Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 31 Selamat Tinggal


__ADS_3

"Mas aku sungguh menyukai mu. Aku ingin hidup bahagia bersama mu selamanya. Aku akan berusaha membuat mu menyukai ku. Aku akan jadi apa yang kamu mau Mas. Tolong beri aku kesempatan."


Selyn masih terus berusaha membujuk Dzakir. Bahkan makanan di depan mereka tak satu pun yang di sentuh.


"Itulah yang aku tak mau. Jangan jadi orang lain agar aku bisa menyukai mu Selyn. Jadilah diri mu sendiri dan bahagia lah. Kamu tau cinta itu gak bisa di paksakan."


"Tapi Mas aku gak mau kehilangan kamu. Apa kamu sungguh tak menganggap penantian lima tahun ku Mas?"


"Selyn aku yakin ada orang yang sedang menunggu mu juga saat ini. Dan dia pasti bisa membahagiakan mu. Bagaimana bisa aku membahagiakan mu tapi hati ku bukan milik mu? Tolong maafkan aku yang egois dengan perasaan ini. Tapi aku benar-benar gak bisa lagi berpura-pura."


Selyn diam. Kini ada banyak cairan bening yang membasahi pipinya. Tanpa suara apapun dari mulutnya. Hanya ada tetesan demi tetesan air keluar dari matanya.


"Selyn maaf sekali lagi maafkan aku. Tolong jangan menangis. Aku gak bisa liat wanita menangis." Dzakir mulai panik.


Selyn pun menarik nafas dalam lalu mengusap air matanya dan meminum jus jeruk yang dia pesan tadi.


"Selyn? Apa kamu baik-baik saja?"


"Mana mungkin aku bisa baik-baik saja. Mas apa udah gak ada celah sedikitpun untuk aku masuk di hati mu Mas?"


"Maaf Selyn."


"Sebesar itukah rasa sayang mu pada Misela?"


"Kamu tau?"


"Bagaimana aku bisa gak tau."


"Aku sudah menyukai nya sejak aku masuk ke pesantren yang sama dengan Misela."


"Baiklah Mas kalau memang itu mau mu aku akan coba menerima keputusan mu."


"Selyn aku tau kamu gadis yang baik. Terima kasih banyak Selyn. Aku akan bicara dengan orang tua mu nanti."


"Gak perlu Mas. Biar aku saja yang bicara."


"Tidak aku harus bicara juga dengan mereka."


"Terserah kamu Mas."


"Tapi apa aku boleh tanya sesuatu?"


"Kamu pasti mau tanya tentang Misela kan? Aku sungguh tak melakukan apapun Mas. Aku menjalankan kewajiban ku sesuai prosedur. Awalnya memang aku punya niat gak baik padanya. Tapi dia adalah pasien pertama ku. Aku tak mau menodai ilmu yang aku dapat selama ini. Aku mengatakan yang sebenarnya Mas. Aku memang sangat mencintaimu tapi aku tak seburuk itu apalagi pada pasien pertama ku. Aku sungguh bangga dan senang saat bisa membantu Misela. Sungguh Mas."


"Kamu sungguh gak melakukan apapun pada Misela?"


"Aku berani sumpah kalau kamu masih gak percaya. Aku sudah jelaskan bukan."


"Maaf aku su'udzon sama kamu. Tapi dia benar-benar menjauhi ku bahkan gak mau bimbingan skripsi lagi. Aku bingung dengannya. Aku pikir kamu mencuci otaknya. Maaf sekali lagi."

__ADS_1


"Aku gak tau menahu soal itu. Kamu bisa tanyakan langsung padanya atau minta Dokter Dion memeriksa ulang keadaan nya. Aku mau pulang duluan Mas. Semoga kamu bisa bahagia dengan wanita pujaan mu. Sebenarnya hati ku sangat sakit tapi aku memang gak boleh egois. Cinta yang di paksa juga gak baik. Aku pamit Mas."


"Selyn hati-hati assalamu'alaikum."


"Iya Mas wa'alaikumsalam."


Selyn pun pergi dari cafe itu. Sedangkan Dzakir tak mau menyia-nyiakan makanan yang di pesannya tadi jadi memutuskan untuk menghabiskan semuanya terlebih dahulu dan pulang.


Malam harinya sesuai janji Dzakir menemui orang tua Selyn untuk menjelaskan hubungan di antara mereka. Dzakir tak mau menunda-nunda apapun.


"Assalamu'alaikum Pak Bu bagaimana kabarnya?."


"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah kami baik. mari masuk Nak Dzakir. Mari duduk."


Dzakir duduk di sebuah ruang tamu yang cukup luas dengan sofa yang sangat empuk dan elegan. Tentu saja Selyn tergolong orang kaya karna Ayah Selyn seorang Bupati di Lampung dan beliau punya beberapa bisnis di bagian industri.


"Maaf Pak Bu kedatangan saya malam-malam mengganggu istirahat nya. Tapi harus saya selesaikan malam ini juga."


"Tidak apa-apa Nak Dzakir kami senang kedatangan calon menantu kami. Ada perlu apa Nak sepertinya sangat penting."


Sebelum percakapan di mulai Selyn ikut duduk di antara Ayah dan ibunya.


"Yah maafin Selyn sebenarnya Mas Dzakir kesini itu untuk..." Selyn belum selesai bicara Dzakir tiba-tiba menyela.


"Selyn..." Dzakir menggeleng kan kepalanya.


"Ada apa ini kok wajah kalian terlihat serius? Apa kalian ada masalah?" Tanya Ayah Selyn.


Ayah dan Ibu Selyn saling menatap. Mereka tentu sangat heran karna perjodohan ini sudah sangat lama di bicarakan tapi baru kali ini Dzakir angkat bicara.


