
Usia kandungan Misela baru memasuki bulan ke lima, tapi Misela sudah susah untuk melakukan aktivitas seperti solat atau mengambil sesuatu yang posisinya di bawah. Misela harus meminta tolong, kalau terpaksa jongkok dia akan kesusahan untuk bangun. Karna Misela hamil tiga bayi, besar perutnya berbeda dengan mereka yang hanya hamil satu bayi.
Pagi ini terasa sedikit dingin karna guyuran hujan semalaman. Musim penghujan sudah tiba karna setiap malam sudah sering sekali turun hujan.
Misela sudah lelah duduk terlalu lama untuk melakukan dzikir subuh ahirnya segera bangkit dari duduknya dengan susah payah karna Dzakir masih terlalu fokus untuk di mintai tolong, Misela langsung berbaring di tempat tidur.
Setelah beberapa menit Dzakir pun selesai dengan ibadah nya. Dzakir menghampiri Misela, mengecup keningnya dan membelai rambutnya yang terurai basah.
"Sayang, jangan tidur lagi loh gak baik buat kesehatan. Ayo kita jalan-jalan. Kan katanya bagus tuh buat kamu. Udaranya juga seger loh."
Merasa badan yang begitu capek dan pegal Misela sedikit menggeliat meregangkan otot tubuhnya karna aksi Dzakir yang harus menambah imun tubuh di malam hari.
"Mas, besok libur dulu ya itunya. Aku rasa badan ku pegel-pegel karna kamu deh."
"Mana bisa aku libur begitu saja hehe. Nanti malem ganti gaya ya, kan bagus juga katanya buat jalan lahir. Lagian musim ujan begini kan enak dingin-dingin hehe."
"Iya pas itunya enak Mas, tapi abis itunya pegel semua."
"Mas pijitin ya nanti. Kita jalan-jalan pagi dulu biar kamu segeran juga sayang."
Misela menuruti perkataan Dzakir dan bangun dari tidurnya. Dzakir menuntun nya yang pelan menuruni anak tangga.
"Sayang, jangan pakai sendal."
"Iihh jorok Mas takut nginjak kotoran."
"Tinggal cuci kaki hee Mas juga gak pake sendal kok."
Lagi-lagi Misela menuruti perkataan suaminya. Walau sebenarnya risih dan geli.
Dzakir menggandeng tangan Misela sambil sesekali menoleh padanya lalu menatap lurus lagi ke depan.
"Sayang, lihat itu ada ibu-ibu lagi hamil juga." Dzakir menunjukkan seorang ibu-ibu yang sedang berjalan dengan suaminya.
Misela hanya tersenyum.
"Ternyata masih banyak ya Mas suami seperti mu. Yang setia dengan istrinya menemani masa-masa seperti sekarang ini."
Dzakir hanya tersenyum lalu Dzakir menyapa ibu-ibu yang di tunjuk nya tadi.
"Selamat Pagi Bu, Pak. Jalan-jalan juga ya." Sapa Dzakir.
"Selamat Pagi juga Pak. Iya nih istri saya sudah pembukaan dua tapi kata bidan suruh jalan-jalan dulu selama masih bisa."
"Wah sudah mau melahirkan ya Pak, semoga lancar persalinan nya ya."
"Terima kasih. Kami lanjut lagi ya."
__ADS_1
Dzakir hanya mengangguk dan mereka pun berlalu.
"Kayaknya perutnya sama besar sama punya ku ya Mas." Misela menatap punggung pasangan suami istri yang telah berlalu menjauh.
"Karna anak kita tiga dan dia satu sayang." Dzakir mengusap perut istrinya dan mengajak nya berjalan lagi.
"Aduuhh duh...!" Misela tiba-tiba merasakan gerakan yang sangat kuat di bagian perutnya.
"Kenapa sayang, ada apa?" Secepat kilat Dzakir memegang perutnya dan berjongkok.
"Tadi anak kamu gerak kenceng banget Mas sampe rasanya menusuk ke pinggang. Biasanya cuma pelan loh."
"Masak sih. Kayak gimana coba Mas pegang."
"Yah udah gak gerak lagi sekarang Mas."
"Mas kenak prank dong."
"Hahaha ada-ada aja kamu Mas."
