
"Mas wanita ini siapa? Setelah seminar dia naik mobil mu dan sampai di kampus kamu memeluknya. Siapa dia?" Tanya Misela sembari menunjukkan sebuah foto di ponselnya.
Dzakir terkejut melihat foto di ponsel Misela.
"Ini kok bisa ya momennya pas banget!" Bathin Dzakir.
"Dia...!"
"Tolong keluar Mas aku pengen sendiri."
"Sayang ini gak seperti yang kamu pikirkan. Kamu salah paham sayang."
"Tolong Mas, aku pengen sendiri."
"Ta..."
"Mas?" Misela meninggikan suaranya.
Dzakir pun mengalah dan membiarkan Misela sendirian di kamar. Dzakir menatap sedih pintu kamar yang barusan dia tutup. Dzakir pun menyandarkan tubuhnya di pintu itu dan menunggu Misela dari luar.
"Cobaan apa lagi ini ya Allah hiks..." Misela menutup wajahnya dan menangis. Pikirannya kacau hatinya terasa sakit dan menyesakan dada.
Masa lalu pun tiba-tiba muncul di benaknya.
"Anak haram anak haram anak haram. Pergi sana kami gak mau main sama kamu. Pergi cepat pergi."
"Dasar pembawa sial."
"Aku memang mencintai Ka Hilman, kami saling mencintai sudah sangat lama dan kamu cuma untuk main-main."
"Aku gak menghianati mu Misela percayalah pada ku aku tulus mencintai mu."
"Aku memang hanya mencintai Nindi. Dia cinta pertama ku. Sedangkan kamu hanya orang ketiga di antara kami."
"Pergilah wanita gak tau diri."
Sepenggal percakapan yang sudah sangat lama Misela lupakan terlintas di telinga nya. Tangan Misela gemetar. Kepala nya terasa begitu sakit. Misela meremas jilbab yang di pakainya.
"Tidaaaakkkk...."
Prangg
Misela melempar semua benda yang ada di meja.
"Aaacckkk....." Misela berteriak dengan histeris lalu pingsan.
Dzakir yang mendengar Misela berteriak langsung buru-buru kembali masuk kamar.
"Misela? Sayang kamu kenapa? Misela?"
Dzakir membopong tubuh Misela dan membawa nya ke rumah sakit. Dion yang melihat Dzakir langsung mengajak nya ke UGD lalu Misela di tangani oleh Dion.
"Bagaimana keadaan istri ku?"
"Apa lagi yang terjadi sama istri lu?"
Dzakir diam dan menunduk. Tentu saja dia sedang menyesali kejadian yang terjadi pada Misela.
"Gue rasa istri lu mengalami serangan panik yang berlebihan. Atau semacam trauma dan kenangan buruk yang kembali."
"Ada kesalahpahaman diantar kami."
"Jangan buat dia inget sama masa lalunya yang buruk. Atau nyakitin perasaan nya. Lu tau kan dia pernah gimana waktu itu? Gue khawatir kalau dia terus-menerus seperti itu maka..."
"Thanks ya. Aku masuk dulu."
Dzakir menepuk bahu Dion lalu masuk ke ruang rawat Misela. Dzakir tak bosan menatap wajah cantik istri nya itu. Di genggam nya tangan Misela dan di ciumannya dengan lembut. Hal tersebut membuat Misela membuka matanya.
"Sayang kamu sudah bangun?"
"Mas, aku dimana?"
"Kamu di rumah sakit sayang. Apa yang kamu rasakan sekarang?"
"Aku agak pusing Mas. Apa yang terjadi Mas? Kenapa aku bisa ada di rumah sakit Mas?"
"Kamu pingsan sayang."
"Kok aku bisa pingsan?"
Dzakir tak menjelaskan apapun karna sepertinya Misela lupa dengan apa yang telah terjadi sebelumnya.
__ADS_1
"Gak papa sayang mungkin kamu kecapekan."
"Kita pulang aja Mas aku gak mau tinggal di rumah sakit lagi."
"Tunggu kabar dari Dokter Dion ya, kalau boleh pulang kita akan langsung pulang. Kita sekalian cek luka di tangan mu juga. Sebentar lagi Magrib kamu sholat di sini aja ya nanti Mas pinjemin mukena di mushola."
"Iya Mas maaf ya merepotkan."
Perkataan Misela membuat Dzakir menangis.
"Mas kok kamu nangis. Apa aku salah bicara?"
Dzakir mencium kembali tangan Misela.
"Engga sayang bukan itu."
"Lalu kenapa Mas nangis?"
"Sayang denger baik-baik ya, apapun yang terjadi aku Mudzakir Alfaruq hanya akan mencintai satu wanita yaitu Misela Metina. Tidak akan ada satu wanita pun yang bisa menggantikan posisi Misela Metina di hati seorang Mudzakir Alfaruq. Kamu harus inget itu baik-baik apapun yang terjadi. Kamu paham?"
"Iya Mas. Kok kamu tiba-tiba bilang begitu sih Mas ada apa sebenarnya?"
