Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 40 Sudah Tak Tahan


__ADS_3

Resepsi pernikahan Dzakir dan Misela kini telah selesai. Banyak sekali tamu yang hadir untuk memberikan selamat pada mereka. Tak terkecuali Selyn, dia juga menghadiri resepsi pernikahan Dzakir dan Misela.


Namun ada pandangan yang aneh saat Selyn berjabat tangan dan melakukan cipika cipiki dengan Selyn. Bahkan sampai di sesi foto bersama Umi Dzakir terlihat tak senang dan berwajah cemberut saat itu.


"Apa mungkin Selyn adalah menantu idaman Umi ya? Kan Mas Dzakir dan Selyn dijodohkan sejak lama. Ah sudahlah aku gak boleh su'udzon sama mertua ku sendiri." Gunam Misela dalam hati.


Karna terlalu lama berdiri Misela merasa kakinya pegal-pegal sebab dia tak biasa pakai sepatu high heels.


Malam makin larut tamu undangan juga makin berkurang. Dzakir merasakan ada hal yang tak beres dengan istrinya itu ahirnya mengajaknya untuk istirahat di kamar dan berpamitan pada ke dua orang tuanya.


Setelah berpamitan dan keluar dari kerumunan orang-orang Misela menghela nafas lega karna berdiri di tatap oleh orang banyak sangat malu rasanya. Misela pun melepaskan sepatu high heels nya tak di tenteng. Tentu Dzakir bergerak cepat dan meminta sepatu nya itu untuk dia bawa.


"Gak usah Mas biar aku bawa sendiri aja." Kata Misela menolak memberikan sepatu yang baru saja dia kenakan.


"Sudahlah ayo naik ke atas biar Mas pijit kaki mu." Sahut Dzakir dan menuntun Misela naik ke lantai dua karna kamar Dzakir ada di lantai dua.


Tiba di depan pintu kamar Dzakir membukanya dan Misela di buat menganga oleh pemandangan yang luar biasa disana.


Kamar yang begitu besar dengan beberapa barang dan peralatan mewah. Belum lagi ada banyak taburan bunga mawar di atas kasur. Dan lagi ada banyak lilin aromaterapi yang menyala membuat ruangan itu sangat harum menenangkan.


"Maaf ya sayang kalau kamu gak suka ini bukan kemauan Mas. Bunga-bunga mawar itu kerjaan Umi. Entah apa maksudnya bikin sampah begitu hehe." Ucap Dzakir sembari membuka jas biru yang dia kenakan sejak tadi dan melipat lengan kemeja putihnya.


"Gak papa kok Mas aku suka kamarnya luar banget. Terus aromanya sejuk sekali. Aku suka." Sahut Misela lalu menarik nafas panjang merasakan aroma di ruangan tersebut.


Misela pun duduk di pinggir tempat tidur lalu celingukan melihat setiap sudut kamar Dzakir.


Dzakir juga duduk di sebelah Misela dan tiba-tiba melingkar kan tangannya di pinggang Misela dan menyandarkan kepalanya di bahu Misela dan memejamkan matanya hingga membuat Misela terkejut tak berkutik.


"Mas...!" Misela memanggil Dzakir dengan lirih dan lembut.


"Emhh...!" Jawab Dzakir masih memejamkan matanya.


Setelah itu mereka diam tak ada suara untuk beberapa saat lamanya. Dzakir masih dengan posisi yang sama sedangkan Misela tak berani bergerak sedikit pun bahkan bernafas saja Misela lakukan dengan sangat pelan.


Dzakir pun melepaskan tangannya lalu memegang bahu Misela agar posisi mereka berhadapan. Di lihatnya Misela yang sedikit menundukkan kepala karna masih malu untuk beradu mata dengan suaminya itu.


Dzakir membelai lembut kepala Misela yang masih memakai jilbab. Di pegang lah dagu Misela dan di angkatnya. Kini mereka saling menatap. Misela tersenyum sangat manis. Dzakir mendekati wajah Misela. Semakin dekat dan di kecuplah bibir imut Misela yang membuat Dzakir gemas selama ini.


Misela memejamkan matanya merasakan kecupan yang begitu hangat dan lembut yang baru saja dia terima dari Dzakir. Dzakir lalu kembali menatap Misela yang masih terpejam.


"Mandi lalu solat sunah dulu yuk." Ucap Dzakir sambil mencubit pipi Misela.


"Aw... Sakit Mas." Kata Misela sambil memegang pipinya yang kesakitan.


"Salah siapa kamu gemesin banget. Kita mandi bareng?" Ledek Dzakir.


