
Hari kelulusan sekolah pun tiba. Kini para siswa angkatan akhir tengah mengadakan pesta perpisahan sekolah. Banyak dari mereka yang membawa pasangan ke sana, termasuk ketiga sahabat baik Zenaya. Berbanding terbalik dengan ketiga sahabatnya, Zenaya dengan percaya diri datang sendirian tanpa mengajak siapa pun. Semula dia ingin mengajak sang kakak yang kebetulan libur dan pulang ke rumah, tetapi jadwal kencan dengan kekasihnya tidak dapat diganggu gugat.
Meski datang sendirian, ketiga sahabatnya tetap berbaik hati mengajak Zenaya bergabung di meja mereka. Pasangan mereka pun tidak keberatan saat Zenaya diajak turun ke lantai dansa.
"Aku lelah. Kalian lanjutkan saja. Lagian lagunya juga sudah berubah romantis. Masa aku harus berdansa sendirian seperti orang gila." Zenaya tertawa kecil, dan bergegas kembali duduk di mejanya.
Meski tanpa pasangan, Zenaya tetap bisa menikmati pesta tersebut. Lagi pula, bukan hanya dia saja yang datang tanpa membawa pasangan, ada juga beberapa siswi lain yang memilih datang seorang diri atau bersama teman mereka.
Mata Zenaya yang tengah sibuk menjelajahi aula sekolah tiba-tiba terhenti pada sosok seorang lelaki, yang duduk tak jauh dari mejanya. Dia adalah Reagen. Lelaki itu terlihat sangat tampan dan berwibawa mengenakan tuxedo hitam. Dia tampak serasi bersanding dengan Natalie yang duduk di sebelahnya menggunakan gaun seksi.
Zenaya tersenyum getir. Namun bukan pada kecemburuannya (dia sudah tak memiliki rasa itu), melainkan pada kebodohannya selama ini.
Natalie yang jelas-jelas memiliki fisik nyaris sempurna, dan sudah mendekatinya selama satu tahun saja, tak pernah sekali pun diminta untuk menjadi kekasih lelaki itu. Jadi, bagaimana mungkin Reagen bisa meminta Zenaya untuk menjadi kekasihnya, padahal mereka tak pernah benar-benar saling mengenal.
Zenaya menertawakan kebodohannya sekali lagi. Kebencian pada lelaki itu semakin hari semakin membuncah.
Gadis itu kembali menatap Reagen, tetapi ternyata Reagen juga sedang menatap balik dirinya. Sorot mata Zenaya seketika berubah dingin. Dia pun segera bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari sana.
Zenaya memilih menjauhkan diri dari keramaian. Dia menghampiri sebuah taman, yang menjadi tempat akan kenangan pahit itu dimulai.
Taman itu terlihat sangat indah di malam hari. Beruntung, tempat itu kini terlihat sangat sepi. Mungkin, karena para tamu undangan sedang asyik menikmati pesta di dalam aula. Jadi, Zenaya bisa dengan bebas menyamankan diri di salah satu sudut tempat, sembari memperhatikan berbagai macam bunga-bunga di sana.
"Zenaya,"
Gadis itu kontan tersentak saat mendapati Reagen sudah berdiri di hadapannya.
Dulu detak jantung Zenaya selalu bergemuruh setiap kali berhadapan dengan Reagen. Namun, kali ini tidak dirasakannya lagi. Zenaya tidak lagi merasakan sentuhan hangat pada hatinya. Justru sekarang, hanya dengan melihat wajah Reagen dari jauh saja sudah membuat luka Zenaya yang belum tertutup sempurna, kembali terbuka.
Zenaya menatap lelaki itu dengan ekspresi penuh kebencian.
"Aku, ingin–"
Perkataan Reagen terhenti, ketika tiba-tiba Zenaya berjalan mendekat dan melayangkan sebuah tamparan sekuat tenaga. Dia tahu rasanya pasti sangat menyakitkan. Namun, rasa sakit yang dirasakan lelaki itu tak akan pernah sebanding dengan hatinya yang sudah hancur berkeping-keping.
Pijakan kaki Reagen goyah sesaat karena tak siap menerima tamparan Zenaya. Kendati begitu, ekspresi wajahnya sama sekali tidak terkejut. Barang kali, dia sudah dapat menebak apa yang akan gadis itu lakukan, jika dia mencoba mendekatinya lagi.
Zenaya mendongakkan kepalanya, sembari memasang raut wajah angkuh. Dia menatap tajam sorot mata Reagen yang kini tengah memandangnya sendu.
__ADS_1
"Hentikan tatapan palsumu itu!" seru Zenaya dingin.
"Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semua ini." Reagen berusaha mendekati Zenaya kembali, tetapi gadis itu segera berteriak, dan menyuruhnya untuk berhenti di tempat.
"Aku tak butuh penjelasan apa pun lagi." Zenaya bersiap untuk pergi meninggalkan Reagen.
"Zen–"
"Berhenti menyebut namaku dengan mulut sampahmu itu!" teriak Zenaya. Napas gadis itu terlihat memburu karena menahan emosi. Matanya juga sudah berembun. Ingin sekali dia memukul-mukul keras dadanya, agar rasa sakit yang kembali datang bisa sedikit berkurang.
"Ketahuilah, di hatiku kini hanya ada kebencian yang akan selalu tertanam untukmu." Setelah berkata demikian, Zenaya berjalan melewati Reagen. Dia sengaja menabrak lengan Reagen hingga membuat pria itu nyaris terhuyung.
Reagen hanya bisa terdiam. Raganya tak mampu bergerak untuk menahan Zenaya, meski hatinya sudah berteriak dan menyuruhnya untuk mengejar gadis itu.
