Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 79 : Kencan Manis.


__ADS_3

Siang ini, Reagen tiba-tiba menyuruh Zenaya untuk bersiap-siap, karena pria itu akan mengajaknya berjalan-jalan.


Reagen sebenarnya sudah merencanakan hal ini sejak beberapa hari lalu, tetapi kegiatannya yang lumayan padat mau tak mau membuat dia terpaksa menundanya sampai waktu cuti tiba.


Kendati mengambil cuit panjang, untuk proyek Zen-tral Mall, Reagen tidak ingin menyerahkannya pada orang lain. Pria itu masih akan tetap mengawasi pembangunan mall besar tersebut dengan dibantu oleh sang kakak.


"Memang kita mau jalan-jalan ke mana?" Lagi-lagi Zenaya mengajukan pertanyaan yang sama kesekian kalinya pada sang suami.


Wanita itu sudah duduk rapi di mobil, sementara Reagen sedang membantunya memasang seatbelt dengan hati-hati.


"Ke mana pun. Kita akan kencan selama seharian. Seingatku, selama kita menikah, kita belum pernah melakukan hal-hal seperti ini." Reagen tersenyum sembari menatap puas seatbelt yang sudah terpasang di tubuh sang istri.


"Kita bukannya sering makan di luar?" tanya Zenaya.


"Memang?" Reagen mengerutkan keningnya.


"Kau ini masih muda tetapi sudah pelupa!" sahut Zenaya.


Reagen yang sempat tersentak, buru-buru memasang wajah jenakanya. "Itu, kan, hanya makan malam biasa. Kita akan melakukan apa pun, seperti bermain."


"Seperti anak remaja saja. Sepertinya tidak cocok kulakukan dalam keadaan begini." Zenaya meringis, tampak tidak percaya diri.


"Memang harus seperti apa supaya terlihat cocok? Berkencan setelah menikah justru terlihat sangat romantis." Reagen mencuri satu ciuman dari Zenaya dan mulai menjalankan mobilnya.


Zenaya memutar bola matanya dan tertawa kecil.


Di dalam mobil, mereka asyik berbincang-bincang seraya bersenda gurau. Lebih tepatnya, Zenaya lah yang lebih banyak bercerita, sementara Reagen menanggapi celotehan manis istrinya dengan senang hati.


Sekilas, Reagen masih tak menyangka bahwa Zenaya merupakan wanita yang sangat periang.


Kenyataan tersebut membuat Reagen sedikit bersedih. Sebab, selama Zenaya bersamanya, keceriaan itu tak pernah nampak di wajah cantik sang istri.


Reagen mengambil tangan Zenaya dan menciumnya lembut.


Dia tak berani merapalkan sebuah janji, meski itu hanya untuk dirinya sendiri. Namun, setitik harapan dan keyakinan akan kesembuhannya, selalu dia tanamkan dalam hati sebagai penyemangat.


...***...


Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah mall terbesar yang dimiliki Walker Group. Rencananya, mereka akan mengunjungi wahana bermain indoor yang ada di sana.


Melihat kedatangan Reagen, seluruh staff dan security berbondong-bondong menyambut dirinya dan memberi penghormatan. Beberapa bahkan terlihat saling berkomunikasi menggunakan HT, untuk memberitahukan kedatangan atasan mereka bersama sang istri, pada karyawan lain di lantai atas.

__ADS_1


"Kenapa kita harus jalan ke sini? Kita, kan, bisa pergi ke mall lainnya, asal bukan mall milik keluargamu!" Zenaya melayangkan protesnya pada Reagen. Wanita itu bukannya tidak menyukai tempat ini. Dia hanya merasa sedikit tak nyaman karena mereka memperlakukannya berbeda.


Bagaimana mereka bisa kencan kalau beberapa pria berpakaian hitam-hitam mulai mengawal dan mengawasi dirinya bak seorang anak kecil? Belum lagi, tatapan para pengunjung mall yang terlihat aneh. Belum sampai setengah jam berada di sana, dia sudah menjadi pusat perhatian orang-orang.


"Mereka hanya ingin melayanimu dengan baik. Selama ini kan, kau tidak pernah terlihat, jadi wajar saja saat kau muncul, mereka menyambutmu dengan sangat antusias." Reagen memberikan penjelasan yang paling masuk akal untuk Zenaya.


Zenaya mau tak mau mengangguk patuh. Dia pun mulai membiasakan diri saat beberapa staff yang dilewatinya, memberi sapaan ramah.


Namun, sebelum memasuki wahana bermain, Reagen mengajak Zenaya terlebih dahulu untuk masuk ke dalam salah satu toko pakaian dengan brand terkenal. Dengan sigap para staff di sana langsung menyambut Zenaya. Mereka pun memilihkan beberapa pakaian hamil yang cocok dan nyaman untuk wanita itu.


"Apanya yang bermain?" Batin Zenaya heran.


