
Zenaya berjalan santai menuju lift. Raut wajah wanita itu sama sekali tidak menyiratkan kesedihan atau pun kekesalan.
Reagen sudah menceritakan soal sekretaris baru wanita yang dia miliki. Pria itu bahkan meminta maaf pada Zenaya karena tidak bisa memilih sekretaris yang dia inginkan.
Zenaya sebenarnya sama sekali tidak keberatan akan hal itu, karena dia mempercayai sang suami sepenuhnya. Saat melihat kejadian barusan pun, Zenaya tidak merasa cemburu. Sekilas, dia bisa menebak bahwa Lea merupakan wanita penggoda yang akan berusaha menarik perhatian Reagen, dan itu pasti adalah salah satu triknya.
"Akting yang buruk. Klise sekali pakai pura-pura jatuh!" Batin Zenaya sinis. Tanpa sadar, dia sebenarnya sedang kesal.
"Sayang." Panggilan Reagen yang berlari menyusulnya sama sekali tidak dihiraukan Zenaya.
Wanita itu malah berdiri santai di depan lift seraya mengelus perutnya sesekali.
"Sayang, kau dengar aku?" tanya Reagen begitu sampai di sebelah Zenaya.
Zenaya mengangkat bahu. "Urus dulu sekretaris seksimu itu!" sahutnya ketus.
"Kau salah paham." Reagen menggenggam tangan Zenaya.
Mendengar perkataan Reagen, Zenaya sontak menoleh ke arahnya. "Maksudmu?"
"Kau salah paham. Dia jatuh dan tidak sengaja menabrak tubuhku. Aku memeganginya supaya diriku sendiri juga tidak ikut terjerembab." Reagen menjelaskan kejadian itu dengan jujur.
"Aku tahu, kok!" sahut Zenaya tanpa rasa bersalah. "Sekilas dilihat saja, aku bisa tahu seperti apa sekretaris barumu itu," ucapnya santai.
Reagen mengerutkan keningnya. "Lalu kenapa kau pergi? Kau marah, kan? Cemburu, kan?" tanya pria itu.
Tawa kecil kontan meluncur dari bibir tipis sang istri. "Percaya diri sekali Anda, Mr. Reagen. Aku hanya tidak ingin melihat wajah wanita itu. Jadi, lebih baik aku ke bawah saja. Kau pernah bercerita kalau burger buatan kantin sangat enak, kan?"
Mendengar jawaban Zenaya, Reagen ikut tertawa. Pria itu mundur selangkah dan mengambil tubuh Zenaya guna memeluknya erat. Dia juga mendaratkan kecupan-kecupan kecil di kepala dan wajah wanita itu.
Lift terbuka beberapa saat kemudian. Para karyawan yang berada di dalamnya sontak bertingkah canggung, saat mendapati kemesraan pimpinan mereka bersama seorang wanita hamil.
Reagen yang mengetahui hal tersebut segera memberi isyarat pada mereka untuk menutup pintu lift kembali.
Zenaya melepaskan diri. "Tadi kudengar lift-nya sudah terbuka," ujarnya sembari berbalik. Posisi tubuhnya yang membelakangi lift saat dipeluk sang suami, membuat Zenaya tak menyadari bahwa lift sempat terbuka.
"Kau salah dengar. Sudah, kita tunggu lagi saja." Diam-diam Reagen menekan tombol lift dan mendekap sang istri kembali.
"Malu, ini tempat umum tahu!" seru Zenaya sembari berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
"Biarkan saja. Kan, sudah kubilang, kalau aku ingin memamerkanmu ke mana-mana." Reagen tak membiarkan sang istri lepas dari dekapannya.
"Cih! Menyebalkan!"
"Ya, aku juga mencintaimu."
...***...
Suara gedoran dari dalam ruangan sempit, yang Frans tempati membuat tiga penjaga datang menghampirinya.
"Biarkan aku ke toilet. Aku sudah tak tahan!" seru Frans dengan wajah memerah.
"Kau sudah ke toilet hari ini sebanyak dua kali," kata salah seorang penjaga. Dari awal dia dikurung di sini, hanya pria itu lah yang senantiasa menjawab pertanyaannya. Sementara dua orang yang lain selalu bungkam.
"Aku tahu, tapi panggilan alam ini tidak bisa ditahan. Kau pasti pernah mengalami bagaimana rasanya, kan?" Frans memasang wajah memelas.
"Pakai toilet yang ada di dalam." Penjaga tersebut menatap Frans bengis.
"Kau tahu, itu sudah tidak bisa dipakai." Jawab Frans.
