
"Terima kasih kawan, aku berhutang budi padamu," ucap Reagen pada seseorang yang berada di balik sambungan teleponnya. Pria itu baru saja menelepon Vian, suami Grace.
Istrinya tidak mungkin pulang ke rumah orang tua mereka. Jadi, satu-satunya tujuan Zenaya yang terlintas dalam pikiran Reagen adalah kediaman sahabatnya itu. Sebelumnya, Reagen sudah menelepon Grace langsung, tetapi dia malah mendapatkan makian dari wanita itu. Alhasil, dia mencoba menelepon suaminya. Mereka berdua memang sudah saling mengenal satu sama lain karena Walker Group mengadakan kerja sama dengan hotel keluarga Vian sejak beberapa bulan lalu.
Beruntung, Vian dengan bijaksana memberitahukan keberadaan Zenaya yang memang sedang berada di sana. Pria itu berkata jika Zenaya datang seorang diri memakai taksi.
Tadinya, Reagen berniat untuk membiarkan Zenaya bermalam di sana demi menenangkan diri, tetapi hatinya sendiri ternyata sangat tidak tenang. Alhasil, malam itu juga dia memutuskan untuk menjemput sang istri di rumah keluarga Aldrich tersebut.
...***...
Grace meletakkan teh hangat yang dia buat di atas nakas. Wanita itu duduk kembali di pinggir ranjang yang Zenaya tempati.
"Minumlah dulu."
"Terima kasih," ucap Zenaya sembari mengambil cangkir teh itu.
Keduanya kini sedang berada di salah satu kamar tamu.
Jujur saja, Grace sangat terkejut ketika mendapati Zenaya berdiri sendirian di depan rumahnya. Wanita itu berkata, bahwa mereka baru saja bertengkar. Oleh sebab itu, Zenaya memutuskan kabur dari apartemen demi menenangkan diri.
Tak hanya itu, Zenaya pun menceritakan semua yang terjadi di antara mereka, termasuk kecemburuan Reagen dan sikap posesifnya.
Grace menghela napasnya. Mendengar penjelasan Zenaya, ada rasa menyesal telah membentak Reagen. Namun, dia juga kesal pada pria itu yang terkesan tidak sabaran. Bukankah dia tahu betul bagaimana Zenaya.
"Lalu, sekarang bagaimana? Kau kabur dari rumah, tetapi kau tak mungkin terus-terusan menghindar darinya," ujar Grace.
Zenaya tampak merenung.
Kenapa juga dia mesti kabur dari rumah? Tak lama lagi, Reagen pasti akan menemukannya.
"Aku tidak tahu." Zenaya kembali menyeruput teh hangat yang ada di tangannya.
Gravc menghela napas. "Kau benar-benar masih membencinya ya?" tanya wanita itu penasaran.
"Aku sangat membencinya, Grace! Saat kita sekolah aku–"
"Aku tidak membicarakan saat itu, Zen. Kau tahu benar apa yang aku maksud." Grace memotong pembicaraan Zenaya.
__ADS_1
Zenaya kontan terdiam.
"Perasaanmu tentu tak lagi sama dengan yang dulu. Apa lagi kalian sudah terikat tali pernikahan. Aku sangat memahami perasaan traumamu, tetapi, bisakah kau juga melihat kesungguhan hati Rey?" Grace kembali membuka suaranya.
" ... dia tidak bersungguh-sungguh, Grace. Pria itu hanya mencoba bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan. Perasaannya sejak dulu sudah seperti itu!" jawab Zenaya keras kepala.
"Siapa yang bilang? Kau hanya menyimpulkan semuanya sendiri." Grace menggenggam tangan Zenaya yang berada di pangkuannya.
"Perasaanmu tak lagi sama, Zen. Kau hanya mencoba menekannya dalam-dalam, dan itu tidak bagus untuk kesehatan jiwamu." Wanita itu mengulas senyum ramah.
Zenaya tertunduk. "Aku tidak tahu, Grace. Aku benar-benar tidak tahu. Sulit mengatakan bahwa aku masih menyimpan perasaan padanya. Namun, demikian juga dengan kebencianku."
Zenaya mengelus perutnya. "Entah mengapa, sejak kehadiran bayi ini, aku selalu merindukan dirinya. Aroma tubuhnya yang menenangkan adalah candu bagiku." Wanita itu tertawa kecil. " ... dan kau tahu, aku bahkan pernah menangis sesenggukan hanya karena dia pulang terlambat saat dinas."
Tanpa terasa air mata mulai menetes di pipi Zenaya.
