Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 70 Jajan Terus Dong


__ADS_3

"Assalamu'alaikum sayang, istri ku Mas pulang. Sayang, kamu dimana?" Dzakir masuk rumah dan berteriak layaknya di hutan rimba.


"Wa'alaikumsalam. Mas kok teriak-teriak sih. Ini bukan hutan Mas. Ini rumah." Jawab Misela.


"Sayang, Mas tuh udah kangen banget sama kamu."


Dzakir mendekati Misela dan mencium perutnya.


"Hallo sayang, apa kabar hari ini? Kamu baik-baik aja kan? Anak ayah gak nyusahin Ibu kan?"


"Engga dong."


"Alhamdulillah, makasih ya sayang udah jadi anak baik." Dikecup lagi perut Misela. "Ini Mas bawa makanan nih banyak banget loh."


Misela menggelengkan kepalanya melihat banyaknya bungkusan plastik yang di bawa oleh Dzakir. Tadi pagi Misela begitu khawatir tapi kali ini Misela merasa menyesal telah mengkhawatirkan suaminya itu.


"Kamu baik-baik aja Mas?" Misela mengerutkan keningnya.


"Seperti yang kamu lihat sayang, suami mu ini sehat walafiat. Ini Mas beli es boba rasa taro sama rasa stroberi. Terus beli somay, tau gak somay nya ada sayur pare nya ada kol nya ada kentangnya pokoknya porsi lengkap banget. Terus yang ini jeruk Mandarin sama buah mangga. Yang satunya ini bolu pisang. Baunya harus banget."


Dzakir mengangkat satu persatu kantong plastik yang di bawahnya dan di tunjukkan pada Misela. Dengan riang gembira Dzakir berjalan dan meletakkan apa yang di bawanya di meja. Di tatanya dengan rapih satu demi satu plastik tersebut di atas meja.


"Sayang kita makan bareng yuk. Kamu mau makan sama apa? Mau somay dulu? Ini pasti enak loh sayur pare nya." Dzakir menumpahkan somay yang di bungkus plastik di sebuah piring. Dzakir lupa membawa sendok lalu berjalan kembali mengambil sendok. Dzakir benar-benar terlihat senang dan bahagia.


Setelah mendapatkan sendok Dzakir duduk manis di kursi dan menikmati somay yang di belinya.


"Em enaknya somay ini. Kenapa bisa seenaknya ini ya. Sayang kamu kok diem aja disitu sih. Sini Mas suapin, kamu pasti suka juga."


Dzakir melambaikan tangannya pada Misela yang sedang berdiri mematung menatap dirinya. Misela masih terheran-heran dengan suamiku itu.


Misela sungguh bingung. Sekarang ini Dzakir benar-benar seperti anak kecil yang suka dengan jajan. Padahal sebelumnya untuk ngemil saja dia jarang sekali.


"Mas, kamu aneh ya Mas. Sepanjang hari aku tu khawatir banget sama kamu. Eh pulang-pulang bawa makanan sebanyak ini." Lagi-lagi Misela menggelengkan kepalanya.


"Nak, mungkin Ayah terlalu senang dengan kehadiran mu jadi Ayah begitu. Maklum ya Nak." Misela menunduk dan mengelus perutnya sambil bicara pada bayi yang di kandung nya.


"Sayang Mas emang lagi bahagia. Tapi sedih juga."


"Hah? Kenapa Mas? Ada masalah apa?"


Misela langsung duduk dan mengupas jeruk siap untuk mendengarkan ceritanya.


"Hari ini Mas di angkat jadi ketua rektorat."


"Masyaallah Maasss… itu kabar yang luar biasa. Pasti karna anak mu ini Mas. Tapi kenapa Mas sedih?"


"Ya Mas jadi makin sibuk nanti. Mas takut saat kamu lahiran Mas gak ada di sisi mu sayang. Mas sedih lah."


"Hmm Mas, gak papa kok kalau misalnya itu terjadi. Toh kamu juga berjuang untuk kami. Untuk ku dan untuk anak mu. Yang penting kan doanya Mas. Terus lahiran juga masih lama Mas masih delapan bulan lagi."


"Mas jadi susah cuti sayang. Mas bener-bener takut."


"Bukannya Mas bilang jangan mendahului takdir Allah. Terus kenapa sekarang Mas takut? Kalau kasih motivasi aja ugh cool banget sok iya sok yes tapi dia sendiri butuh motivasi sekarang."


"Jadi kamu mengakui kalau Mas itu cool. Kalau udah cool artinya Mas juga ganteng dong. Tapi kan kamu dulu benci ya sama suami mu ini?"

__ADS_1


"Emang kok bicara sama Mas itu gak akan bisa menang. Serius, suami ku ini maha benar."


Dzakir tersenyum dan melahap somay nya lagi. Sedangkan Misela kembali mengupas jeruk yang di bawa Dzakir tadi.


"Jeruknya seger banget ini Mas. Gak da bijinya juga."


Dzakir kembali tersenyum.


