
HAPPY READING READER YANG BUDIMAN.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA BIAR AKUH MAKIN SEMANGAT 😀
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
Misela pun mengabaikan perkataan Dzakir lalu kembali melihat pesan yang masuk.
"Kamu masuk kuliah kapan Sel? Bareng aja."
Pesan itu dari Hilman.
Rumah Hilman memang tak terbilang jauh dari rumah Misela. Mereka hanya tetangga desa. Cuma butuh lima menit untuk Hilman sampai di rumah Misela.
"Aku di anter Al Ka jadi gak perlu repot-repot."
Balas Misela. Namun Hilman kekeh dengan tawaran nya.
"Kasian Al kalau harus pulang pergi. Mending bareng aku aja."
Misela makin gak enak hati. Karna dia bukan tipe orang yang menolak sebuah kebaikan.
"Aku jemput jam delapan ya. Nanti aku bilang Al kalau kamu bareng aku ke kampus nya."
Misela tak membalas pesan itu. Karna jika di iyakan Misela takut memberikan harapan pada Hilman. Tapi jika ditolak Hilman tetap akan menjemput nya. Sejak dulu apa yang Hilman katakan tak pernah bisa di tolak Misela.
Malam ini Misela menyiapkan pakaian nya untuk tinggal di rumah Pak Cipto seperti yang dimaksud oleh Dzakir. Ternyata barang yang dia bawa lumayan banyak. Setelah selesai Misela pun tertidur.
___________
Ayam sudah berkokok tanda fajar telah terbit. Misela menjalankan ibadah paginya. Sholat fajar lalu tadarus Alquran untuk menunggu waktu subuh. Setelah rutinitas ibadahnya selesai Misela membantu Adelia memasak.
"Bun kayaknya Misela gak bisa sering-sering pulang ya Bun. Soalnya Misela mau kejar yudisium pertama. Biar Misela bisa cari kerja nanti."
"Terserah kamu aja Nak. Yang penting kamu bahagia, kamu senang dengan apa yang kamu lakukan."
"Makasi ya Bun selalu dukung aku."
"Iya sayang. Kamu harus janji sama Bunda untuk tidak menyembunyikan satu hal pun yang menyakiti mu."
"Insyaallah Bun."
Aldian pun datang dan ikut nimbrung di dapur.
"Ka yakin nih gak mau aku antar?" Kata Aldian.
"Katanya Ka Hilman mau jemput Kaka jadi biar Kaka bareng Ka Hilman aja dek." Jawab Misela.
"Ka Hilman itu orang baik loh Ka, Kenapa dulu kalian putus? Al penasaran."
"Gak perlu di bahas."
"Cerita lah Ka. Bunda pasti juga pengen tau. Iya kan Bun?"
"Kalau Kaka mu gak mau cerita jangan di paksa."
"Yah Bunda gak asik banget sih."
"Mampussss....!" Misela pun tertawa menang.
Dan ahirnya semua yang berurusan dengan dapur pun beres. Misela pun selesai mandi dan sarapan lalu membawa barang-barang nya ke teras rumah.
"Gila Ka kamu mau pindah rumah?" Aldian menggelengkan kepalanya beberapa kali.
__ADS_1
Memang Misela membawa banyak barang. Ada satu kardus berisi buku-buku referensi skripsi nya. Ada satu tas ransel berisi pakaian dan satu ransel lagi berisi laptop.
"Ka yang bener aja emang bisa?" Aldian keheranan.
"Kan motor Ka Hilman matic. Kardus bisa di depan kan. Terus Ka Hilman bawain tas laptop gendong depan nah Kaka bawa tas Baju gendong belakang." Jawab Misela santai.
"Terus kalau Ka Hilman bawa tas gimana?"
"Iya ya Kaka gak kepikiran sampe situ. Terus gimana dong Kaka kan butuh semua ini."
"Ya udah Al aja yang bawa barangnya nanti Kaka boncengan sama Ka Hilman."
"Ka Hilman aja yang bawa barang gimana?"
"Kaka gimana sih ya gak enak lah."
"Hehe."
Tak lama kemudian Hilman pun datang dengan motor matic Vario merah.
"Jemputan datang Ka." Goda Al.
Misela menyikut lengan Al.
"Assalamu'alaikum semua." Sapa Hilman dan mencium punggung tangan Adelia.
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka kompak.
Tapi senyum semua orang yang sedang berdiri di teras tiba-tiba berubah jadi sebuah keheranan yang mendalam.
Dzakir muncul dengan mobil Avanza putih. Padahal kemarin dia bawa mobil Alphard sekarang ganti Avanza.
"Loh siapa itu pagi-pagi?" Tanya Adelia pada Misela.
Dan Dzakir pun turun. Semua mata pun melebar menatap nya. Termasuk Hilman yang terheran-heran dengan kedatangan dosen di kampus nya itu.
