Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 36 Lamaran


__ADS_3

Pagi pun menjelma. Hangatnya sinar matahari sudah bisa dirasakan semua orang yang sudah sibuk dengan aktivitas mereka masih-masing.


Dzakir sudah mondar-mandir tak sabar menunggu waktu keberangkatan untuk melamar sang pujaan hati. Dalam kegelisahan dan ketidaksabaran yang Dzakir rasakan Umi nya pun menghampiri anaknya itu.


"Dzakir kamu benar-benar sudah yakin dengan pilihan mu Nak? Umi gak bisa tidur semalaman mikirin calon menantu Umi." Umi Dzakir pun duduk di sebelah Dzakir.


"Apa yang Umi pikirkan hingga Umi gak bisa tidur semalaman?" Dzakir merangkul pundak Umi nya.


"Umi takut dia bawa kesialan sama kamu Nak. Umi gak mau terjadi hal buruk pada mu Nak. Kamu satu-satunya anak Umi."


"Astaghfirullah Umi gak ada orang pembawa sial. Musibah itu datang dari Allah untuk menguji umatnya Umi bukan berasal dari seorang manusia yang bersanding dengan kita. Istighfar Umi itu sama saja Umi menentang takdir Allah."


"Tapi Dzakir dia berbeda. Umi tetep takut. Kenapa kamu menolak Selyn yang udah jelas asal usulnya Nak. Umi juga sangat menyukai Selyn."


"Umi, bukankah sudah Dzakir jelaskan. Misela adalah wanita pertama yang membuat Dzakir berdebar dan tak berhenti memikirkan dirinya dan lagi Misela adalah wanita yang datang sebelum Dzakir mengenal Selyn bahkan dia adalah asal mula semangat Dzakir untuk hijrah menjadi lebih baik seperti sekarang. Dzakir selalu berusaha memantaskan diri agar bisa bersanding dengannya. Dzakir yang sekarang ini karna Dzakir mengenal Misela Umi. Tidakkah Umi bangga pada calon menantu Umi ini?"


"Entahlah Nak Umi masih kurang yakin. Umi masih takut terjadi hal buruk pada mu Nak."


"Umi jangan memikirkan hal buruk karna sama saja Umi mendoakan Dzakir seperti apa yang Umi pikirkan. Doa Umi kan mustajab buat Dzakir. Umi mau hal negatif yang Umi pikirkan benar-benar terjadi pada Dzakir?"


"Astaghfirullah maafkan Umi Nak."


"Umi, Dzakir yakin Umi akan menyukai nya jika sudah bertemu dengan Misela. Dia begitu menyejukkan untuk di pandang Umi. Auranya sangat beda dengan wanita lain."


"Baiklah Nak Umi akan berusaha menyukai pilihan mu."


"Apa semuanya sudah siap Umi?"


"Sepertinya sudah. Kalau gitu kita berangkat sekarang aja. Semoga Umi bisa benar-benar menyukai Misela seperti Umi menyukai Selyn."


"Aamiin."


Dzakir pun memeluk Umi nya sebentar lalu bergegas keluar rumah untuk mengecek persiapan keberangkatan ke rumah Misela.


"Pak Tejo semua udah siap?" Tanya Dzakir pada kepala ajudan di rumah nya.


"Sudah Den. Kita sudah siap berangkat juga."


"Alhamdulillah Umi ayo berangkat. Eh Abi mana Umi?"


"Tadi masih mau sholat Dhuha katanya. Mungkin masih berdzikir sebenar." Jawab Umi.


"Kayaknya udah benar-benar gak sabar anak Abi ini!" Sahut Abi Dzakir.


"Abi khusyuk banget ya Dzakir nya memang Abi Dzakir pemimpin yang Sholeh. Iya kan Umi?" Goda Dzakir.


"Aamiin. Kamu juga harus jadi imam yang Sholeh." Abi pun menepuk pundak Dzakir. Ayo berangkat katanya udah gak sabar Abi ba'da Dzuhur ada urusan mendadak ini." Kata Abi Dzakir.

__ADS_1


"Iya Abi terima kasih ya." Dzakir tak kuat menahan haru dan memeluk Abi nya.


"Duhh Abi aja yang di peluk kan Umi jadi iri." Ledek Umi Dzakir.


"Udah buruan nanti kesiangan." Kata Abi sambil menggandeng tangan Umi dan Dzakir lalu berjalan bersama menuju mobil.


Dzakir tak membawa satu pun sanak saudara karna Dzakir tak mau merepotkan keluarga Misela. Dzakir hanya membawa dua mobil dan tiga ajudan dan satu supir karna mobil satunya Dzakir sendiri yang menyetir.


________________


Setelah melakukan perjalanan selama dua jam lamanya Dzakir dan keluarga pun tiba di depan rumah Misela. Kedatangan mereka pun di sambut hangat oleh Hanan dan Adelia beserta Aldian sedangkan Misela masih malu-malu bersembunyi di kamar.


Para tetangga yang melihat kedatangan dua mobil Pajero sport dan mobil Alphard terparkir di depan rumah Misela mulai berbisik-bisik. Umi Dzakir yang sempat melihat keadaan itu makin merasa tak enak hati.


Dzakir yang melihat Umi nya melamun karna curiga dengan ibu-ibu yang sedang berbisik pun merangkulnya dan mengajak masuk rumah.


"Umi sudahlah jangan banyak pikiran aneh-aneh. Ayo masuk calon mantu Umi sudah menunggu loh."


