Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 59 Menikah lagi?


__ADS_3

Waktu makan malam tiba. Misela tak berani turun menemui mertua nya karna mereka pasti kecewa seandainya memang dirinya tak bisa mengandung. Bahkan Misela juga tak berani mengatakan kabar buruk itu pada kedua orang tuanya meski kedua orangtuanya sudah tau dari Dzakir.


Misela merasa jadi wanita yang tak berguna saat ini. Hatinya begitu hampa dan kosong. Seakan sudah tak punya tujuan hidup lagi.


Misela mengunci diri seharian di kamar bahkan Dzakir sudah beberapa kali mengetuk pintu namun tak di buka juga.


Ponsel Misela sejak lama bergetar tanda ada panggilan masuk. Namun lagi-lagi di abaikan olehnya karna memang Misela tak mau bicara pada siapapun dan melakukan apapun saat ini.


Sejak kepulangannya dari rumah sakit Misela tak berhenti menangis hingga mata yang cantik itu menjadi bengkak, hidungnya merah bak udang rebus. Misela seperti orang yang telah putus asa dan siap untuk bunuh diri saat ini juga. Untung saja iman yang Misela miliki menahan itu semua.


Brug.


"Hah? Suara apa itu?"


Dari balik selimut Misela merasa sedikit takut dan membuka selimut yang sejak tadi menutupi tubuhnya.


Suara keras di balkon mengagetkan Misela dan mengharuskan bangkit dari kasur empuknya. Rasa penasaran membuat Misela berjalan perlahan dan terpaksa membuka pintu.


"Mas Dzakir?"


"Sayang, pantat ku sakit ini tolong bantu bangun dong."


Ya benar, Dzakir bersusah payah berusaha tiba di lantai dua menuju kamarnya. Entah bagaimana caranya tadi hingga dia terjatuh di balkon kamarnya itu..


"Mas ngapain?"


"Pintunya kamu kunci, ponsel juga gak diangkat. Mas khawatir sayang jadi mas loncat kesini hehe. Sakit nih." Sambil cengengesan dan mengelus pantat Dzakir menatap wajah Misela yang begitu menyedihkan.


Misela langsung memeluk Dzakir. Dia merasa bersalah atas keegoisannya. Dia menyesal tak membuka pintu kamarnya dan berpura-pura tak mendengar apapun.


"Maaf ya Mas. Kamu pasti tau perasaan ku saat ini. Apa yang sakit Mas biar aku obatin? Ada yang berdarah gak Mas?"


Misela mendongak menatap wajah suaminya yang terlihat sedih dan sedikit berkaca-kaca..


"Ini yang sakit sayang. Hati ku yang sakit melihat mu seperti ini."


Dzakir menuntun tangan Misela untuk diletakkan di dadanya.


"Mas... hiks...!" Seketika Misela langsung memeluk Dzakir kembali.


"Sayang, makan yuk! Sejak siang tadi kamu belum makan." Dzakir mengusap punggung Misela.

__ADS_1


"Mas aku belum siap ketemu Abi dan Umi."


"Makannya ada di depan pintu kok, tadi Mas taruh situ biar kita bisa makan romantis berdua di kamar."


"Mas, kenapa kamu begitu baik pada ku Mas. Aku merasa tak pantas untuk mu hiks."


Dzakir kemudian melepaskan pelukan Misela dan memegang kedua pipinya.


"Kamu bicara apa sih... Kamu istri ku. Memang mau Mas mu ini mukulin kamu sayang?"


"Tapi Mas.." Dzakir menempelkan jari telunjuk di bibir Misela.


"Makan yuk, kasian cacing di perut mu udah teriak-teriak tuh."


Memang mereka berdua sempat mendengar suara aneh dari perut Misela. Jadilah Misela tersenyum malu karna suara perutnya.


Dzakir dan Misela pun masuk ke kamar dan duduk di sofa. Tapi Dzakir tak langsung duduk melainkan mengambil makan malam nya di depan pintu yang dia letakkan sebelum menaiki balkon kamarnya.


"Nah ini dia makanan kita. Aku suapin ya." Ucap Dzakir sambil terus bergantian makan hingga makanan mereka habis.


