Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 19 Janda Kembang


__ADS_3

HAPPY READING READER YANG BUDIMAN.


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA BIAR AKUH MAKIN SEMANGAT 😀


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


Satu bulan telah berlalu. Kali ini Misela sudah melepaskan penyangga patah tulang di tangannya. Misela sudah bisa beraktivitas ringan misalnya mengetik di laptopnya atau pun makan sendiri. Untuk mengendarai motor dia belum berani karna masih di larang oleh dokter.


Hari ini adalah panggilan pertama nya di pengadilan agama yang letaknya di gunung sugih. Misela sengaja menghadiri panggilan tersebut karna ini segera menyesuaikan urusannya dengan Rangga walau sebenarnya dia malu karna usia pernikahan nya bahkan belum seumur jagung.


Aldian dengan sigap menemani Misela karna Aldian juga ingin Kaka nya itu segera menemukan kebahagiaan.


Tak di sangka sidang itu berjalan begitu lancar dan sesuai dengan angan-angan Misela. Alasan demi alasan dan penjelasan Misela diterima oleh hakim lalu memutuskan bahkan hari ini juga mereka resmi bercerai dan Misela resmi menyandang status sebagai seorang janda kembang.


Rangga terlihat begitu lunglai saat persidangan karna di cerca dengan banyak pertanyaan dari jaksa. Bahkan dia makin terlihat menyesal setelah hakim mengetuk palu dan mensahkan perceraian nya dengan Misela.


"Misela, apa kamu yakin kita gak bisa mulai semuanya lagi dari awal?" Begitu kata Rangga saat keluar dari ruang sidang.


"Mas Rangga, menurut apa yang harus kita mulai lagi? Tentang perselingkuhan mu atau tentang sikap kasar mu?"


"Misela maksudnya..."


"Mas Rangga aku pamit dulu ya. Aku sudah memaafkan semua perbuatan Mas Rangga. Aku bukan orang yang pendendam. Dan aku doakan Mas Rangga bisa bahagia dengan pilihan Mas Rangga sekarang yaitu Nindi."


Misela pun berpaling dari Rangga namun Rangga mengejarnya dan menarik pergelangan tangan Misela.


"Lepaskan?" Kata Aldian.


Rangga pun langsung melepaskan tangannya.


"Jangan kau sentuh sedikit pun bagian tubuh Kaka ku. Atau akan ku patahkan tangan mu. Belum puas kamu nyakitin hatinya?" Bentak Aldian. Asal tau Aldian juga seorang atlit beladiri yang sudah pernah menyandang juara satu tingkat provinsi.


"Mas Rangga tolong jangan begitu lagi. Kita sudah bukan mahram. Mas Rangga udah gak bisa seenaknya memegang bagian tubuhku. Hati-hati dijalan Mas. Assalamu'alaikum."


Aldian dan Misela pun bergegas pergi ke parkiran lalu pulang. Sedangkan Rangga hanya terdiam menatap punggung wanita yang telah dia sia-siakan.


Sekarang pasti makin banyak yang melirik Misela karna aura janda memancar membuat Misela semakin terlihat paras cantiknya apalagi Misela masih seorang yang menjaga kehormatan nya.


Padahal Misela tak pernah memakai riasan berlebihan. Hanya bedak tipis dan lipstik warna nude dan terkadang warna peach. Apalagi tampilan Misela yang selalu syar'i pasti banyak yang akan menggodanya.


Tak banyak yang Misela pikirkan apalagi tentang hal yang penting seperti itu. Misela bertekad untuk serius dengan skripsi dan kuliah nya.


Tring


Tring


Pesan masuk WhatsApp di ponsel Misela terus saja berbunyi sejak Misela di perjalanan pulang dari kantor pengadilan agama.


Misela tak langsung melihat ponselnya. Badannya terasa capek ahirnya merebahkan diri di kasur dan tertidur.


Tok


Tok


Suara ketukan pintu membuat Misela terbangun.


"Nak kamu tidur ya?" Kata Adel.


"Iya Bunda ada apa?" Jawab Misela sambil menarik badannya karna masih mengantuk.

__ADS_1


"Kamu belum sholat dhuhur loh."


"Astaghfirullah jam berapa ini Bunda?"


"Sudah jam dua cepetan sholat."


"Astaghfirullah Misela selama itu tidur siangnya? Kenapa gak bunda bangunin Misela dari tadi."


