Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 79 Pujian Untuk Misela


__ADS_3

Dzakir benar-benar terlambat bertemu dengan orang penting yang menyangkut dengan kampus hijau tempatnya bekerja.


"Sayang, lari mu santai aja ya jangan kejar Mas, nanti kamu duduk jangan jauh-jauh juga ya."


Dzakir dan Misela tiba di restoran tempat meeting dilakukan. Dzakir bergegas dan berlarian sesaat setelah turun dari taxy.


Sesuai dengan ucapan Dzakir, Misela tak mengejar Dzakir, dia berjalan pelan dan santai hingga tiba di tujuan. Saat sampai Dzakir sudah terlihat tertawa bersama dua orang laki-laki berpakaian serba hitam dan juga tentu bersama Mina.


Misela mencari tempat duduk yang sangat dekat dengan mereka karena dirinya ingin tau apa saja yang mereka obrolkan.


"Pak Ridwan dan Pak Hanafi silahkan di minum dulu teh hangatnya."


Terdengar suara lembut Mina pada kedua laki-laki yang berpakaian serba hitam itu.


"Haha saya malah baru tau kalau suami bisa nyidam seperti Pak Dzakir ini. Sampe bisa selemas itu hahaha." Kata Pak Hanafi sambi meneguk teh yang di tuangkan Mina tadi.


"Jadi setiap pagi Pak Dzakir merasakan begitu ya?" Tanya Pak Ridwan.


"Iya Pak, jadi anehnya kalau sudah sampai kampus rasa mual itu hilang, tiba-tiba perut lapar sekali. Belum lagi kalau pulang dari kampus saya hari beli jajan di pinggir jalan untuk saya makan dengan istri saya, padahal sebelumnya saya tak pernah melakukan hal tersebut." Jelas Dzakir.


"Pasti Pak Dzakir sangat mencintai istrinya." Ucap Pak Ridwan yan terdengar jelas di telingan Misela dan membuangnya malu.


"Tentu saja Pak saya sangat mencintai istri saya, memang Pak Ridwan dan Pak Hanafi tak mencintai istrinya?" Kata Dzakir meledek mereka berdua.


Langsung saja gelar tawa kembali memenuhi suasana pagi yang cerah tersebut. Hingga obrolan itu berubah menjadi serius.


Misela hanya mengangguk-angguk mendengarkan obrolan mereka yang membuat sedikit tegang. Bahkan Misela sangat mengakui cara Mina menyampaikan satu demi satu pembahasan yang mungkin itu sudah hasil dari diskusi dengan Dzakir.


Sampai akhirnya mereka berada di titik yang membuat mereka kebingungannya atas keputusan dan rencana kedepannya.

__ADS_1


"Bagaimana Pak Dzakir menurut Pak Dzakir?" Tanya Pak Ridwan dengan nada sangat serius.


Dzakir malah menoleh pada Mina.


"Mina, apa kamu punya rencana?" Dzakir menatap Mina dengan wajah serius juga.


Sedangkan Mina kebingungan apa. Misela melirik Mina dan melihat semua orang sedang tegang disana.


"Mereka ini bodoh apa gimana sih? Eh engga-engga suami ku laki-laki cerdas, pasti dia bisa putuskan masalah itu. Masalahnya kan kecil, bahkan di luar kepala kalau aku, tapi kenapa gak bisa diselesaikan. Kan itu gampang banget. Apa aku boleh bergabung ya?" Gerutu Misela dalam hati.


Setelah satu jam lamanya pembahasan bisnis itu tak kunjung selesai juga. Bahkan Misela masih harus menunggu tiga puluh menit lagi setelah satu hal dari satu pembahasan tidak terpecahkan.


Misela yang greget ahirnya menyapa.


"Hallo assalamu'alaikum Pak Ridwan dan Pak Hanafi!" Misela menangkup kedua tangannya di dada tanda bersalaman antara lawan jenis.


Tentu saja mereka terkejut dengan kehadiran Misela, terutama Dzakir. Dzakir langsung berdiri dan memegang kedua bahu istrinya itu untuk di perkenalkan.


Keterkejutan Pak Ridwan dan Pak Hanafi buyar saat Dzakir memperkenalkan Misela.


"Wa'alaikumsalam nona Misela, kami pikir siapa sampai saya terkejut hahaha." Kata Pak Ridwan.


