
Dzakir telah tiba di tempat dimana dia akan memimpin sebuah seminar setelah tiga bulan lamanya dirinya libur.
Hari ini sama seperti sebelumnya Dzakir melakukan seminar, banyak pengunjung karna materi dan motivasi yang Dzakir berikan memang selalu membuat hati para pendengar nya merasa nyaman. Belum lagi suara Dzakir yang merdu dan lembut.
Dua setengah jam sudah Dzakir berdiri dengan mic dan berbicara panjang lebar hingga tenggorokan nya terasa kering karna banyak sekali yang melontarkan pertanyaan saat sesi tanya jawab.
Setelah seminar selesai Dzakir pun keluar dari gedung tersebut dan hendak berjalan menuju mobil Alphard miliknya. Tapi tertiba Dzakir dihentikan oleh seorang gadis yang suaranya sudah tak asing lagi di telinga Dzakir.
"Pak Mudzakir tunggu sebentar." Begitu gadis itu memanggil Dzakir seketika berhenti dan membalikkan badannya.
"Kamu?" Dzakir mengingatkan wajah gadis dengan setelah kemeja hitam dan jilbab segiempat warna pink.
"Assalamu'alaikum Pak Dzakir masih ingat saya?" Sapa gadis tersebut yang sudah berhadapan dengan sedikit menunduk.
"Wa'alaikumsalam. Seperti nya mbak yang di butik gaun pengantin itu ya?" Dzakir mengingatnya.
"Alhamdulillah Pak Dzakir ingat. Saya sudah bilang kan Pak kalau saya gak pernah absen menghadiri acara seminar Pak Dzakir. Nah sekarang saya seneng banget bisa ketemu Pak Dzakir kembali." Ucap gadis itu dengan tersenyum dan santainya.
"Oh iya terima kasih." Sahut Dzakir dengan singkatannya.
"Nama saya Aulia Rahmah Pak biasa di panggil Aulia atau Lia ajah." Gadis itu memperkenalkan diri dengan pedenya.
"Iya Lia terima kasih antusias nya saya mau permisi dulu." Kata Dzakir hendak membalikkan badannya dan masuk mobil.
"Pak Dzakir mau ngajar di kampus ya?" Tanya Lia dan menghentikan Dzakir kembali.
"Iya. Apa kamu masih kuliah juga?"
"Hmm udah lulus Pak saya tinggal tunggu wisuda ahir bulan ini. Saya ambil gelar Sarjana Ekonomi di kampus negeri Metro Pak." Jelasnya sambil tersenyum senang.
"Kalau gitu selamat ya atas kelulusannya. Saya permisi dulu." Ucap Dzakir yang ingin segera naik ke mobilnya.
"Em tunggu Pak Dzakir!" Seru Lia.
"Iya ada yang bisa saya bantu lagi?" Tanya Dzakir yang sebenarnya sudah sangat kesal berbicara dengan gadis di depannya itu.
"Saya boleh numpang sampe jalan manggis Pak? Gang sebelum kampus Pak Dzakir. Kebetulan saya tadi naik ojek online tapi sekarang handphone saya lowbet gak bisa pesen." Wajah memelas Lia sangat terlihat di mata Dzakir.
Dzakir berfikir sejenak. Pasalnya Dzakir tak pernah berduaan di mobil dengan seorang wanita selain dengan Umi nya dan Misela apalagi jarak tempuh perjalanan menuju kampus hijau nya itu memakan waktu hingga lebih dari satu jam.
"Ini pakai ponsel saya kalau mau pesan ojek online." Ucap Dzakir dan mengulurkan handphone nya.
"Apa saya gak bisa ikut mobil Pak Dzakir saja lumayan saya hemat ongkos Pak. Kali ini aja Pak saya fans Pak Dzakir loh masak sama fans nya Pak Dzakir sombong gitu." Lia kekeh dengan pendirian nya untuk ikut naik mobil Dzakir.
Dzakir menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan sangat kasar. Dzakir tak enak hati untuk menolak.
"Baiklah. Kamu duduk di belakang." Kata Dzakir dan langsung naik mobil.
Dengan bahagianya Lia masuk mobil. Dzakir memasang sabuk pengaman lalu menghidupkan mesin mobil nya dan melaju cepat.
Dzakir tak mau ada fitnah atau salah paham antara dirinya dan Aulia ahirnya Dzakir melakukan panggilan vidio pada Misela. Tapi sayangnya Misela tak mengangkat telpon tersebut.
"Telpon istrinya ya Pak." Tanya Aulia.
__ADS_1
"Iya." Jawabannya singkat.
"Pak itu saya boleh pinjem charger nya?" Aulia menunjuk charger yang menempel di mobil Dzakir.
"Boleh." Dzakir hendak mengulur kabel ke belakang tapi karna pandangan fokus ke depan tangan Dzakir dan Aulia jadi saling berpegangan.
"Astaghfirullah. Maaf!" Kata Dzakir terkejut.
"Iya Pak gak papa." Aulia tersenyum malu-malu.
Dzakir ingin sekali melaju sangat cepat sekarang karna dia ingin segera sampai di tujuan. Tapi saat itu sudah hampir memasuki jam makan siang lalu lintas pun sedikit ramai sehingga Dzakir tak bisa terburu-buru.
Dengan sabar Dzakir menikmati perjalanan tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Sedangkan Aulia juga tak berani untuk sekedar basa-basi.
Ahirnya setelah satu jam lebih dua puluh menit Dzakir berhenti di gang yang di maksud oleh Aulia.
