
Dzakir bingung melihat istrinya yang senyum-senyum sendiri setelah keluar dari kamar Abi dan Umi nya. Tingkah Misela seperti seorang beruntung yang dapet undian berhadiah.
"Kamu kenapa sayang kok bahagia banget? Senyum-senyum aja dari tadi"
"Iya Mas aku emang seneng banget karna besok pagi Umi ngajak ke pasar Mas."
"Oya? Tumben ngajak ke pasar biasanya Umi belanja ke supermarket. Tapi kamu sebahagia itu? Udah kayak nemu duit sekoper."
"Iya lah Mas besok adalah hari pertama ku bersama Ibu mertua. Pasti aku seneng lah. Aku bisa lebih dekat dengan Umi. Aku juga bisa tau apa aja yang harus di beli dan apa aja yang harus aku siapin buat kamu Mas."
"Kalau gitu sekarang kamu harus makan yang banyak biar besok energi istri ku ini seperti wonder woman."
"Siap suami ku."
"Mas suapin ya! Kamu mau makan sama apa? Ayam goreng atau ikan goreng?"
"Emm itu Mas sama capcay sama perkedel aja deh. Lagi males makan yang bau amis."
"Yakin gak pake ayam goreng?"
"Engga Mas udah capcay aja."
"Oke Mas ambilin ya."
Ahirnya Dzakir dan Misela melewati makan malam hanya berdua saja dengan porsi satu piring berdua.
___________
Di kamar.
"Sayang kamu tidur duluan aja ya Mas di kamar sebelah mau kerja."
"Ngerjain apa Mas ikut dong."
"Jangan ah nanti Mas gak jadi kerja malah sibuk liatin kamu. Tenang malam ini Mas janji bakal libur itu biar besok kamu fit ke pasarnya."
"Hahaha yakin Mas?"
"Iya Mas sangat yakin bisa menahan diri makanya Mas mau kerja dulu ya ada beberapa hal yang belum selesai."
"Ya udah Mas jangan tidur larut malam ya."
"Iya sayang."
Dzakir lalu keluar sedangkan Misela langsung pergi tidur supaya besok tak kesiangan karna akan menemani Ibu mertuanya ke pasar.
Sesuai janji setelah menyelesaikan pekerjaan nya Dzakir langsung pergi tidur dengan menjaga jarak aman antara dirinya dengan istrinya. Tentu saja hal itu dia lakukan agar tak menggoda si Otong.
Tapi sayang saat waktu subuh hampir tiba Dzakir tetap tak bisa menahan rasa ingin menggauli istrinya itu. Dzakir menggeliat mendengar lantunan ayat suci Al-Quran dari masjid yang tak jauh dari rumahnya.
Di tatap lah istrinya yang sangat cantik itu. Lalu di pelukannya erat. AC kamar mereka juga terlalu dingin suhu nya hingga membuat Dzakir sedikit menggigil di balik selimut.
Dikecupnya kening Misela sehingga membuat Misela terbangun dari tidur nyenyak nya.
"Sayang dingin banget nih."
Dzakir memeluk tubuh Misela dengan sangat erat.
"Oh iya lupa Mas AC nya kedinginan ya soalnya semalem gerah banget."
"Peyuk peyuk dulu ah."
"Iihh Mas kan janji mau libur."
"Gak kuat sayang kan Mas bilangnya semalem ini udah fajar sayang Mas gak janji kan?"
"Bisa aja ya jawabnya."
"Yuk sayang olahraga biar anget dan seger kalau tersalurkan."
"Apa yang tersalurkan Mas?"
__ADS_1
"Ya itunya hehe."
"Suka ngadi-ngadi deh suami ku ini."
Misela pun mencubit hidung Dzakir.
"Kamu godain aku sih makin gak kuat nih."
"Kamu gemes sih Mas."
"Kamu lebih gemes sayang. Yuk sebentar aja."
"Pelan-pelan ya Mas."
"Iya sayang." Setelah mendapatkan izin dari istrinya Dzakir mencium bibir Misela.