"Kalau begitu tahan saja. Nanti juga hilang sendiri!" serunya seraya berbalik pergi.
"Baiklah, aku akan melakukannya di dalam sini saja. Jangan salahkan aku bila–"
"Brengsek! Hanya lima menit!" hardiknya seraya menarik Frans kasar dan mendorongnya ke arah dua orang penjaga lain.
Dua penjaga berbadan besar itu pun menyeret Frans menuju kamar mandi.
Dia didorong masuk ke dalam toilet dan dikunci dari luar, untuk memastikan Frans tidak membuka pintu tiba-tiba dan mengh4j4rnya seperti beberapa waktu lalu.
Sesampainya di dalam toilet, Frans segera mengeluarkan sikat gigi yang ujungnya sudah dirunc1ngkan. Butuh waktu lama baginya untuk menajamkan sikat gigi tersebut. Ranjang besi yang ada di sana memudahkan pria itu mengasah benda itu.
Tak lupa, dia juga mengeluarkan beberapa butir obat yang sudah dihancurkan.
Sejak dua hari lalu, obat tersebut selalu diberikan paksa padanya tiga kali sehari. Frans tentu saja tidak menelannya, dan memilih menyembunyikan obat misterius itu di bawah lidahnya.
Kegagalan Frans yang mencoba kabur tanpa melukai mereka membuat pria itu terpaksa melakukan hal ini. Jika tidak, entah sampai kapan dia akan berada di tempat busuk ini.
Setelah persiapan selesai, Frans mengetuk pintu toilet untuk memberitahu mereka, agar segera membukakan pintu.
__ADS_1
"Ada sesuatu di toilet, coba kalian lihat," ucap Frans sambil membuat beberapa gerakan agar dapat dimengerti kedua orang itu. Dia yakin dua orang berbadan besar itu lah yang berbicara menggunakan bahasa Perancis, seperti yang pernah dia dengar.
Kedua orang penjaga tersebut saling berpandang-pandangan. Mereka hendak menarik Frans keluar, tetapi Frans langsung menolaknya.
Dia dengan panik menunjuk-nunjuk ke arah toilet.
Penasaran akan apa yang dimaksud oleh Frans, keduanya pun masuk ke dalam toilet.
Buru-buru Frans mengunci pintu toilet dan m3nghaj4r keduanya seorang diri.
Frans sempat tersudut, terlebih ketika salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah pist0l rakitan. Namun, berkat kecepatannya, pria itu berhasil membuang pist0l tersebut ke dalam toilet. Dengan cepat, dia juga menvsuk l3h3r kedua pria tersebut hingga terkapar di lantai.
...***...
"Sekarang dia sedang berada di toilet, Bos," jawab satu penjaga yang menunggu di depan ruangan Frans. Pria itu tampak serius berbicara dengan seseorang yang dia panggil Bos, dari balik sambungan telepon.
"Sejak kapan?"
Ia melihat jam tangannya. "Sudah lima belas menit berlalu, Bos," jawabnya sembari mengerutkan kening. Dia hanya menyuruh kedua orang temannya untuk membawa pria itu ke toilet selama lima menit, dan mereka selalu tepat waktu.
"Bodoh! Cepat hampiri mereka. Pria itu bukan pria sembarangan! Lengah sedikit saja kalian bisa m4t1, tolol!" teriak sang bos. Ia terdengar panik.
"Maksud Bos apa?" tanya pria itu kebingungan.
"Dia mantan anggota Badan Intelijen Negara!"
Mendengar perkataan sang bos, pria itu segera berbalik, hendak menuju toilet.
"Bingo!"
Saat berbalik, Frans rupanya sudah berdiri di hadapan pria itu sembari memasang seringai menakutkan.
Dalam hitungan detik, penjaga yang tersisa itu tumbang bersimbah d4r4h di lantai. Tak lupa, dia memaksanya untuk menelan obat-ob4tan itu hingga tak sadarkan diri.
Frans kemudian mengambil ponsel penjaga tersebut, yang tergeletak tak jauh dari kakinya.
"Akan kutemukan siapa pun dirimu," ucap Frans dingin sebelum menutup dan membuang sim card-nya.
"Argh!" Frans memekik kesakitan. Pria itu membuka kaos yang dikenakannya, dan menemukan sebuah luka sayat yang lumayan panjang di perutnya.
__ADS_1
Dia tidak menyadari, bahwa salah seorang penjaga sempat melukai dirinya menggunakan pecahan kaca wastafel.
"Sial!"