"Assalamu'alaikum." Sapa Dzakir.
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka serentak.
"Pak sepagi ini sampai disini apa ada hal penting?" Tanya Misela.
"Iya saya mau jemput kamu. Kamu kan belum bisa naik motor." Jawab Dzakir dengan santainya.
"Pak rumah nya kan jauh bisa-bisanya jam segini udah kesini?" Tanya Al yang ikut heran.
"Iya saya sengaja. Kemarin saya kan udah bilang sampai besok pagi sama kamu Sel?" Dzakir tersenyum menatap Misela yang masih keheranan.
"Jadi maksud bapak kemaren itu mau jemput saya?" Jawab Misela.
"Iya masak kamu gak paham?" Dzakir masih terlihat santai dan cool. Lalu melirik Hilman.
"Kamu disini?" Tanya Dzakir menepuk pundak Hilman yang sedari tadi menatap nya.
"Rumah saya kan deket sini Pak." Jawab Hilman.
"Oo gitu. Ayo berangkat? Mana yang harus di bawa?" Tanya Dzakir lalu melihat sebuah kardus dan tas ransel dan menentengnya.
"Pak gak perlu repot-repot." Cegah Adelia.
"Gak papa Bu saya senang melakukan nya." Dzakir memasukkan barang-barang Misela ke dalam mobil.
"Mari sarapan dulu Pak. Atau ngopi?"
__ADS_1
"Tidak perlu Bu saya sudah sarapan di rumah."
Dzakir masih terlihat mempesona saat ini dengan senyuman nya.
"Kalian mau naik mobil berdua sampai kampus?" Tanya Hilman.
"Iya kamu mau bareng sekalian?" Dzakir menatap Hilman dengan mata sinis. Tentu saja tawaran itu hanya basa-basi.
"Gak Pak saya bawa motor." Jawab Hilman.
"Baguslah." Dzakir menyunggingkan bibirnya. "Ini udah semua barangnya?" Tanya Dzakir kembali memasang wajah manis.
Setelah semua barang Misela masuk Dzakir pun langsung berpamitan.
"Kami berangkat dulu ya Bu." Kata Dzakir lalu bersalaman dengan Adelia dan sedikit membungkuk kan badannya.
"Bun Misela berangkat sama Pak Dzakir Ya." Misela pun mencium punggung tangan Adelia lalu berbalik dan bersalaman pada adiknya. Namun Al membisikkan sesuatu.
"Calon Kaka ipar ku yang ini keren Ka, sweet juga pepet terus ya hihihi."
"Ngawur kamu." Misela menepuk bahu adiknya dengan keras.
"Aw sakit tau."
"Bodo amat."
Misela pun berpaling dari adiknya dan berjalan mendekati Hilman.
"Maaf ya Ka aku gak tau kalau Pak Dzakir mau jemput. Terus barang aku juga banyak naik motor agak susah bawanya karna KA Hilman juga bawa tas ransel itu." Misela melirik tas yang di pakai di punggung Hilman.
"Kamu mau kos ya?" Tanya Hilman.
"Dia tinggal di rumah Pak Cipto." Dzakir menjawab pertanyaan Hilman.
Misela cuma bisa menggigit bibir bagian bawahnya karna bingung harus berkata apalagi.
"Al loe bisa kan tolongin gue?" Tanya Hilman pada Al.
"Tolong apa Ka?" Jawab Al.
"Tolong nanti anterin motor gue ke rumah ya. Ini kuncinya." Setelah memberi kunci motornya pada Al Hilman pun naik mobil Dzakir dan duduk di bagian depan.
Dzakir terheran dan membuka pintu mobilnya lalu menatap Hilman.
"Kenapa kamu duduk disitu?"
"Setelah saya pikir sebaiknya saya naik mobil bagus ini Pak kan tas saya juga berat. Tadi kan Pak Dzakir yang menawarkan mau bareng engga." Jawab Hilman dengan nada ketus.
"Duduk belakang lah masak disitu." Ucap Dzakir kesal.
"Saya aja Pak yang duduk di belakang." Ujar Misela dan membuka pintu mobil.
Dzakir pun menutup pintu mobil sebelah yang di duduki Hilman lalu berpamitan kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian supir.
"Apes niatnya mau berduaan malah datang obat nyamuk." Gerutu Dzakir dalam hati dan menggeleng kan kepalanya.
"Ayo Pak jalan malah bengong." Ucap Hilman.
"Lu aja yang nyetir nih." Dzakir makin kesal.
"Maaf Pak saya belum lancar nyetir mobilnya." Hilman tersenyum licik.
Dzikir pun beristighfar dan menyalakan mesin mobil lalu pergi dari kediaman Misela.
__ADS_1
...###################...