Dzakir langsung menutup tubuh mereka dengan selimut. Hasrat pun semakin memuncak. Satu demi satu Dzakir melepaskan pakaian nya dan juga pakaian istrinya. Dengan penuh gairah dan semangat yang tinggi Dzakir bermain-main di balik selimut itu.
Cukup lama mereka melakukan pemanasan hingga ******* demi ******* membuat keinginan Dzakir semakin bergejolak. Dan tiba saatnya bola panjang itu masuk ke gawang nya.
"Emmbbbhhh."
"Mas kenapa rasanya sekarang beda."
Dzakir tak menghiraukan ucapan Misela. Di pompanya energi Dzakir. Mula-mula sangat lambat namun lama semakin lama pompa itu semakin kuat dan cepat.
"Massss..... A-akku...!"
Suara manja Misela seolah memberikan energi yang lebih untuk Dzakir. Ahirnya Dzakir semakin mempercepat proses pembuatan anak itu.
Taulah ahirnya. 😂✌️
___________
"Selamat pagi Misela udah siap nih!"
Dengan style berbeda Misela menghampiri Umi nya yang masih melihat persediaan di dapur.
Dilihatnya Misela dari ujung kaki sampai ujung kepala oleh Ibu mertuanya itu. Rok celana hitam polos di kombinasikan dengan kemeja kotak-kotak biru orange dan jilbab pasmina hitam namun tetap menutup dada dan tampil sangat cantik.
"Norak gimana sih Umi cantik begini." Jawab Dzakir.
"Iya lah istri sendiri di bilang cantik." Lagi-lagi Umi nya bicara ketus.
"Masak mau muji kecantikan istri tetangga Mi kan repot hehe." Sahut Dzakir cengengesan.
"Lagian cuma ke pasar Mi gak perlu pake yang berlebihan kan?" Kata Misela.
"Ya sudah lah ayo berangkat nanti gak dapet ikan yang seger lagi."
Umi pun berjalan keluar rumah di ikuti oleh Misela dan Dzakir.
"Loh Umi gak bawa ajudan? Nanti susah bawa belanjaan?" Tanya Dzakir.
"Ribet banget kan ada menantu Umi yang siap bantuin. Udah ah Umi jalan dulu." Umi Dzakir pun masuk mobil.
"Aku ke pasar dulu ya Mas assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam hati-hati ya sayang tiba-tiba perasaan Mas gak enak banget."
"Iya Mas aku masuk mobil ya daahh."
Dzakir tetap berdiri menatap punggung istrinya hingga mobil pun melaju pergi.
"Kok perasaan ku gak enak gini ya." Bathin Dzakir lalu masuk rumah.
Di pasar.
"Bang itu bawang merah nya sekilo ya." Umi menunjuk belanjaan sambil melihat catatan nya.
"Itu cabe merah cabe rawit cabe ijo nya sama bawang putih bang setengah semuanya." Umi masih sibuk belanja sedangkan Misela hanya berdiri di samping Ibu mertuanya.
__ADS_1
Setelah melakukan pembayaran kantong belanjaan itu pun di serahkan semua pada Misela.
"Misela ini bawa semuanya ya ayo kita kesana."
Umi meningkatkan Misela dengan beberapa kantong plastik yang cukup berat. Misela terlihat kerepotan namun Umi nya tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Saat akan memasuki gang menuju tukang sayur Umi Dzakir di hadang oleh dua preman tak di kenal.
"Bu bagi duit dong." Kata sang preman sambil mengulurkan tangannya di hadapan Umi Dzakir.
"Heh enak aja minta duit. Dikira duit tinggal metik di pohon. Kalau butuh duit itu kerja, usaha!" Jawab Umi sambil membentak.
"Bu ini kami juga lagi usaha gak lihat nih?" Kata preman sambil memutar-mutar pisau kecil di tangannya.
