Penyesalan Zenaya

Penyesalan Zenaya
Bab 24 : Kerinduan.


__ADS_3

"Kita akan menggunakan Teknik Fluorescence. Itu adalah salah satu teknik bedah tumor otak dengan menggunakan cairan pewarna khusus yang dapat memberi tanda pada tumor, dan bertujuan untuk mempermudah proses pengangkatan tumor. Salah satu jenis cairan pewarna yang bisa digunakan adalah asam 5-aminolevulinic (5-ALA). Teknik ini juga menggunakan mikroskop dan cahaya kebiruan." Adryan menjelaskan dengan sabar bagaimana proses pengangkatan tumor pada sepasang suami istri berusia 50 tahunan.


Sang suami yang mendengar penjelasan Adryan sontak menggenggam erat tangan istrinya. Mata pria itu tampak basah, berbanding terbalik dengan sang istri yang terlihat lebih tabah.


"Tapi, istri saya bisa kembali sehat, kan, dok?" tanya si suami penuh harap.


Adryan memasang senyum simpul seraya mengangguk ramah. "Anda tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Setelah semua pemeriksaan selesai dilakukan, minggu depan kita bisa melakukan operasi tersebut."


"Terima kasih banyak, dok." Kedua pasangan suami istri itu pun pamit keluar dari ruangan.


Adryan merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Sejak pagi dia sudah harus berkutat di rumah sakit. Selama hampir dua bulan ini Adryan harus rela bekerja dua kali lipat lebih berat demi menggantikan tugas sang adik untuk sementara waktu. Dia sesungguhnya tidak merasa keberatan, asal adik kesayangannya itu dapat pulih seperti sedia kala.


"Tadi pasien terakhir?" tanyanya pada seorang perawat yang mendampingi dirinya.


"Iya, dok," jawab perawat tersebut.


Ponsel di sakunya kemudian berbunyi. Ternyata salah seorang perawat jaga mengabari, jika pasiennya yang baru saja menjalani kemoterapi mengalami nyeri hebat.


"Berikan acetaminophen, aku akan segera ke sana."


...***...


"Kalian benar tidak ingin Mama temani?" tanya Amanda khawatir. Pasalnya, Zenaya bersikers untuk pergi berdua saja dengan Grace. Dia bukannya tidak mempercayai sahabat baik anaknya tersebut. Hanya saja, rasanya tak enak karena Grace baru pulang dari rumah sakit. Sejak Zenaya sakit, wanita itu tak pernah absen menemani Zenaya jika senggang atau libur. Vian, suami Grace, juga sesekali bertandang ke sana. Pria baik hati itu justru sering mengingatkan sang istri untuk lebih memperhatikan Zenaya.


"Tidak apa, Ma." Zenaya tersenyum. Setelah berhasil meyakinkan Amanda, keduanya pun keluar dari rumah menggunakan mobil Grace.


Grace mengemudikan mobilnya menuju restoran asia favorit mereka. Zenaya sebenarnya sudah berulang kali meminta Grace untuk membawanya ke sana, tetapi Grace selalu saja menolak karena keadaan Zenaya masih belum sembuh benar.


Namun, jika Grace menawarkan diri untuk membelikannya, Zenaya selalu menolak sembari berkata, "yang aku inginkan makan di tempat itu, bukan makanan di tempat itu!"


Kini, berhubung kondisi sang sahabat telah membaik, tak ada salahnya mengajak dia ke sana.


...***...


Reagen menolak bantuan Bryan yang hendak memapahnya ke mobil.


"Aku bukan orang sakit."


"Aku tahu."


Berkat usaha keras Bryan, pria itu akhirnya diperbolehkan Craig untuk menemui Reagen dan mengajaknya keluar. Selama hampir dua bulan ini Craig mengasingkan anak bungsunya di sebuah apartemen kecil dengan pengamanan ekstra dan fasilitas minim. Jangankan uang atau kendaraan, untuk makan saja Reagen harus bergantung pada Noah dan Krystal di bawah perintah Jennia yang sangat mengkhawatirkan putranya itu.


Bryan menatap Reagen yang duduk di sebelahnya dengan wajah prihatin. Tubuh dan wajah tampan Reagen yang biasanya terlihat berwibawa kini tampak menyedihkan. Bobot tubuh pria itu mungkin juga sudah berkurang, belum lagi, otot-otot lengannya yang mulai mengendur.


Reagen adalah pria penggila olahraga, walau dia sedang sakit atau tak bisa beraktifitas di luar rumah, Reagen akan selalu tetap bergerak. Namun, melihat kondisinya saat ini, Bryan yakin pria itu hanya menghabiskan waktunya dengan berdiam diri tanpa melakukan apa pun.


"Aku akan meminta Uncle Craig untuk mengeluarkanmu dari sana. Beliau tak bisa terus-terusan menyiksamu seperti ini," ujar Bryan kemudian.

__ADS_1


"Jangan!" seru Reagen cepat. "Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan Zenaya," sambung pria itu lirih.


Bryan terdiam. Perasaan menyesal ikut hinggap pada diri pengacara muda itu. Andai saja waktu itu dia bersikeras mengantar Reagen sampai ke rumah, mungkin nasib Zenaya tidak akan seperti ini.


