Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 60 Kembali Pulang


__ADS_3

Hari sudah berganti minggu, bulan dan tahun dengan begitu cepatnya. Kali ini genap satu tahun sudah Dzakir dan Misela di luar negri untuk pengobatan.


Bagai di telan bumi, selama itu pun Dzakir dan Misela tak ada kabarnya sama sekali. Dzakir benar-benar tak meninggalkan jejak untuk diketahui dan menutupi oleh siapapun kemana dan dimana mereka berada. Tapi syukurnya semuanya berjalan lancar sesuai harapan Dzakir.


Dzakir sangat fokus pada kesehatan Misela hingga benar-benar pulih dan tak merasakan rasa sakit sedikit pun karna Dzakir sangat tersakiti melihat proses pengobatan Misela selama ini. Tapi masa-masa itu sudah terlewati dengan baik.


Misela berhasil mengatasi semua rasa sakit yang begitu sakit itu dengan sempurna. Bahkan Misela tak menyangka jika dirinya bisa sembuh total seperti sekarang. Dan juga harapan untuk hamil sangat besar. Apalagi Dzakir juga ikut program hamil anak kembar. Semuanya sudah di konsultasi dengan dokter spesialis kandungan. Dan kemungkinan berhasil sembilan puluh persen.


Saat ini mereka sedang menikmati masa-masa yang membahagiakan. Menikmati waktu berduaan layaknya dua kasih yang sedang berpacaran. Wajar saja karna selama ini mereka hanya tinggal di rumah sakit karna perawatan intensif Misela.


"Sayang, kamu siap untuk kembali lagi ke Indonesia?" Tanya Dzakir sambil membelai lembut Misela yang sedang tidur di pangkuan nya.


"Entahlah Mas, kenapa aku begitu nyaman tinggal disini sama kamu. Kita melewati satu tahun disini tapi aku merasa baru kemaren ya kita kesini. Tapi aku juga rindu sama Umi dan Bunda Mas. Kita sama sekali gak kasih kabar mereka." Jawab Misela yang langsung bangun dan duduk setelah mendengar pertanyaan Dzakir.


"Apa kita mau tinggal disini sebentar lagi sayang?"


"Emh engga deh Mas, kita udah ngabisin banyak uang disini."


"Uang ku masih cukup sayang untuk kita disini."


"Sombong amat suami ku."


"Hehe kan demi kamu sayang. Apapun itu asal kamu bahagia aku akan melakukan nya kecuali meninggalkan mu. Oiya nanti kita langsung pindah aja ya sayang ke rumah baru kita. Kita hidup mandiri. Rencananya Mas mau ngajak Bik Sum buat nemenin kamu tinggal di rumah baru. Dan Mas udah bilang buat Bik Sum cari temen juga biar gak terlalu capek."


"Mas!"


"Iya sayang, kamu butuh sesuatu?"


"Aku sangat berterima kasih atas apa yang telah kita lalui selama ini. Hari-hari ku terasa sangat sempurna dan kamu tak sedetikpun meninggal kan ku dalam sebuah penderita. Kamu begitu sabar hingga sekarang Mas. Terima kasih banyak ya."


"Untuk apa berterima kasih sayang, kan sudah ku bilang aku melihat mu bahagia saya sudah sangat senang."


Dzakir mencium pipi Misela.


"Kamu benar-benar suami yang sholeh Mas. Semoga kamu selalu di beri kesehatan dan rejekinya yang terus menerus mengalir Mas, Aamiin."


"Aamiin sayang. Terima kasih ya doanya. Doa mu sangat berarti sayang."


"Iya Mas, semoga kebahagiaan juga selalu ada dalam keluarga kita ya Mas."

__ADS_1


"Iya sayang, Aamiin. Besok ya kita kembali ke Indonesia?"


"Terserah kamu saja Mas. Kalau memang urusan disini sudah selesai sebaiknya kita segera pulang. Aku juga merasa rindu sekali sama bunda sama Umi apalagi sama Erlina."


"Iya sayang, Mas urus keberangkatan kita besok ya? Sekarang kamu istirahat ya sayang."


"Benerkan istirahat? Gak kamu ganggu kan Mas?"


"Enggalah, kita kan sudah ikut program hamil jadi insyaallah Mas gak akan ituin kamu sering-sering hehehe semoga berhasil ya sayang?"


"Aamiin Mas."


Dzakir kembali mencium Misela, namun kali ini di bibir nya yang sangat membuat Dzakir candu tanpa sedikitpun bosan.


