Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 54 Bertemu Papa


__ADS_3

Sesuai rencana sebelumnya Dzakir dan Misela akan menemui Zaki terlebih dahulu sebelum mereka bersenang-senang di hiruk-pikuk nya kota Jakarta.


Setelah mandi dan bersiap mereka pun keluar dari hotel dan memesan sebuah taxy online agar memudahkan mereka untuk sampai ke tujuan tanpa harus mencari dengan susah payah.


Ini adalah pertama kalinya Misela menginjak kakinya di ibukota setelah kepindahan nya dulu di masa kecil. Misela tak sedikit pun mengingat bahwa dirinya pernah tinggal di kota besar itu.


Misela sibuk melihat ke luar jendela. Dengan terkagum-kagum Misela terus menatap bangunan yang kokoh menjulang tinggi yang tak pernah dia temui di kota tempat tinggalnya.


Setelah sekian lama taxy online itu berkeliling sesuai arahan map tibalah mereka di sebuah rumah minimalis yang terlihat cukup nyaman dari luar.


"Sudah sampai Pak." Kata sang supir.


"Ini ongkosnya terima kasih banyak Pak ambil aja kembaliannya." Jawab Dzakir sambil memberikan uang dua lembar warna merah.


"Terima kasih banyak Pak."


Dzakir dan Misela pun turun dari mobil dan menatap rumah di hadapan mereka.


"Coba sayang kamu telpon lagi Papa Zaki, bilang kita udah di depan rumah."


"Iya Mas sebentar ya."


Sambil menunggu Zaki, Dzakir melihat di sekeliling perumahan milik papa mertuanya nya itu. Tak ada hal istimewa disana. Semuanya serba sederhana bahkan hanya ada motor keluaran lama terparkir di depan rumah.


Telpon pun terhubung dan tak butuh waktu lama Zaki membuka pintu rumah nya dan menyambut anak dan menantunya.


"Assalamu'alaikum Pa." Misela langsung mencium punggung tangan Zaki.


"Wa'alaikumsalam Misela anak ku sangat cantik. Papa merindukan mu Nak." Zaki meneteskan air matanya dan memeluk putri yang sudah lebih dari tujuh tahun tidak bertemu.


"Ini suami Misela Pa namanya Mas Dzakir." Setelah di kenalkan Dzakir pun langsung mencium punggung tangan Zaki dan Zaki juga langsung memeluk menantunya itu.


"Terima kasih banyak sudah mempertemukan kami Nak." Ucap Zaki sambil menepuk punggung Dzakir. "Ayo masuk sayang Mami Sinta sudah menunggu kalian."


Zaki menuntun Dzakir masuk dan mempersilahkan duduk di ruang tamu yang cukup sempit jika di bandingkan dengan rumah Dzakir.


Sejak kedua orang tuannya meninggal Zaki pontang-panting untuk memulai bisnis baru namun terkendala dengan modal. Karna perusahaan peninggalan keluarga nya itu harus di jual beserta semua aset dan rumah mewahnya untuk melunasi hutang perusahaan ayahnya. Sedangkan orang tua Sinta istri Zaki tak mau tau karna Sinta tetap memaksa untuk menikahi Zaki yang bangkrut total.


(Yang kepo kisahnya ke novel BROK3N ya)


"Misela." Panggil Sinta lalu memeluk anak tirinya itu.


"Mami apa kabar? Sehat kan? Gimana sakitnya Mami udah bener-bener sembuh?" Tanya Misela yang membuat semuanya tersenyum padanya.


"Mami sudah sehat kok sayang. Ayo kita sarapan dulu Mami masak banyak kusus buat kalian." Misela pun di tuntun ke meja makan.


"Oiya siapa nama suami kamu sayang?" Tanya Sinta.


"Saya Mudzakir Alfaruq Bu, panggil aja Dzakir." Jawab Dzakir dengan sopan.


"Nama yang bagus. Tolong jaga dan cintai Misela sepenuhnya ya Nak Dzakir." Ujar Sinta terlihat sangat tulus.