"Sudah jangan di ingat-ingat apa yang udah terjadi. Kamu cuma perlu inget kata-kata Mas barusan ya."
"Iya Mas."
"Kamu tunggu sini biar Mas panggil Dokter Dion buat periksa kamu lagi."
"Iya Mas."
Dzakir kembali memanggil Dion dan menceritakan kalau Misela melupakan apa yang terjadi pada dirinya. Dion pun memeriksa keadaan Misela dan juga luka di tangannya.
"Istri lu udah boleh balik. Cuma lu harus inget jangan pernah ungkit hal yang berhubungan dengan masa lalu nya. Gue khawatir kalau itu terjadi."
"Thanks sekali lagi."
"Gue tinggal dulu. Gue resepin obat penenang tapi hanya lu kasih di waktu yang mengkhawatirkan."
"Iya thank banget kamu memang dokter hebat."
"Jangan bikin gue geer."
____________
Selepas waktu isya dan infus Misela habis Dzakir membawa Misela pulang.
"Sayang kamu mau jalan-jalan dulu gak?"
"Kemana Mas?"
"Kamu maunya kemana?"
"Aku mau pulang aja ah."
"Kenapa?"
"Gak tau tapi aku pengennya pulang. Lagian kan ini udah malem Mas."
"Ini masih sore sayang kalau di kota Metro. Kayak warga baru aja deh kan kamu di Metro udah empat tahun."
"Tapi aku gak pernah main di malam hari Mas. Paling cuma cari makan aja sama Erlina."
"Ngomong sekarang kamu mau makan apa sayang? Nasi goreng ati ampela?"
"Seperti nya enak Mas. Aku juga mau martabak toping ketan kelapa deh."
"Terus mau apa lagi?"
"Udah ah nanti gak abis kan mubazir."
"Mumpung kita lagi di luar sayang."
"Pasti Abi Umi khawatir Mas."
"Mas udah bilang kok sama mereka jadi bebas deh kita."
"Em itu aja deh."
"Yakin? Gak mau jus alpukat?"
"Mas bisa baca pikiran ku ya?"
__ADS_1
"Haha kan itu hal yang kamu suka sayang."
"Boleh deh."
"Baik ratu ku kita meluncur."
Misela tersenyum bahagia. Dzakir tentu saja lebih bahagia melihat istri.
Setelah semuanya di beli mereka pun pulang dan langsung masuk ke kamar karna Abi dan Umi juga sudah tidur.
Misela duduk manis di kasur. Sedangkan Dzakir menyiapkan nasi gorengnya..
"Sini Mas suapin aakk...."
"Hm enak banget Mas nasi gorengnya. Pasti ini karna di suapin juga."
"Jangan nakal dong sayang nanti si Otong pengen masuk gimana?"
"Si Otong siapa Mas?"
"Sudah ah buruan makannya nanti martabak nya keburu dingin juga."
"Mas juga makan dong."
"Iya kita gantian ya."
____________
Dua minggu telah berlalu. Hari ini jadwal Misela cek up ke rumah sakit. Luka di tangan Misela sudah membaik bahkan benang jaitannya sudah setengah tak terlihat. Sedangkan retak di tangan kanannya juga sudah sembuh hanya belum total. Kalau luka di perut nya tentu sudah sembuh sejak beberapa hari lalu karna tidak begitu parah.
Misela sangat ingin berlibur ke pantai. Ahirnya setelah selesai cek up Dzakir menuruti permintaan istrinya dan pergi ke pantai Klara.
Misela berjalan dengan santai sambil menatap ujung pantai. Dzakir dengan setia menggandeng tangan kiri istrinya.
"Gimana kamu suka?"
"Suka Mas. Cuacanya juga sejuk."
"Masih mau jalan-jalan atau kita istirahat dulu. Makan bakso yuk Mas laper nih."
"Oke."
Setelah berkeliling mencari abang jualan bakso ahirnya mereka menemukan tukang bakso yang mereka cari.
Misela duduk sambil menikmati indahnya pemandangan disana.
"Mas kita kayak orang pacaran ya."
"Kan kita emang lagi pacaran."
"Pacaran halal ya."
"Duhh istri ku cantik banget sih."
"Eit jangan nyubit."
"Gitu ya mentang-mentang tangannya udah sembuh tangan suaminya di tangkis."
"Hmm sakit tau di cubit-cubit."
"Kalau gak mau di cubit maunya apa dong?"
"Otaknya mulai mesum."
Misela membuang muka.
"Sayang udah lama tau kita gak itu. Nanti aku buat kamu berkeringat ya."
"Engga mau ah."
Dengan manja dan lembutnya seolah Misela tak mau menuruti apa yang di minta Dzakir.
"Sayang jangan gitu dong kan Mas makin tergoda."
Misela hanya tersenyum. Pesanan bakso mereka juga sudah siap. Dengan lahap Misela dan Dzakir menikmati makanan nya.
Hingga waktu sore Dzakir dan Misela bermain di pantai. Setelah puas mereka memutuskan untuk pulang.
...################...
__ADS_1