"Sayang, kan jeruk Mandarin emang gak berbiji. Memang kamu belum pernah makan?"


"Belum. Baru kali ini. Mana sempat aku makan-makanan mahal Mas. Bisa ke kantin beli jus alpukat aja udah syukur alhamdulilah."


"Maaf ya, Mas bukannya mau menyinggung kamu sayang."


"Engga papa Mas. Sekarang kan aku bisa makan apa aja yang aku mau. Besok pasti kamu juga bawa makanan yang belum pernah aku makan sama sekali."


"Hehehe tapi sebelum itu Mas harus muntah-muntah dulu sayang, gimana dong."


"Ya aku gak punya solusi untuk masalah itu hehe."


Sore itu terlewati begitu saja. Mereka menikmati makan malam dengan suasana bahagia.


❤️


Malam ini Dzakir sibuk di ruang kerjanya. Ada banyak berkas yang harus di tanda tangani olehnya. Misela menunggu Dzakir di kamar karna Misela tak mau membuyarkan konsentrasi Dzakir.


Tling.


Misela membuka handphone dan melihat ada pesan masuk dari sahabat nya Erlina.


"Sel, gue butuh bantuan lu." Pesan Erlina.


Misela langsung menghubungkan Erlina namun tak terhubung.


"Barusan kirim pesan tapi kok gak bisa di telpon. Aku coba telpon balik deh."


"Nomor yang anda tuju sedang…."


"Tuh gak bisa lagi. Erlina kenapa ya. Aku jadi khawatir."


Misela pun membuka Instagram nya. Status Erlina sepuluh menit yang lalu membuat Misela membulatkan matanya.


"Aku akan meninggalkan dunia ini. Hidup ku sudah hancur."


Misela bangun dari tidurannya dan langsung berlari ke ruang kerja Dzakir.


"Mas, kamu bisa tolong cari informasi tentang Erlina gak?"


"Sayang hati-hati, kamu sedang hamil."


"Mas ini penting banget. Erlina buat status seperti ini Mas."


Misela menujuk kan ponselnya dan status Erlina pada Dzakir, begitu juga pesan singkatnya di WhatsApp.


Dzakir pun mengambil ponselnya dan mengubungi seseorang. Dikirim juga foto Erlina disana.

__ADS_1


"Gimana Mas?"


"Tunggu dulu ya suruhan Mas masih cari tau. Kasih waktu satu jam lah paling lama."


"Aku khawatir banget Mas. Sejak kita pulang dia gak ada kabarnya. Barusan kirim pesan tapi di telpon gak bisa kan aneh. Udah gitu bikin status yang engga-engga begitu kan."


"Iya sayang, kamu jangan mikir aneh-aneh ya. Kasian anak kita."


"Iya Mas, kalau gitu aku tidur duluan ya Mas. Kamu masih sibuk ya?"


"Iya sayang. Kamu tidur duluan ya."


Misela pun kembali ke kamar nya dan pergi tidur karna merasa gak enak badan.


________


Pagi ini sedikit berbeda dengan pagi sebelum nya. Dzakir tak mual saat menggosok gigi karna sudah ganti pasta gigi. Dzakir juga tak merasa pusing saat bangun dari tidurnya.


Semalam Dzakir ketiduran di meja kerjanya hingga pukul tiga dini hari. Dzakir masuk ke kamar juga Misela sudah mengambil wudhu dan memakai mukena. Ahirnya Dzakir membersihkan diri dulu dan beribadah bersama hingga subuh tiba.


Cahaya matahari sudah menyinari bumi. Dzakir dan Misela juga selesai berolahraga di sekitar kompleks.


"Mas, kamu gak mual-mual lagi?"


"Iya, Mas kok merasa segar bugar begini ya."


"Pasti kamu mual itu karna kamu jenguk anak mu Mas. Jadi dia marah dan mengutuk mu."


Misela tersenyum meledek Dzakir.


"Hah? Maksudnya Ayah gak bolek jenguk anak ayah kalau malam?"


"Mungkin begitu hehe."


"Bener-bener istri ku luar biasa perumpamaan nya. Oke kita coba. Kalau ayah jenguk nanti malam apa besok Mas bakal muntah-muntah atau engga."


"Hahaha semoga iya."


"Wah ngeledek ini?"


Misela berlari kecil dan Dzakir mengejarnya sambil menggelitiki pinggang Misela.


"Udah ya Mas mau siap-siap berangkat."


"Iya Mas."


Setelah membersihkan diri Dzakir menghampiri Misela di meja makan dan meminum teh hangat buatan Misela.


"Mas gimana, udah ada kabar tentang Erlina? Katanya semalem tunggu satu jam."


"Belum sayang, sabar ya katanya sahabat kamu itu berpindah-pindah."


"Hah? Pindah-pindah?"


"Nanti kalau ada kabar pasti Mas kasih tau kamu. Mas berangkat dulu ya sayang assalamu'alaikum."

__ADS_1


"wa'alaikumsalam."


...################...


__ADS_2