Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 17 Nindi Masuk RS


__ADS_3

"Untuk apa di jawab jelas-jelas anak saya masih perawan." Kata ayah Nindi.


"Ya bagaimana saya gak bertanya Pak dia kan di Taiwan bertahun-tahun. Sopo reti disana ganti-ganti pasangan sama bule kan?" Sahut Bu Wardah.


Ayah Nindi pun terdiam dan menatap Nindi penuh tanda tanya.


"Nak jangan diem aja bilang kalau semua itu gak bener?" Ucap Ibu Nindi.


Lalu Bu Wardah kembali bicara melihat Nindi yang diam saja.


"Rangga kamu yakin dengan pilihan mu Le?" Tanya Bu Wardah pada Rangga.


"Ma-maaf Bu e ada yang mau Rangga katakan." Ucap Rangga dengan suara berat.


"Cepat katakan." Bu Wardah mulai marah.


"Em Rangga dan Nindi sebenarnya sudah itu... Em sudah melakukan..."


Plak


Satu tamparan mendarat di pipi Rangga.


"Berani sekali kamu menodai anak saya?" Ucap Ayah Nindi.


"Pak itu bukan salah Mas Rangga." Nindi memeluk Rangga.


"Nindi kamu bapak didik supaya jadi wanita baik-baik tapi kamu malah...aakk..."


Ayah Nindi memegang dadanya dan pingsan.


"Bapak...." Nindi dan Ibunya berteriak.


__________


Ayah Nindi di bawa ke rumah sakit dan terkena stroke ringan. Setelah beberapa hari Ayah Nindi pun di bawa pulang. Tapi kali ini giliran Nindi yang pingsan.


Keluarga nya mengira Nindi hanya kecapekan karna merawat ayahnya beberapa hari di rumah sakit. Namun setelah tiga hari di rawat di rumah Nindi pun di larikan ke rumah sakit di kota Metro.


Rangga setia menemani Nindi dan ditemani Bu Wardah karna Ibu Nindi harus merawat Ayahnya yang stroke. Sayangnya saat itu beberapa rumah sakit di Metro penuh. Nindi harus di bawa ke rumah sakit di Bandar Lampung sesuai rujukan dokter untuk memastikan penyebab sakitnya juga karna di Metro ada keterbatasan alat medis.


Ahirnya Nindi pun mendapat kan kamar rawat. Nindi di periksa beberapa kali untuk memastikan diagnosa sakitnya.


"Sebentar sakit apa to le Nindi ini Bu e udah capek sana-sini terus dari tadi. Pegel nih kaki Bu e." Keluh Bu Wardah.


"Sabar ya Bu e. Kita tunggu hasil lab nya katanya butuh waktu beberapa jam." Kata Rangga sambil mengelus punggung Ibu nya.


"Lagian kenapa harus kamu sih Le yang urus dia. Kan ada keluarga nya. Ada paklek sama yang lainnya." Bu Wardah masih saja mengeluh.


"Sudahlah Bu e gak enak di liatin orang-orang Bu e ngomong terus dari tadi."

__ADS_1


Bu Wardah pun memalingkan wajahnya. Sedangkan Nindi sedang merintih kesakitan di bagian perutnya.


"Aduuhh.....!"


"Nindi sayang kamu sudah sadar?"


"Mas Rangga sakit Mas. Aku sakit apa katanya Mas."


"Sabar ya sebentar lagi dokter kesini sekalian kasih tau kamu sakit apa."


Rangga menggenggam tangan Nindi dan mengelus-elus dahi Nindi untuk menenangkan nya.


Tak lama Dokter pun tiba.


"Pasien atas nama Nindi?" Tanya seorang dokter.


"Iya Dok." Jawab Rangga.


"Anda suaminya ya?"


"Belum Dok masih calon. Jadi Nindi sakit apa ya Dok?"


"Saya harap masnya bisa menerima keadaan ini."


Dokter itu mulai terlihat sedih.


"Pasien Nindi tekena Aids."


"Maksudnya HIV Aids dok?" Tanya Rangga memperjelas.


"Iya. Mungkin masnya sudah tau kalau penyakit ini bisa di tangani tapi tidak bisa di sembuhkan dan juga menular."


Rangga terdiam lemas.


"Maksudnya Nindi ini punya penyakit menular Dok?" Bu Wardah ikut terkejut mendengar nya. "Itu penyakit yang bagaimana Dok?"


"HIV Aids adalah penyakit karna bergonta-ganti pasangan Bu, bisa juga karna tertular oleh orang yang mengidap penyakit yang sama. Penularan bisa dari jarum suntuk, air liur dan hubungan ****."