"Ih Mas malu apaan sih." Misela duduk membelakangi Dzakir.

__ADS_1


"Dosa loh duduk begitu."


Misela lalu kembali duduk berhadapan dengan Dzakir tapi kembali menundukkan kepalanya.


"Lagian Mas gitu."


"Kan sunah mandi bersama."


"Iya tapi jangan sekarang. Aku masih malu."


"Ya sudah Mas mandi dulu ya."


Misela hanya mengangguk dan tak berani mengangkat kepalanya hingga suara pintu kamar mandi terdengar menutup barulah Misela berdiri dari duduknya.


"Astaghfirullah apa ini aku bener-bener belum siap untuk melayani Mas Dzakir. Apa Mas Dzakir minta itu sekarang ya? Aduh gimana ini." Misela kebingungan dan mondar-mandir mencari ide untuk menolak Dzakir.


Tak lama Dzakir pun selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di setengah badannya.


Tubuh yang sehat dan bidang dada yang lebar dengan wana kulit putih bersih membuat Misela terpana.


"Sayang kok diem aja disitu buruan mandi Mas udah gak sabar nih."


"Apa? Gak sabar apa ini maksudnya ya Allah gimana ini?" Bathin Misela dan buru-buru masuk kamar mandi.


Sialnya setelah masuk kamar mandi dan melepaskan jilbabnya Misela tak bisa membuka resleting kebaya yang dia kenakan karna bagian resleting nya ada di belakang.


Lagi-lagi Misela bicara dengan dirinya sendiri.


Namun tak ada pilihan lain kan? Misela memang harus meminta tolong pada Dzakir ahirnya Misela kembali membuka sedikit pintu kamar mandi dan memanggil Dzakir.


"Emm Mas boleh minta tolong gak?" Ucap Misela dengan pelan dan masih dengan posisi mengintip.


"Kenapa sayang?" Dzakir pun menghampiri Misela.


"Ini aku gak bisa buka resleting tolong bukain dong." Dengan nada malu-malu ahirnya Dzakir masuk ke dalam kamar mandi dan membuka resleting baju Misela.


Perlahan Dzakir melepaskan resleting itu dan melihat bagian tubuh Misela yang sangat menggoda nya.


"Sayang...!" Dzakir memeluk Misela dari belakang.


"Mas aku mau mandi dulu bau asem loh."


Tak menghiraukan ucapan Misela Dzakir pun mengecup leher Misela hingga membuat sensasi aneh timbul di tubuh Misela. Dzakir lalu membalikkan badan Misela dan melahap dengan rakus bibir imut Misela.


Tak ada penolakan sama sekali dari Misela malah Misela membalas perlakuan Dzakir yang membabi buta.


Setelah cukup lama saling beradu bibir Dzakir pun menjauh dari Misela.

__ADS_1


"Maaf ya sayang. Em itu Mas bener-bener gak tahan godaan tubuh kamu sayang hehe ya udah kamu mandi dulu ya terus kita solat sunah dulu."


"Em iya Mas makasih ya udah bantuin buka baju."


"Aduh sayang please jangan bernada begitu bisa-bisa Mas menghukum mu sekarang juga."


"Hah? Emang aku salah apa Mas? Kenapa harus di hukum?"


Lagi-lagi kepolosan Misela membuat Dzakir harus menahan seribu kali pertahanan.


"Sudah-sudah kamu mandinya cepet ya Mas tunggu."


"Iya Mas."


Misela pun menutup pintu kamar mandi.


"Ya Allah sungguh indah ciptaan Mu ini."


Bathin Dzikir dan menggeleng kan kepalanya beberapa kali.


Setelah lebih dari lima belas menit Misela ahirnya selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan daster lengan pendek dan rambut terurai.


"Masyaallah istri ku." Kata Dzakir menatap istrinya yang terlihat sangat cantik.


"Kenapa Mas?" Misela heran.


"Mandi mu lama sekali sayang Mas sampe ngantuk ini."


Misela malah cengengesan.


"Kirain mah mau muji aku cantik gitu hehe ya udah sana wudhu Mas."


"Mas udah wudhu di bawah. Ayo kita sholat dulu abis itu....Emm...!"


Dzakir senyum-senyum.


"Abis itu apa Mas?" Misela malah meledek.


"Abis itu kita cari pahala bersama lah."


"Kan sholat juga udah dapet pahala Mas."


"Pahala yang lain sayang yang lebih buanyak gitu."


"Kita gak sholat-sholat kapan dapet pahalanya Mas."


"Hahaha iya ya ayo sholat sayang."

__ADS_1


...###################...


__ADS_2