
Setelah sprei kasur di ganti Dzakir melakukan hal yang sama yaitu menggendong Misela untuk kembali berbaring di ranjangnya.
"Maaf ya Mas merepotkan Mas." Misela lagi-lagi hanya bisa bicara sambil menundukkan kepalanya.
"Sayang kenapa kamu harus minta maaf. Kamu istri ku dan sudah seharusnya aku membuat mu nyaman. Jadi jangan selalu minta maaf hanya untuk masalah kecil. Jadilah Misela yang selalu ceria dan tersenyum manis. Tentu nya hanya untuk suami mu ini hehe." Dzakir membelai rambut Misela. "Apa ada lagi yang kamu butuhkan sayang?" Tanya Dzakir.
"Engga kok Mas aku cuma butuh istirahat." Jawab Misela namun dengan raut wajah sedih.
"Sayang jangan sedih ya. Jangan di ambil hati ucapan Umi tadi."
"Loh Mas denger apa yang Umi bilang?"
"Engga sih. Em besok kita akan tinggal di rumah kita sendiri sayang. Jadi hari ini juga kamu harus sehat ya. Minum teh ini. Ini bukan teh biasa loh."
"Hah? Kita gak tinggal disini Mas? Terus Abi dan Umi gak ada temennya dong Mas?"
"Banyak lah kan art disini banyak hehe."
"Mas kenapa kita gak tinggal disini aja. Lagian rumah ini besar. Kasian juga Abi dan Umi kan anaknya cuma kamu aja Mas."
"Gak papa sayang. Biar kita hidup mandiri saja. Mas gak mau nanti terlalu merepotkan mereka. Bukannya kita akan lebih bebas jika di rumah sendiri kan?"
"Iya Mas aku ikut aja apapun ke putusan Mas."
"Ayo minum dulu teh nya mumpung masih anget."
"Iya Mas."
"Sini kakinya Mas pijit. Begini-begini Mas mu ini pandai loh dalam hal memijit hehehe."
"Gak perlu Mas harusnya kan aku yang mijitin kamu Mas ini malah sebaliknya."
"Gak papa itu bukan masalah besar sayang. Cepet ulur kan kakinya."
Dzakir pun dengan sabar memijat kaki istrinya. Lama Dzakir memijat kaki Misela hingga Misela pun tertidur pulas. Dzakir pun meninggalkan Misela di kamar sendiri.
Walaupun status nya sekarang adalah pengantin baru tentu saja Dzakir masih harus melakukan pekerjaan yang beberapa hari tertunda. Dan Dzakir pun masuk ke ruang kerja yang ada di sebelah kamar tidur nya.
Hingga menjelang waktu Dzuhur Misela tertidur dengan sangat lelap dan Dzakir yang menyadari waktu sudah siang bergegas kembali ke kamar karna Misela bahkan belum makan satu suap pun sejak pagi.
"Astaghfirullah kenapa aku bisa lalai begini. Harusnya tadi aku suruh sarapan dulu ini malah udah waktunya makan siang istri ku belum makan satu suap pun."
Dengan terburu-buru Dzakir masuk kamar. Dilihatnya seorang wanita cantik yang masih memejamkan matanya.
"Padahal dia bilang selalu mengigau kalau tidur. Tapi aku rasa istri ku sangat nyaman dengan kasurnya."
Dzakir tak sengaja menutup pintu dengan bersuara hingga membangun kan Misela dari tidurnya.
Misela pun menggeliat lalu mengucek matanya. Pemandangan itu membuat Dzakir berpikir yang aneh-aneh.
"Benar-benar tubuh istri ku ini membuat benjolan keras semakin keras kalau begini." Bathin Dzakir.
"Mas udah jam berapa ini?" Tanya Misela dengan suara manja.
"Masih jam sembilan kok. Sayang gimana badannya udah enakan?" Dzakir ikut tidur di sisi Misela dan menutup tubuhnya menggunakan selimut yang sama dengan Misela.
Misela kembali menggeliat dan membuat Dzakir makin tak tahan dengan gerakan Misela.
__ADS_1
"Kok aku ngerasa tidur udah lama banget ya Mas. Tapi badan ku udah membaik sih Mas."
Dzakir lalu mendekati Misela dan bertingkah manja seolah memberikan isyarat untuk melakukan sesuatu.
"Iihh kamu kenapa Mas mepet-mepet gitu? Aku bau asem tau." Tentu saja Misela masih polos dengan hal aneh yang di lakukan Dzakir.
"Sayang bubu lagi yuk. Biar badan mu makin seger saat bangun nanti." Kata Dzakir sambil menempelkan pipinya di pipi Misela. Bahkan Dzakir sampai lupa lagi kalau dia mau mengajak Misela makan.
"Aku udah gak ngantuk Mas. Rasanya pengen mandi dan berendam air anget." Jawab Misela dan lagi menggeliat.
"Abis ini ya mandinya." Dzakir makin bertingkah aneh dan manja.
"Abis ini apa sih Mas?" Jawab Misela dengan segala kepolosan nya.
