
Ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Dzakir. Hari dimana dia akan menikahi gadis pujaannya. Eh salah, sayangnya Misela sudah bukan gadis tapi janda rasa perawan begitulah julukan yang tepat untuk Misela hehe.
Entah sudah berapa kali Dzakir melihat jam tangannya. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi sedangkan keberangkatan nya pukul delapan dan masih ada waktu satu jam lagi tapi Dzakir sudah sangat tak sabar untuk segera berangkat dan menghalalkan Misela.
Dzakir pun berjalan keliling melihat persiapan resepsi di rumahnya namun acara ijab qobul dilakukan di masjid Istiqlal kota Metro. "Aku mau sholat Dhuha dulu deh dari pada gak jelas gini." Gunam Dzakir dalam hati lalu dia berjalan ke mushola yang ada di dalam rumahnya.
Padahal Dzakir tak tidur sejak pukul dua dini hari. Tapi tak ada rasa kantuk sama sekali dalam dirinya karna setelah melakukan sholat tahajud Dzakir melanjutkan membaca Alquran hingga solat Subuh tiba.
Sedangkan di rumah Misela kini sudah siap untuk keberangkatan menuju masjid Istiqlal kota Metro dengan jarak tempuh perjalanan yang hampir dua jam. Misela sengaja memilih masjid tersebut karna selain jaraknya ke rumah Dzakir lebih dekat Misela tak mau merepotkan para tetangga. Belum lagi Misela malas mendengarkan gibah nya mereka yang sangat sadis.
Misela sudah siap dengan gaun pengantin warna Cream pilihannya kemarin. Sedikit riasan di wajah Misela membuat Misela semakin cantik dan anggun menawan. Karna Misela tak punya kerabat jadi yang di ajak hanyalah pak RT setempat.
Adelia pun keluar rumah menata semua barang yang mau di masukan ke dalam mobil. Tiba-tiba ada beberapa ibu-ibu yang menghampiri Adelia.
"Jeng Misela beneran mau kawin lagi ya?"
"Iya jeng." Misela pun keluar dari rumah dengan gaun pengantin dan penampilan Misela membuat para ibu-ibu menganga terkagum-kagum melihat penampilan Misela yang bak princess.
"Misela kamu cantik banget. Baju pengantin mu juga bagus banget pasti itu mahal ya?" Misela hanya tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Misela dengar-dengar kamu nikah sama anak gubenur Lampung ya? Kamu pake pelet apa sih Misela belum juga satu tahun cerai udah kawin lagi sama anak gubenur lagi hebat deh kamu."
"Itu namanya jodoh jeng." Sahut Adelia.
"Tapi kalau gak pake pelet mana mungkin bisa dapet orang tajir ya kan jeng jeng secara loh Misela kan janda."
"Lihat dong Bu Ibu yang terhormat. Anak saya ini cantik dan solehah. Laki-laki mana yang tak terpikat dengan Misela? Anak-anak ibu semuanya juga ngincer anak saya kan, iya kan?" Jawab Adelia penuh amarah.
"Sudah Bun ayo kita berangkat takut telat." Kata Misela sambil menggenggam kedua tangan Adelia.
"Sukses ya Misela semoga pernikahan kali ini langgeng engga kayak kemaren cuma seminggu cerai."
__ADS_1
"Aamiin. Terima kasih doanya Bu kami pamit dulu ya assalamu'alaikum." Misela membalas dengan senyum cacian mereka lalu masuk mobil.
"Kalau ada yang begitu lagi jangan di jawab Bun nanti makin panjang ceritanya." Kata Misela pada Adelia.
"Bunda kesel banget anak Bunda selalu di anak tirikan." Jawab Adelia.
"Kan Misela memang anak tiri Bun." Kata Misela.
"Eh bukan begitu maksudnya sayang." Adelia jadi salah bicara karna terbawa suasana.
"Sudahlah Bun jangan di perpanjang ya. Kita berdoa semoga perjalanan kita lancar acaranya juga lancar ya."
"Aamiin. Maafin bunda ya Nak."
"Iya Bunda."
