Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 78 Libur Dulu


__ADS_3

Tiba di hotel.


"Mas, kalau aku gak ikut gak mungkin kan kamu tidur satu ruangan sama Mina?"


Mata Mina terbelalak dan menoleh pada Misela.


"Maaf ya cuma pastiin aja hehe." Misela kembali menggandeng tangan suaminya sambil celingukan mencari nomor kamar hotelnya.


"Sayang, ini kamar kita. Mina kamar kamu di sebelah ya. Ini kartunya." Dzakir menyodorkan kartu untuk membuka pintu kamar hotel tersebut.


"Baik Pak, saya permisi."


Dzakir masuk ke kamar bersama Misela dan membereskan barang bawaannya. Sedangkan Misela langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur. Dzakir menggeleng kepalanya.


"Sayang, pelan-pelan kan kamu lagi hamil."


"Pinggang ku sakit Mas."


Dzakir langsung menghampiri Misela dan duduk menyilang kan kakinya di sisi Misela.


"Kamu capek ya sayang? Kita makan terus minum obat ya sayang. Kamu mau makan apa?"


"Gak tau Mas, apa aja lah terserah kamu."


"Nasi ayam bakar ya sayang biar Mas pesenin."


"Iya Mas."


Dzakir pun menelepon ke bagian resepsionis untuk memesan makanan. Dan gak perlu waktu lama suara ketukan pintu terdengar dari luar.


Dzakir menyiapkan makanan nya dan membantu Misela duduk lalu menyuapi istrinya dengan telaten. Setelah selesai makan Dzakir memberikan Misela obat dan vitamin lalu Misela langsung tertidur pulas.


Dzakir mengubungi Mina untuk mengajaknya bertemu dan membahas hal yang akan di sampaikan nantinya saat bertemu dengan atasan.


Pertemuan itu di adakan besok pagi-pagi. Dzakir harus mengatur siasat dan apa saja yang akan mereka bicarakan agar terlihat kompak. Sayang nya Dzakir sudah memikirkan ngidamnya. Jika pagi-pagi harus muntah-muntah, Dzakir takut akan terlambat. Namun Dzakir tetap positif thinking.


Waktu sudah hampir magrib. Misela terbangun dari tidurnya tapi tak mendapati suaminya di ruangan itu. Misela mencoba menelepon Dzakir namun tak ada jawaban. Ahirnya Misela putuskan untuk mencari nya di luar.


Sebelum turun Misela menekan tombol bell kamar Mina, dan tak ada jawaban juga. Misela mulai kesal dan berjalan menuju lift untuk turun ke lobby.


"Itu artinya Mas Dzakir sedang bersama Mina saat ini. Gak mungkin kan Mas Dzakir macem-macem sama Mina? Aku sangat parno." Ucap Misela lirih sambil menghentakkan kakinya pelan.


Tiba di lobby Misela mondar-mandir mencari keberadaan Dzakir dan Mina. Benar adanya bahwa Dzakir dan Mina sedang duduk berhadapan dan berduaan.


Misela sedikit geram, namun untungnya dirinya tak terbawa emosional. Misela menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan pelan. Kemudian berjalan menghampiri keduanya.


"Mas, kok berdua aja sih aku di tinggal sendiri di kamar. Kalau aku kenapa-kenapa gimana? Kamu malah berduaan sama gadis cantik disini." Misela melirik Mina yang merubah raut mukanya.

__ADS_1


Mina yang sedari tadi terlihat senang dengan wajah cantik yang berbinar, kini terlihat kesal dan beberapa kali memutar bola matanya karna pembicaraan dengan Dzakir belum tuntas, belum lagi nada bicara Misela yang selalu manja pada Dzakir.


"Maaf ya sayang, Mas lagi bahas untuk meeting besok. Hal ini kan menyangkut masa depan kampus hijau kita sayang. Kamu duduk dulu ya Mas selesaikan dulu urusan Mas sama Mina." Perkataan Dzakir berhasil membuat Misela cemberut dan duduk menjauhi mereka.


Dzakir harus segera menyesuaikan pembicaraan dan harus bekerja keras untuk merayu istrinya yang sedang marah.


Setelah tiga puluh menit terlewati begitu saja, Dzakir berlalu dari hadapan Mina dan menghampiri istrinya.


"Sayang, kamu bete ya? Gimana pinggang nya udah baikan?"


