanita itu masuk ke dalam mobilnya. Dia tak ingin orang-orang melihat kejadian ini.
Reagen tak ingin kesalahpahaman terjadi seperti saat kejadian dengan Alex waktu itu. Oleh karenanya, setelah mereka berada di dalam mobil, Reagen membawanya pergi ke suatu tempat yang nyaman dan menceritakan semuanya dengan jujur.
Semuanya, dari awal dia diberikan minuman oleh Lea sampai tiba-tiba, dia mendapati tubuh gadis itu tidak berpakaian di dalam kamar hotel.
Zenaya berusaha menahan sesak di dadanya. Kendati yang Reagen katakan adalah sebuah bentuk kejujuran agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi, dia tetap saja merasakan sakit.
"Lalu, kenapa kau bersikap memperlakukanku sejahat itu? Jika memang kau tidak bersalah untuk apa kau menghindariku?" tanya Zenaya.
"Aku tahu sikapku salah. Aku tidak bisa memikirkan hal lain karena di otakku juga ada Mama dan Kak Krystal," jawab Reagen.
Pria itu kemudian mengambil tangan Zenaya. "Sejujurnya aku juga takut jika itu merupakan kenyataan. Aku takut kalau ternyata, tanpa sadar aku telah melukaimu."
"Sadar atau tidak, jebakan atau bukan, aku sudah terluka." Zenaya mulai menangis sesenggukan.
Reagen merengkuhnya. "Jangan menangis, hatiku selalu sakit tiap melihat air matamu."
...***...
Setelah berhari-hari mencari tahu keberadaan Adam, dan menemui teman seprofesinya, Frans mendapat informasi bahwa Adam tiba-tiba menghilang saat tengah berada dalam perjalanan sepulang dari kantor.
Mereka hanya menemukan mobilnya yang teronggok di pinggir jalan, bersama dompet dan satu ponselnya. Sementara ponsel pribadinya yang lain juga turut hilang.
Mereka tak bisa mencari jejak Adam, sebab semua petunjuk seperti hilang tak berbekas. Entah bagaimana, tiba-tiba rumor pun tersebar di kalangan mereka, bahwa Adam melarikan diri karena terlibat kasus p3nyu4pan.
Berkat kepandaian dan kepekaannya, pria itu berhasil menemukan posisi Adam melalui ponsel dan jejak yang dia tinggalkan di apartemen.
Adam ternyata dibawa pergi dari negara tempat asalnya.
Dia segera menghubungi Marco untuk menyiapkan sedikit bantuan, jika pria itu berhasil menemukan Adam.
Tanpa menunda-nunda waktu, Frans pergi ke sebuah gudang senjata yang berada di pelabuhan negara lain.
Setelah berhasil membobol masuk ke dalam bangunan, Adam ditemukan tidak berdaya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
"Adam!" panggil Frans seraya menepuk-nepuk pipi temannya itu.
Adam membuka matanya sedikit. "Frans? Apa aku sedang bermimpi?" kata pria itu sembari tertawa kecil.
"Tidak, kau sedang tidak bermimpi. Ayo, kita pergi dari sini!" Frans membopong Adam untuk membawanya keluar.
Pria itu harus menghadapi beberapa orang misterius yang rupanya telah mengepung gudang tersebut.
Disaat telah terpojok, tiba-tiba bantuan datang dari Marco. Pria itu datang bersama empat orang kawan lainnya.
__ADS_1
Setelah berhasil melumpuhkan mereka semua, Frans dan lima orang yang bersamanya, termasuk Adam, segera pergi menuju Kedutaan Besar Perancis untuk meminta perlindungan.
...***...
Alex membanting laptopnya dan mengacak-acak seluruh isi kamarnya. Berita soal ditemukannya Adam oleh Frans telah sampai di telinga pria itu.
Alex mengh4j4r lima orang pria yang kini berdiri tertunduk di hadapannya tanpa ampun, termasuk dua orang pria penjaga gudang senjata tempat Frans disekap. Hanya mereka berdua yang masih bisa diselamatkan.
"Hanya mengejar satu orang saja tidak becus!" hardik Alex.
Juan mencoba menghentikan Alex dengan menahan tubuhnya, tetapi, karena tubuhnya jauh lebih kecil, Juan terhempas hingga membentur lemari kaca.
"Tuan." Matanya menatap Alex prihatin. Dia dapat menangkap sorot kesedihan di wajah pria itu.
...***...
Reagen akhirnya memutuskan untuk menceritakan semua pada Bryan melalui sambungan telepon. Bersama sahabat baiknya itu, mereka menyelidiki siapa sebenarnya Lea.
"Tahan dulu, bro. Aku juga baru mendapat kabar dari seorang kenalanku, bahwa sesosok pria mirip Frans terlihat di Piana."
Reagen membelalakkan matanya. "Hah?"
"Aku akan mengirimkan fotonya padamu. Menurutku dia memang Frans, tetapi saat kenalanku berusaha membuntutinya, dia menghilang."
Reagen melihat tiga foto yang baru saja dikirimkan oleh Bryan, dan benar saja, itu adalah Frans.
"Mengapa dia bisa ada di sana?" gumam Reagen.
"Aku akan menghubungimu lagi. Aku harus ke sesuatu tempat dulu. Tolong kabari jika kau punya informasi lain," pinta Reagen.
"Ok, bro!"
"Thanks, bro," ucap Reagen tulus.
"Sama-sama." Bryan memutuskan sambungan telepon terlebih dahulu.
Reagen pun melanjutkan tujuannya untuk mencari tahu rumah Lea.
Setelah beberapa saat mencari, Reagen akhirnya menemukan alamat rumah yang ada di dokumen Lea.
"Saya memang punya anak perempuan bernama Eleanor, tetapi dia sudah meninggal beberapa tahun silam." Jawab seorang ibu berusia 60 tahunan pada Reagen.
Reagen berusaha menahan diri agar tidak terkejut. Dia memberikan secarik kertas berisi data diri Lea pada wanita paruh baya itu. Matanya kemudian menatap sekeliling ruang tamu di rumah itu, dan menemukan sebuah pigura foto berukuran sedang yang terpajang di atas piano. Ada seorang gadis muda yang terpampang di sana, dan itu sama sekali tidak mirip dengan Lea.
"Benar, ini semua milik anak saya, tetapi fotonya jelas-jelas bukan," ujar si pemilik rumah sembari mengembalikan secarik kertas tersebut.
__ADS_1
Reagen mengepalkan tangannya. Dia pun berterima kasih dan berpamitan. Dia lalu menghubungi seseorang untuk membuntuti Lea.