Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 6 Masa Lalu Rangga


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 pm tapi mereka masih asik mengobrol di teras rumah, bahkan Bu Wardah begitu tertawa lepas terdengar hingga kamar Misela.


Obrolan mereka berakhir ketika Nindi mendapatkan telpon dari orang tuanya untuk segera pulang.


"Ya ampun maaf ya Pak e Bu e ternyata udah mau tengah malam loh aku gak sopan banget ini bertamu sampe jam segini hihi gak kerasa ya obrolan kita ini asik banget." Ujar Nindi sambil beranjak dari duduknya.


"Bu e tu malah seneng banget Lo Ndok kamu mau main kesini apalagi mau jadi mantu Bu e ahaha Bu e tambah seneng karna cocok obrolan nya sama kamu." Bu Wardah pun ikut beranjak dari duduknya dan mengelus lengan Nindi.


"Ibu jangan mulai ngawur." Kata Pak Karjo.


Nindi malah tersenyum senang mendengar ucapan Bu Wardah.


"Kalau gitu aku pamit dulu ya Bu e Pak e, Mas Rangga besok lanjut ngobrol lagi ya." Nindi pun bersalaman lalu pergi.


"Tunggu saja Mas Rangga aku akan menjadikan mu milik ku lagi." Bathin Nindi lalu melangkah menjauh.


"Duh andai aja dia yang jadi mantu ku. Nindi cantik, enak di ajak ngobrol, pinter cari duit juga gak kayak yang lagi di kamar itu. Kamu sih Ga buru-buru nikah sama anak haram itu huh sebel Bu e." Keluh Bu Wardah lalu masuk ke dalam rumah.


"Le kamu harus bijaksana kamu bukan anak kecil lagi yang gak bisa mengambil keputusan. Buatlah Ibu mu menyayangi istri mu." Ujar Pak Karjo pada Rangga.


"Iya Pak Rangga masuk dulu ya."


Rangga pun masuk ke dalam kamar. Rangga mendapati Misela yang masih menatap layar ponselnya.


"Loh belum tidur Dek?"


"Masih belum ngantuk Mas. Udah pulang tamu cantiknya?"


"Maaf ya Mas keasikan ngobrol di luar."


"Siapa Nindi sebenarnya Mas?"


"Temen Mas dulu waktu masih sekolah. Dia baru pulang dari Taiwan. Udah 6 tahun dia disana."


"Cuma temen aja? Yakin?"


"Iya udah ayo tidur udah malem."


"Tapi kenapa kamu begitu senang Mas melihat dia tadi? Bahkan kamu sangat antusias dengan nya. Aku melihat nya Mas. Kamu bahagia sekali tadi."


"Sudahlah gak perlu cemburu begitu. Itu hanya masa lalu."


"Istri mana yang gak cemburu Mas melihat suaminya asik ngobrol dengan wanita lain padahal sudah ku buatkan kopi hingga kopinya jadi mubazir. Aku menunggu mu tiga jam di kamar Mas!" Terdengar Misela bernada sedikit tinggi.


Rangga melirik kopi yang belum sempat dia minum.


"Kalau hanya seorang teman kamu gak akan melupakan istri mu ini Mas." Sambung Misela.

__ADS_1


Misela langsung membuang muka dan membelakangi suaminya.


"Ternyata benar kata Ibu kamu itu cemburuan banget. Kan Mas udah bilang dia cuma temen." Rangga pun membaringkan tubuhnya dan membelakangi Misela.


Misela yang kesal dengan ucapan Rangga langsung bangun dari tidurnya dan menatap punggung Rangga.


"Kenapa kamu jadi membenarkan ucapan ibu Mas? Kamu pikir ada istri yang gak cemburu melihat suaminya asik mengobrol dengan wanita lain Mas? Bahkan hingga larut malam begini." Misela semakin kesal dibuatnya.


Tapi Rangga tak menghiraukan ucapan Misela.


"Mas tatap aku."


Rangga masih diam membelakangi Misela.


"Mas. Bangun. Tatap aku." Misela menekankan suaranya.


Rangga pun bangkit. Menatap raut wajah Misela yang terlihat sekali begitu marah padanya.


"Kalau suami mu asik ngobrol dengan wanita lain itu artinya dia lebih menarik dari pada kamu. Buat diri mu itu lebih menarik dari wanita lain. Pikirkan itu."


Setelah memberi ucapan yang melukai hati Misela Rangga kembali tidur dan menutup telinganya dengan bantal guling.


Misela pun menitikkan air matanya. Lidahnya tiba-tiba kaku setelah mendengar perkataan Rangga. Laki-laki yang baru genap satu minggu dia nikahi berhasil membuat hatinya tercabik-cabik. Lama dia menatap punggung suaminya dengan balutan air mata lalu mengalah.


Bagaimana bisa Rangga setega itu. Dia sendiri jarang mau mengobrol dengannya. Sibuk main game atau alasan kerja selama satu minggu ini.