____________
Tibalah semua orang di sebuah masjid paling besar di kota Metro. Dzakir celingukan mencari keberadaan Misela tapi sayangnya Misela sudah duduk manis di balik tirai pembatas tamu bersama Adelia dan Umi Dzakir. Dzakir sudah duduk berhadapan dengan Pak Surya, Hanan dan juga penghulu yang akan menikahkannya. Dzakir pun melantunkan surat Ar-Rahman dengan pengeras suara sebagai tanda mahar yang diminta Misela. Dengan sangat merdu lantunan ayat suci Alquran di bacanya Dzakir berhasil menyihir semua orang yang hadir di acara tersebut.
"Mau di coba dulu atau langsung aja Pak Dzakir?" Tanya pak penghulu.
"Langsung aja Pak." Jawab Dzakir dengan cepat dan tegas.
"Hahaha sudah tak sabar rupanya." Ledek sang penghulu.
Dzakir hanya tersenyum malu.
"Baiklah semua syarat nya sudah lengkap. Mari jabat tangan saya."
Dzakir dan penghulu itu pun saling berjabat tangan.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim. Ya Mudzakir Alfaruq."
"Ya."
"Ankahtuka wazawwajtuka mahtubatakal karimah Misela Metina binti Adelia alal mahri surah Ar-Rahman haalan."
Dzakir pun menarik nafas panjang setelah mendapat kan hentakan tangan dari penghulu.
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq."
Dzakir kembali menghentak kan tangannya. Semua orang serasa merinding mendengar bacaan ijab qobul Dzakir yang di ucapkan dalam bahasa Arab dengan lancar tanpa tersedak sama sekali.
"Bagaimana saksi sah?" Tanya pak penghulu.
"Saaahhhhhh......!" Jawab serentak para saksi dan tamu undangan.
"Barakallah pengantin wanita boleh duduk di sisi pengantin pria." Kata penghulu.
Misela pun di gandeng oleh ibu mertuanya berjalan menghampiri Dzakir. Dengan sebuah senyuman yang begitu khas langkah demi langkah Misela lalui yang hingga duduk bersanding di sisi Dzakir. Misela pun meraih tangan Dzakir dan mencium punggung tangannya lalu kemudian telapak tangannya.
Misela yang sedari tadi tertunduk malu kini mengangkat kepalanya dan menatap Dzakir. Ada tetesan air mata di pipi Misela saking bahagianya.
"Alhamdulillah ya Allah ahirnya ciptaan Mu yang begitu indah ini bisa hamba miliki sepenuhnya. Terima kasih ya Allah." Gunam Dzakir dalam hati. Dzakir pun mengusap air mata Misela dan meletakkan tangan kanannya di kepala Misela lalu mengucap doa setelah itu Dzakir mencium kening Misela.
Mereka saling tersenyum satu sama lain. Dzakir terlihat sangat bahkan terlalu bahagia karna jelas di matanya yang berkaca-kaca juga. "Nanti di teruskan di kamar ya sekarang tanda tangan dulu." Ledek Pak penghulu berhasil membuat semua orang tertawa tak terkecuali Dzakir dan Misela juga ikut menahan tawa.
Kedua pengantin itu pun menandatangani beberapa surat dan juga buku nikah. Setelah selesai dilanjutkan dengan acara sungkeman pada kedua orang tua. Suara tangisan pun pecah disana. Bukan hanya Umi Dzakir tapi Dzakir sendiri juga menangis bahagia. Setelah acara sungkeman selesai Dzakir sekeluarga pun pulang untuk di lanjutkan acara resepsi di rumahnya.
Misela sangat bahagia karena Dzakir benar-benar mau menerima apa adanya. Bahkan Dzakir tidak masalah dengan nasab Misela. Padahal banyak sekali mulut yang membicarakan perkara nasab Misela, tetapi Dzakir tidak peduli sama sekali.
Ada satu penyesalan yang Misela rasakan saat menikah dengan suami pertamanya, harusnya memang tidak ada yang dia tutupi sejak awal dan membuatnya menjalani hidup yang cukup sulit.
__ADS_1
...##################...
...Huuuuaaaaa author bahagia banget nih nulis bab ini ahirnya kan hari yang kalian tunggu-tunggu datang juga 😍...