Semula, Bryan berniat menemui Zenaya, tetapi Grace langsung melarangnya. Dia tak ingin Zenaya menemui siapa pun orang yang berhubungan dekat dengan Reagen dulu. Hanya Jennia lah satu-satunya keluarga Reagen yang diterima baik oleh Zenaya.


"Grace tidak mengangkat teleponku sama sekali." Reagen membuka suaranya.


Tahu akan maksud perkataan sahabatnya itu, Bryan pun menjawab, "Zenaya baik-baik saja, kau tak perlu mengkhawatirkannya."


Suasana hening sampai mereka tiba di salah satu restoran terdekat. Bryan memang tak ingin membawa Reagen terlalu jauh, mengingat kondisinya sedang kurang sehat.


Keduanya pun masuk dan duduk di salah satu tempat yang letaknya menghadap langsung ke kolam ikan.


"Kau mau makan apa?" tanya Bryan tanpa memalingkan pandangannya dari buku menu.


"Terserah." Jawab Reagen cepat.


Bryan kemudian menyebutkan dua porsi makanan berat dan dua porsi makanan ringan. Tak lupa, segelas air putih dan dua gelas jus dingin juga dia pesan.


Waitress mengulangi pesanan yang dimaksud Bryan, sebelum pergi meninggalkan mereka.


"Hei, ada apa?" tanya Bryan ketika mendapati Reagen tertegun menatap ke arah kolam renang. Matanya mengikuti arah pandang Reagen.


Tepat di seberang kolam, dua orang wanita yang tadi sempat dibicarakan sedang menikmati makan siang sembari bersenda gurau.


"Kau mau makan di tempat lain?" tanya Bryan.


Reagen menggelengkan kepalanya. "Aku sangat merindukannya," kata pria itu lirih. Saat Bryan sedang sibuk memesan makanan, ternyata tanpa sengaja Reagen menangkap sosok keduanya. Semula dia ingin mengajak Bryan untuk pergi dari sana, tetapi hatinya menolak keras.


Meski pipinya terlihat lebih tirus, Zenaya tetap cantik di mata Reagen. Apa lagi wajahnya kini terlihat sangat cerah. Grace sepertinya tengah menghibur Zenaya dengan mengatakan lelucon konyol hingga membuat gadis itu tertawa.


Reagen tersenyum kecil. Dalam hati dia berterima kasih pada Tuhan. Setidaknya, Tuhan memberikan Reagen kesempatan untuk menatap Zenaya dari jauh.


...***...


"Semua panik, perawat dan dokter jaga lari tunggang langgang. Dokter John bahkan sampai salah mengancingkan kemejanya. Jika kau ada di sana, aku yakin kau akan tertawa terbahak-bahak hingga pingsan."


Grace kembali tertawa sembari memegang perutnya. Dia baru saja menceritakan kegaduhan yang terjadi di bangsal VVIP, tempat di mana salah seorang pasien berusia 70 tahun diopname karena penyakit jantung. Mereka pikir, terjadi sesuatu karena alarm di nurse station terus berbunyi dari kamar pasien tersebut. Namun, setelah mereka ke sana, ternyata nurse call remote yang ada kamar itu tertindih tubuh pasien yang sedang tertidur nyenyak.


Zenaya jeda sejenak karena terlalu banyak tertawa. Mendengar berbagai keseruan di rumah sakit membuat dirinya merindukan tempat itu.


"Sudah, cukup Grace. Bisa-bisa makanan yang baru aku telan keluar lagi," ujar Zenaya.


"Eh, jangan dong!" pekik Grace tiba-tiba.


Zenaya tertawa kecil. "Aku jadi semakin bersemangat," ungkapnya.

__ADS_1


"Untuk?" tanya Grace seraya memicing sinis.


"Bekerja." Zenaya memamerkan gigi-gigi putihnya.


"Aiihh, menyesal aku cerita." Grace melipat kedua tangannya dan membuang muka ke arah kolam renang.


Matanya kontan terbelalak dan tubuhnya kaku seketika. Pasalnya, persis di hadapannya sekarang, ada Reagen dan Bryan yang sedang memperhatikan mereka. Kepanikan sontak melanda wanita itu.


"Kenapa, Grace?" tanya Zenaya yang menyadari keganjilan pada raut wajah sahabatnya. Dia pun menoleh ke seberang, mengikuti arah pandang Grace.


Bryan dan Reagen serempak memalingkan tubuh mereka.


Zenaya mengerutkan keningnya. "Kau lihat apa sampai panik begitu?" tanya wanita itu seraya memperhatikan sederetan orang yang sedang makan di sana.


Grace semakin panik, dia takut Zenaya mengenali Reagen dan Bryan.


Baru saja Grace hendak membuka suaranya, Zenaya sudah memotong. "Yuk, pulang, aku ingin jalan-jalan ke taman."


Grace bernapas lega. Tanpa berkata apa-apa, dia bergegas pergi dari sana bersama Zenaya.


Reagen hanya bisa menatap kepergian mereka dengan wajah sendu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Note:


- Cairan asam 5-aminolevulinic (5-ALA) biasanya digunakan dalam operasi pengangkatan tumor otak yang ganas (glioblastoma).

__ADS_1


- acetaminophen (obat pereda nyeri).


__ADS_2