"Bunda gak tega. Udah kamu buruan sholat."


"Iya bunda makasi ya udah ingetin."


Misela pun bergegas menjalankan kewajibannya sebagai muslimah yang taat.


Tiga puluh menit sudah Misela di pesolatan. Misela merapikan alat sholat lalu ke dapur dan makan siang.


"Ka, kapan masuk kuliah?" Tanya Aldian.


"Besok." Jawab Misela sambil menikmati makanan nya.


"Tapi aku gak bisa lo kan anter jemput Kaka tiap hari."


"Em Kaka kos aja nanti."


"Maaf ya Ka."


"Tumben."


"Ya kan Al gak bisa bantuin Kaka ya Al minta maaf lah."


"Iya dek gak papa lagian Kaka juga harus lebih fokus biar bisa ikut yudisium awal."


"Semangat ya Ka hehe."


Misela pun selesai makan lalu kembali ke kamar tidur nya dan mengecek ponselnya.


"Lima puluh pesan masuk? Dari siapa aja sih?"


Misela pun menekan aplikasi WhatsApp nya.


"Haaaa?"


Misela menganga mendapati satu nama yang mengirimkan pesan paling banyak yaitu Dosen Dzakir.


"Assalamu'alaikum."


"waktunya lepas penyangga ya?"


"Oiya kapan sidang perceraian kamu?"


"Misela gimana sidang kamu? Kata Erlina hari ini?"


"Kenapa gak di balas?"


"Kamu masih belum pulang sidang?"


"Sibuk?"


"Oy...bales."

__ADS_1


"Bales atau skripsi mu gak selesai?"


"Kamu mulai ke kampus kapan?"


"Pesan ini telah di hapus."


"Pesan ini telah di hapus."


"Kamu belum pulang sidang jam segini?"


"Bales jangan buat saya khawatir."


"Pesan ini telah di hapus."


Begitulah sebagian pesan dari Dzakir. Misela hanya bisa menghela nafas panjang. Sejak satu bulan terakhir Dzakir memang sangat aktif mengirim kan pesan walau hanya sekedar menanyainya sudah makan atau sudah sholat belum. Padahal Dzakir bukan lah seorang remaja lagi yang mengirimkan pesan tak penting begitu.


Namun Misela selalu menyambut pesan tersebut dengan sebuah senyuman.


Misela pun memasuki ruang obrolan dan membalas pesan Dzakir.


"Wa'alaikumsalam maaf Pak baru balas. Tapi saya bingung mau menjawab yang mana dulu. Saya besok mulai masuk kuliah dan rencana mau kos di dekat kampus."


Tak butuh waktu lebih dari satu menit. Pesan yang Misela kirim sudah mendapatkan balasan. Namun bukan balasan pesan melainkan panggilan suara yang masuk.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam Pak. Kenapa malah telpon?"


"Saya gak sabar mengetik pesan setelah puluhan pesan saya kamu abaikan."


"Maaf Pak saya gak pegang handphone sejak tadi."


"Oiya Jangan kos kamu tinggal aja dirumah Pak Cipto dosen Bahasa Arab. Kamu tau kan rumah nya yang di belakang kampus?"


"Kenapa saya harus mengikuti perintah bapak?"


"Karna saya khawatir. Kamu juga gak perlu bayar uang kos. Pak Cipto sedang cuti kerja dan satu keluarga pergi ke Yogyakarta untuk waktu yang cukup lama."


"Terus?"


"Terus kamu tinggal aja disitu biar enak dan rumah gak sepi karna Pak Cipto meminta saya untuk mencari kan mahasiswa yang butuh tempat tinggal untuk tinggal disitu selama beliau pergi."


"Gak enak saya Pak. Kan beliau bukan dosen saya lagi."


"Pak Cipto kan minta supaya rumahnya ada yang merawat. Kamu bisa ajak beberapa teman mu tinggal disitu."


"Serius Pak?"


"Seribu rius."


"Baiklah Pak saya akan tinggal di rumah Pak Cipto."


"Bagus. Sampai ketemu besok pagi. Assalamu'alaikum."


Tut


Tut


Telpon terputus begitu saja sebelum Misela menjawab salam dari Dzakir. Seperti Dzakir terlalu senang karna bisa bicara dengan Misela.

__ADS_1


"Haaa besok pagi?"


...#######################...


__ADS_2