Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 56 Lupakanlah


__ADS_3

"Kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Dzakir.


"Lah memang gak boleh aku ada disini?"


"Kamu lagi gak ikutin kami kan?" Tanya Dzakir lagi.


"Hahaha untuk apa juga Pak saya ikutin kalian yang lagi honeymoon. Tenang aja Pak saya disini lagi ditugaskan sama Ayah buat urusan bisnis. Gak salah kan?" Jawab gadis itu dan kembali bertanya.


Gadis itu lalu memakan menu sarapannya. Dia terlihat cantik, stylish dan ber-make up natural. Makan dengan gaya sopan dan sesekali senyum pada Dzakir karna rasa senangnya bisa bertemu dengan orang yang diidolakannya sejak lama.


"Kalian gak makan? Sayang banget ini menunya enak loh." Katanya lagi.


Misela tiba-tiba kehilangan selera makannya. Rasa di hatinya membuat semua makanan di hadapannya jadi terlihat biasa saja.


"Kenapa rasanya aku membenci dia. Apa aku pernah bertemu dan dia berbuat salah pada ku?" Bathin Misela sambil terus menatap gadis itu.


"Em wajah mu kenapa gak asing ya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Atau aku yang lupa kamu siapa?" Misela menatap tajam wanita yang berhadapan dengannya.


"Kita kan udah ketemu dua kali ini Ka. Kenalin nama aku Aulia Rahmah. Panggil aja Aulia atau Lia." Jawabannya.


"Benarkah? Maaf sebelumnya Aulia, memang kita pernah bertemu dimana ya? Kok aku ngerasa beda aja lihat kamu. Kayak ada perasaan yang aneh dan mengganjal di hati." Misela kembali bertanya.


"Waktu kalian lagi pilih baju pengantin di butik tempat aku kerja. Ini adalah pertemuan ke dua kita kalau sama Pak Dzakir udah yang ketiga." Dia tersenyum kembali pada Dzakir yang terlihat khawatir.


"Sayang kita kembali ke kamar yuk?" Dzakir sedikit panik karna takut mengingatkan Misela pada foto tempo hari dan membuat nya kembali sakit.


"Tunggu Mas. Kalian saling kenal? Kok ini pertemuan ketiga?" Tanya Misela pada Dzakir.


"Ya kenal dong Ka. Aku kan fans dia. Pak Dzakir kemarin ngisi seminar terus aku ne...." Sahut Aulia.


"Maaf Aulia kita harus pergi. Silahkan lanjutkan sarapan nya." Dzakir langsung menggandeng tangan Misela dan buru-buru pergi dari meja makan itu.


"Mereka kenapa buru? Padahal itu makannya masih banyak. Tapi beruntung banget aku bisa ketemu pujaan hati." Lirih Aulia.


"Mas kenapa buru-buru pergi sih? Aku tuh ngerasa aneh gitu liat wanita tadi. Aku kayak benci gitu. Aku masih penasaran Mas." Misela menggaruk kepalanya berusaha mengingat.


"Jangan penasaran. Mas udah gak tahan pengen godain kamu di kamar, makanya kita harus buru-buru pergi. Gak enak kan di lihat orang tadi."


Tring.


Pintu lift terbuka.


Setelah masuk kamar Dzakir langsung mencium habis mulut Misela. Dzakir harus membuat Misela melupakan Aulia.


Misela kehabisan nafas karna tindakan Dzakir yang buas, ahirnya tubuh Dzakir di dorong sekuat mungkin olehnya.


"Iih Mas tumben sih gak pelan-pelan. Emang beneran gak tahan? Kelihatan banget gak sabarnya. Kan semalem kita udah lakuin dua kali bahkan subuh tadi juga." Misela berlalu dan duduk di pinggir tempat tidur sembari melepaskan jilbab instan nya karna sedikit gerah akibat perlakuan Dzakir.

__ADS_1


"Karna kamu candu ku sayang. Mau sehari seratus kali juga Mas kuat hehe. Ayo ah kita perang."


"Ta..."


Belum selesai bicara Dzakir kembali mengulum bibir Misela dan langsung menidurkan dirinya di kasur. Misela mengikuti permainan Dzakir dan membalas ciuman itu. Balasan Misela membuat Dzakir semakin terlena dan bergairah.


Dzakir melepaskan ciuman itu untuk mengambil nafas yang sudah tersengal-sengal.


"Ingat, kita disini untuk bersenang-senang sayang. Lupakanlah perasaan dan pikiran buruk mu sayang."