"Aduh sayang Mas gak tahan nih kita lakukan sekali lagi ya Mas bakal pelan-pelan banget pokoknya." Rayu Dzakir yang sudah merasa kan hawa yang aneh di tubuhnya.
"Hah maksudnya itu lagi Mas?"
Dzakir mengangguk dengan memelas pada Misela.
"Tapi Mas..."
Dzakir sudah benar-benar tak kuat hati menahan diri dari rasa yang entah harus di ungkapkan dengan kata-kata apa tapi Dzakir langsung melahap bibir manis Misela dengan sangat lembut dan halus.
Misela tak menolak Sambaran Dzakir karena setelah bibir mereka bertemu Misela juga merasakan gelagat aneh ditubuhnya hingga semuanya berakhir dengan sebuah keberhasilan.
Dan tibalah adzan Dzuhur berkumandang yang membuat Misela terkejut setengah mati.
"Astaghfirullah itu adzan Dzuhur atau adzan ashar Mas?" Tanya Misela sambil membuka selimut yang menutupi wajah nya.
"Ya ampun Mas katanya tadi masih jam sembilan ini kok udah adzan Dzuhur Aku belum sholat Dhuha lo Mas tadi."
"Gak papa kan cuma sunah lagian kamu kan sakit tadi."
Dzakir menjawab dengan santainya tanpa membuka mata sedikit pun.
"Mas kok gitu sih walaupun sunah selama ini aku gak pernah ninggalin sholat Dhuha kecuali sedang haid."
"Tadi Mas sudah sholat kok jadi sama aja kan kita sudah menikah ibadah kita untuk kita bersama."
"Bisa gitu?"
"Ya bisa aja dong hehe sudah kamu mandi duluan ya sayang Mas mau berbaring sebentar. Terima kasih ya Mas puas banget ini. Kalau udah selesai bangunin ya sayang. Kamu berendam air hangat nya yang lama aja." Dzakir langsung tidur pulas.
Misela pun menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu memakai dasternya dan berjalan ke kamar mandi.
Seperti yang dia inginkan Misela berendam air hangat untuk menyegarkan badannya.
Setelah lebih dari dua puluh menit Misela pun menyelesaikan mandinya dan memakai handuk yang hanya melilit di bagian dada sampai lutut saja. Sekarang Misela sudah tidak merasa malu jika tubuhnya dilihat oleh suaminya.
Misela pun berjalan mendekati Dzakir yang masih tertidur dan membangunkan nya.
"Mas bangun ayo sholat berjamaah."
"Emh lima menit lagi ya sayang."
"Gak bisa Mas ayo bangun sekarang."
__ADS_1
"Masih ngantuk nih."
"Mas jangan gitu ah. Kalau Mas menunda sholat hanya karna ngantuk tiba-tiba Mas bangun sudah di alam kubur gimana coba?"
"Astaghfirullah bener juga. Iya Mas mandi."
Dzakir bangun dari tempat tidurnya dan berdiri tanpa menggunakan apapun.
"Astaghfirullah Mas kok bugil gitu sih gak malu apa?" Misela menutup mata dengan kedua tangannya.
"Ngapain malu sama istri sendiri."
Dengan santainya Dzakir berjalan ke kamar mandi tanpa busana atau pun celana sebelum itu Dzakir dengan sengaja mencubit pipi Misela.
"Mas aku udah wudhu tau kenapa malah di batalin?"
Tapi Dzakir malah cengengesan dan langsung menutup pintu kamar mandi.
"Ya ampun suami ku kadang-kadang emang. Tapi dia manis banget ugh."
______________
Dzakir dan Misela ahirnya keluar dari kamarnya untuk makan siang. Namun setelah mereka melewati ruang keluarga dan sampai di meja makan mereka tak melihat Umi nya sama sekali.
"Umi kemana ya? Biasanya kalau siang gini nonton sinetron di Indosiar loh. Yang lagunya gini 'ku menangiiiiiiiiiisssss membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku, kau...'."
Dengan tangan yang mengayun-ayun Dzakir begitu menghayati lagu di sinetron yang selalu di tonton Umi nya itu. Tapi sebelum lagu itu di teruskan Dzakir mendapatkan cubitan di lengan nya.
"Aw!"
"Hahaha apaan sih kamu Mas hafal banget."
"Tapi lucu tau Umi kalau lihat sinetron di Indosiar. Gak mau diem. Ngomong terus. Begini di komen begitu di komen. Lucu pokoknya."
"Iihh sudah Mas malah ngeledekin Umi sendiri. Ayo ah makan aku laper banget nih."
"Hehe iya sayang kamu mau makan apa?"
"Apa aja yang ada Mas. Aku suka semua makanan kok."
"Yang paling suka nasi goreng ati ampela kan?"
"Iihh Mas inget aja sih."
"Apapun yang di sukai istri ku harus di ingat dengan amat sangat kuat."
"Apa sih Mas lebay banget deh."
"Kan Mas sudah bilang ini lah sifat Dzakir yang sesungguhnya jika bersanding dengan bidadari surga dunia dan akhirat."
"Duh bisa aja ya gombal nya."
"Apapun itu yang penting istri ku bahagia dan sehat selalu."
"Aamiin."
...#################...
__ADS_1