Misela tak menjawab. Misela berpura-pura tak mendengar apa yang Dzakir katakan. Namun Dzakir masih berusaha membujuk istrinya. Dzakir duduk di hadapan Misela.


"Sayang, Mas di kacangin nih?"


Misela masih saja tak menjawab dan tak menatap Dzakir sama sekali.


"Masyaallah wanita itu cantik sekali, sexy lagi, rambutnya panjang sungguh luar biasa." Dzakir memiringkan kepalanya seolah-olah melihat wanita yang di sebutkan nya.


Sontak Misela langsung membalikan badannya dan melihat ke belakang. Misela celingukan, tak ada wanita yang di sebut Dzakir. Rata-rata orang di sana memakai hijab dan resepsionis juga rambutnya di sanggul seperti rambut pramugari.


Dzakir tertawa.


"Cie nyari siapa nyonya?"


Dzakir meledek Misela dan menyangga kepalanya dengan kedua tangan.


"Istri ku kalau cemburu itu cantiknya liar biasa sekali."


"Ya Umma Awlaadii, i love you. Terima kasih sudah sangat posesif. Mas suka banget lihat wajah mu yang cemburu itu."


Misela jelas tersipu malu dengan perkataan suaminya itu.


"Lepas Mas, malu kalau ada orang liat." Ucap Misela lirih.


Dzakir menuruti perkataan Misela dan beralih menggenggam tangan Misela lalu mencium punggung tangannya.


"Kita lanjut di kamar ya." Bisik Dzakir di telinga Misela dan membuat nya kembali tersipu malu.


Di kamar.


Dzakir yang sudah menahan rasa yang aneh di pikirnya itu langsung mendorong tubuh Misela ke tembok dan menciumi bibir Misela dengan lembut.


"Sayang, Mas harus libur, Mas takut besok Mas muntah-muntah dan telat meeting."


Misela tersenyum geli mendengar perkataan Dzakir.


"Kamu percaya Mas sama perkataan ku tempo hari?" Lagi-lagi Misela tertawa karna merasa sangat lucu melihat raut wajah suaminya itu.

__ADS_1


"Iyalah Mas percaya. Bagaimana juga itu udah terbukti berkali-kali loh. Jadi malam ini Daddy gak jenguk kamu dulu ya sayang." Dzakir berjongkok dan mencium perut Misela.


"Kalau gitu segera mandi Mas, bentar lagi Magrib nih. Kau gak mandi ah males banget. Nanti aku wudhu dulu ya.".


Dzakir mengangguk dan melepaskan pakaiannya.


______________


Pagi hari yang cerah karna cahaya matahari telah menembus kebagian sela-sela gorden kamar Misela.


Dzakir pikir pagi ini akan berjalan sesuai harapan, tapi sayangnya sejak subuh Dzakir terus muntah-muntah hingga sekarang tubuhnya sangat lemas.


"Mas, jam berapa meeting nya?" Misela menggoyangkan badan Dzakir supaya Dzakir mau bangun.


"Em jam delapan sayang." Jawab Dzakir tanpa membuka mata dan masih sangat terlihat malas dan lemas.


"Ini udah jam tujuh lewat Lo Mas, buruan siap-siap."


"Lima menit lagi ya sayang."


Tiba-tiba bel pintu kamarnya berbunyi.


"Tuh Mas, itu pasti partner kamu sudah siap. Aku suruh dia duluan aja ya Mas."


Dzakir menganggukkan kepalanya pelan dan masih dengan mata terpejam.


Misela membuka pintunya.


"Pagi Ka, Pak Dzakir udah siap?"


"Assalamu'alaikum Mina."


"Eh maaf Ka, wa'alaikumsalam."


"Suami ku masih belum mandi, dia masih lemes. Kamu di minta duluan ke lokasi."


"Hah? Lemes?" Mina terheran-heran lalu mengangguk mengerti dan pergi. "Udah jam segini masih aja lemes, memang berapa kali main semalam." Pikir Mina dan memukul kepalanya sendiri.


Misela kembali duduk di sisi Dzakir yang masih belum mau membuka matanya.


"Mas, buruan bangun ih."


"Mas menyesal."


"Kenapa Mas?"


"Semalam libur tapi Mas masih harus begini. Tau gitu kan kita main-main semalam."

__ADS_1


Misela langsung tertawa terbahak-bahak.


...###############...


__ADS_2