Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 68 Ahir Penantian


__ADS_3

Tibalah Dzakir dan Misela di sebuah klinik dokter kandungan yang tak jauh dari rumah mereka. Karena tak sabar Dzakir hampir saja menyerobot antrian. Misela yang melihat gelagat suaminya yang tak sabar itu langsung mencubit pinggang Dzakir.


"Mas, kamu mau di keroyok para ibu-ibu yang sedang hamil itu?"


Dzakir celingukan lalu tersenyum dan menampakkan giginya.


"Kamu tau gak Mas, wanita hamil itu hormonnya gak seimbang, jadi emosinya naik turun. Mereka bisa bunuh kamu Mas kalau nyerobot antrian."


"Masak sih?"


"Makanya duduk diem Maaasss."


Setelah lama mengantri akhirnya Zakir dan Michella dipanggil oleh seorang perawat untuk masuk ke dalam ruangan dan memeriksa kandungan Michella.


Cukup lama mereka berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan tersebut. Dzakir begitu bahagia karena memang benar istrinya Misela telah mengandung anaknya. Bahkan Dzakir juga berkonsultasi masalah hubungan badan dengan dokter itu.


Dzakir tak sabar ingin tau jenis kelamin anak nya. Namun karena usia kandungan yang masih berumur empat minggu jenis kelamin dari anak yang dikandung itu belum bisa dipastikan.


Dokter menyarankan untuk kembali lagi saat usia kandungan Misela empat bulan. Jika ingin melihat jenis kelamin anak mereka. Namun jika ada keluhan lagi sebelum usia kandungan nya empat bulan, Misela harus kembali ke klinik untuk memeriksakan kandungannya lagi, tapi jika tidak ada keluhan tidak masalah.


Pemeriksaan kandungan Misela telah selesai. Dzakir juga diperiksa dan diberikan resep obat oleh dokter untuk mengurangi rasa mual nya. Dokter mengatakan jika yang dialami oleh sakit adalah hal yang wajar karena memang bawaan bayi itu berbeda-beda.


Setelah pemeriksaan selesai, Dzakir dan Misela kembali kerumah lalu memberikan kabar bahagia ini kepada kedua orangtuanya. Tentu saja kedua orang tua Dzakir dan Misela langsung datang untuk menjenguk Misela.


Kedatangan orang tua Dzakir dan Misela langsung disambut hangat oleh kedua pasangan yang sedang berbahagia itu.


Umi Dzakir dan Bunda Adelia duduk berdampingan di sebelah sisi Misela. Mereka terus saja mengusap perutnya Misela saking bahagianya.


Kedua keluarga itu terlihat sangat bahagia dan antusias menyambut kehadiran baby yang lucu di tengah-tengah mereka. Bahkan Umi sudah sibuk mau mengajak Misela untuk belanja perlengkapan bayi.


"Tidak Umi, nanti saja kalau sudah dekat HPL. Bahkan perut Misela belum kelihatan buncit, masak udah mau belanja, kita juga belum tau jenis kelaminnya." Tolak Misela secara halus.


"Baiklah, tapi nanti kalau mau beli peralatan bayi Umi harus ikut ya. Kalau Umi gak di ajak Umi bakal marah." Kata Umi berpura-pura sinis.


"Tapi syukur alhamdulilah ya sayang, usaha dan penantian kalian tak sia-sia. Bunda bahagia sekali." Adelia kembali memeluk Bundanya dan di balas pelukan juga oleh Misela.


"Duh Umi juga mau sih di peluk." Protes Umi Dzakir.


Misela langsung memeluk kedua Ibu nya itu, sedangkan para bapak-bapak dan calon bapak hanya saling tersenyum menikmati para ibu-ibu yang sedang sibuk dengan obrolan mereka.


"Kami mau ngadain syukuran dan santunan untuk anak yatim piatu sore ini Umi, Bunda. Jadi jangan buru-buru pulang dulu ya. Tolong bantuin hehe." Kata Dzakir.


"Memang kami terlihat akan buru-buru pulang?" Jawab Umi nya sinis.


"Iya kami belum buru-buru pulang kok. Bunda juga masih kangen banget sama anak Bunda ini. Bunda jadi ingat saat Bunda hamil dulu. Tanpa suami dan Bunda harus bekerja keras untuk menyambung hidup dengan nenek kamu sayang. Bunda bahagia sekali melihat nasib mu jauh berbeda dengan Bunda." Tiba-tiba Adelia meneteskan air matanya.


"Sudah jeng, jangan di ingat-ingat masa-masa buruk itu. Sekarang kita semua udah bahagia." Jawab Umi sambil menggenggam tangan Adelia.


"Iya jeng, terima kasih. Semoga calon cucu kita sehat dan lahiran dengan lancar. Aamiin" Sahut Adelia.

__ADS_1


"Aamiin Bunda. Terima kasih ya Bunda sama Umi. Misela benar-benar beruntung punya kalian semua. Apalagi punya suami yang begitu menyayangi Misela. Rasanya Misela adalah satu-satunya wanita yang beruntung di dunia ini." Kata Misela.