"Insyaallah saya akan menjaga dan mencintai Misela sepenuh hati Bu."


"Mami tenang aja Mas Dzakir ini amat sangat mencintai Misela. Sekarang aja dia kelihatan berwibawa dan sopan santun. Coba kalau lagi berduaan duh manjanya minta ampun." Ledek Misela sambil melirik suaminya.


Tentu saja Zaki dan Sinta langsung tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Hahaha syukurlah Papa sangat bahagia mendengar nya. Papa juga begitu kok kalau lagi berduaan sama Mami." Ungkap Zaki sambil mencolek dagu Sinta.


Dzakir tersenyum melihat keharmonisan keluarga yang baru dia temui itu. Sama sekali tak terlihat bahwa Zaki tak memperdulikan Misela seperti ucapannya tempo hari.


"Oiya Pa mana Doni?" Misela celingukan mencari adik tirinya.


"Doni kerja di bengkel. Maklum gaji papa gak sedikit jadi Doni berhenti kuliah dan kerja di bengkel." Kata Zaki sedikit terlihat sedih.


"Loh Papa gak pernah cerita masalah itu sama Misela?" Kata Misela yang tiba-tiba berubah raut wajahnya.


"Untuk apa papa cerita kehidupan Papa disini. Papa gak mau kamu terbebani." Kata Zaki.


"Misela pikir Papa hidup berkecukupan dan Doni lulus kuliah. Selama ini Misela su'udzon sama Papa. Misela pikir Papa tak peduli dengan Misela karna Papa tak pernah menjenguk Misela lagi bahkan hanya sekedar memberikan Misela uang jajan." Misela meneteskan air mata dan menunduk.


Dzakir menggenggam tangan Misela untuk menenangkan dirinya.


"Sayang." Panggil Dzakir.


"Mas selama ini aku udah jahat banget berpikir yang bukan-bukan tentang Papa dan Mami hiks." Misela makin sedih.


"Misela, kamu gak salah Nak. Papa memang berharap kamu berpikir seperti itu karna pada kenyataannya Papa memang tak pernah memperhatikan mu." Zaki pun meneteskan air mata.


"Papa seperti itu karna keadaan Papa." Misela menekankan suaranya.


"Sudah-sudah jangan diteruskan lagi. Kita kan lagi kangen-kangenan setelah tujuh tahun gak ketemu kok malah tangisan sih. Ayo cepet makan sayang keburu dingin ini makanan nya." Sinta membubarkan suasana yang haru itu.


Dzakir menghapus air mata Misela dan mencium tangannya. Misela pun menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan pelan untuk menenangkan dirinya.


Misela menatap Dzakir dan Dzakir mengangguk. Misela mengerti isyarat Dzakir.


"Aku mau ayam goreng sambel terasi sama lalapan nya Pa." Misela akhir nya bisa tersenyum kembali.


"Papa ambilin ya. Em ini nasinya. Ini ayamnya. Ini sambelnya dan ini lalapannya." Satu persatu menu yang di inginkan Misela siap di piring yang ada di hadapannya.


"Terima kasih Pa."


"Dzakir mau apa biar papa ambilin juga."


"Gak perlu Pa Dzakir ambil sendiri aja. Papa juga dong ambil sarapan nya." Tolak Dzakir dengan sangat halus.


"Ah iya mari-mari kita sarapan."


Dan suasana di meja makan itu pun berakhir dengan kebahagiaan.


Setelah acara sarapan selesai Misela membantu Sinta beres-beres sedangkan Zaki dan Dzakir duduk mengobrol di ruang tamu. Keakraban terjadi sangat cepat di antara mereka.


"Doni biasa pulang jam berapa Pa?" Tanya Dzakir memulai obrolan nya.


"Terkadang sore udah pulang terkadang sampe larut malam." Jawab Dzakir.


"Apa keinginan Doni untuk kuliah masih ada Pa?"


"Sebenarnya Doni sangat ingin kuliah lagi bahkan Doni dapat beasiswa di kampus nya. Cuma beasiswa itu kan hanya untuk biaya kuliah nya itu juga gak full pasti buku-buku dan perlengkapan lainnya termasuk kos dan uang makan gak di tanggung jadi Doni lebih memilih keluar dan bekerja."


