Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 61: Olivia Eleanor Greg.


__ADS_3

"Selamat pagi, Tuan Reagen. Saya Olivia Eleanor Greg, yang akan menjadi sekretaris Anda selama beberapa waktu ke depan. Anda bisa memanggil saya, Lea."


Seorang wanita cantik bertubuh sintal dengan penampilan seksi dan glamour membungkukkan badannya di hadapan Reagen. Meski pakaian yang dikenakan wanita itu merupakan setelan kerja, tetapi tak mampu menutupi belahan d*da dan pahanya yang terlihat menantang.


Wanita itu bahkan seperti sengaja membungkuk terlalu dalam, agar asetnya yang tidak tertutup sempurna itu dapat terpampang jelas di mata Reagen.


Reagen mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya terlihat sangat dingin dan tidak bersahabat.


"Baik. Silakan keluar," ucap Reagen tanpa menatap ke arah Lea.


Lea melirik sedikit CEO tampannya tersebut, sebelum menegakkan tubuhnya kembali.


"Eleanor," panggil Reagen saat wanita itu berada di ambang pintu ruangannya.


"Panggil saja Lea, Tuan." Lea berbalik dan mengoreksi sedikit perkataan Reagen. Wanita itu kemudian memasang senyum terbaiknya. "Ada apa, Tuan? Apa Anda memerlukan sesuatu?" tanyanya kemudian.


"Mulai besok, pakai setelan kerja yang tertutup dan sopan. Saya tidak suka karyawan saya memakai pakaian seperti itu." Reagen menatap dingin Lea. Dia sama sekali mengabaikan permintaan Lea untuk memanggil wanita itu dengan nama kecilnya.


Senyum manis yang tersemat di wajah Lea terhapus seketika. Dia menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruangan Reagen dengan menahan kekesalan.


"Brengsek! Padahal wajahnya cocok sebagai pria cassanova." Lea membatin.


"Jual mahal sekali kau pria tampan," gumam Lea sembari melirik ruangan Reagen dari balik mejanya.


Selepas kepergian sekretaris barunya tersebut, Reagen kontan memijit keningnya.


Sebenarnya, dia tak ingin memiliki sekretaris wanita. Namun hanya dialah pelamar yang memenuhi semua persyaratan dengan benar. Hasil wawancaranya pun begitu mengagumkan. Singkat kata, Lea merupakan sekretaris sempurna yang bahkan melebihi Frans.


Noah yang turun langsung dalam perekrutan tersebut akhirnya memilih Lea untuk menjadi sekretaris sang adik di kantor.


...***...


Zenaya tengah sibuk menyelesaikan seluruh pekerjaannya yang sempat tertunda karena beberapa waktu lalu harus libur pasca keluar dari rumah sakit. Setelah memikirkannya matang-matang, wanita itu akhirnya memutuskan untuk mengambil jatah cuti selama setahun penuh.


Rencananya, Zenaya akan memulai cuti minggu depan. Sang ayah juga sudah menemukan pengganti sementara, selama sang anak cuti.


"Makan siang," bisik Grace sembari melongokan kepalanya dari balik pintu, tanpa mengetuk terlebih dahulu. Wanita itu kemudian masuk ke dalam ruangan Zenaya.

__ADS_1


Melihat sahabatnya datang, wanita itu bergegas membuka kulkas mini yang ada di sana dan mengeluarkan dua buah kotak makanan.


"Kali ini biar aku yang traktir. Aku takut kau akan jatuh miskin!" balas Zenaya sembari berbisik juga. Sorot matanya terlihat menyebalkan bagi wanita itu.


Grace sontak mencibir. "Sembarangan saja! Aku tidak akan jatuh miskin karena hal kecil seperti itu, bodoh!" ketusnya. Nada suaranya sudah kembali seperti semula.


Zenaya kontan tertawa. Dia memasukkan makanannya ke dalam microwave untuk dipanaskan. Sambil menunggu, Zenaya juga membuatkan minuman dingin untuk mereka.


"Mentang-mentang akan cuti, kau jadi baik sekali melayani diriku ini," ujar Grace.


"Supaya kau rindu terus padaku," sahut Zenaya sembari meletakkan kedua jus dingin di atas meja.


"Aku merindukan keponakanku, bukan kau!" Grace memicing sinis.


"Cih!"


Keduanya pun saling melempar tawa.


Bunyi microwave terdengar satu menit kemudian. Grace berinisiatif membantu wanita hamil itu untuk mengambil makanan mereka.


