
"Assalamu'alaikum Misela."
Dzakir menyapa Misela yang hendak menuju kelasnya di lantai tiga.
"Wa'alaikumsalam Pak. Maaf saya buru-buru. Saya permisi dulu assalamu'alaikum." Tapi Misela langsung menundukkan kepalanya dan menaiki anak tangga. Lagi-lagi Misela menghidari Dzakir.
Dzakir masih tak menyerah dan menunggu Misela hingga selesai mata kuliah. Saat Misela keluar dari kelas Dzakir mengikuti nya hingga ke parkiran dan menahan Misela yang hendak pulang bersama adiknya Aldian.
"Misela. Tolong tunggu dulu. Saya ingin bicara sebentar. Kenapa kamu gak tinggal di rumah Pak Cipto lagi?" Tanya Dzakir.
"Saya tidak punya alasan untuk tinggal disitu lagi Pak. Adik saya siap anter jemput saya. Dan lagi tolong jaga jarak kita. Bapak ini dosen dan saya mahasiswa bahkan seorang janda jadi saya harap Bapak tidak terus-menerus mengikuti saya." Jawab Misela tanpa expresi di wajahnya.
"Tapi Misela saya kan Dosen pembimbing kamu. Kenapa kamu tak mau bimbingan skripsi. Kamu bisa saja tidak lulus." Dzakir hendak menyangkal namun Misela lagi-lagi membantah.
"Maaf sekali lagi Pak, tapi saya sudah bicarakan hal ini dengan kepala rektorat kalau saya minta ganti pembimbing dan sudah disetujui. Kami harus segera pulang takut kesorean di jalan." Kata Misela dan naik di belakang Aldian.
"Maaf Pak kami permisi dulu assalamu'alaikum." Sapa Aldian.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Dzakir dengan sebuah rasa kecewa yang mendalam.
Dzakir merasa sangat jauh dari Misela sekarang. Dzakir benar-benar seperti orang asing di mata Misela. Bahkan Misela benar-benar tak mau bimbingan skripsi lagi dengan dirinya melainkan hanya dengan Pak Ilham saja.
Perasaan Dzakir sekarang sudah sangat mirip dengan saat dimana ta'aruf nya di tolak oleh Misela. Hancur dan hampa lalu ingin pergi sejauh mungkin.
Dzakir masih sangat bertanya-tanya kenapa Misela bisa sangat berubah pada dirinya. Sebelumnya Misela menuruti apa yang di katakan Dzakir.
Dzakir pun pulang ke rumah dan termenung di depan televisi. Sambil memegang repot TV dengan tatapan kosong Dzakir menekan terus menerus Chanel TV tersebut hingga mengundang Pak Surya menghampiri dirinya.
"Seperti nya ada yang sedang patah hati di rumah ini." Sapa Pak Surya pada Dzakir lalu duduk di sebelahnya.
"Eh Abi tumben di rumah Bi." Jawab Dzakir yang terkejut dengan kedatangan Pak Surya.
"Abi kan di rumah udah sejak satu jam lalu. Kamu kenapa sampai gak tau Abi pulang tadi. Ada masalah dengan Selyn?"
"Em Abi haruskah Dzakir menikahi Selyn jika Dzakir tak mencintai dirinya?"
"Abi tak pernah memaksa kan kehendak Abi, kamu tau kan? Jika kamu tak menyukai Selyn kenapa kamu harus menikahinya. Abi takut kamu bahagia karna terpaksa. Abi tak mau hal itu terjadi. Apa kamu menyukai wanita lain hingga kamu melamun seperti ini?"
"Maafkan Dzakir Bi, Dzakir memang sejak dulu sudah menyukai gadis lain. Dzakir hanya menganggap Selyn seorang adik. Dzakir sudah berusaha menyukai Selyn namun tak pernah ada perasaan apapun padanya."
__ADS_1
"Tak apa Nak, asalkan kamu harus memberikan Selyn pengertian supaya hubungan mu dengan gadis yang kamu sukai tak menjadi masalah untuk kedepannya. Kamu tau sifat Selyn kan? Abi takut dia berbuat macam-macam untuk merusak hubungan kalian."
"Tapi Bi dia bukan seorang gadis lagi."
"Maksud mu dia sudah punya suami? Jangan bertindak bodoh Nak. Kamu memang bisa dapatkan gadis mana pun. Tapi jangan yang sudah bersuami."
"Bukan Bi, maksudnya wanita yang Dzakir sukai ini sudah jadi seorang janda."