Dzakir kembali bermain dengan bibir Misela. Setelah itu berlalu menuju leher dan menghisap pelan hingga meninggalkan beberapa jejak merah. Misela kini sudah terlarut dalam ke kepuasan servis Dzakir dan mengakhiri dengan kelelahan yang teramat nikmat.


"Terima kasih sayang kamu selalu memberi imun yang luar biasa untuk ku."


Misela tersenyum dan memeluk tubuh Dzakir yang masih lemas.


"Kita pergi ke Ancol ya abis mandi. Oiya kamu belum pernah naik kereta kan sayang?"


Misela menggeleng.


"Oke kita coba naik kereta ya. Kita coba semua hal yang belum pernah kamu lakukan. Kita masih punya banyak waktu disini."


"Terima kasih ya Mas."


"Kembali kasih sayang."


Dzakir dan Misela kini sudah berada di stasiun pasar Senen. Mereka pun mengantri membeli tiket untuk ke Stasiun Kampung Bandan lalu naik Kereta KRL Commuter Line arah Depok.


Mereka pun turun di Stasiun Kampung Bandan. Perjalanan belum berakhir dan masih lanjut ke arah Jalan Gunung Sahari Raya lewat pintu menuju jalan samping WTC Mangga Dua.


Dari Jalan Gunung Sahari Raya ini tujuan mereka sudah dekat menuju Ancol, tapi kalau jalan masih agak jauh ahirnya Dzakir memutuskan untuk naik Mikrolet M 15A arah Tanjung Priok. Dan turunnya di Jalan R.E. Martadinata di seberang Taman Impian Jaya Ancol.


Dengan telaten Dzakir mengikuti arahan Google dan ahirnya mereka tiba di tempat tujuan.


"Ihh Mas seru banget perjalanan nya."


"Kamu gak capek sayang?"


"Enggalah. Justru aku menikmatinya."


"Istri ku memeng selalu ceria. Yuk kita masuk."


"Iya Mas."


"Wah ini Mas yang namanya Ancol?


"Iya sayang."

__ADS_1


"Dari luar aja bagus banget ya Mas."


"Kita ke pantai dulu ya abis itu kita ke Dufan. Kita coba semua wahananya disana. Pokoknya semuanya biar kamu seneng."


"Siap komandan."


Destinasi di tepi laut Ancol memiliki pantai yang populer untuk olahraga air dan kompleks di tepi laut yang dilengkapi rollercoaster serta wahana di Dunia Fantasi dan taman rekreasi air Atlantis Water Adventure. Keluarga juga dapat menikmati akuarium SeaWorld dengan hiu dan kura-kuranya, serta Ocean Dream Samudra yang menampilkan pertunjukan lumba-lumba dan singa laut.


Misela sangat kagum dengan semua itu. Tak mau melewatkan momen yang membahagiakan ini sesekali Misela juga berfoto dengan suaminya.


Misela terlihat sangat bahagia berjalan berjingkrak dan sesekali berputar menikmati suasana di Ancol.


Dzakir hanya tersenyum menanggapi tingkah istrinya.


"Apakah aku sudah berhasil membuat mu lupa dengan Aulia? Jangan sakit ya sayang. Teruslah menujuk kan senyum manis mu itu." Gunam Dzakir dalam hati.


Tibalah senja yang menandakan waktu akan segera gelap. Saking asiknya bermain di Ancol dan beberapa wahana di Dufan Misela dan Dzakir sampai lupa waktu.


"Sayang udah yuk kita pulang."


"Hah? Pulang ke Lampung Mas?"


"Pulang ke hotel sayang."


"Hehe kirain ke Lampung Mas."


"Udah ayo buruan takut kemalaman nanti."


"Kita mau naik kereta lagi kan Mas?"


"Iya biar gak macet. Di Jakarta jam segini pasti macet parah karna jam pulang kerja. Jadi kita naik kereta lagi aja kan kamu suka."


"Iihh suamiku memang the best forever."


"Kalau kamu candu ku forever."


"Masih sore Mas udah bahas candu lagi sih bener-bener mesum akut kamu."


"Sama istri ini bukan sama tetangga."


Dzakir dan Misela kembali ke hotel dengan rute yang sama saat berangkat tadi. Walau keadaan sangat ramai di stasiun dan di dalam kereta tak terlintas sedikitpun rasa capek di raut wajah Misela. Bahkan sedetik pun Misela tak melepaskan tangan Dzakir yang menggenggam erat di tangannya.


...#############...


Seru gak liburan Dzakir sama Misela?


Kira-kira abis ini mau kemana lagi ya mereka? 😁😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2