Seketika Umi pun mundur menjauh. Ada beberapa orang yang melihat kejadian itu namun tak berani menolong karna mereka terkenal kejam tanpa ampun menghajar dan bisa melukai dengan pisau yang selalu mereka bawa.
"Jangan macam-macam kalian gak tau siapa saya?" Ancam Umi.
"Kami gak peduli siapa Ibu yang jelas Ibu pake banyak perhiasan gitu untuk apa kalau bukan untuk kami? Pasti uang Ibu banyak kan? Bagilah sama kami yang miskin ini. Hahaha."
"Hei kalian saya ini istri gubernur Lampung bapak Surya Alfaruq kalian jangan berani macem-macem."
"Hahaha ngaku-ngaku istri gubernur *** ibu ini hahaha."
"Saya anaknya presiden Bu bisa saya pecat suami ibu itu hahaha."
Sedangkan Misela masih celingukan mencari Ibu mertuanya karna jalannya tadi sangat cepat. Begitu melihat Umi Dzakir yang sedang di ganggu oleh preman Misela langsung meletakkan belanjaannya dan berlari menghampiri Ibu mertuanya.
"Cepet Bu kasih dompet sama perhiasan nya. Kalau engga pisau ini siap menancap di perut Ibu?"
"Pergi kalian kalau tidak akan saya laporkan polisi?" Umi Dzakir malah mengambil ponselnya dan hendak menelpon polisi.
Sayangnya ponsel itu langsung di rampas oleh satu preman dan preman satunya hendak menusuk Umi Dzakir.
"Aaaaacccckkkk tidakkkk....!" Teriakan Umi Dzakir berhasil menarik perhatian para pengunjung pasar yang belum ramai itu.
"Sial*an siapa kamu?" Pisau itu berhasil di pegang Misela dengan tangan kanannya. Tanpa menjawab pertanyaan preman itu Misela langsung memutar dan memelintir tangan sang preman hingga menjerit kesakitan.
"Aaaa... brengs*k mau jadi jagoan kamu hah? Lu jangan diem aja kasih cewek ini pelajaran."
Satu preman lainnya hendak menyerang Misela dan mengarah kan pisau padanya. Dengan sangat cepat Misela menghindari serangan itu sambil menendang preman satunya hingga tersungkur.
"Kurang ajar." Pekik preman itu dan kembali mengarahkan pisau pada Misela. Misela lagi-lagi bisa menghindari dan memberikan satu pukulan di pipi sang preman. Sayangnya preman yang tersungkur tadi sudah bangun dan hendak menusuk Misela dari belakang.
"Misela awas!" Teriak Ibu mertuanya.
Misela langsung menoleh ke belakang sayang tusukan pisau berhasil mendarat di perutnya.
"Aaacckkk Misela." Lagi-lagi Ibu mertuanya berteriak.
Misela tak menyerah dengan sisa tenaga Misela memberikan preman itu pukulan di pipi dan perutnya hingga mereka kesakitan. Misela mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri.
Misela menarik tangan ibu mertua nya dan lari menuju parkiran mobil.
"Umi ayo cepet lari."
Mereka pun berlari sambil bergandengan tangan dan langsung masuk ke mobil. Di dalam mobil Pak Tejo terkejut melihat majikannya terengah-engah masuk mobil.
"Ada apa nyonya?" Tanya Pak Tejo.
"Jangan banyak tanya cepet ke rumah sakit atau puskesmas terdekat."
"Ba-baik nyonya."
"Telpon Den Dzakir bilang Misela terluka."
"Iya nyonya."
Misela mengepal kuat tangan kanannya yang terluka karna menahan pisau yang akan menusuk Ibu mertuanya tadi. Sedangkan tangan kirinya memegang perut yang terkena pisau juga. Cucuran darah segar mengalir dari tangan dan perut Misela. Misela berkeringat dan menggigit bibir nya menahan rasa sakit itu.
"Misela sayang bertahan ya sayang. Pak Tejo cepet Pak."
__ADS_1
"Iya nyonya di depan ada puskesmas."
...################...