"Ada masalah apa di antara kalian? Bukankah kalian sudah cukup mengenal satu sama lain dan sudah cukup matang untuk segera menikah? Pasti ada wanita lain yang menggoda mu Nak Dzakir?" Ayah Selyn terlihat marah karna merasa Dzakir telah menyakiti hati anak perempuan satu-satunya itu.


"Ayah jangan begitu. Mas Dzakir gak salah Yah. Selyn lah yang jadi orang ketiga. Mas Dzakir sudah menyukai gadis lain sebelum Selyn masuk diantara mereka." Selyn menggenggam tangan Ayah nya yang hampir naik darah.


"Maksudnya kamu menerima keputusan sepihak dari Dzakir Nak?" Tanya Ayah Selyn.


"Maafkan saya Pak. Saya memang menyukai gadis lain sebelum Selyn datang. Dan sebenarnya saya juga sudah berusaha untuk mencintai Selyn namun sampai saat ini saya belum bisa. Saya takut jika perjodohan ini di teruskan saya hanya akan membuat Selyn menderita." Dzakir menundukkan kepalanya.


"Kurang apa anak ku ini? Dia cantik dan lulusan terbaik di kampusnya. Dia juga baik hati. Dia bisa melakukan apa saja yang kamu mau." Ayah Selyn masih belum menerima keputusan Dzakir.


"Selyn tak kurang suatu apapun Pak..." Ucapan Dzakir pun di potong Selyn.


"Ayah, Mas Dzakir benar. Cinta itu gak bisa di paksain Yah. Justru karna kami sudah dewasa kami bisa memilih yang terbaik untuk diri kami sendiri. Selyn baik-baik aja kok. Selyn juga masih pengen lanjut S2 dan meniti karier. Selyn juga mau menikmati masa muda dulu belum pengen menikah sekarang Yah. Ayah harus terima keputusan dari Mas Dzakir." Selyn pun memeluk Ayah nya.


"Maafkan Ayah Nak."


"Engga Yah, Ayah gak salah apa-apa."


Setelah cukup lama berpelukan Ayah Selyn pun menerima keputusan Dzakir.

__ADS_1


"Baiklah Nak Dzakir Bapak juga gak bisa maksa kalau Selyn sudah setuju. Tapi bagaimana dengan Abi mu?"


"Bapak pasti tau Abi saya selalu mendukung penuh anaknya."


"Kamu benar. Bapak gak bisa bilang apa-apa lagi. Bapak minta maaf kalau perkataan Bapak tadi menyinggung."


"Tidak Pak. Sama sekali tidak menyinggung. Saya mengerti perasaan Bapak. Kalau begitu saya pamit pulang Pak."


"Kenapa buru-buru mari kita makan malam dulu."


"Ah iya Pak terima kasih."


Malam itu pun berjalan penuh tawa dan kebahagiaan layaknya sebuah keluarga besar. Setelah makan malam bersama Dzakir pun berpamitan dengan keluarga Selyn. Begitu juga Selyn berpamitan pada Dzakir karna dia memutuskan untuk melanjutkan S2 nya di Tanggerang.


_____________


Hari berganti minggu dan bulan. Tak ada yang berubah sama sekali. Dzakir tak pernah bisa menemui Misela. Bahkan sudah lima kali sejak dua bulan lalu Dzakir berusaha menemuinya di rumah hasilnya pun masih zonk karna Misela juga tak mau keluar dari kamarnya.


Ujian skripsi hanya tinggal menghitung hari. Dzakir selalu menanyakan kabar Misela lewat Erlina sahabatnya. Misela sudah menyelesaikan skripsi nya dengan baik dan kini Misela siap untuk mengikuti ujian dan wisuda.


Kabar Misela tak ada yang perlu di khawatir kan seperti yang di pikirkan Dzakir. Namun berbeda dengan dirinya saat ini dia benar-benar merindukan sosok Misela bahkan tak pernah fokus melakukan apapun termasuk mengajar di kampus itu.


Dzakir sedang duduk melamun di meja ruang kerjanya. Dzakir bukan sekedar duduk tapi hari ini para mahasiswa sedang sibuk meminta tanda tangan dan stempel para pembimbing mereka masing-masing.


Dalam lamunannya Dzakir melihat sosok Misela yang berdiri di ambang pintu. Dengan senyum menawan perlahan wanita itu berjalan menghampiri nya. Dzakir bangkit dari tempat duduknya. Seolah tak mau melepaskan pandangannya Dzakir terus menatap Misela yang sudah sangat dekat dengan dirinya. Tanpa berkedip sedikit pun Dzakir masih berdiri menunggu Misela mendekat.


"Sungguh aku tak mau bangun dari mimpi ini." Begitulah kata Dzakir.


"Assalamu'alaikum Pak Dzakir." Sapa Misela.


"Wa'alaikumsalam Misela." Dzakir masih menganggap bahwa dirinya sedang bermimpi bertemu Misela.


"Pak tolong tanda tangan." Misela menyodorkan lebaran skripsi nya dan diletakkan di meja.


Tentu Dzakir Masih melamun menatap Misela tanpa berkedip bahkan tanpa menjawab perkataan Misela.


"Pak Dzakir."


Dzakir masih diam dengan tatapan kosong.


"Pak."


Misela meninggikan suaranya dan memukul keras lengan Dzakir.


Buuggg


"Aw… Astaghfirullah pukulan mu sakit Misela?" Dzakir mengelus-elus lengannya yang sakit lalu Dzakir tersadar dari lamunannya.


Hah Misela? Jadi aku gak mimpi?" Dzakir melotot.

__ADS_1


...################...


__ADS_2