"Mohon maaf Mas, mohon maaf Pak Ridwan dan Pak Hanafi, apa saya boleh duduk bergabung dengan kalian semua. Sejak tadi saja duduk mendengarkan obrolan kalian semua tapi sepertinya kalian sedang kesulitan. Jika di ijinkan saya ingin sekali menyampaikan pendapat saya, siapa tau bisa membantu."


Pak Ridwan dan Pak Hanafi saling menatap lalu mengangguk kan kepalanya. Sebenarnya hal ini adalah rahasia bisnis mereka yang orang luar yang tak bersangkutan tidak boleh tau sedikit pun masalahnya. Tapi berhubung mereka juga terburu-buru ahirnya Misela di ijinkan untuk duduk dan menyampaikan pendapatnya.


"Saya janji setelah saya berbicara saya akan pergi dari sini jika kehadiran saya tidak membuat anda semua nyaman. Saya hanya akan menyampaikan sedikit saja, kalau di terima bisa kita diskusikan ke yang lebih lagi. Saya hanya ingin membatu suami saya karna saya merasa suami saya butuh bantuan saya. Kebetulan saya kuliah di bidang tersebut dan telah lulus sarjana."


Mina mendongak terkejut saat Misela mengatakan dirinya kuliah. Dan kedua bapak tadi langsung mempersilahkan Misela duduk.

__ADS_1


Cukup lama Misela mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran nya. perlahan namun sangat jelas. Belum lagi suaranya memang sangat menyentuh hati, sama seperti Dzakir. Bahkan Misela sedikit gugup karna menjadi pusat perhatian karna terlihat semua orang di situ sangat salut pada Misela, terutama Dzakir. Mina beberapa kali mencatat poin penting yang di sampaikan Misela sambil mengangguk-angguk.


Sedangkan Pak Ridwan dan Pak Hanafi terlihat sangat puas dengan penyampaian Misela yang gamblang dan sangat mudah di mengerti. Seolah Misela adalah seorang yang profesional dalam bidang tersebut.


Waktu pun berjalan sampai tiga puluh menit lamanya. Sekian kali berdiskusi dan menyetujui penyampaian Misela, Pak Ridwan dan Pak Hanafi menandatangani surat-surat penting di atas meja lalu salinan dari surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang sangat penting dan bersangkutan dengan kampus


Sesuai janji Misela langsung pergi karna tak enak hati juga berlama-lama bersama mereka. Misela berjalan keluar dari restoran dan merasakan indahnya pemandangan pagi menjelang siang itu.


Sukses besar Misela membuat bangga Dzakir atas kemampuannya. Dzakir, Mina dan kedua bapak itu juga menyusul Muse keluar.


Sebelum berpamitan Pak Ridwan dan Pak Hanafi berdiri berhadapan dengan Misela.


"Saya sangat bangga pada Nona Misela, hanya butuh waktu beberapa detik saja bisa membantu kami. Bahkan kami harus berdiskusi dengan waktu cukup lama." Ucap Pak Ridwan.


"Pak Dzakir benar-benar beruntung sekali punya istri seperti Nona Misela ini." Sahut Pak Hanafi.


"Alhamdulillah, jangan terlalu berlebih-lebihan menyanjung istri saya Pak." Jawab Dzakir.


"Kenapa begitu Pak Dzakir?" Tanya Pak Ridwan.


"Karna saya akan kewalahan dengan manjanya di kamar nanti Pak. Apalagi habis di sanjung-sanjung.


Gelar tawa kembali pecah. Hingga tak lama kemudian Pak Ridwan dan Pak Hanafi berpamitan untuk pulang.


"Maafkan saya Pak Dzakir, saya tidak banyak membantu Pak Dzakir tadi, malah istri Pak Dzakir yang bantu kita."


"Tidak apa Mina. Kamu kembali ke hotel dan istirahat dulu ya. Jam dua kita ada misi lagi."


Mina mengangguk. Sedangkan Dzakir juga kembali ke hotel untuk memberikan hukuman pada Misela yang sudah membantu dirinya. Dzakir tak pernah menyangka sama sekali sebelumnya kalau Misela bisa punya ide secemerlang itu.

__ADS_1


...#################...


__ADS_2