
Senja kian merona dengan sinar jingga nya. Dzakir yang meninggalkan Misela sejak siang sudah kembali lagi. Misela tentu saja bosan seharian di kamar tanpa keluar karna perintah Dzakir demikian. Apa yang di butuhkan Misela termasuk makan dan minum semuanya di layani Umi dan di bantu Bik Sum walau kenyataan nya Misela tak mau merepotkan mereka.
Misela berjanji dengan dirinya sendiri kalau nanti akan protes habis-habisan pada Dzakir saat pulang.
kleeekk.
Suara pintu kamar terbuka. Dzakir masuk dengan senyum yang membuat Misela selalu terpana. Bahkan sedikit lupa akan tujuannya tadi.
"Assalamu'alaikum istri ku sayang. Maaf ya Mas tinggal lama banget. Kamu baik-baik aja kan? Gak kecapekan kan? Tadi Mas banya urusan jadi baru pulang deh." Dzakir masuk menyapa Misela dan mencium kening istrinya yang sedang cemberut.
Padahal tadi Misela seneng loh suaminya pulang. Tiba-tiba tujuan untuk protes jadi terlintas kembali di benaknya saat Dzakir memberikan banyak pertanyaan.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Misela singkat.
"Duh duh kenapa ini istri ku kok bibirnya manyun begini? Apa minta di *****-***** hehe?" Goda Dzakir sambil mencolek dagunya.
"Mas kamu berlebihan deh yang sakit itu kan tangan ku bukan kaki ku masak seharian aku sama sekali gak boleh keluar kamar. Kan aku bad mood Mas. Aku pengen menghirup udara segar gitu." Gerutu Misela.
"Wahh istri ku pinter ya bener-bener nurut sehari gak keluar kamar. Makin gemes deh. Kan bisa ke balkon situ kalau mau udara segar hehe." Lagi-lagi Dzakir meledek istrinya dengan mencubit kedua pipinya.
"Ya Mas tapi aku bosen duduk manis disini." Misela masih saja cemberut.
"Kan bisa nonton drakor, baca Noveltoon atau baca gosip." Jawab Dzakir dengan santainya.
"Nonton drakor sendiri itu gak enak pake banget. Baca novel udah sampe tamat. Dan apa tadi baca gosip? Mas mau istri Mas ini dosanya nambah terus?" Misela masih ngedumel protes.
"Hahaha kenapa sih setiap istri ku bicara rasanya selalu ingin menambah imun dan iman. Ahh mandi ah main sendiri aja di kamar mandi." Dzakir pun berjalan ke kamar mandi dengan menyisakan pertanyaan ambigu untuk Misela.
"Mas apa maksudnya tadi menambah imun dan iman? Dan main apa Mas?" Misela kesal dengan Dzakir yang tak menjawab pertanyaan nya dan langsung menutup pintu kamar mandi.
"Tuh kan Mas Dzakir nih memang dosen licik. Mentang-mentang dosen ya aku di kasih pertanyaan yang aneh-aneh yang baru aku tau. Coba pertanyaan tentang mata kuliah aja otak ku tak perlu berpikir keras begini huh awas aja kalau minta itu." Gerutu Misela lirih sambil melipat kedua tangannya.
Lama Dzakir di kamar mandi. Seperti nya Dzakir sedang berendam air hangat.
"Mas Dzakir ini mandi apa tidur sih kok lama banget. Udah mau magrib loh."
Misela yang tak sabar ahirnya turun dari ranjangnya dan mengetuk pintu kamar mandi.
Tok
Tok
"Mas kamu mandi apa tidur di dalem kok udah kayak princess yang lagi mandi kembang." Tanya Misela sedikit kesal.
"Masuk aja sayang gak di kunci kok." Jawab Dzakir dari dalam.
__ADS_1
"Idih ngarep banget. Ogah deh tar kamu nakal lagi. Buruan Mas kamu gak denger di masjid udah ngaji." Misela lalu menjauh.
Tak lama kemudian Dzakir telah menyelesaikan mandi sore nya dan keluar hanya dengan anduk yang terlilit di bagian pinggang.
"Wah segar sekali badan ku. Apalagi kalau..." Dzakir tak melanjutkan bicaranya malah menatap Misela dan mengedipkan sebelah matanya pada Misela yang sejak tadi menatap dirinya.
"Tuh kan genit. Buruan Mas ih tumben mandinya lama gitu biasanya secepat buroq." Dzakir melihat senyum tipis di bibir Misela.
"Awas aja ya kamu sayang bakal aku sikat habis nanti kalau udah sembuh. Buruan sana wudhu siap-siap buat solat magrib. Eh tunggu kamu tau kan sayang cara wudhu nya?"
"Ya taulah Mas aku kan juga pernah jadi santri kamu Mas. Eh bukan ustadz Dzakir galak."
"Misela jangan menggodaku sekarang. Aku tak mau menyusahkan mu apalagi membuat mu berdosa."
