
"Cinta itu tidak akan membelenggu atau pun menyakiti, Cinta yang sesungguhnya akan membuat mu menuju kebahagiaan ya kau idamkan selama ini"
~Misella Mitena ❤️
...*****...
Pagi ini terasa berat untuk dijalani. Sejak kedatangan nya ke rumah Misela tak keluar kamar sama sekali dengan alasan persiapan pengajuan judul skripsinya.
Adelia dan Hanan sangat khawatir terutama Aldian adiknya. Namun mereka masih menolerir dan membenarkan kalau dirinya sedang sibuk pada tugas kuliah.
Misela sengaja bangun siang karna tak mau membantu Adelia memasak. Sebisa mungkin dia menghindari pertanyaan dari orang rumah.
Begitu bangun tidur Misela berpura-pura terburu-buru ke kamar mandi dengan alasan telat menghadap dosen nantinya.
"Bun aku berangkat dulu ya?"
Misela berpamitan dan mencium punggung tangan Adelia lalu bersiap dengan motor matic yang selalu setia menemani perjalanan kuliahnya.
"Kok gak sarapan dulu sih Nak."
"Aduh Bun gak sempet nanti aku makan di kantin aja ini waktunya mepet banget dosen pembimbing ku killer bisa gak di acc nanti kalau sampe telat. Berangkat ya Bun *assalamu'alaikum."
"wa'alaikumsalam. Semoga kamu memang sedang tak menyembunyikan sesuatu Nak."
Adelia pun kembali masuk ke rumah.
Selama dua jam Misela mengendarai motor matic itu dan tibalah di parkiran kampus hijau di Metro Lampung.
Setelah memarkirkan motor Misela pun berjalan menuju kelas di lantai tiga. Disana Erlina sahabat baiknya telah menunggu.
Dengan langkah terburu-buru dan pikiran yang tak fokus Misela pun menabrak seseorang.
"Aw maaf maaf gak seng..."
Misela menghentikan ucapannya karna terkejut dengan orang yang sedang berhadapan dengan dirinya. Mereka saling menatap satu sama lain dalam beberapa detik saja.
"Astaghfirullah Maaf Sel saya terburu-buru sekali mau ke gedung rektorat." Ujar Pak Mudzakir.
Mudzakir Alfaruq adalah salah satu dosen yang terkenal baik hati di kampus itu. Dengan wibawa dan ketampanan yang dia miliki berhasil membuat semua mahasiswi terpesona kecuali Misela. Di usianya yang baru menginjak 26 tahun dia sudah mendapati gelas S3 maka dari itu pesona dosen Mudzakir makin bertambah.
"Maaf Pak Dzakir saya yang salah gak fokus." Misela menundukkan kepalanya.
Sebenarnya ini bukan pertemuan pertama mereka. Mudzakir Alfaruq yang kerap di sapa Pak Dzakir atau Ustadz Dzakir ini bukan hanya sekedar dosen di kampus hijau itu tapi juga seorang ustadz di sebuah pondok pesantren tempat Misela belajar juga. Inget dong yang gedong Misela waktu mau di lecehkan oleh kedua bapak jahat saat tengah malam?
Itulah pertemuan pertama mereka. Sejak saat itu Dzakir selalu memperhatikan Misela dan mendoakan dalam sepertiga malamnya. Bahkan Dzakir sempat mengajak Misela ta'aruf tapi di tolak dan tak lama dari itu Misela memutuskan untuk menikah dengan Rangga si bajingan tengil hehe.
"Saya permisi dulu Pak assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Dzakir hanya bisa melihat kepergian Misela dan menatap punggung wanita idamannya itu.
"Ya Allah salahkah hamba mu ini mencintai ciptaan mu yang sudah menjadi milik orang lain. Akan sangat sulit untuk ku melupakanmu Misela." Bathin Dzakir.
Misela pun tiba di kelasnya. Sorak gembira menyelimuti kelas itu.
"Pengantin baru tiba uhuyy..."
"Cie...cie... Mukanya aja beda nih."
"Sel gimana rasanya wik wik hahaha..."
Erlina yang tahan dengan kejahilan teman sekelas nya itu pun berteriak.
"Woyy kalian mau gue santet godain Misela?"
Seketika kelas itu pun diam.
