Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 10 Gara-gara Mang Ujang


__ADS_3

"Hei kenapa kamu masih duduk manis disitu? Ayo sholat berjamaah. Gak denger udah adzan?" Panggil Dzakir dari ambang pintu hendak mengajak Misela ke mushola di kampus.


"Saya lagi ada tamu Pak." Jawabnya singkat tanpa menoleh ke belakang.


"Oya? Udah berapa hari?" Tanya Dzakir kembali.


"Udah sembilan hari." Misela merasa janggal dengan pertanyaan itu lalu memutar tubuhnya tanpa bangkit dari duduknya. "Tunggu kenapa Bapak jadi kepo?"


"Apa salah nya orang tanya?"


"Ya tapi kan Bapak ini cowok ngapain kepo masalah begituan?"


"Saya kan juga belajar ilmu begituan."


"Terus hubungan dengan saya apa?"


"Sudahlah nanti saya telat berjamaah kalau ribut dengan mu disini. Kamu jangan pergi kemana pun."


Dzakir pun meninggalkan Misela ke mushola.


"Kenapa laki-laki itu jadi begitu menyebalkan sih. Padahal dulu gak gitu-gitu amat deh. Huh!" Misela mendengus kesal. Lagi-lagi dia harus menuruti apa yang dosen itu katakan demi skripsi nya.


Tanpa meneruskan kekesalan nya Misela tidur di atas meja dihadapan nya dengan bertumpu pada kedua tangannya. Rasa kantuk tiba-tiba muncul begitu saja. Tentu saja karna ini waktunya untuk tidur siang.


Tiga puluh menit sudah berlalu. Dzakir kembali ke ruangan setelah sholat berjamaah. Dzakir tersenyum melihat wanita di hadapan nya itu sedang tertidur pulas.


"Ingin rasanya tangan ini membelai pipi mulus mu itu." Gunam Dzakir.


Dzakir tertiba ingat dengan jawaban Misela tadi.


"Jika kamu sedang haid di hari yang ke-9 berarti kamu belum melakukan kewajiban mu sebagai seorang istri? Apa kamu bahagia dengan suami mu? Entah kenapa hasrat ingin memiliki mu semakin dalam Misela. Aku merasa sangat berdosa sekali karna ingin merebut mu dari tangan suami mu." Dzakir berucap dengan lirih karna takut membangunkan Misela.


Dzikir pun kembali duduk lalu mengetuk meja yang Misela gunakan untuk tidur.


Tok


Tok


Tok


Misela yang terkejut langsung bangun dan memposisikan duduknya kembali.


"Apa ruangan ini adalah kamar tidur mu?" Tanya Dzakir dengan ketus.


"M-m-maaf Pak." Misela terlihat gugup.


"Apa cuma kata maaf yang bisa kamu lakukan?"


"Terus saya harus gimana Pak?"


"Makanlah ini dulu."


Dzakir menyodorkan kotak makanan yang berisi bakso Sony mang Ujang kesukaan Misela. Dzakir paham betul apa yang di sukai Misela.


"Demi apa Pak Masyaallah ini sih mood booster banget. Alhamdulillah terima kasih Pak."


Tanpa basa-basi dan pikir panjang Misela langsung melahap makanannya. Tidak ada rasa canggung atau pun bersalah. Terus dan terus dia makan dan sesekali meminum es jeruk.


"Habiskan saja setelah itu kamu punya tugas. Kamu tau kan gak mungkin saya kasih kamu bakso itu dengan cuma-cuma."


Deg.


Misela harusnya berfikir dulu sebelum memakan bakso itu. Misela pun menelan dengan paksa bakso yang ada di dalam mulutnya.


"Jadi ini?"


"Ya itu gak gratis lah. Ingat tidak GERATIS." Dzakir menekan kan perkataan nya.


"Bisa-bisanya Bapak berbuat dzolim pada saya." Misela melanjutkan makannya.


"Dzolim bagaimana saya membeli kan mu bakso terenak di kota Metro ini dan harganya cukup mahal. Kamu sendiri memakan nya dengan sangat lahab. Apakah saya dzolim?"

__ADS_1


Dzakir mengangkat sebelah alisnya. Sedangkan Misela malah memutar kedua bola matanya.


"Sudahlah Pak susah kalau bicara dengan dosen yang menganut paham pasal dosen selalu benar. Salahkan saja mang Ujang bikin bakso enak banget."


Misela masih melanjutkan makannya.


"Bagaimana bisa kamu tidak sopan begitu dengan dosen pembimbing mu? Kamu mau skripsi mu pending?"


"Rasanya ingin sekali aku memberontak." Bathin Misela.


"Tentu saja tidak Pak. Terima kasih banyak Pak atas kebaikan Bapak. Saya pasti akan membalas kebaikan Bapak ini. Ayo Bapak juga makan baksonya. Ini enak banget lo. Kalau udah dingin jadi gak enak lo Pak serius deh." Misela tersenyum menunjukan gigi putihnya.


Dzakir pun menyunggingkan bibir nya.


Setelah makanan mereka habis Misela membersihkan meja Dzakir.


"Sekarang apa yang harus saya lakukan Pak?"


