Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 32 Lampu Hijau


__ADS_3

"Aw… Astaghfirullah pukulan mu sakit Misela?" Dzakir mengelus-elus lengannya yang sakit lalu Dzakir tersadar dari lamunannya.


Hah Misela? Jadi aku gak mimpi?" Dzakir melotot.


"Pak Dzakir ngelamunin apa sih sampai di panggil-panggil gak denger?." Kata Misela.


"Astaghfirullah maaf rindu ku terlalu dalam pada mu Misela. Aku pikir tadi sedang mimpi." Dzakir menunduk malu dan menatap lembaran skripsi milik Misela. Sedangkan Misela hanya senyum-senyum tersipu dengan ucapan Dzakir.


"Tunggu ini skripsi kamu? Kenapa disini?" Tanya Dzakir yang keheranan.


"Ya saya mau minta Pak Dzakir koreksi dan tanda tanganlah. Masa iya mau minta robek-robek skripsi yang udah saya buat dengan susah payah." Jawab Misela yang masih berdiri di sisi meja kerja Dzakir.


"Bukankah kamu bilang ganti pembimbing waktu itu?" Dzakir mulai membuka tumpukan lembaran-lembaran skripsi Misela.


"Mana mungkin saya ganti pembimbing." Jawab Misela masih dengan senyum-senyum.


Dzikir melotot membaca bagian bab persembahan. Ada nama Mudzakir Alfaruq disana. Namanya di cantumkan sebagai orang istimewa bagi Misela.


"Ini apa maksudnya nama saya ada disini? Tapi tunggu dulu ada yang aneh kayaknya?" Dzakir teringat sesuatu yang janggal.


"Apa yang aneh Pak? Saya salah nulis nama ya? Atau gelarnya salah? Atau ada gelar yang belum saya tulis?" Jawab Misela berpura-pura tak tau dan tak terjadi apa-apa.


Dzakir masih berpikir keras. Dia lupa diri kalau selama lebih dari dua bulan Dzakir di ambang kebingungan dan kerinduan bahkan Misela tak pernah bimbingan skripsi dan bilang kalau sudah ACC ganti pembimbing ke rektorat kini tiba-tiba Misela muncul di hadapannya dan meminta tanda tangan bahkan namanya tercantum sebagai orang istimewa di skripsi Misela.


"Misela Metina?" Dzikir memanggil dengan nada sendu dan lembut.


"Iya siap Pak apa yang harus saya perbaiki." Misela menjawab sambil tetap tersenyum tapi di tutup dengan satu tangan.


Misela menahan tawa yang amat dalam. Sepertinya Dzakir mulai menyadari sesuatu yang selama ini dia sembunyikan.


"Apa kamu sedang mengerjai saya? Kamu sedang mengejek saya sekarang?"


Dzakir masih duduk tertunduk menatap namanya di lembaran skripsi Misela.


"Astaghfirullah mana berani saya Pak. Untuk apa saya sampai mengejek seorang dosen. Bisa-bisanya saya gak lulus ujian."


Nada bicara Misela sangat manja apalagi sambil menahan tawa membuat Dzakir gemas dan tak tahan ingin memeluk tubuh Misela. Sepertinya saat ini Dzakir sudah sangat sadar dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Misela jangan buat saya lupa untuk mengontrol tubuh saya ini. Selama ini kamu sengaja pura-pura amnesia kan?" Dzakir masih menahan diri untuk berdiri dan menatap Misela.


"Masak sih Pak. Memang saya pernah pura-pura lupa ya?" Gaya bicara Misela makin membuat Dzakir gemas. Dzakir pun berdiri berhadapan dengan Misela dan di pelukannya tubuh Misela yang sudah lebih dari dua bulan dia rindukan.


Misela mematung dan membulatkan kedua matanya saking terkejutnya. Dia tak menyangka kalau Dzakir bakal senekad itu. Misela membiarkan tubuhnya di peluk oleh Dzakir. Untungnya saat itu tak ada siapapun selain mereka di ruangan tersebut.


Setelah dikira cukup lama Dzakir tersadar akan kekhilafan yang dia perbuat. Dzakir melotot dan langsung melepaskan pelukannya lalu membalikkan badan membelakangi Misela karna malu.


"Ma-maaf Misela. Kamu sangat menggemaskan. A-aku maksudnya Saya lupa diri saya bukan bermaksud lancang. Jadi benarkan selama ini kamu hanya berpura-pura lupa dan sengaja membuat saya di rundu pilu?"


Dzakir gugup. Ahirnya Dzakir mengatur nafasnya agar tak terlihat gelagat yang memalukan.


"Hmmm maaf ya Pak jika selama ini membuat Pak Dzakir khawatir. Saya memang dengan sengaja melakukan semua ini. Saya sengaja cuek dan pura-pura lupa tentang Bapak."