"Tuh kan?"


"Hehehe cuma sedikit doang loh."


"Ya udah aku ke kamar dulu ya Mas."


"Iya sayang."


_______________


"Assalamu'alaikum." Salam Misela dan Dzakir serempak membuat Abi dan Umi nya sangat terkejut.


"Wa'alaikumsalam. Masyaallah anak-anak Umi." Umi langsung berlari menghampiri Dzakir dan Misela.


Mereka pun saling berpelukan satu sama lain.


"Ayo cepat masuk Nak cepat duduk. Kalian punya hutang penjelasan pada Abi dan Umi." Terlihat Umi Dzakir sedikit kesal karna tak ada kabar selama satu tahun lamanya.


Dzakir dan Misela saling menatap dan tersenyum. Mereka lalu duduk dan menceritakan semua yang mereka lalui selama satu tahun di luar negeri.


"Jadi Umi bener-bener akan punya cucu kan?" Suara Umi yang lantang dan menekan membuat Misela tersenyum lebar.


"Insyaallah Umi semoga segera ya." Sahut Misela.


"Umi bener-bener akan punya cucu kan?" Tanya nya lagi.

__ADS_1


"Umi, tolong sabar ya Umi. Kita sudah berusaha dan hasilnya hanya Allah yang berhak atas itu semua." Jawab Dzakir.


"Tapi Dzakir, kamu kan tau kondisi Umi." Kata Umi nya sinis.


"Untuk itu demi cucu Umi mulai sekarang Umi harus ikutin apa kata dokter supaya Umi sehat terus dan bermain dengan cucu-cucu Umi nanti." Sahut Pak Surya.


"Benar Umi. Umi jangan terlalu menekankan kami untuk segera punya momongan. Karna itu semua atas kehendak Allah." Ujar Dzakir.


"Iya iya Umi minta maaf." Jawab Umi yang kembali sinis.


"Yang penting sekarang kan menantu kita ini udah sehat, udah gak kesakitan lagi, bukankah kita harusnya bersyukur Umi?" Kata Pak Surya.


"Iya Umi bersyukur kalian sudah kembali. Semoga Umi segera punya cucu."


Pak Surya dan Dzakir menggeleng kan kepalanya. Sedangkan Misela tak mempermasalahkan perkataan Umi nya.


"Oiya Umi, kita mau langsung pindah ke rumah yang baru. Semuanya sudah beres dan sudah siap huni. Dzakir juga mau ajak Bik Sum tinggal di rumah kami supaya saat Dzakir kerja Misela ada temennya." Kata Dzakir.


"Loh, kalian ini baru juga dateng udah mau pergi lagi sih. Memang Misela maksa kamu buat cepat-cepat pindah?" Jawab Umi.


"Ini murni keputusan Dzakir Umi. Kalau Misela inginnya memang tinggal disini, tapi Dzakir mau tinggal mandiri. Lagian rumah itu juga untuk Misela. Kan rumahnya juga gak jauh dari sini Umi. Cuma setengah jam aja. Umi bisa dateng kapan aja kok." Sahut Dzakir.


"Iya tapi kan Umi sendirian lagi dong. Kalian udah ninggalin Umi setahun lamanya dan ini baru dateng langsung pindah gak nginep dulu." Lagi-lagi nada sinis Umi membuat Dzakir harus lebih sabar menjelaskan.


"Umi, mereka sudah punya rumah sendiri. Dan juga memang lebih baik mereka tinggal disana dari pada disini." Sahut Pak Surya.


"Abi kok gak belain Umi sih. Abi selalu saja belain Dzakir." Umi mendengus kesal.


"Abi gak bela siapa pun Umi. Tapi bukankah memang sepantasnya mereka tinggal mandiri." Kata Pak Surya.


"Ya udah deh terserah kalian aja. Abi dan anaknya memang selalu satu pemikiran kan. Mana bisa Umi membantah kata-kata kalian."


"Umi, jangan begitu ya, Umi kan bisa main tiap hari nanti." Kata Misela menggenggam tangan ibu mertua nya.


"Iya iya Umi ngerti."


"Terima kasih Umi atas pengertiannya. Doakan kami agar kami selalu bahagia ya. Doa Umi itu sangat penting."


"Iya, Umi juga ingin kalian bahagia."

__ADS_1


Ahirnya perdebatan itu pun selesai.


...#############...


__ADS_2