"Lihat! Baru mengatakan hal ini saja aku sudah menangis." Zenaya tertawa sumbang. Hatinya tiba-tiba tertaut pada sang suami.
"Bayimu saja mencintai ayahnya. Dia menyuruhmu untuk melakukan hal yang sama." Grace mencoba menenangkan hati sahabatnya, sekaligus memberi penegasan agar wanita itu tak lagi bersembunyi.
"Aku tidak tahu. Aku sudah memberitahumu tentang dia yang tidak sengaja memelukku saat tidur, kan?" tanya Zenaya tiba-tiba.
"Rasa itu masih ada Grace. Saat dia menyentuh tubuhku, kilas balik akan kejadian pahit tersebut kembali menguap ke permukaan. Aku takut dia kembali menyakitiku."
"Tetapi katamu, tadi dia berhasil mencuri ciuman darimu, kan?" Grace mengingat cerita Zenaya.
"Itulah mengapa aku bingung!" Zenaya terlihat kesal dengan dirinya sendiri. "Aku ini kenapa, Grace?" sambungnya.
"Kau hanya perlu mencoba membuka hati, Zen. Semudah itu sebenarnya, walau aku tahu sulit melakukan hal tersebut karena kilas balik tersebut."
Grace menatap Zenaya lembut. Dia memahami perasaan wanita itu. Grace tidak dapat membayangkan bagaimana perasaannya jika berada dalam posisi Zenaya. Meski dengan pria yang dicintainya sekali pun, Grace pasti akan tetap merasa trauma.
Dihamili oleh seorang pria yang pernah menyakiti di masa lalu adalah hal terburuk yang pernah ada.
"Ya sudah, sekarang sudah hampir larut malam. Sebaiknya kau beristirahat." Grace menyuruh Zenaya berbaring, lalu mengambil teh dari tangan wanita itu.
"Maaf, aku sudah mengganggumu dan Vian, Grace." Zenaya menatap Grace tak enak hati.
__ADS_1
"Kau saudaraku, sudah sepatutnya kita saling membantu. Maafkan aku karena tadi sudah membentak suamimu di telepon."
"Tidak masalah." Jawab Zenaya.
...***...
Grace menghampiri sang suami yang sedang duduk di ruang televisi. Dia membawa secangkir teh hangat untuknya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Vian.
Grace mengangguk. "Apakah pekerjaanmu masih banyak? Ini sudah hampir tengah malam." Wanita itu duduk di sebelah sang suami yang tampak mengerjakan sesuatu.
"Sedikit lagi. Zen bagaimana?" Vian balik bertanya.
"Aku sudah menyuruhnya untuk tidur," jawab Grace.
"Apa dia baik-baik saja?" Vian menatap sang istri khawatir. Meski dia baru mengenal Zenaya, tetapi keduanya cukup akrab sama seperti halnya sang istri.
Grace menganggukkan kepala. "Hatinya yang sedang tidak baik-baik saja."
Vian menutup laptopnya dan berpindah posisi. Pria itu menatap dalam-dalam mata sang istri tercinta.
"Kau tahu, Sayang, bahwa mencampuri urusan rumah tangga orang lain merupakan hal yang tidak baik?" tanya sang suami tiba-tiba.
Meski heran dengan pertanyaan sang suami, Grace tetap mengangguk.
Vian tersenyum lembut. Dia memeluk sang istri sejenak, lalu menciumnya lembut. "Zenaya tak akan pernah bisa melepaskan rasa traumanya jika kita selalu mendukung sikapnya yang seperti ini."
"Lalu?"
"Reagen akan sampai sebentar lagi. Dia akan menjemput Zenaya pulang." Jawab Vian tenang.
Grace melotot. "Sayang, tapi Zenaya, kan, sed–"
Vian menggenggam tangan Grace. "Biarkan Zenaya terbiasa di samping Rey. Aku tidak melarangmu untuk membantu Zenaya, tetapi kau juga harus memahami perasaan Rey sebagai seorang suami yang mencintai istrinya."
Grace bergeming. Perasaan bersalah mulai hadir di benak wanita berusia 29 tahun itu.
__ADS_1
"Kau benar. Seharusnya aku membantu mereka agar lebih dekat. Maafkan aku. Aku bahkan sempat membentak pria itu di telepon," ujar sang istri.
"Tidak apa-apa. Rey pasti mengerti seberapa besar perasaan sayangmu pada Zenaya." Vian memasang senyum simpul. "Aku akan menunggu Rey di sini sembari melanjutkan pekerjaan yang tertunda," sambungnya kemudian.