"Kenapa kamu melakukan itu Misela? Kamu tau aku sangat tersiksa selama ini hah?" Dzakir menekan suaranya namun masih terdengar lembut di telinga Misela.


"Karna jika Pak Dzakir terus menerus mendekati saya skripsi saya gak akan pernah selesai karna otak saya hanya ada nama Mudzakir Alfaruq M.Pd."


Sungguh saat ini Dzakir merasa melayang mendengar ucapan Misela barusan. Itu artinya dirinya saat ini sudah bisa memiliki hati Misela sepenuhnya. Misela sudah memberikan lampu hijau padanya. Dzakir benar-benar ingin memeluk Misela lagi namun dirinya berkali-kali istighfar dalam hati.


"Misela hari ini juga saya akan melamar kamu bahkan bila perlu selepas magrib saya akan mengucapkan ijab qobul karna masa idah mu juga sudah lewat." Dengan kesungguhan hati Dzakir melamar Misela dan menatap Misela yang sedang tertunduk malu.


"Will you marry me Misela Metina?"


Lagi-lagi Dzakir tak punya kesabaran untuk menahan rasa rindu yang membelenggu dirinya selama ini. Dia ingin segera menghalalkan Misela.


"Sabar Pak Dzakir saya ingin wisuda dulu dan lulus dengan tenang. Saya tak mau ada gosip beredar kembali." Jawab Misela dengan nada yang begitu lembut hingga membuat hati Dzakir benar-benar bergejolak karna gemasnya.


"Itu artinya kamu menerima lamaran ini Misela?" Saat ini hati dan jantung Dzakir tak karuan rasanya. Sepertinya mereka sedang bertengkar bahkan ingin lepas dari tempat seharusnya karna tak sabar menunggu jawaban Misela.


"Insyaallah saya menerima."


Begitu santun dan lembut jawaban Misela dari pertanyaan Dzakir itu.


Dzakir pun mengepalkan kedua tangannya dan meloncat-loncat bak seorang anak yang mendapatkan jatah permen.


"Alhamdulillah…. Allahuakbar ya Allah Alhamdulillah….!"

__ADS_1


Dzakir berteriak seenak jidatnya. Dia lupa bahwa dirinya masih di lingkungan kampus. Saking senangnya, bukan-bukan tapi sangking bahagianya hingga dirinya tak terkontrol.


"Pak pelan-pelan….!" Misela mencoba menghentikan tingkah laku Dzakir.


"Terima kasih banyak Misela. Saya benar-benar tak sabar. Tangan saya sudah sangat gemetar Misela lihatlah tangan ini ingin segera menggenggam tangan mu." Dzakir menujuk kan kedua tangan nya pada Misela karna dia benar-benar sedang bahagia hingga tak bisa di ungkapkan lagi dengan kata-kata.


"Sudah Pak cepat tanda tangan skripsi saya. Setelah itu mau saya jilid nanti keburu sore."


"Oh iya maaf-maaf saya lupa. Saya gx bisa ngomong apa-apa lagi. Abi dan Umi pasti senang mendengar kabar ini Misela."


"Sudah Pak kita bahas itu nanti lagi cepet tanda tangan ah."


"Pokoknya nanti saya akan antar kamu pulang bilang Aldian jangan jemput kamu ya saya yang akan antar kamu pulang titik."


Misela memutar bola matanya. Dzakir tak henti-hentinya bicara seperti layaknya emak-emak yang sibuk gibah.


"Astaghfirullah Pak stop dulu bicara. Atau saya pergi saja tanda tangan nya kapan-kapan aja deh bila perlu abis wisuda." Misela kembali memutar kedua bola matanya dan menghela nafas kasar.


"Hehehe iya iya maaf. Kamu gemesin banget haduh bener-bener gak tahan pengen cubit pipi kamu Misela Metina hmmmm."


"Pak…!" Misela meninggikan nada suara nya.


"Iya iya jangan ngambek jadi tambah cantik tau. Kan saya makin gemes liatnya. Ini loh ini saya tanda tangan. Ada berapa sih yang perlu di tanda tangani?"


"Jangan malah pura-pura amnesia Pak. Bukannya Bapak sudah bulak-balik tanda tangan skripsi mahasiswa lainnya."


"Bukannya kamu yang pura-pura amnesia?"


"Saya pergi saja lah Pak."


"Hihihi duhh calon istri ku ngambek. Tunggu-tunggu cuma lima menit set set tanda tangan beres ya. Abis itu kita tanda tangan di buku nikah kan?"


Misela tak menanggapi ocehan Dzakir malah memejamkan matanya dan menutup kedua telinganya dengan tangan. Dzakir hanya senyum-senyum sambil menandatangani skripsi yang Misela ajukan.


"Ya Allah Alhamdulillah terima kasih telah memberikan kebahagiaan ini."


...#################...

__ADS_1


__ADS_2