Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 50: Obsesi.


__ADS_3

Reagen tersenyum sumringah. Pria itu sedang menyetir mobilnya menuju ke apartemen. Dia baru saja sampai setelah hampir satu minggu dinas ke luar kota. Pria itu sengaja tidak memberitahu Zenaya perihal kepulangannya karena ingin memberikan kejutan. Frans yang peka pada atasannya dengan sukarela meminjamkan mobil agar Reagen bisa menjemput sang istri di rumah sakit.


Semula Reagen menolak, sebab jam kerja Zenaya pasti sudah selesai, tetapi Frans tetap meminjamkannya. Sekretaris pribadi pria itu memang memiliki hati yang baik meski kadang terlihat dingin.


Reagen melirik dua buah benda yang tergeletak di jok sebelahnya. Dua hari lalu saat sedang mengobrol di telepon dengan sang istri, tiba-tiba dia meminta dibawakan white chocolate sebagai oleh-oleh. Tanpa pikir panjang, Reagen langsung membelikan pesanan sang istri saat itu juga agar tidak terlupa. Dan sebagai bonus tambahan, sebuket Bunga Anyelir berwarna merah muda dia beli dalam perjalanan pulang tadi.


"Aku merindukanmu,"


...***...


Suasana di dalam mobil Alex diliputi keheningan. Zenaya sama sekali tidak berniat mengeluarkan suaranya dan lebih memilih menatap jalanan dari balik jendela mobil.


Hati wanita itu diliputi perasaan tak enak. Perlakuan Alex benar-benar membuatnya merasa tak nyaman. Setelah ini, sebisa mungkin dia harus bisa menghindari pria itu.


"Ada apa, Zen?" tanya Alex ketika mendapati tingkah ganjil Zenaya. Pria itu pura-pura tidak menyadari sikap tak nyaman yang Zenaya tunjukkan.


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab Zenaya tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela mobil.


"Memikirkan apa?" tanya Alex ingin tahu.


"Bukan hal yang penting." Jawab Zenaya cepat. Dia ingin segera sampai di apartemen dan menjauh dari pria itu.


"Kalau tidak penting, mengapa sampai kau pikirkan?"


Mendengar pertanyaan Alex selanjutnya, kontan membuat Zenaya mengerutkan kening dalam-dalam. Wanita itu menoleh ke arah Alex yang masih fokus menyetir.


Sadar jika Zenaya tengah menatapnya, Alex membalas tatapan Zenaya sembari melempar senyum simpul.


Tak ingin memusingkan hal tersebut, Zenaya mencoba mengalihkan perhatiannya. Dia mengambil ponsel dari dalam tas dan berniat mengirim pesan untuk sang suami.


"Kau ingin menghubungi siapa?" tanya Alex tiba-tiba. Kepalanya sesekali menoleh pada Zenaya dengan raut wajah ingin tahu.


"Suamiku," jawab Zenaya datar.


Mendengar nada suara Zenaya yang kurang menyenangkan sontak membuat pria itu sedikit tersentil. Entah datang dari mana keberaniannya, tiba-tiba Alex merebut ponsel Zenaya dan melempar ponsel tersebut ke jok belakang.


"Lex!"


"Dilarang memainkan ponsel di mobilku, Zen!" seru Alex dingin.


"Aturan dari mana itu? Kalau memang demikian, kau, kan, bisa memberitahuku secara baik-baik." Zenaya menatap Alex kesal. Wanita itu tak bisa lagi menyembunyikan kekesalan hatinya yang telah terpendam sejak beberapa hari lalu.


Zenaya hendak mengambil ponselnya, tetapi Alex dengan sigap menahan seatbelt yang terpasang di tubuh wanita itu.


Zenaya tidak dapat berkutik, sebab bila dia memaksakan diri memutar tubuhnya ke belakang, perutnya bisa-bisa semakin terhimpit sabuk pengaman.

__ADS_1


"Lex, lepaskan!" seru Zenaya yang mulai ketakutan.


Alex menghembuskan napasnya, lalu melepaskan seatbelt tersebut. Zenaya buru-buru mengambil ponsel miliknya di jok belakang.


"Bisa kah sekali saja kau tidak menyebut soal suamimu, Zen? Mengapa di setiap pertemuan kita, kau selalu saja menyebut namanya." Alex membuka suaranya. Ada raut kekecewaan yang terpancar dari wajah pria itu.


Zenaya mengangkat alisnya. "Memang apa yang salah dengan itu?"


"Aku tidak menyukainya. Jadi tolong, saat bersamaku, aku ingin kita hanya membahas soal diri kita masing-masing." Jawab Alex jujur.