"Mas juga beruntung punya istri yang sangat sabar seperti mu sayang." Sahut Dzakir.


"Duh kalian udah kayak dunia milik berdua aja kata-kata nya." Kata Pak Surya.


"Perjuangan mu seperti perjuangan Papi saat memperjuangkan Bunda mu Nak.Hehe." Ucap Hanan.


Semua yang ada disitu saling menceritakan masa lalu mereka yang penuh perjuangan. Karna cinta itu memang harus di perjuangkan. Munafik jika kita akan bahagia melihat dia yang kita cintai bahagia dengan orang lain. Eh...!


_________


Acara syukuran disusul dengan pengajian singkat dan santunan anak yatim itu berjalan dengan sederhana namun begitu banyak wajah bahagia disana.


Semua orang memberikan doa dan dukungan pada Misela hingga membuat Misela terharu.


Setelah acara selesai, mereka yang hadir kembali ke rumah masing-masing, bahkan orang tua Dzakir dan Misela dan kini hanya menyisakan kesunyian di rumah mereka.


Ditatapnya keliling setiap sudut rumah itu oleh Misela.


"Hmm sepi ya Mas, padahal tadi rame banget. Makasih ya Mas aku bahagia banget." Misela mengalungkan tangannya di pinggang Dzakir dan menyenderkan kepalanya di dada Dzakir.


"Sebenar lagi rumah ini akan ramai oleh tawa dan tangis anak-anak kita sayang." Dzakir mengecup kening Misela.


"Em kamu mau anak cewek apa cowok Mas?" Misela mendongak menatap Dzakir.


"Mau cewek ataupun cowok bagi ku sama saja. Toh mereka tetep anak kita hehe." Dzakir mencolek hidung Misela.


"Hahaha emang suami mu ini galak?"


"Iyalah, kalau lagi jadi dosen udah kayak mau makan orang aja, untung aja cakep."


"Iihh jadi dulu istri ku ini benci ya sama dosen yang dulu mau makan dirinya?"


"Benci banget, apalagi suka nyuruh ini dan itu udah kayak penguasa sejagat raya aja."


"Tapi sekarang masih benci?"


"Ya engga lah, sekarang itu cinta setengah mati. Akuuu cinta setengah mati kepada muuu… sungguh ku ingin kau tau… aku cinta setengah mati……. kepada mu."


Misela bernyanyi dengan merdunya membuat Dzakir sangat gemas. Tapi tiba-tiba perutnya berbunyi.


"Sayang Mas jadi pengen makan deh."


"Kamu gak mual lagi Mas?"


"Sebenarnya Mas itu ngerasa mual udah dari beberapa hari yang lalu tapi Mas diem aja. Cuma kalau udah lewat jam sepuluh pagi Mas merasa biasa aja. Bahkan kalau malam pengennya makan terus."


"Syukurlah Mas. Kalau gitu aku ambilin ya."

__ADS_1


"Jangan, kamu duduk disini aja Mas ambil sendiri. Pokoknya kamu jangan terlalu banyak gerak apalagi sampe capek."


"Berarti kita libur ituan dong Mas?"


"Oh itu tidak mungkin. Kan dokter bilang boleh aja malah bagus kan buat jalan lahir nanti, yang penting pelan-pelan dan gak bar-bar hehe."


"Ya ampun begituan aja gak lupa ya."


"Mana mungkin sayang.hehe."


________


Dzakir pun selesai makan. Entah apa saja yang dia makan hingga membuat Misela keheranan dengan perubahan drastis pada suaminya itu.


"Mas, kamu kayak busung laper, tapi kalau pagi kayak orang penyakitan hehe."


"Aku rela apapun itu demi kamu sayang."


"Kalau begini pasti kamu jadi gendut Mas."


"Bagus dong jadi gak akan ada lagi yang melirik suami mu ini."


"Ihh pede banget sih Mas."


"Nyatanya memang seperti itu kok."


"Iya deh iya tuan Mudzakir Alfaruq."


"I love you Nyonya Misela Metina."


"Love you too hubby. Bumil mau rebahan duluan ya udah pegel kakinya."


"Hah? Bumil apa sayang?"


"Ibu hamil suami ku. Udah ah aku mau ke kamar dulu kenyang banget liat kamu makan Mas."


"Iya sayang, hati-hati naik tangganya."


"Iya Mas."


Misela meninggalkan Dzakir sendiri di meja makan dan berjalan ke kamar.


Malam kian larut dalam kegelapan. Misela tak bisa melihat apapun saat ini. Hanya sebuah hembusan nafas Dzakir yang dia rasakan.


Dzakir sengaja mematikan lampu karna ingin merasakan sensasi yang berbeda. Itu juga atas izin dari Misela karna Misela memiliki trauma kegelapan, tapi tidak untuk sekarang.


Dzakir mulai bermain dengan tubuh Misela dengan sangat lembut dan pelan-pelan.


"Baby... Daddy is comeback."

__ADS_1


Dan tibalah keduanya berada di puncak kenikmatan yang hakiki lalu tertidur dengan sangat pulas.


...###############...


__ADS_2