Zenaya memilih pergi meninggalkan pesta tanpa pamit pada ketiga sahabatnya. Dia mengemudikan mobilnya secepat mungkin agar bisa segera menjauh dari tempat tersebut.
Tempat yang telah menorehkan banyak cerita, terutama cerita pahit yang akan membekas dalam ingatannya sampai kapan pun.
Zenaya berjanji tak akan pernah menginjakkan kakinya kembali ke sana. Dia akan mengubur dalam-dalam semua kenangan menyakitkan ini bersama dengan luka hatinya.
...***...
"Ini laporan yang diminta tadi pagi, Bu." Seorang wanita meletakkan setumpuk berkas di atas meja atasannya.
"Terima kasih, Jill," ucap Zenaya tanpa mengalihkan pandangannya pada berkas lain yang sedang dikerjakan. Tangannya kemudian sibuk mengetik laporan di laptop selama beberapa saat, sebelum akhirnya menutup laptop tersebut.
Zenaya kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa. Dia berhasil menyelesaikan S1 Jurusan Manajemen Bisnis, dan S2 Jurusan Manajemen Keuangan.
Selepas menyelesaikan kuliah S1-nya, Zenaya langsung diminta bekerja oleh sang ayah di rumah sakit mereka, Winston General Hospital, sebagai karyawan biasa. Berkat kemampuannya dalam melakukan pekerjaan, kini Zenaya diangkat menjadi Manajer Keuangan rumah sakit tersebut.
Suara ketukan pintu terdengar beberapa saat kemudian. Tak perlu bertanya, dia sudah tahu siapa yang selalu datang ke ruangannya, setiap jam istirahat makan siang tiba.
"Makan ... makan!" Grace membuka sedikit pintu ruangan Zenaya. Wanita yang baru menikah 6 bulan lalu itu kemudian masuk ke dalam ruangan sahabatnya tersebut.
Grace yang dikenal memiliki kepribadian meledak-ledak, sekarang menjelma menjadi seorang wanita anggun yang manis. Dia merupakan salah satu dokter di rumah sakit ini, dan tengah mengambil program pendidikan dokter spesialis.
Kesuksesan tak hanya diraih oleh Zenaya dan Grace. Kedua sahabatnya, Emily dan Alice, juga memiliki kehidupan yang sangat baik. Emily kini sibuk membantu usaha restoran bintang lima milik suaminya, sementara Alice hidup berbahagia dengan keluarga kecilnya, dan sedang berkeliling dunia dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Di antara mereka berempat memang hanya Zenaya saja yang belum memiliki pasangan hidup.
__ADS_1
Sumpah yang pernah dia ucapkan sepuluh tahun lalu benar-benar ditepati olehnya. Sampai saat ini, Zenaya sama sekali belum pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun. Hatinya tak pernah tergugah, ketika beberapa kali ketiga sahabatnya itu mencoba mengenalkan dirinya dengan seorang pria mapan.
Tentu saja dia masih menyukai lawan jenis, hanya rasa trauma yang didapatkannya dulu benar-benar membekas di hati Zenaya. Gadis itu takut dipermainkan. Dia menganggap semua pria yang mendekatinya tak pernah memiliki niat baik.
Zenaya sangat menikmati kesendiriannya, dan tak begitu memperdulikan kekhawatiran kedua orang tuanya. Zaman sudah berubah, banyak gadis-gadis yang menikah di usia kepala empat, jadi, dia masih memiliki banyak waktu.
"Yuk!" Zenaya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Grace. Mereka pun pergi meninggalkan ruangan Zenaya untuk makan siang.
"Kau pasti lelah sekali," ujar Zenaya begitu mereka sampai di lobby rumah sakit. Keduanya memang lebih senang makan siang di warung di pinggir jalan dari pada di kantin rumah sakit.
"Biasa saja. Kau tahu sendiri kalau staminaku bahkan melebihi seorang binaragawan." Grace mengangkat bahunya dan tertawa.
Zenaya menggelengkan kepalanya. Mereka pun mengobrol ringan sembari keluar dari rumah sakit.
Langkah keduanya kontan terhenti saat sebuah mobil ambulance berhenti tepat di depan pintu UGD, yang berada persis di sebelah mereka.
Supir ambulance kemudian turun dari mobil dan membuka pintu belakang.
Brankar diturunkan. Beberapa orang perawat dan dokter jaga segera keluar dari ruang UGD. Darah terlihat mengalir dari kepala pasien.
"Pasien mengalami benturan pada kepalanya dan patah lengan kanan. Tekanan darahnya berada pada 80/60mmHg, dan saturasi oksigennya di bawah 80, dok!" seru salah seorang petugas medis ambulance.
"Siapkan ventilator. Kita perlu CT scan juga, " pinta sang dokter jaga pada salah satu perawat yang ikut dengannya.
"Baik, dok."
Tubuh Zenaya menegang begitu brankar yang membawa pasien tersebut melewati dirinya dan Grace. Gadis itu kontan terpaku tak mampu bergerak.
Meski sepuluh tahun telah berlalu, dan wajahnya kini dipenuhi dengan lumuran darah, Zenaya masih tetap dapat mengenali pria itu.
"Rey!" teriakan seorang wanita yang baru keluar dari mobil membuyarkan lamunan Zenaya.
Wanita itu menangis histeris sembari berlari masuk ke ruang UGD bersama dua orang pria lain.
"Zen," panggil Grace hati-hati. Dia menyentuh lembut lengan Zenaya.
Seakan tersadar, Zenaya berpaling menatap Grace.
__ADS_1
"Kau melihatnya?" tanya Grace. Matanya menatap sendu sang sahabat.
Mengetahui tak ada satu pun kata yang mampu keluar dari mulut Zenaya, Grace pun memegang tangan gadis itu dan meremasnya kuat.