Erlina terkenal tomboi apalagi dia bisa bela diri sama seperti Misela. Namun Misela tetep jadi wanita yang lugu berbeda dengan Erlina yang gampang marah jika ada menyinggung. Jadi banyak diantara mereka yang segan dengan Erlina karna penampilan tomboi nya itu.
"Duduk sini Beb." Erlina melambaikan tangannya pada Misela yang masih berdiri di ambang pintu kelas. "Lu kok keliatan gak semangat gitu sih? Ada masalah bilang sama gue?" Sifat asli Erlina pun muncul.
Erlina adalah sahabat satu-satunya Misela yang paling mengerti akan keadaan nya. Raut wajah yang disembunyikan sedemikan rupa tak kan bisa di bantah oleh Erlina.
Misela sebisa mungkin harus menunjukkan wajah cerianya itu.
"Ahh kamu selalu jadi cenayang. Gimana judul mu udah siap Beb?"
Erlina pun membuang kecurigaan itu.
"Udah sih tapi gue gak yakin banget sama judul dan refrensi bukunya. Lu tau gak dosen pembimbing kita siapa?"
"Emang siapa?"
__ADS_1
"Buk Wati yang lagi bunting itu loh. Si dosen killer."
"Seriusan?"
"Ya ampun gue baru liat di papan pengumuman tadi dan gue syok banget ini."
"Kita satu pembimbing emang?"
"Engga sih hehe."
"Syukur lah aku gak dapet Bu Wati otak ku pasti bener-bener pecah kalau sampe iya."
"Hah? Tumben Lu bilang gitu? Biasanya kan siapa aja dosennya Lu santai aja otak Lu encer Beb?"
"Eh iya aku laper nih anter sarapan dulu yuk? Kamu udah sarapan belum?."
Misela mengalihkan obrolan nya.
"Lu bener-bener gak lagi menghindari sesuatu kan?"
"Ya enggalah apa sih yang harus aku hindari? Hayuk ah cacing di perut keburu ngamuk nih."
Misela pun menggandeng tangan Erlina dan berjalan menuju kantin.
"Lu mau pesen apa Beb?"
"Ah samain aja sama kamu."
"Nasi putih lauk ikan patin sama bakwan sayur ya? Minumnya es jeruk?"
"Okey. Eh tambah tumis kangkung ya."
"Siap."
Erlina pun menunggu pesanan di meja kasir.
"Ya Allah sejauh mana aku bisa berpura-pura seperti ini. Rasanya aku ingin memeluk sahabat ku itu. Namun aku belum siap untuk menceritakan apa yang telah terjadi dengan pernikahan ku."
Misela melamun dengan tatapan menuju sebuah lapangan basket. Tapi tentu saja pandangan nya kosong.
"Hei kok ngelamun sih."
Erlina pun menoleh ke lapangan basket dimana disana terlihat Hilman yang sedang bertanding basket dan banyak sorakan para fans Hilman.
"Apaan sih. Mantan siapa?"
"Itu Lu lagi liatin Hilman kan?"
"Ahh ngarang sih. Sini makanan nya udah laper banget."
Misela pun melahap makanannya.
"Lu kok tumben sih makan sambil diem aja. Lu lagi gak berantem kan sama Rangga?"
Uhuukk uhukkk....
"Iihh Lu makan pelan-pelan dong Beb ini cepet minum."
"Lagian sih kamu selalu jadi cenayang Beb. Aku baik-baik aja kok sama Rangga. Jadi kamu gak perlu khawatir. Kamu tu rubah penampilan mu biar cowok gak takut sama kamu heee."
"Ah Lu kayak gak tau aja sih. Cinta itu tidak akan melihat penampilan saja. Tapi juga kenyamanan antara Gue dan dia. Kalau liat penampilan doang pasti suatu saat cinta itu akan hilang karna penampilan itu bisa berubah. Lu paham kan?"
Misela membenarkan perkataan sahabat nya itu. Jika sepasang kekasih saling mencintai mereka tak kan saling menyakiti. Misela paham dia belum benar-benar mencintai Rangga. Dia menerima lamaran Rangga karna terpaksa.
"Mungkin ini adalah karma untuk ku karna terpaksa dalam sebuah ibadah yang seharusnya hanya akan terjadi sekali untuk seumur hidup." Bathin Misela.
"Heiiii... Gue bukan rumput yang bergoyang yang cuma bisa Lu diemin."