Terlihat wajah Dzakir yang serius dan Misela pun senyum-senyum masuk kamar mandi.
"Ampun ustadz Dzakir ampun." Misela cengengesan. "Untung disini gak punya rotan seperti di pesantren hehehe kabur ah."
Dzakir menggeleng kan kepalanya sambil mengelus-elus dadanya.
"Ya Allah sabar sabar. Punya istri begitu menggemaskan gimana bisa kuat nunggu tangannya sembuh. Huft...!" Dzakir menghela nafas kasar dan memakai baju untuk bersiap-siap menjalankan ibadah.
____________
"Sayang kamu mau makan malam di kamar atau ikut kebawah?"
"Yakin kamu gak papa?"
"Ya Robbi. Mas kaki ku ini sehat loh yang sakit cuma tangan doang."
"Kan perut kamu juga sakit sayang."
"Eh iya ya hehe tapi gak ngaruh sih Mas kalau cuma jalan pelan-pelan doang."
"Terus kamu gak malu nanti makannya Mas suapin?"
"Ya aku makan tangan kiri aja Mas. Tadi aja aku makan tangan kiri kok."
"Tapikan tangan kanan suami mu ini ada. Kamu gak inget waktu di rumah sakit lima hari? Aku loh yang selalu nyuapin."
"Ini kan darurot Mas ya gak papa dong makan pakai tangan kiri Abi Umi juga gak bakal protes kok."
"Pokoknya kalau mau makan di bawah harus mau di suapin. Kalau engga duduk manis disini biar Mas ambilin makan."
"Nurut aja deh sama suami."
__ADS_1
Misela langsung cemberut.
"Nurut yang mana nih. Makan di bawah tapi di suapin atau makan di kamar?"
"Di bawah aja aku pengen kumpul sama Abi dan Umi."
"Ya sudah ayo turun Abi sama Umi pasti nungguin."
Dzakir dan Misela pun menuruni anak tangga bersama. Terlihat di meja makan Abi dan Umi nya sudah menunggu untuk makan malam.
"Misela bagaimana keadaan kamu Nak?" Tanya Abi.
"Alhamdulillah gak papa kok Abi cuma ini doang yang sakit." Jawab Misela sambil mengangkat sedikit tangan kanannya.
"Lantas perut mu? Kata Umi perut mu juga kenak tusukan pisau?"
"Engga papa kok Bi cuma ke gores aja gak dalem dan gak perlu di jait. Cuma butuh beberapa hari aja juga sembuh."
"Syukurlah kalau begitu. Mereka juga sudah di tangkap tadi siang begitu Dzakir lapor sama Abi. Dan ternyata mereka memang meresahkan warga sekita dan para pengunjung pasar. Makanya kalian gak ada yang bantuin saat kejadian itu karna mereka juga takut pasti."
"Iya Abi Alhamdulillah kalau mereka sudah menerima hukumannya. Jadi warga sekita dan pengunjung di pasar bisa bernafas lega sekarang."
"Sebenarnya Umi gregetan banget pengen njambak-njambak rambut mereka itu. Tapi sayang banget Abi mu ngelarang. Lagian Umi tuh udah bilang sama mereka kalau Umi ini istri dari gubenur Lampung tapi mereka malah bilang kalau mereka anak presiden dan mau mecat Abi. Kesel kan Bi. Sukurin sekarang di bui semoga saja lama terus keluar-keluar tobat deh. Kalau gak tobat Umi bakal buat mereka masuk penjara lagi."
Umi Dzakir terus saja mengoceh dengan nada kesal pada preman yang udah mencelakai Misela.
"Sebenarnya Umi juga salah loh." Kata Abi.
"Loh kok Umi salah sih Bi." Jawab Umi keheranan.
"Umi ke pasar pakai perhiasan yang berderet gitu. Dan juga Umi pakai baju yang mewah kan? Cuma ke pasar lo Mi." Kata Abi.
"Hehe iya sih Abi kan tau Umi biasa pakai beginian. Umi tuh gak bisa melepaskan mereka." Jawab Umi sambil mengelus perhiasan yang dipakai nya.
"Lagian Umi biasanya juga ke supermarket kenapa jadi kepasar?"
"Itu kata ibu-ibu di pasar lebih murah lebih seger-seger juga ikan sama sayurnya jadi Umi nyoba deh belanja di pasar."
"Sudah dong sudah ngobrolnya Abi dan Umi kita makan dulu kasian tuh menantu nya kelaparan dan harus minum obat juga." Sahut Dzakir.
"Ahh iya ayo kita makan dulu. Misela kamu makan pakai tangan kiri Nak?" Tanya Abi.
"Pakai tangan kanan Mas Dzakir Bi hehe." Jawab Misela malu-malu.
"Iya benar. Baiklah kita makan dulu."
__ADS_1
...#################...
Untung ya punya ayah mertua yang baik dan pengertian kayak Abi Surya. Dzakir benar-benar bibit unggul kan kan? 😂✌️