Zenaya tersenyum. "Aku akan berusaha menikmati waktuku di rumah. Rencananya, kami juga akan segera pindah dari sana."


"Ahh, aku hampir lupa tentang rumahmu," kata Grace. "Jadi, kapan kalian akan pindah? Memang sudah selesai tahap pembangunannya?" tanyanya kemudian.


"Belum, tapi Reagen sudah memastikan bahwa aku akan ada di sana sebelum melahirkan." Jawab Zenaya.


"Rumah baru, anggota keluarga baru. Semoga menjadi awal hidup bahagiamu, Zen." Grace menepuk ringan pundak sahabat baiknya itu.


"Terima kasih."


Zenaya menerawang. Rasanya tak sabar meninggalkan apartemen tersebut. Meski keadaan mereka sudah membaik, tetapi Zenaya tetap enggan menetap lama di sana.


...***...


Suara hentakan piring aluminium yang muncul dari celah pintu besi menghentikan kegiatan Frans.


Pria itu turun dari posisi handstand-nya dan mengambil piring tersebut.

__ADS_1


Tak ada lauk istimewa di atas piring itu. Hanya ada sepotong roti yang sudah keras dengan diolesi sedikit mentega.


Kendati begitu, Frans tetap memakan roti itu dengan lahap asal tidak kelaparan.


Frans kini sedang terjebak di sebuah gudang kosong tua yang tidak berpenghuni. Dia tidak tahu tempat pastinya. Namun, suara deburan ombak membuat Frans dapat mengenali, bahwa dia sedang berada di daerah pesisir pantai.


Akibat ketidakwaspadaannya waktu lalu, pria itu dibawa beberapa orang tak di kenal saat tengah berada dalam perjalanan menuju kantor.


Frans awalnya mampu melawan dan berhasil melarikan diri, tetapi tiga unit mobil lain yang muncul tiba-tiba berhasil menangkapnya kembali. Mereka lantas menyuntikkan sesuatu di leher Frans hingga pingsan, dan ketika sadar, pria itu sudah sampai di sana.


Ruangan yang Frans tempati sangat gelap dan pengap. Hanya ada sebuah lubang jendela yang teralisnya terbuat dari besi tebal. Letaknya pun cukup tinggi.


Di sisi lain, ada sebuah pintu besi yang menjadi penghalangnya di ruangan ini.


Untuk ke toilet, Frans akan di antar kedua orang asing bertubuh jauh lebih besar darinya, tiap dua kali sehari.


Dia sudah beberapa kali berusaha kabur, tetapi selalu digagalkan dua orang tersebut. Mereka juga akan langsung menyuntikkan obat pada leher Frans hingga tak sadarkan diri.


Selesai makan, pria itu kembali berolah raga. Kendati tak ada alat olah raga apa pun di ruangan sempit tersebut, Frans tetap fokus untuk bergerak dengan memanfaatkan benda yang ada di sana, seperti tali yang tergantung di plafon.


Justru, baginya sedikit menguntungkan karena dia bisa mengasah kembali kemampuan tubuhnya yang sudah lama tidak digunakan.


Sambil berlatih, Frans juga sedang menunggu momen untuk bisa melarikan diri kembali dan mencari Reagen. Sebab dia pernah mendengar sedikit percakapan sekelompok orang yang sudah menculiknya, dan mereka berbicara dalam bahasa Perancis, bahasa yang sama dengan orang-orang misterius yang telah menerornya sebanyak dua kali.


...***...


" ... karena usus buntu yang diidap Mikael tidak pecah, maka kita akan melakukan operasi dengan metode Laparoskopi. Metode ini berbeda dengan operasi terbuka yang membutuhkan sayatan agak besar di sisi kanan bawah perut untuk mengangkat usus buntu. Laparoskopi hanya membutuhkan beberapa sayatan kecil untuk memasukkan kamera yang disebut Laparoskop guna melihat ke dalam perut. Alat bedah kemudian ditempatkan melalui satu atau lebih sayatan kecil, dan laparoskop dimasukkan melalui sayatan lain." Alex menjelaskan dengan detail pada orang tua pasiennya yang mengidap usus buntu.


Ibu dari pasien kecilnya tersebut menganggukkan kepala, tanda memahami perkataan sang dokter.


"Nanti pasti akan sakit ya, Dok?" tanya Mikael, anak berusia 7 tahun itu.


"Tidak akan, Jagoan. Tenang saja." Alex mengelus lembut kepala Mikael.


Mikael berseru senang.


"Kalau begitu terima kasih, Dok," ucap ibu dari Mikael sembari undur diri dari ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2