"Lagian kata-kata dari mana sih barusan. Padahal kan cuma makan kangkung tapi omongan mu udah kayak orang bucin haha."
"Iya juga ya haha."
"Eh ntar liat dosen pembimbing aku ya. Kamu kok gak liatin punya ku sekalian sih tadi."
"Iya sorry gue lupa saking syoknya dapet pembimbing killer hehe."
Setelah selesai makan Misela dan Erlina pun menuju papan pengumuman.
"What? Ya ampun Lu beruntung banget sih Beb dapet dosen pembimbing Pak Dzakir. Ya ampun gue bener-bener iri."
"Apa? Demi bakso Sony kang Ujang.... ustadz Dzakir dosen pembimbing skripsi ku? Bagaimana bisa begini?" Misela sedikit terkejut. Bagaimana dia bisa menyelesaikan skripsi nya dengan orang yang pernah mengajaknya ta'aruf.
"Hei Lu kok malah sedih sih. Banyak ngelamun nya Lu mah. Dia kan dosen super baik Lu beruntung banget kan?"
__ADS_1
"Iya sih ya udahlah ayo balik ke kelas. Aku belum beresin buku referensi ku."
"Okey deh."
...*****...
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 am. Setelah memikirkan dengan begitu panjang ahirnya dia pun memutuskan untuk menghadap pada dosen pembimbing nya. Sedangkan Erlina dan teman-teman lainnya sudah menghadap dosen mereka sejak satu jam lalu.
"Permisi Pak assalamu'alaikum."
Misela pun masuk ke ruangan dosen. Kebetulan hanya ada Dzakir seorang di ruangan itu.
"Mampus aku bakal gugup pasti ini." Gunam Misela.
"Wa'alaikumsalam silahkan masuk."
"Iya Pak."
"Silahkan duduk. Kenapa kamu baru menghadap saya? Padahal yang lain sudah selesai sejak dua jam yang lalu."
Dzikir seolah-olah marah pada Misela. Namun hatinya saat ini sedang bersorak gembira karna wanita yang dia cintai dalam diam akan dia temui setiap hari.
"M-m-maaf Pak."
"Memang kesalahan itu cukup dengan minta maaf? Kalau iya pasti penjara gak bakal penuh Sel."
"Terus saya harus gimana dong Pak?"
"Menurut mu?"
"Saya gak tau Pak. Saya cuma bisa minta maaf."
"Kalau begitu skripsi mu kerjakan taun depan saja."
"Loh kok gitu Pak?
"Karna kamu mahasiswi yang tidak disiplin."
Misela terkejut dengan pernyataan Dzakir.
"Apa ini? Padahal Ustazah Dzakir terkenal baik. Nyatanya killer juga. Huh." Bathin nya
"Maafkan saya Pak. Saya akan melakukan apa saja asal skripsi saya bisa cepat selesai."
"Wah kesempatan untuk modus nih." Pikirkan jahat Dzakir muncul begitu saja.
"Baiklah akan saya pikirkan nanti apa yang harus kamu lakukan. Kalau begitu mana judul skripsi mu saya lihat dulu."
"Ini Pak."
Misela pun menyodorkan map yang dia pegang dengan tangan sedikit gemetar.
"Hmm cukup bagus. Apa sudah ada referensi nya?"
"Ini Pak sudah saya Poto kopi."
Dzakir pun memeriksa buku referensi yang di sodorkan Misela.
"Okey saya terima judul skripsi mu dan refrensi nya. Tapi semua ini belum cukup kamu harus cari beberapa buku lagi untuk dijadikan acuan."
"Baik Pak akan saya cari. Kalau begitu saya permisi dulu Pak."
"Siapa yang mengijinkan mu pergi?"
"Lalu saya harus apa Pak?"
"Tetap duduk disitu temani saya."
"Bagaimana mungkin?"
"Bukankah kamu sendiri yang bilang akan melakukan apa saja tadi?"
"Iya-iya Pak."
Dzakir pun tersenyum menang.
Ahirnya Misela pun hanya pasrah dan duduk berhadapan dengan Dzakir hingga adzan Dzuhur berkumandang.
...###############...
...Haiiiii.... Maafkan daku yang telat up kemarin disibukkan dengan duo bocil 😭...
...Kalau ada typo mohon di maklumi ya hehe.....
__ADS_1
...Jangan lupa yah tinggalkan jejak kalian 😘...