Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 26 Malaikat Misela


__ADS_3

Sungguh malam yang amat mengerikan bagi Misela. Saat ini tubuhnya berusaha meronta-ronta melepaskan genggaman tangan para preman itu.


Walaupun Misela sebenarnya jago beladiri tapi Misela tetap lah seorang wanita yang lemah dan saat ini sedang menghadapi dua preman dengan tubuh kekar bahkan terlihat mengerikan menurutnya. Apalagi lagi dirinya belum sepenuhnya pulih pasca kecelakaan kemarin dan kejadian di masa lalu tiba-tiba muncul di pikiran nya sehingga membuat dirinya sedikit tertekan dan gemetar.


Dua preman itu menarik jilbab instan yang di kenakan Misela dan membuangnya. Jilbab yang Misela pakai pun sudah terlepas dari tempat seharusnya. Satu preman mendekati wajah Misela dan mencoba mencium pipi Misela tapi Misela membenturkan kepalanya hingga preman itu sedikit kesakitan.


"Brengs*ek."


Plakk....


Wajah Misela menengok ke sebelah kiri dan tertutup oleh helaian rambut panjangnya. Sedikit darah segar terlihat di bagian ujung bibir. Di usapkan lah oleh bos preman rambut itu agar wajah Misela yang remang-remang terlihat. Kesempatan itu tak Misela lewatkan begitu saja. Karna mulut yang tadi terbungkam tangan sudah terlepas.


"Toloooonggg....."


Dengan sekuat tenaga dia berteriak tapi hanya satu kali saja dan mulutnya kini malah terbungkam sapu tangan.


"Emmbbb... emmmbbb..."


Misela mencoba berteriak tapi tentu sudah tidak bisa lagi.


Plakkk....


Satu tamparan lagi dengan kasarnya berhasil mendarat di pipi Misela.


"Diem lu. Teriak-teriak siapa yang mau denger hah? Salah siapa lu coba-coba jadi sok jagoan hah? Coba lu tadi dengan suka rela bermain dengan kita hahaha."


"Kita bawa ke rumah kosong di gang sana aja bos. Rumah itu biasa jadi markas bos Tedy juga jadi gak dikunci rumahnya."


"Bagus juga ide lu. Kita main-main dulu disana sama gadis cantik ini hahaha. Ayo cepat seret dia."


Misela di paksa berjalan mengikuti kemauan mereka.


"Ya Allah yang mahakuasa tolonglah hamba Mu ini. Hamba sangat takut. Kirimkan malaikat atau siapa saja yang bisa menolong hamba ya Allah. Hamba mohon. Laahaula walakuata illabillah."


Hanya jeritan hati yang bisa dia lakukan saat ini. Sangat kebetulan memang jalanan sepi. Lalu lintas juga benar-benar gelap karna pemadam listrik. Kabar rawan begal dan aksi kejahatan warga sekitar pun lebih memilih berdiam diri di rumah. Apalagi kondisi sedang ada pemadaman listrik begini.


Dua puluh menit sebelumnya.


Tiiinnnn.


Suara klakson mobil terdengar di depan rumah Pak Cipto. Erlina buru-buru berdiri dan membuka pintu.


"Assalamu'alaikum." Sapa Dzakir pada Erlina yang sedang berdiri tepat di depan pintu.


"Wa'alaikumsalam Pak Dzakir malam-malam kesini gak enak di liat tentang nanti." Jawab Erlina.


"Ada yang mau saya bicarakan pada Misela. Tadi di kampus ke ganggu sama Hilman." Dzakir bicara dengan nada malu-malu.


Belum Erlina menjawab listrik pun padam.


"Astaghfirullah Misela." Erlina terkejut dan sangat panik.

__ADS_1


"Misela kenapa?" Dzakir ikut panik.


"Misela sangat takut gelap Pak. Dan sekarang dia sedang pergi ke percetakan depan itu buat poto kopi buku referensi yang mau di bawa ke kampus besok. Misela amat sangat takut Pak tolong susul Misela."


"Astaghfirullah baik kamu tenang dulu coba hubungi dia."


"Ponselnya di tinggal Pak. Bagaimana ini?"


"Oke oke saya akan pergi kesana sekarang kamu tunggu saja di rumah. Misela pake baju apa?"


"Gamis motif bunga jilbab instan warna pink Pak. Pak cepet ya Pak perasaan saya bener-bener gak enak."


"Oke saya kesana sekarang."


Dzakir pun berlari menuju percetakan yang di katakan Erlina.


Tiba di percetakan itu Dzakir tak mendapati Misela disana.


