
Cuaca siang ini terasa begitu terik hingga membuat banyak orang merasa haus dan memenuhi suasana kantin kampus hijau tempat Misela kuliah.
Begitu juga dengan Misela yang sangat ingin memesan jus alpukat favorit nya di kantin. Namun saat sudah mendekati kantin langkah nya di hentikan Erlina sahabatnya dengan wajah sedikit muram.
"Misela? Tunggu-tunggu. Kamu pasti mau beli jus alpukat kan? Kamu tunggu di mushola aja biar aku yang beliin kamu jus alpukat."
"Orang udah deket situ ngapain aku balik ke mushola? Kenapa tiba-tiba kamu lembut gitu Er? Tapi bukan nya kamu dari kantir barusan?"
"Em itu anu justru itu aku juga mau beli permen biar sekalian aja tadi lupa. Udah kamu ke mushola aja tunggu aku disitu ya panas nih."
"Ya udah kita ke kantin bareng aja kenapa harus nunggu di mushola sih. Udah ayo jalan."
"Ta-tapi....!"
Misela menarik lengan Erlina memaksa berjalan ke kantin. Kini keduanya sudah tepat di pintu masuk kantin. Saat langkah kaki Misela dan Erlina hendak masuk ke dalam Misela melihat mata-mata aneh yang memperhatikan dirinya.
"Er kok kayaknya mereka liatin aku kayak benci gitu ya?"
"Ah perasaan kamu aja udah buruan pesen jus alpukat nya di bungkus aja jangan minum disini."
Misela pun memesan dua gelas jus alpukat pada kasir.
"Wah wah lihat tuh janda kembang berani juga masuk kuliah lagi ya. Punya muka juga kamu." Seseorang dari arah sisi Misela berteriak padanya.
Misela pun menoleh mencari sumber suara tersebut.
"Sel kamu cantik apalagi balutan syar'i mu terlihat sekali kamu ini solehah tapi kok bisa-bisanya kamu berhati kotor gak nyangka deh sama penampilan mu." Saut satu orang lagi.
"Heh jaga mulut tuh jaga mulut." Ucap Erlina kesal.
"Maksudnya kalian bicara begitu apa ya? Aku sama sekali gak ngerti?" Kata Misela.
"Seluruh kampus udah tau Misela kalau lu udah cerai sama suami lu yang baru menikah satu minggu karna dia miskin terus sekarang lu deketin dosen tajir kita Pak Mudzakir wahh luar biasa kamu Sel mentang-mentang cantik ya."
"Apa?" Misela sangat terkejut.
"Kami pikir lu orang baik Sel nyatanya gila banget lu matre abis. Terus sasaran nya Pak Mudzakir lagi hebat lu Sel serela lu tinggi juga ya."
"Tapi itu semua gak bener!" Misela menekankan suaranya.
"Semua orang jahat ngaku baik Misela. Kalau begitu buat apa ada penjara? Lu gila banget Sel sebaiknya lu jangan kuliah disini Sel dari pada lu di bully satu kampus."
"Bisa-bisanya kita satu kelas sama wanita kayak kamu. Yuk ah kita pergi."
Tiga orang wanita yang barusan bicara kasar dengan Misela pergi begitu saja dengan membuat Misela bertanya-tanya siapa yang menyebarkan gosip murahan begitu.
"Er mereka bilang mas Rangga miskin lalu aku ceraikan dan mendekati Pak Dzakir? Gila ya mereka gak tau hal sebenernya udah nyimpulin gitu aja. Siapa sih yang nyebarin gosip ini?" Misela terlihat sedikit marah.
"Makanya tadi aku bilang kamu jangan ke kantin."
__ADS_1
"Jadi kamu udah tau gosip ini?"
"Udah dari beberapa hari yang lalu gosip ini ada. Tadinya gak seheboh ini."
"Gak bisa di biarin Er ini gak bener."
"Tapi emang hampir semua orang di kampus lagi ngomongin lu."