Setelah selesai mencari pakaian, Reagen membawanya masuk ke dalam toko sepatu, tas, dan bahkan perhiasan.


"Lalu, mainnya kapan?" tanya Zenaya yang lama-lama merasa bosan dan jengkel. Pasalnya, berbelanja seperti ini bukanlah kegiatan yang dilakukan remaja-remaja biasa.


"Sebentar lagi. Kau sudah lelah, ya?" tanya Reagen.


Zenaya menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak merasa lelah, sebab toko-toko yang dihampirinya memiliki jarak yang sangat dekat satu sama lain. Barang-barang yang dia beli pun dipegang sepenuhnya oleh orang-orang suruhan Reagen.


Wajah Zenaya berubah sumringah ketika Reagen akhirnya mengajak wanita itu memasuki zona taman bermain.


Reagen dengan senang hati menuruti kemauan sang istri. Dia pun naik bersama Zenaya ke sana.


"Terima kasih," ucap Zenaya saat Reagen membantu mendudukkannya di atas kuda poni.


Zenaya terlihat sangat senang saat carousel tersebut mulai bergerak perlahan. Dia bahkan bersenandung kecil, mengikuti irama lagu yang keluar dari wahana permainan itu.


"Saat kecil, aku sering menaikinya bersama Kak Adryan." Zenaya membuka suaranya.


"Kalian pasti sangat dekat?" tanya Reagen.


"Tentu saja. Memangnya kau tidak dekat dengan Kak Noah?" Zenaya balik bertanya.


"Kami lebih banyak beradu dari pada sayang-sayangan."


Jawaban Reagen sontak membuat Zenaya tertawa kecil.


Reagen mengulas senyumnya. "Setelah ini kita ke mana?" tanya pria itu lagi.


Mata Zenaya kembali menatap sekeliling tempat, hingga menemukan satu tempat yang membuat senyum misteriusnya terbit.

__ADS_1


"Kau tidak ikut naik?" tanya Reagen seraya memicing sinis pada sang istri yang tampak sedang menahan tawa. Pasalnya, saat ini dia tengah duduk pasrah di atas mobil-mobilan berukuran kecil.


"Yang benar saja. Tidak muat!" sahut Zenaya sembari menunjuk perut buncitnya. "Lagi pula, aku ingin melihatmu menaiki itu." Sambung wanita itu dengan wajah memelas.


Reagen berusaha merapalkan kata-kata sabar dalam hatinya. Ditemani salah seorang staff wahana, dia mulai berkeliling mall menggunakan mobil-mobilan tersebut.


Tak hanya sabar yang ternyata harus dia rapalkan, Reagen juga harus memasang topeng tak kasat mata setebal mungkin, tatkala para pengunjung mall dan karyawannya tertawa geli mendapati sosok gagah itu mengendarai mainan anak-anak.


Ekspresi yang sama tentu saja terlihat di wajah cantik Zenaya. Kapan lagi melihat suami penuh wibawa seperti Reagen, asyik memainkan permainan anak-anak?


"Sudah puas?" tanya Reagen dengan raut wajah kesal, setelah selesai melakukan dua putaran.


"Sangat. Terima kasih." Sebuah kecupan manis mendarat di pipi Reagen.


Rasa kesal yang semula terpatri di wajahnya mendadak sirna.


Keduanya pun saling melempar tawa dan melanjutkan kencan mereka.


...***...


Zenaya yang sudah kelelahan, kini memilih menikmati permainan sulap dua orang badut lucu, bersama anak-anak kecil lainnya.


Wanita itu kontan bertepuk tangan setiap badut tersebut berhasil menciptakan trik-trik kecilnya. Tak jarang, dia bertukar tawa dengan anak-anak di sana.


Reagen yang berdiri di belakang Zenaya lantas tersenyum dengan interaksi manis yang dibangun sang istri pada anak-anak tersebut.


Namun, tiba-tiba pandangan mata Reagen mulai kabur. Dia berusaha menajamkan penglihatannya saat mendapati sosok Zenaya tidak sejelas tadi.


Saat tubuh pria itu nyaris limbung, seorang suruhannya segera menahan Reagen.


"Mr. Walker, Anda tidak apa-apa?" tanya pria itu.


"Tidak apa-apa." Jawab Reagen sembari melepaskan diri.


"Apa kita kembali saja? Saya akan meminta Nyonya–"


"Tidak perlu!" Potong Reagen tegas. "Aku ingin ke toilet sebentar. Tolong jaga, istriku," titah pria itu sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan tempat. Tak lupa, dia juga berpesan pada mereka untuk tidak memberitahu Zenaya, soal keadaannya barusan.


Sesampainya di toilet, Reagen menenggak dua butir obat yang memang dia bawa.


"Bertahanlah, bodoh! Kau hanya perlu bertahan selama beberapa minggu lagi!" makinya pada diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2