"Bang tadi ada cewek yang kesini pake gamis motif bunga jilbab pink gak?" Dengan nafas terengah-engah Dzakir bertanya pada Abang pelayanan di percetakan tersebut.


"Iya Pak udah pulang beberapa menit lalu."


"Pulang? Tapi gak ada di rumahnya."


"Oh kurang tau saya Pak."


Suara berisik jenset disana membuat mereka tak mendengar teriakkan Misela tadi.


"Terima kasih bang."


Dzakir pun sangat panik. Dia berjalan perlahan menelusuri jalan dengan center handphone nya.


Deg.


Jantung nya berdebar sangat kencang melihat sebuah jilbab pink ada di tanah. Dzakir pun memungut jilbab itu.


"Jilbab pink? Bukankah Misela pakai jilbab pink? Astaghfirullah Misela apa kamu dalam bahaya sekarang?"


Dzakir sangat panik sambil memeluk jilbab Misela.


"Ya Allah bantu hamba menemukan Misela."


Dzakir mencari jejak di sekitar jalan itu dan kini dia menemukan center yang di bawa Misela sebenarnya. Dzakir pun masuk ke gang yang kiri kanan masih banyak pohon-pohon karna belum ada bangunan rumah. Lama Dzakir berjalan dia pun mendengar suara.


"Emmbbb...."


Misela yang terkapar di lantai yang kotor sedang meronta-ronta karna tangan dan mulutnya terikat.


"Lu naikin ke meja gue duluan yang cicipin gadis manis ini hahaha."


"Baik bos."

__ADS_1


Sang anak buah pun menuruti perkataan bosnya dan membawa Misela ke atas meja yang lebar. Misela mencoba mundur pelan-pelan dan menggeleng kan kepalanya beberapa kali.


"Emmbbb....Emmbbbb...."


"Kenapa manis kamu udah gak sabar ya mau nikmatin surga dunia hahaha."


Bos preman itu pun melepas celana panjangnya. Perlahan tapi pasti kini tubuhnya sudah di atas tubuh Misela.


Dengan sisa tenaga Misela menendang Bos preman itu hingga jatuh ke lantai.


Bruuggghhh.


Suara itu sedikit terdengar oleh Dzakir.


Namun tentu saja hal tersebut membuat merah padam kedua wajah preman itu.


"Brengs*k. Lu mau pake cara kekerasan ya hah?"


Dengan penuh amarah bos preman itu bangun dan menindih tubuh Misela. Tangannya mengarah ke atas kepala dan di pegang oleh anak buahnya.


Dengan rakus dan penuh gairah bahkan amarah bos itu mencium pipi dan bibir Misela. Tangan pun tak mau kalah ingin merasakan dua gunung kembar yang begitu menggoda. Soalnya Misela memakai gamis dengan seleting di belakang. Tanpa ada kesabaran di robek lah gamis itu.


Misela hanya bisa menangis meratapi nasibnya.


"Ya Allah mungkin kah takdir hamba akan sama dengan bunda Adel. Kan mungkin kan kejadian ini akan turun temurun pada keturunan hamba nanti. Ya Allah hamba mohon tolong hamba. Selamat kan hamba dari orang-orang ini ya Allah."


"Emmhhhh..."


Misela sudah tak berdaya. Rasa yang tak karuan itu pun membuat nya pingsan dengan keringan bercucuran.


"Hahaha sayang kamu manis sekali kini saatnya kita menikmati puncaknya. Terserah kamu mau tidur atau menikmatinya hahaha."


Bos preman itu pun membuka gamis yang di kenakan Misela dan terlihat lah bagian paha mulus itu. Diturunkannya celana yang dikenakan Misela.


Braaakkkk....


Kedua preman itu terkejut bukan main karna ada beberapa polisi yang mengarahkan pistol pada mereka.


"Angkat tangan kalian."


Beberapa polisi itu pun maju mendekati para preman itu dan membekuknya lalu membawa ke polres Metro.


Dzakir langsung berlari menghampiri Misela yang tengah pingsan di atas meja. Dzakir tak kuasa melihat keadaannya saat ini. Dilepas lah jaket yang dia kenakan untuk menutupi bagian tubuh yang terbuka.


"Misela bangun...!"


Tak ada jawaban. Dzakir pun membantu Misela duduk dan memakai kan jilbab yang dia temukan tadi.


"Pak Dzakir mari kita bawa sodari ke rumah sakit." Ucap seorang polisi yang datang bersamanya tadi.


"Iya Pak."

__ADS_1


Dzakir pun membopong tubuh Misela masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.


...###################...


__ADS_2