"Masalahnya yang di omongin gak bener Er."
"gue juga gak tau. Tapi gue curiga sama Selyn."
"Ya udah nanti kita bicara lagi abis kuliah."
Misela dan Erlina pun berjalan ke kelas. Sejak perjalanan dari kantin hingga kelasnya yang berada di lantai tiga itu Misela merasa risih dengan tatapan mata yang melihatnya sinis. Padahal sebelumnya semua orang sangat ramah padanya. Kalau bertemu pasti pada senyum manis menyapa Misela.
"Tuh kan gara-gara gosip itu semua orang jadi beda sama aku. Seolah satu kampus jadi kenal sama aku Er."
"Udah jangan di anggep biarin aja."
Jam kuliah pun selesai pukul 5 pm. Misela dan Erlina pulang ke rumah Pak Cipto.
Baru saja mereka duduk ketukan pintu rumah menunda mereka untuk membicarakan hal serius yang tertunda tadi. Misela pun membuka pintu.
"Pak Dzakir?"
"Wa'alaikumsalam. Ada apa Pak kok belum pulang jam segini?"
"Ini buat kamu sama Erlina."
Dzakir memberikan sebuah paper bag yang gak tau apa isinya.
"Apa ini Pak?"
"Saya pamit dulu. As..."
"Tunggu Pak."
"Ada apa?"
"Em maaf sebaiknya kita jangan saling bertemu dulu Pak. Terus saya berhenti aja jadi asdos."
"Memang kenapa? Apa salah saya?"
"Bapak gak salah apa-apa. Hanya saja saya mau fokus skripsi Pak."
"Alasan mu gak diterima. Saya permisi assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Dzakir pun pergi.
"Dasar ya tu dosen semaunya aja."
"Pak Dzakir suka sama kamu pasti."
"Emang keliatan banget ya?"
"Dia perhatian gitu sama kamu."
"Padahal udah aku tolak tetep aja begitu sikapnya."
"Hah? Pak Dzakir pernah nembak lu?"
"Eh...!" Misela menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Lu main rahasia-rahasiaan ya?"
"Maaf ya Er. Jadi sebenarnya Pak Dzakir waktu itu ngajak ta'aruf pas aku masih di pesantren."
"Apa? Dan lu tolak? Lu gak suka Pak Dzakir?"
"Er mana ada sih wanita di dunia ini yang gak suka sama beliau. Tampan, cerdas bahkan tajir melintir."
"Terus kenapa lu tolak Misela?"
"Er apa kamu lupa posisi ku?"
"Maksudnya?"
"Er denger ya aku ini anak yang di lahirkan tanpa sosok ayah Er. Aku ini anak hasil dari perbuatan haram. Kamu tau mereka semua memanggil ku anak haram kan? Kamu bayangkan jika aku menikah dengan ustadz Dzakir saat itu bagaimana malu nya mereka punya menantu seperti aku Er dan sedang keluarga Mas Rangga yang dari kalangan biasa aja langsung gak suka dan Mas Rangga juga langsung menceraikan ku mengira aku udah gak menjaga kehormatan ku seperti hal nya bunda ku. Padahal kamu tau kan Er bunda ku cuma korban?"
Misela menitikkan air mata. Erlina pun memeluknya. Suasana sore itu jadi sangat haru.
"Maaf ya kamu jadi harus mengingat hal yang menyedihkan itu. Gue gak akan tanya-tanya lagi. Maaf gue gak maksud buat lu nangis Sel?"
"Iya gak papa Er. Pak Dzakir orang baik. Di luar sana banyak wanita soleha yang pantas mendampingi nya."
"Tapi apa Pak Dzakir tau tentang kehidupan mu?"
"Aku gak tau Er."
"Sudah-sudah sekarang kita mandi aja ya sebentar lagi waktu magrib."
Misela pun mengangguk mengiyakan perkataan sahabat nya Erlina.
...##################...
...Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🙏...
__ADS_1