Umi Dzakir pun hanya mengangguk dan berjalan menggandeng lengan Dzakir.


"Assalamu'alaikum." Ucap salam Pak Surya.


"Masyaallah wa'alaikumsalam ini benar-benar Pak Surya gubernur Lampung? Masih muda dan gagah ya Bun?" Jawab Hanan sambil bersalaman dengan Abi Dzakir.


"Alhamdulillah Pak Hanan bisa saja hahaha." Sahut Pak Surya.


"Masyaallah rumahnya sejuk dan nyaman dengan AC alami hahaha." Jawab Pak Surya dengan gelar tawa bahagia.


Tak lama kemudian Misela pun keluar dari kamarnya lalu bersalaman dengan kedua orang tua Dzakir.


"Masyaallah Umi calon mantu kita cantik sekali." Sanjung Pak Surya.


"Cantik Umi apa cantik mantu mu Pak?" Ejek Umi Dzakir.


"Hahaha Umi adalah wanita paling cantik di hati Abi dan Misela adalah wanita paling cantik di hati Dzakir." Jawab Pak Surya seketika membuat semua orang tertawa dan membuat Misela tersipu malu.


Setelah semuanya duduk lesehan di ruang keluarga Pak Surya pun memulai acara lamaran tersebut.


"Pak Hanan maksud kedatangan kemari yang pertama adalah silahturahmi dan saling mengenal satu sama lain. Yang kedua kedatangan kami kemari adalah untuk melamar Nak Misela untuk anak kami Mudzakir Alfaruq dan untuk kami jadikan menantu di keluarga kami. Sekiranya maksud dan tujuan kami kemari apakah di terima atau di tolak?" Begitulah kata Pak Surya.


"Alhamdulillah terima kasih banyak atas kedatangan Pak Surya sekeluarga yang mau jauh-jauh datang ke gubuk kami ini. Kami sangat senang kita semua bisa silahturahmi. Dan kami juga dengan senang hati menerima lamaran Pak Surya untuk Pak Dzakir eh maksudnya Nak Dzakir." Jawab Hanan seketika membuat mata Dzakir berkaca-kaca.


"Alhamdulillah terima kasih Pak Hanan. Mohon maaf kami hanya membawa seserahan yang ala kadarnya." Kata Pak Surya.


"Kami tidak mengharapkan apapun selain kebahagiaan anak kami Pak Surya." Jawab Hanan.


Umi Dzakir pun memberikan sekotak perhiasan yang berisi kalung berlian pada Misela.

__ADS_1


"Diterima ya Nak. Semoga kamu suka ini Umi sendiri yang pilihkan." Kata Umi Dzakir sambil membelai ujung kepala Misela.


"Alhamdulillah Umi apapun yang Umi berikan Misela pasti suka Umi. Terima kasih banyak." Jawab Misela dan mereka pun saling berpelukan.


Dzakir makin berkaca-kaca melihat Umi dan calon istrinya itu berpelukan.


"Berikan lah kasih sayang pada mereka ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang." Bathin Dzakir dalam hati.


"Dan untuk acara resepsi pernikahan bagaimana Pak?" Tanya Pak Surya pada Hanan.


"Kami tidak mengadakan resepsi Pak. Kami bisa melihat anak kami Misela ijab qobul saja kami sudah sangat senang." Jawab Hanan.


"Jadi besok ijab qobul di lakukan disini ya Pak." Pak Surya kembali bertanya.


"Semuanya saya serahkan pada Nak Dzakir dan keluarga. Kami tidak menginginkan hal yang mewah yang penting sah." Jawab Hanan.


"Barakallah terima kasih banyak Pak Hanan. Ajudan kami akan mengurus semua urusan surat menyurat yang di butuhkan besok."


"Kami yang berterima kasih Pak Surya karna sudah mau menerima anak kami hiksss..." Hanan tiba-tiba menangis karna sudah tak tahan dengan rasa haru sejak tadi.


"Jangan begitu Pak kami sangat senang bisa bersilaturahmi seperti ini. Semoga anak kita bahagia dunia akhirat Aamiin."


Acara lamaran itu pun berjalan dengan lancar. Dan setelah selesai dilanjutkan dengan makan bersama.


"Saya mohon ijin membawa Misela ke butik di Metro ya Pih untuk memilih baju pengantin." Ucap Dzakir.


"Iya Nak Dzakir." Jawab Hanan.


Keluarga Dzakir pun berpamitan pulang karna Pak Surya buru-buru harus menghadiri suatu acara.


Dzakir dan Misela naik di mobil yang sama dengan satu supir karna Abi tak mengijinkan Dzakir bulak-balik menyetir mobil sendiri sedang Abi dan Umi nya di mobil satunya dan pulang berbeda arah dengan Dzakir.


Dzakir duduk di depan bersama supir sedangkan Misela duduk di belakang sendiri.


"Abi gak ngerti banget dah pengen berduan malah begini jadinya." Gerutu Dzakir sambil melirik Misela.


"Tuan besar khawatir Den kan Aden nanti harus pulang nganterin nona dan pulang lagi ke rumah." Sahut Pak Tejo supir Dzakir.


"Bener itu Mas. Lagian berduaan kan gak baik Mas nanti yang ketiga setan." Sahut Misela.


"Noh setannya lagi nyetir." Kata Dzakir masih dengan nada kesal.


"Hahahaha."


Pak Tejo supir Dzakir hanya tertawa menanggapi perkataan tuannya itu. Begitu juga Misela hanya senyum-senyum.


...###################...

__ADS_1


__ADS_2