"Apa kamu serius dengan keputusan mu?"
"Bukankah ada yang mencontohkan hal tersebut Bi, menikahi janda bukanlah hal yang perlu di permasalahkan bukan? Apalagi dia masih menjaga kehormatan nya."
"Baiklah Abi percaya pilihan anak Abi. Segera bawalah dia kemari. Abi ingin lihat wanita yang membuat anak Abi ini tergila-gila padanya."
"Itu dia masalahnya Bi. Dzakir masih ragu."
"Dia tidak menyukai anak Abi yang begitu tampan dan Sholeh ini?"
"Abi kesholehan seseorang itu tidak bisa di ukur oleh mata manusia. Dzakir masih banyak kekurangan."
"Iya iya ustadz Dzakir. Jadi apa yang bisa Abi bantu agar wanita ini klepek-klepek sama anak Abi? Dia suka apa biar Abi belikan apa yang dia mau dan dia suka."
"Abi percaya kan semuanya pada mu Nak. Jangan lupa mintalah pada yang maha pemberi segala-galanya. Abi mendoakan yang terbaik untuk mu. Besok Abi akan bicarakan masalah kalian dengan Ayah nya Selyn tapi kamu sendiri juga harus bicara baik-baik dengan Selyn. Abi tak mau terjadi hal buruk ke depannya ya."
"Terima kasih banyak Abi. Terima kasih supportnya. Sekarang Dzakir jadi makin yakin untuk membawanya ke rumah ini."
"Kejarlah cinta mu dan hiduplah bahagia. Jangan lupa Abi semakin tua Abi ingin bermain dengan cucu-cucu Abi dan pensiun dari politik."
"Insyaallah Abi."
"Ayo kita makan malam. Jangan menyiksa dirimu. Ingat Allah tak suka manusia yang seperti itu."
"Iya Bi Dzakir juga laper hehe."
Abi dan anak itu pun berjalan bersama menuju meja makan.
_____________
Ke esokan harinya sesuai rencana Dzakir membuat janji dengan Selyn di sebuah cafe di tengah kota Metro.
__ADS_1
Dengan penampilan sederhana Dzakir melajukan mobil sedan nya menuju cafe yang mereka janjikan.
Tiba di tempat tujuan dengan senang hati Selyn menyambut Dzakir dan hendak menggandeng lengannya namun di tolak secara halus oleh Dzakir.
"Maaf aku masih menjaga wudhu ku."
Selyn pun memanyunkan bibirnya.
"Mas kenapa sih kita gak bisa kayak dulu. Waktu kamu belum jadi ustadz dan dosen begini aku bisa bebas pegang kamu. Sekarang di masakin lagi puasa di pegang jaga wudhu." Selyn menggerutu pada Dzakir lalu duduk dengan tangan terlipat.
"Maafkan aku Selyn. Insyaallah aku sudah nyaman begini. Bahkan aku sangat menyesali masa lalu ku. Kamu sudah pesan sesuatu?" Tanya Dzakir.
"Belum aku takut kamu puasa lagi Mas. Mau pesan sekarang? Mau pesan apa Mas?" Selyn kini berubah menjadi semangat lagi.
"Kamu tau apa yang aku suka." Jawab Dzakir.
"Oke es kopi dengan creamer sama kentang goreng ya. Kamu mau makan ayam bakar Mas?"
"Engga perlu itu aja cukup."
Selyn pun memanggil waiters dan memesan makanan.
"Oiya Mas tumben ngajak ketemu di luar begini? Pasti penting ya?" Selyn sudah sangat penasaran dengan pertemuan mereka.
"Selyn aku harus to the poin atau basa-basi dulu?"
"Langsung aja deh Mas aku udah penasaran banget nih."
"Selyn maukah kamu melupakan ku dan menjalin hubungan baru tapi bukan dengan diri ku?"
"Apa? Kamu bercanda Mas? Perjodohan kita sudah di setujui kedua orang tua kita bahkan sejak aku baru masuk kuliah. Aku sudah menunggu mu lima tahun Mas kamu tau itu."
"Selyn maafkan aku tapi sampai saat ini aku belum bisa menyukai mu. Aku takut gak bisa bahagiain kamu setelah menikah nanti."
"Bukannya cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu Mas Dzakir?"
Dzakir diam. Dia menundukkan kepala dan menarik nafas dalam.
"Sekali lagi maafkan aku Selyn."
__ADS_1
...################...