"Kamu duduk saja temani saya."


"Saya duduk sambil menatap wajah tampan Bapak dan sesekali tersenyum bagaikan istri simpanan ya Pak?"


"Kenapa harus jadi istri simpanan kalau jadi istri sah bisa?"


"Iya ya kan Bapak masih jomblo."


"Kamu menghina saya?"


"Siapa yang menghina Bapak. Kan itu sebuah fakta Pak."


"Saya jomblo kan gara-gara kamu malah menikah dengan laki-laki lain."


"Berarti kita gak jodoh Pak."


"Siapa bilang banyak yang cerai setelah menikah."


"Jadi Bapak doakan saya cerai dengan suami saya?"


"Memang nya saya bilang begitu?"


"Bahasa yang mana?"


"Ya yang itu tadi."


"Yang mana coba ulangi kalau saya mendoakan mu cerai dengan suami mu?"


"Sudahlah Pak memang dosen itu tidak pernah salah."


"Ikut saya."


Dzikir beranjak dari tempat duduknya dan memakai jas kerja yang diletakkan di kursi tempat duduknya.


"Loh kemana Pak?"


"Kamu mau skripsi mu selesai atau tidak?"


"Iya Pak mau."


"Cepat ikut saya."


Dzakir dan Misela menuju parkiran. Dzakir membuka pintu mobilnya.


"Cepat masuk."


Misela pun masuk dengan hentakan kaki sebelumnya.


"Pemaksaan ini namanya."


Dzakir mendekati Misela. Kini bibir Misela hampir menempel dengan pipi Dzakir.


"B-B-Bapak mau apa?"

__ADS_1


"Pasang sabuk pengaman kamu pikir saya mesum?"


Misela menghela nafas panjang.


"Nanti jadi moderator di acara seminar saya."


"Apa Pak?"


"Telinga mu masih normal kan?"


"Iy-iya Pak."


Dalam sebuah perjalanan panjang Misela melihat sosok yang sedang tertawa gembira saat mobil Dzakir berhenti karna lampu merah.


Mata Misela mulai berkaca-kaca. Di sisinya ada sejoli yang sedang asik ngobrol bahkan terlihat sangat mesra.


Dzakir begitu terkejut melihatnya. Dzakir juga terpukul karna tetesan air mata berhasil membasahi pipi Misela. Tak lama dari itu lampu hijau pun menyala. Dzakir harus melajukan mobilnya karna bunyi klakson dari belakang sudah sangat berisik.


"Kamu baik-baik aja?"


Misela menutup wajahnya dengan kedua tangan. Antara malu dan sakit hati. Entah seperti bukan itu tapi rahasia yang akan dia simpan malah ketahuan oleh Dzakir.


Dzakir pun meminggirkan mobilnya.


"Menangis lah sekuat dan semau mu jika itu bisa membuat hati mu merasa lebih baik."


Tanpa pikir lagi Misela pun menangis dengan keras.


Bukannya Dzakir kasian padanya melainkan Dzakir malah tersenyum karna misinya untuk merebut hati Misela akan terlaksana. Dzakir pun menatap dalam wanita di hadapannya itu.


Sepuluh menit berlalu. Misela mulai terdiam dan menghapus air matanya.


"Bagaimana sudah lebih baik?"


Misela hanya mengangguk.


"Kamu masih bisa profesional kan?"


Lagi-lagi Misela mengangguk.


"Baiklah kita lanjutkan perjalanan nya.


Mobil yang Dzakir kendarai itu tiba di sebuah gedung mewah dengan ciri khas siger Lampung di beberapa bagian atapnya dan dua patung muli mekhanai berdiri tegak di sisi pintu masuk.


"Ayo masuk."


Misela hanya mengekor pada Dzakir. Kedatangan Dzakir di sambut oleh beberapa panitia bahkan walikota Metro dan gubenur Lampung sudah ada disana.


Acara sudah di mulai beberapa menit lalu. Namun acara inti yang akan di isi oleh Dzakir masih tersisa sekitar 20 menit lagi jadi Dzakir memberikan arahan pada Misela untuk jadi moderator. Tentu saja Misela wanita cerdas dia bisa melakukan hal itu dengan mudah. Hingga sebuah tepuk tangan meriah mengahiri seminar tersebut.


"Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu nya Pak Mudzakir. Seminar nya sangat luar biasa. Apalagi moderator nya sangat profesional. Apakah dia calon istri Bapak?"


"Doakan saja Pak."


"Hahahaha."


Tawa Walikota Metro dan gubenur Lampung itu pecah atas jawaban dari Dzakir. Setelah itu Dzakir pun berpamitan untuk pulang karna waktu sudah sore.


"Kamu memang cerdas dan berbakat. Banyak yang memuji mu saat jadi moderator tadi."


"Terima kasih Pak."


"Kamu saya angkat jadi asdos mulai hari ini."


"Tapi Pak?"


"Tidak ada penolakan. Ayo kita pulang."


Dzakir pun berlalu dan melangkah kakinya keluar dari gedung tersebut.


"Bakalan runyam ini." Bathin Misela.

__ADS_1


...######################...


...Jangan lupa jejaknya ya reader yang budiman 😘...


__ADS_2