"Mas!" Kata Misela lirih dan menundukkan kepala.


"Iya sayang, kamu butuh sesuatu?" Dzakir membelai rambut Misela yang terurai.


"Astaghfirullah sayang, kenapa kamu bilang begitu? Mas bahkan sedikit pun gak pernah berpikir untuk poligami." Dzakir sedikit meninggi kan suaranya.


"Tapi Mas Umi ingin menggendong cucunya."


"Dengar baik-baik Misela, apa dan bagaimana keadaan mu sekarang dan seterusnya aku hanya akan punya satu istri, yaitu kamu. Sedikit pun aku gak tertarik dengan wanita lain, selain kamu." Lagi-lagi Dzakir meninggikan suaranya.


"Kamu marah Mas?" Misela menangis.


Untuk pertama kalinya memang Dzakir berbicara seperti itu pada Misela. Karena Dzakir memang tak sedikit pun berniat untuk poligami. Baginya Misela itu satu-satunya wanita yang dia cintai.


Dzakir memeluk tubuh Misela dan mencium ujung kepalanya.


"Sayang, maafkan Mas. Bukannya kamu tau jika Aisyah tidak memiliki anak dari Rasulullah. Namun Aisyah menjadi orang yang paling disayang Rasullullah, sampai para sahabat merasakan cinta yang kuat dari Rasulullah kepadanya."


"Itu istri Rasulullah Mas, aku istrimu."


Dzakir tersenyum sambil terus memeluk Misela.

__ADS_1


"Mas cuma memberikan contoh bahwa di dunia ini juga ada wanita yang tak mempunyai seorang anak tapi masih sangat di cintai oleh suaminya."


"Tapi...!"


"Sudahlah jangan di perpanjang. Sampai kapanpun suami mu tidak akan menikahi wanita mana pun titik."


"Mas...!"


"Mas gak mau denger apa-apa lagi dari mu sayang. Mas ngantuk nih, ayo tidur, besok kita harus ke rumah sakit."


Dzakir melepaskan pelukannya dan berbaring di kasur lalu memejamkan mata. Sedangkan Misela masih duduk melamun dengan tatapan tertuju ke luar jendela.


___________


Pagi ini Dzakir dan Misela telah bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Dzakir sudah berpesan pada ke dua orang tuanya bahkan mertuanya untuk tidak khawatir dan tidak ikut menemani Misela berobat.


Dzakir tak mau ada perdebatan atau apapun yang akan membuat Misela sedih. Jadi Dzakir memutuskan hanya dirinya yang menemani Misela.


"Tapi Mas apa Mas nanti gak repot sendirian jagain aku?"


"Mas tak pernah merasa di repotkan oleh istri Mas sendiri."


"Terima kasih ya Mas."


"Iya sayang. Gimana udah siap? Kita jalan sekarang."


"Iya Mas, kita pamit dulu sama Abi dan Umi."


"Iya dong, kita minta doa mereka dulu."


Dzakir dan Misela pun turun dengan membawa satu tas ransel kebutuhan pakaian mereka. Dzakir memutuskan untuk tidak akan pulang sebelum Misela sembuh dan tidak ada yang boleh menjenguk Misela sampai Misela pulang.


Demi kebaikan Misela Dzakir melakukan semua itu. Selain Dzakir takut Misela tiba-tiba serangan panik nya datang Dzakir juga tak mau keluarga nya membuat Misela tak bersemangat untuk sembuh. Kedua orang tua dan mertua nya setuju.


Demi pengobatan intensif Misela juga terpaksa meninggalkan pengukuhan wisuda yang akan di gelar minggu depan karna Dzakir hanya akan fokus untuk kesembuhan Misela.


Setelah berpamitan Dzakir dan Misela menuju rumah sakit yang di rujukan. Sayangnya setelah tiba di rumah sakit itu, pihak rumah rumah sakit justru meminta mereka berobat ke luar negri karna peralatan di sana lebih lengkap.


Dzakir menuruti apa yang dokter katakan dan melakukan perjalanan ke luar negri untuk mendapatkan pengobatan yang terbaik.


...#############...

__ADS_1


...Maaf ya hari ini up satu bab dulu 😁🙏...


__ADS_2