Misela pun memejamkan matanya.


Rangga tak langsung tertidur. Dia tak terlihat menyesal telah menyakiti hati istrinya. Rangga malah mengenang masa-masa indah bersama Nindi.


Flashback on.


Nindita Ayunda Putri gadis berusia 26 tahun adalah cinta pertama Rangga saat masih di bangku sekolah menengah atas. Mereka satu sekolah dan satu kelas bahkan berangkat pun selalu bersama. Walau Rangga dan Nindi sangat dekat mereka tak pernah saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.


Rangga selalu menuruti Nindi, memanjakan dan melindungi nya. ibarat kata mereka ini adalah TTM alias teman tapi mesra. Begitu lah julukan yang pantas. Padahal banyak yang menyangka kalau mereka itu pacaran.


Setelah lulus sekolah Nindi pergi ke Jakarta untuk bekerja karna ekonomi keluarga Nindi memaksa Nindi untuk jadi tulang punggung keluarganya.


Rangga pun setia menunggu Nindi dan tak pernah mencoba mencari wanita lain untuk dia pacari. Bu Wardah beberapa mencoba menjodohkan dengan anak gadis di desa nya tapi tak pernah Rangga hiraukan.


Dua tahun di Jakarta Nindi pun pulang ke Lampung karena kontrak kerja nya sudah selesai. Rangga yang masih menaruh harapan pada Nindi pun masih berusaha mendekati nya. Tak disangka respon Nindi saat itu sangat positif hingga membuat Rangga semakin yakin kalau Nindi juga menyukai nya.


Rangga memutuskan untuk menembak Nindi dan mengajak nya kesebuah cafe favorit mereka saat masih sekolah. Mereka mengobrol asik di cafe tersebut sambil menikmati hidangan.


"Nin aku mau ngomong sesuatu nih."


"Oiya Mas Rangga aku juga mau bilang sesuatu sama kamu. Ini kabar bagus banget deh."

__ADS_1


"Kalau gitu kamu aja duluan. Nanti baru aku."


"Jadi gini Mas aku tu di tawarin kerja di Taiwan Mas gajinya 20 juta perbulan. Gila gak sih? Kerja di pabrik gitu. Orangnya juga udah terpercaya banget."


Rangga langsung tersedak. Rangga pikir Nindi akan mengungkapkan perasaan nya duluan tapi ternyata pikiran nya salah.


"Aduhh pelan-pelan dong Mas Rangga." Nindi mengambil tissue dan mengusap bibir Rangga lalu memberi nya minum.


"Kamu mau pergi lagi setelah ninggalin aku dua tahun?"


Rangga terlihat kesal dan meletakkan sendok makannya. Selera makannya pun hilang.


"Yah kan Mas tau ekonomi keluarga ku gak kayak kamu Mas. Aku anak pertama yang harus menghidupi ke dua adik dan orang tua ku."


"Berapa lama disana?"


"Katanya sih kontrak nya enam tahun Mas."


"Apa? Enam tahun? Selama itu? Kenapa kamu gak nikah aja biar suami mu yang kerja biayain hidup mu."


"Engga lah Mas aku belum siap buat jadi istri. Apa-apa harus ikutin kata suami males ah aku masih pengen bebas Mas."


"Kebebasan seperti apa yang kamu mau?"


"Ya masih pengen nikmatin masa muda aja Mas. Kalau udah nikah kan gak bisa main sana main sini seneng-seneng gitu. Apalagi kalau udah punya anak. Ugh... Pasti cape ngurus anak ngurus suami ngurus rumah. Aku belum bisa seperti itu Mas. Eh iya kamu tadi mau ngomong apa Mas?"


"Oh itu gak penting sih."


Rangga mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan perasaan nya.


Flashback off.


...######...


Fajar telah menyingsing di ujung timur. Ayam saling berkokok bergantian untuk membangun kan sang pemilik agar melakukan ibadah mereka. Namun Misela masih memeluk guling nya dan meremas selimutnya. Iya Misela masih datang bulan jadi dia belum terburu-buru untuk bangun dan menjalankan sholat fajar maupun sholat subuh.


Rangga masih tidur dan mengorok. Hal itu membuat Misela tak bisa kembali tidur akhir nya memutuskan untuk duduk di depan meja riasnya dan bermain dengan ponselnya. Semua media sosial dia buka karna siapa tau ada hal yang penting.


Mata Misela tertuju pada sebuah status di instagram milik Hilman.


"Andai kau ada di samping ku pasti aku sangat bahagia. Sayangnya kau sudah bahagia dengan pilihan mu sekarang."


"Hilman? Apa maksudnya membuat status seperti ini? Tapi ini statusnya satu Minggu lalu." Bathin Misela.


...##############...


...Hallo Reader hayooo jangan lupa tinggalkan dukungannya ya 😘...

__ADS_1


__ADS_2