Zenaya bergeming. Dia tak tahu apa yang sedang coba dibicarakan Alex.


"Aku tahu kau sengaja menyebut-nyebut pria itu supaya aku menjauhimu, kan? Jangan bermimpi Zenaya. Walau pun kau sudah menikah dan akan memiliki anak, aku tak akan pernah menyerah." Alex menghentikan mobilnya di sebuah jalan sepi yang jarang dilalui pengendara.


"Kenapa berhenti di sini?" tanya Zenaya tersentak.


Bukannya menjawab, pria itu malah menatap Zenaya tajam. "Aku lelah, Zen! Selama ini aku selalu berusaha mendekatimu agar kau bisa mengingat siapa diriku. Namun, ternyata kau sama sekali tidak dapat mengingatnya."


Zenaya memundurkan tubuhnya. Tangan kanan wanita itu sudah berada di handle pintu mobil, bersiap untuk kabur jika Alex nekat berbuat macam-macam.


"Aku tidak mengerti."


"Kita sudah lama saling mengenal Zen. Sejak 24 tahun yang lalu."


Zenaya terbelalak. Dia mencoba mengingat-ingat kejadian dulu.


"Lex, ini ... apa ... aku benar-benar tidak memahami semua perkataanmu!" sahut Zenaya kesal.


Alex tertawa sinis. Pria itu membuka laci dashboard-nya dan mengeluarkan selembar foto yang memang selalu dia simpan di sana.


Zenaya menerima foto tersebut dari tangan Alex.


Meski telah termakan usia, gambar yang ada di dalam foto tersebut masih dapat tertangkap jelas oleh mata Zenaya.


Di sana, berdiri seorang gadis kecil yang tengah duduk bersama seorang remaja di depan sebuah panti asuhan. Seingatnya, itu adalah panti asuhan tempat rumah sakit keluarganya mengadakan pengobatan gratis dulu. Zenaya selalu diajak ikut jika sang ayah pergi ke sana.


Memang tidak lama, hanya satu tahun saja karena kalau tidak salah panti asuhan tersebut kemudian diambil alih oleh sebuah perusahaan ternama yang tidak dia ketahui. Maklum, saat itu usianya masih 5-6 tahun. Tentu saja ingatannya masih berantakan.


"Uncle?" gumam Zenaya terkejut. Matanya terbelalak menatap Alex.


"Kau mengingatku, Zen?" Alex hendak mendekati Zenaya, tetapi wanita itu menyuruhnya berhenti.


"Kenapa, Zen? Kau mengingatku. Aku sangat merindukanmu."


"Alex, please! Aku minta maaf karena sama sekali tidak mengingatmu, tetapi aku mohon, jangan ganggu aku," ujar Zenaya.

__ADS_1


Alex bergeming.


"Sebaiknya aku turun di sini. Terima kasih atas tumpangannya. Kuharap kita tak lagi saling bertemu jika kau memiliki niat lain." Zenaya membuka pintu mobil dan berjalan keluar.


Alex bergegas menyusul Zenaya dan menarik tangannya kasar.


"Lex, lepaskan!"


"Tidak! Apa kau bilang? Tidak bertemu lagi? Jangan bercanda, Zen!"


"Lepaskan aku, lepaskan!" teriak Zenaya ketakutan. Dia berusaha melepaskan genggaman Alex, sementara tangannya yang terbebas memegang perutnya dengan hati-hati.


Kesal dengan tindakan Zenaya, Alex menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.


Zenaya yang terkejut sontak berteriak. Keringat dingin mengucur keluar di sekujur tubuhnya. Kilas balik akan peristiwa beberapa waktu lalu dengan Reagen kembali menguap ke permukaan.


"Aaarrrggghh!" teriak Alex ketika tiba-tiba Zenaya menggigit bahunya sekuat tenaga.


Alex refleks melepas kungkungannya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Zenaya berlari meninggalkan Alex dan bersembunyi di sebuah gang kecil.


Wanita itu bersandar pada dinding bangunan sembari mengatur napasnya. Sesekali, Zenaya menghapus air matanya yang sudah mengalir deras.


"Maafkan Mommy, Nak. Maafkan, Mommy," ucap Zenaya sesenggukan sembari mengelus perutnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Isi cerita dibutuhkan untuk membuat benang merah dari sebuah konflik. Jadi, saya harap tak ada yang keberatan dengan ini. Tolong untuk tetap memberikan respon positif, agar saya bisa terus bersemangat hingga bab terakhir.

__ADS_1


Terima kasih. 😇


__ADS_2