"Apa Dzakir boleh membiayai kuliah Doni Pa?"


"Hah? Jangan-jangan kamu jangan repot-repot Nak. Kita bahkan baru saling kenal."

__ADS_1


"Bukankah Doni juga adik saya Pa, jadi apa salahnya kalau Doni saya bantu supaya masa depannya lebih baik."


Zaki terkejut dengan perkataan menantunya itu. Zaki hanya memikirkan untuk menolak tapi Zaki juga berpikir betapa senangnya Doni jika tau hal ini.


"Terima aja Pa. Mas Dzakir ini tulus buat bantu adiknya." Kata Misela yang tiba-tiba muncul dan berada di tengah-tengah mereka. "Atau tanya aja sama Doni langsung Pa. Coba Doni suruh pulang dulu Pa. Kita tanya apa dia mau menerima tawaran Ka Dzakir." Misela menyikut lengan Dzakir sambil tersenyum. Tentu saja Dzakir sedikit malu. Andai saja bukan di hadapan mertuanya pasti Misela sudah habis di lahap olehnya.


"Baiklah Papa akan telpon Doni untuk segera pulang."


Tak butuh waktu lama untuk Doni sampai di rumah.


"Ka Misel." Suara Doni memasuki rumah dan langsung memeluk Misela. "Ka Misel kesini gak bilang-bilang sih. Ka Misela lama kan disini? Mau Doni ajak jalan-jalan keliling kota Jakarta." Doni begitu antusias dengan kehadiran Misela.


"Hm maaf ya Kaka gak lama disini. Kamu baik-baik aja kan dek?"


"Tentu saja Doni selalu baik."


"Gimana kuliah kamu dek? Harusnya udah semester empat dong sekarang."


Raut wajah Doni terlihat jelas berubah. Doni menatap Zaki dan Sinta.


"Ayo duduk sini. Sebenarnya Kaka udah tau kok kalau kamu terpaksa berhenti kuliah. Nah kenalin dulu dong ini Kaka ipar kamu namanya Ka Dzakir."


Doni dengan antusias bersalaman dengan Dzakir. Mereka saling melepas senyuman.


"Ganteng banget Ka suami Kaka. Serasi sekali dengan Ka Misel yang cantik."


Perkataan Doni membuat gelar tawa.


"Nah dek Ka Dzakir ini mau bayarin biaya kuliah kamu, kamu mau gak kuliah lagi?"


"Serius Ka Dzakir?"


Dzakir mengangguk. Seketika itu Doni langsung memeluk Dzakir dan meneteskan air mata.


"Terima kasih Ka Dzakir. Padahal kita baru kali ini bertemu tapi Ka Dzakir begitu baik."


Dzakir mengelus punggung Doni sebagai tanda balasan pelukan nya.


"Doni mau banget Ka kuliah lagi. Dan Doni janji Doni bakal sungguh-sungguh kuliahnya." Doni melepaskan pelukannya.


"Bagus Doni. Kaka yakin kamu akan jadi orang sukses kelak." Ucap Dzakir dan kembali memeluk Adik iparnya itu.


"Aamiin."


"Ini kartu ATM kamu pegang ya. Pin nya nanti biar di tulis Ka Misela. Ambil juga buat beli kendaraan bermotor supaya kamu gampang buat kesana-kemari."


"Pah, Doni seneng banget Pah." Doni menatap Zaki yang sudah meneteskan cairan bening di pipinya.


"Terima kasih Nak Dzakir." Ucap Zaki.


"Jangan begitu Pa. Kalau Papa bilang terima kasih Dzakir merasa orang asing disini. Bukankah Dzakir sudah jadi anak Papa sekarang?"


Zaki memeluk tubuh menantunya itu yang sudah menjadi malaikat tak bersayap di keluarga nya.


Lagi-lagi sosok Dzakir berhasil membuat hati Misela hanyut dalam kebahagiaan.


...#############...

__ADS_1


__ADS_2