"Terima kasih ya Pak. Semoga kita bisa bertemu kembali." Dzakir hanya mengangguk dan Aulia langsung membuka pintu mobil lalu keluar. Sialnya saking bahagianya dia ponsel yang di charge tadi tertinggal di mobil Dzakir bahkan Dzakir juga tak menyadari.
Dzakir pun sampai di kampus dan memarkirkan mobilnya. Baru saja Dzakir turun datanglah seorang gadis yang telah terengah-engah nafasnya.
"Aulia? Kamu kenapa?" Tanya Dzakir yang terkejut Aulia tiba-tiba ada di sisi mobilnya.
"Itu Pak..." Aulia menarik nafas dan mengatur nafasnya.
"Kenapa Aulia?" Dzakir malah khawatir dengan gadis itu.
"Handphone Pak handphone saya ketinggalan. Sa-saya berlarian tadi mengejar Pak Dzakir." Aulia ahirnya bisa bicara namun karena terik matahari dan dirinya yang memaksa berlarian membuat Aulia tiba-tiba pingsang.
Dzakir langsung menangkap tubuh Aulia yang akan terjatuh dan memanggil beberapa mahasiswi untuk membantu.
Dua jam berlalu dan Dzakir kembali menemui Aulia yang sudah siuman dan duduk sendiri di ruang kesehatan itu.
"Assalamu'alaikum Aulia bagaimana keadaan mu?" Sapa Dzakir.
"Wa'alaikumsalam Pak Dzakir Alhamdulillah saya baik-baik saja sekarang. Maaf saya merepotkan Pak Dzakir." Jawab Aulia.
"Iya gak papa kemana tujuan mu sekarang?" Tanya Dzakir.
"Rumah saya di jalan manggis saat kita berhenti tadi Pak. Saya bisa minta handphone saya supaya adik saya bisa menjemput saya disini." Jawab Aulia sambil tersenyum.
"Oiya ini ponselnya. Kalau begitu saya permisi dulu saya masih ada kelas." Dzakir berpamitan.
__________
Setelah selesai mengajar Dzakir ingin sekali segera pulang karna sudah sangat rindu dengan istrinya. Obatnya lelah setelah seharian sibuk hanyalah Misela. Tapi saat Dzakir hendak keluar dari ruangannya Hilman datang menghampiri Dzakir.
"Pak?" Tegur Hilman.
"Iya ada apa?" Jawab Dzakir.
"Kenapa Bapak menikung saya?"
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Misela sekarang Pak?"
"Untuk apa kamu menanyakan keadaan istri saya?"
"Saya hanya ingin tau Pak Dzakir."
"Sepertinya sangat tidak sopan kamu menanyakan keadaan istri saya."
"Saya hanya ingin tau. Kemaren saya dapat kalau Misela berkelahi dengan dua preman di pasar Punggur. Apa itu benar?"
"Dari mana kamu tau?"
Lalu Hilman melihat kan sebuah Vidio berdurasi satu menit yang menunjukkan Misela sedang melawan dua preman dengan keadaan tangan yang terluka dan baju berdarah di bagian perutnya.
"Sekarang dia baik-baik saja."
"Kalau Pak Dzakir tidak bisa menjaga Misela lepaskan dia. Dengan senang hati saya akan menjaganya dengan sangat baik bukan seperti sekarang."
"Saya mau pulang saya capek jadi jangan..."
Hilman memotong pembicaraan Dzakir.
"Misela gadis yang sangat baik Pak. Saya sangat serius dengan ucapan saya. Kalau Pak Dzakir tak bisa benar-benar menjaganya saya akan merebutnya dengan PAKSA. Saya sudah sangat mengenal Misela lebih dari tiga tahun lamanya jadi jangan salahkan saya kalau saya merebutnya dari Pak Dzakir." Hilman menekankan suaranya.
"Tapi kamu menghianati nya bukan?"
"Itu hanya salah paham."
"Sudahlah lupakan Misela dia sudah sangat bahagia sekarang. Jangan pernah usik hubungan kami. Ingat kami sangat bahagia sekarang. Masalah Misela berkelahi dengan preman itu hanya musibah yang saya pun menyesali hal tersebut."
"Itu artinya pak Dzakir tidak bisa menjaga Misela dengan baik."
"Saya sudah sangat merindukan istri saya jadi biarkan saya pulang. Assalamu'alaikum."
Hilman diam mematung dan menatap tajam punggung laki-laki yang telah menikahi gadis idamannya.
"Astaghfirullah kenapa hari ini sangat menyebalkan. Pertama bertemu Aulia yang seperti ingin mendekati ku kedua bertemu Hilman yang membuat ku cemburu. Kenapa sih mereka?" Dzakir mengelus dadanya lalu melajukan mobilnya untuk pulang.
Tiba di rumah.
"Assalamu'alaikum istri ku sayang."
Dzakir menghampiri Misela dan hendak mencium keningnya tapi Misela menghindar.
"Mas wanita ini siapa? Setelah seminar dia naik mobil mu dan sampai di kampus kamu memeluknya. Siapa dia?"
Dzakir terkejut melihat foto di ponsel Misela.
"Dia...!"
...############...
Dia siapa Mas Dzakir? Hayo bisa gak jelasin sama Misela? Hehe
__ADS_1
Sabar ya Dzakir namanya rumah tangga pasti banyak cobaannya. Kalau banyak cuciannya namanya loundri. 😂✌️