"Astaghfirullah Nindi jadi kamu di Taiwan benar-benar menjual tubuh mu?" Bu Wardah sangat syok bahkan tulang kakinya tak kuat lagi menompang tubuhnya. Bu Wardah ambruk di lantai.


"Bu e..." Rangga pun membantu ibunya duduk di kursi.


Sedangkan Nindi menangis tanpa suara dengan menahan rasa sakit.


"Dokter apa mungkin saya juga bisa terjangkit HIV?" Rangga kembali bertanya.


"Jika mas sudah berhubungan intim dengannya kemungkinan menular sampai 90%."


Duaarrr.......

__ADS_1


Entah apa yang harus Rangga katakan lagi. Kini hatinya benar-benar hancur. Bahkan Bu Wardah menangis histeris.


"Mohon tenang Bu. Tangisan ibu bisa mengganggu pasien yang lain. Jika ada yang ditanyakan lagi silahkan ke ruangan saya. Saya permisi dulu."


Dokter pun pergi.


"Pye ini Le. Ibu gak bisa ngomong apa-apa lagi. Ayo kita pulang saja Le Ibu gak mau ketularan penyakitnya."


"Tapi Bu e..."


"Rangga jangan bantah omongan Bu e. Kita periksa keadaan mu dulu baru kita pulang. Hubungi orang tua nya. Biar mereka yang urus. Dan jangan ketemu sama dia lagi."


Bu Wardah mengambil tasnya lalu ke luar ruang rawat Nindi. Saat ini Nindi tak berdaya. Bahkan untuk bicara saja sangat berat untuk nya.


"Maaf Nin aku akan pulang. Aku harus menuruti kata Bu e. Panggil lah perawatan jika butuh apa-apa. Aku akan hubungi orang tua mu untuk mengirim orang menjaga mu."


Nindi hanya menjawab dengan tangisan. Dia menyesali perbuatannya selama ini. Nindi di Taiwan memang melakukan **** bebas dengan pacarnya disana. Namun tak di sangka hal ini akan terjadi. Nindi mendekati Rangga karna dari semua laki-laki yang menyukai hanya Rangga yang masih respek. Jadi Nindi mencoba merebut Rangga dari Misela.


Rangga pun pergi dengan kekecewaan dan penyesalan yang teramat dalam di hatinya. Rangga mulai memikirkan Misela.


padahal Nindi tak secantik Misela. Tapi Nindi cinta pertama Rangga. Tak bisa di pungkiri Rangga membodohkan dirinya sendiri karna telah melukai hati Misela.


"Bunda Adel benar. Harusnya aku tak membuang permata demi sebuah batu bata. Bagaimana bisa aku mengabaikan Misela yang selama ini sangat lembut dan baik. Bagaimana jika aku tertular HIV Aids dari Nindi?" Gunam Rangga yang mulai menitikkan air mata.


Rangga pun pergi ke laboratorium rumah sakit untuk memeriksa kondisinya. Darah Rangga pun di ambil setelah itu Rangga dan Ibunya menunggu di depan laboratorium.


Sedang harap-harap cemas. Bu Wardah begitu kecewa dengan Rangga karna telah membuat nya malu. Bahkan Bu Wardah masih terniang akan ucapan Adelia.


Tapi nasi sudah jadi bubur. Kini yang paling mereka harapkan adalah hasil tes darah itu adalah negatif dari HIV Aids.


"Kalau sampe kamu positif punya penyakit opo itu tadi pokoknya penyakit yang sama kayak Nindi Bu e gak mau anggap kamu anak lagi le."


"Bu e kok bilang begitu sih."


"Lagian koe kenapa main tidur aja sama Nindi padahal kalian belum menikah?"


"Rangga hilaf Bu e. Rangga terlalu rindu sama Nindi."


"Kamu itu udah nikah tinggal tunggu aja masa suci Misela tapi malah bikin masalah baru."


"Tapi kan Bu e juga yang mendukung hubungan Rangga sama Nindi."


"Halah wes lah jangan sebut nama dia lagi."


Setelah itu tak ada obrolan lagi di antara mereka. Rangga sibuk dengan ponselnya.


...#######################...


...Mohon kepada reader jangan ada yang mengutuk atau memberi mereka sumpah serapah ya 😂...

__ADS_1


...Oiya Minggu depan yang dapet pulsa 10k hanya yang no pertama yang paling banyak memberi dukungan ya. Untuk Minggu ini aku ambil dukungan satu dua tiga. ...


...Terimakasih 🙏...


__ADS_2