Dzakir mencium perut Misela lagi.
"Anak-anak Daddy, jangan buat Momy kaget dong, kasian kan Momy nya sampe kesakitan juga."
Dzakir mengusap lagi perut Misela dan gerakan itu kembali datang.
Dzakir meneteskan air matanya. Untuk pertama kalinya Dzakir merasakan gerakan anak-anak nya.
"Nak, terima kasih ya udah merespon ucapan Daddy."
Lagi-lagi Dzakir mengecup perut Misela.
"Kamu begitu lembut Mas. Pasti anak-anak mu akan bangga punya ayah seperti mu Mas. Sekali pun kamu juga tak pernah bernada tinggi jika bicara pada ku."
"Mas tidak akan sedikit pun menyakiti hati wanita Solehah seperti mu sayang."
Dzakir mengecup kening Misela. Tentu kebahagiaan terpancar di wajah mereka.
___________
"Assalamu'alaikum."
Misela berjalan ke depan rumah melihat siapa yang datang.
"Wa'alaikumsalam... Umi... Masyaallah apa kabar?"
Kedua wanita itu saling cipika-cipiki dan masuk ke dalam rumah lalu duduk santai di sofa.
__ADS_1
"Umi gak sabar dari kemarin ngajak kesini Nak." Kata Pak Surya.
"Abi gak dines kok jam segini nganter Umi kesini?"
"Abi lagi santai kok."
"Gimana kabar cucu Umi ini? Gak nakal kan cucu Umi?"
Umi Dzakir mengelus pelan perut Misela dan menempelkan kepalanya di perut.
"Alhamdulillah mereka baik-baik aja Umi."
Jawaban Misela membuat Umi dan Abi nya heran.
"Mereka siapa?" Tanya Abi.
"Alhamdulillah Umi dan Abi bakal punya cucu tiga sekaligus."
"Allah hu Akbar. Kamu hamil tiga anak Nak?" Umi kembali menempel kan kepalanya di perut Misela.
"Iya Umi Alhamdulillah langsung di kasih tiga, setelah kami harus berusaha keras untuk mendapatkan nya. Satu saja sudah sangat bahagia. Ini di kasih tiga sekaligus. Tapi jenis kelamin nya belum bisa di tebak."
"Maafin Umi ya sayang." Umi langsung memeluk menantunya itu.
"Maaf untuk apa Umi?" Misela membalas pelukan dan mengelus punggung Ibu mertua nya.
"Maaf untuk semuanya Nak. Apalagi Umi sebelumnya meminta Dzakir untuk menikah lagi. Umi sangat bersalah pada mu karna pernah menyakiti perasaan mu Nak."
"Sudahlah Umi, semuanya sudah berlalu. Sekarang bukan saatnya untuk bersedih. Tapi saatnya untuk bahagia. Aku sangat bersyukur Allah telah memberikan kebahagiaan yang berlimpah seperti ini. Aku punya Abi dan Umi yang sangat menyayangi ku. Aku bahkan punya suami yang luar biasa seperti Mas Dzakir. Terima kasih banyak Umi telah melahirkan dan merawat Mas Dzakir untuk Misela."
"Nak, kamu memang wanita yang sholeha. Dzakir sangat beruntung punya istri seperti kamu sayang."
Umi Dzakir kembali memeluk Misela.
"Kamu harus jaga kesehatan mu Nak, kalau butuh apa-apa jangan sungkan." Kata Pak Surya.
"Tidak Abi, Misela tidak butuh apapun. Misela bisa hidup bahagia bersama kalian semua sudah lebih dari cukup untuk Misela. Mas Dzakir juga selalu sigap dalam hal apapun. Belum lagi Bik Sri dan Bi Sum yang tak pernah berkedip liatin Misela."
Bik Sum dan Bik Sri yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu pun cengengesan.
"Oiya ini Umi bawa buah pear, sama buah-buahan yang lainnya. Tolong di cuci ya Bik."
Bik Sum dan Bik Sri langsung menghampiri Umi Dzakir dan mengambil buah-buahan tersebut.
"Kupasin buah pear buat Misela ya Bik. Buahnya baru dateng itu tadi, masih seger banget."
Obrolan pun terus berlanjut hingga Dzakir pulang.
__ADS_1
...#############...